
Bersamaan dengan terpejamnya mata El, Kai benar-benar menumpahkan semua benihnya ke dalam rahimnya.
Lagi-lagi terdengar erangan dari bibirnya. Ia menatap wajah El yang tampak berkeringat dan masih menyisakan air matanya.
Ia mengusap keringat itu juga sisa-sisa air matanya, lalu mengecup lama keningnya turun ke mata dan bibir.
Setelah itu barulah ia berbaring dan membawa El masuk ke dalam pelukannya.
"I'm sorry, aku nggak menyangka jika kamu masih virgin. Aku ingin memilikimu. Aku akui, aku selalu merasa cemburu jika melihatmu bersama Tara. Honestly, tanpa sadar aku jatuh cinta padamu, El." Bisiknya lalu kembali mengecup keningnya dan mengeratkan pelukannya.
Jam kini menunjukkan pukul 03:00 dini hari, namun mata Kai belum bisa terpejam. Ia merasa bersalah pada El. Di tambah lagi ia terus mendengar ringisan gadis itu dan terlihat gelisah, hingga akhirnya dengan posisi tengkurap barulah El merasa nyaman.
Lagi-lagi perasaan bersalah merasukinya karena sudah merenggut kesucian gadis itu secara paksa. Namun perasaan bersalah itu pun sudah tidak berguna lagi karena semuanya sudah terlanjur terjadi.
Ia terus menatap punggung El. Perlahan-lahan ia menurunkan selimut yang membalut punggungnya dan mengelus tattonya hingga ke tulang punggungnya. Ia memperhatikan tulisan kecil bersambung lalu membacanya.
"Ellin Davina."
"So ... nama aslinya, Ellin Davina?" bisiknya sambil mengelus tatto itu.
Setelah itu ia pun ikut memejamkan matanya lalu kembali memeluk El dan akhirnya ia ikut terlelap.
Jam 5:00 subuh...
Perlahan-lahan El membuka matanya. Ia merasa ada tangan yang menempel di atas perutnya. Lagi-lagi ia meneteskan air matanya.
Dengan gerakan perlahan, El menyingkirkan lengan kekar Kai dan menjauhkan dirinya. Dengan hati-hati ia bangkit dan mendudukkan dirinya lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai.
"Sssttt ... aaww ... damn!! Oh God, perih banget." desisnya lalu memegang area pribadinya.
Ia menghela nafasnya dalam-dalam lalu memungut semua pakaiannya. Dalam keadaan naked, El berjalan tertatih-tatih ke kamar mand. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi lalu menangis. Betapa mirisnya dirinya kini dengan begitu banyak jejak tanda kepemilikan Kai di tubuhnya, bahkan bekasnya berwarna agak ke ungu-uguan saking agresifnya Kai mengecap seluruh tubuhnya tanpa ampun.
__ADS_1
"Aku harus segera tinggalkan tempat ini sebelum dia bangun dan menjadikanku budak se*ksnya," lirih El lalu menghapus air matanya kemudian mencuci mukanya.
Setelah itu, ia kembali mengenakan pakaiannya. Yang ada di benak pikirannya adalah segera pergi dari tempat terkutuk itu.
Sebelum meninggalkan tempat terkutuk itu, El menulis sepucuk surat untuk Kai. setelahnya ia pun meraih tasnya dan kembali memeriksa isi-isinya. Merasa sudah tidak ada yang kurang, El pun menenteng flat shoes haknya dan membuka pintu kamar lalu segera ke pintu utama dan menuju lift.
Ketika berada di dalam lift, lagi dan lagi El hanya bisa menangis memikirkan diri dan hidupnya yang baginya begitu miris.
"God, aku harap ini yang terakhir. Aku hanya ingin hidup tenang dan bebas," desisnya lalu menyeka air matanya.
Karena ini adalah hari minggu, dan di jam yang hampir menunjukkan setengah enam, mulai terlihat beberapa orang yang sedang berolahraga, berjoging dan bersepeda.
Saat El berjalan, ia melihat ada seseorang yang sedang membawa motor. Tanpa rasa malu El menghentikannya dan meminta tolong supaya mau mengantarnya pulang ke apartemennya.
Sukurnya pria itu mau menolongnya. Setelah sampai di depan gedung apartemen, El sangat berterima kasih kepada pria itu.
"Makasih ya, akan aku ingat selalu pertolongan darimu," ucap El dengan seulas senyum.
" Iya sama-sama. Kalau gitu aku jalan lagi ya."
Ia terus menggosok titik-titik jejak kepemilikan Kai yang memenuhi tubuhnya. Lama ia berada di kamar mandi itu sebelum akhirnya ia keluar dan memakai kimono.
"Aku tidak ingin berada di kota ini lagi. Terlalu banyak kepahitan hidup yang aku alami di sini. Meski di kota ini aku lahir dan di besarkan, aku harus ikhlas meninggalkan semua kenangan baik juga buruk. Aku ingin memulai kehidupan baru di kota lain. Tara, maafkan aku, kamu terlalu baik untuk ku, bahkan sangat menghargai dan mencintaiku begitu tulus. Aku tidak ingin menyusahkan mu lagi," lirih El sambil menyusun pakaian seperlunya saja.
Tak lupa ia mengambil semua surat-surat penting dan laptopnya lalu memasukkan ke dalam tas ranselnya.
El kembali menatap setelan jas kantor Tara yang biasa ia pakaikan ke tubuh tegap nan atletis pria itu sambil menangis. Ia mencium dan memeluk setelan jas itu lalu berbisik, "Suatu saat aku akan kembali lagi ke sini dan akan memeluk mu dengan erat."
Setelah itu El mengganti pakaiannya dan memesan tiket penerbangan paling pagi untuk ke Kota X. Kota di mana tempat ibu angkatnya berasal.
Ia menggunakan nama palsu agar ia tidak bisa di lacak. Setelah memesan tiket, El langsung mengeluarkan SIM cardnya supaya tidak ada yang bisa menghubungi atau melacaknya.
__ADS_1
Sama seperti sebelum meninggalkan Kai, El juga menulis sepucuk surat untuk Tara.
Setelah merasa semuanya sudah tidak ada yang di lupa, El mendorong koper mini miliknya lalu menuruni tangga.
Setelah berada di lantai bawah, ia menatap helmnya lalu memeluknya sejenak.
"Kamu tetap di sini ya. Kamu gak akan sendiri karena ada Tara yang akan menjadi teman mu." Ucap El lalu mencium helm kesayangannya itu.
Sebelum membuka pintu, El menatap seluruh ruangan apartementnya. Setelah itu barulah ia benar-benar meninggalkan unitnya.
Sesampainya di parkiran, lagi-lagi El menghampiri motor kesayangannya yang selama ini menemani aktivitas nya.
"My baby, tetaplah di sini, Ok. Entah kapan lagi aku akan menunggangi mu. Aku pergi ya," ucapnya lalu mengelus motornya itu.
Setelah itu, El kembali mendorong kopernya ke depan gedung apartement untuk menunggu taksi.
Setelah beberapa menit menunggu dan akhirnya ia mendapat taksi, El pun meminta bang sopir agar segera mengantarnya ke bandara kota A.
Di sepanjang perjalanan, El hanya termenung dan memikirkan apa yang akan di lakukannya setelah berada di kota X.
"Selamat tinggal kota A. Kamu meninggalkan kenangan indah namun juga kenangan buruk bagiku. Entah kapan lagi aku akan menginjakkan kaki ku di sini," lirih El.
Hampir 30 menit perjalanan, akhirnya El sampai juga di bandara. Setelah membayar ongkos taksi, pun mendorong kopernya.
Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya terdengar pengumuman pemberangkatan.
Dengan langkah pasti dan dengan tekad yang bulat, El melangkah hingga langkahnya benar-benar berada dan sampai di dalam pesawat lalu duduk di samping jendela.
Ia menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya lalu menghela nafasnya.
Setelah mendengar intruksi dari pramugari untuk memasang sabuk pengaman, tak lama kemudian pesawat pun take off.
__ADS_1
"Selamat tinggal kota A. Selamat tinggal teman-teman," ucap El dengan mata terpejam bahkan dua bulir bening ikut jatuh di ujung matanya.
...****************...