All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
105. Jangan protes ...


__ADS_3

Setibanya di rumah kontrakannya, El pun memutar kunci pintu lalu masuk ke dalam rumah.


"Aku harus mengurus kembali KTP-ku hari ini, setelah itu aku langsung ke bank," gumamnya lalu memasukkan berkas penting ke dalam ranselnya.


Beberapa menit kemudian, ia meraih helmnya lalu menghampiri pintu. Baru saja ia membuka benda itu, ia langsung terlonjak kaget saat Candra sudah berada di depan pintu.


"Candra."


Sedangkan Candra, hanya bisa melongo sekaligus tertegun menatapnya yang saat ini sedang berdiri tepat di hadapannya.


"Siapa dia? Kok bisa berada di rumah Culun? Apa dia ini keluarganya?"


"Apa kamu ingin menatapku seperti itu terus?" tegur El.


"Kamu siapa?" tanya Candra.


"Culun ..." jawabnya singkat.


"Culun?"


"Hmm ... kenapa? Aku habis operasi plastik makanya langsung berubah total," ucapnya narsis.


Candra dibuat bingung mendengar ucapan gadis itu bahkanmasih menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Minggir, aku ada urusan mendadak," ketusnya lalu memakai helmnya kemudian naik ke atas motornya.


Candra hanya bisa melongo, menatap heran gadis itu. Ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa dia benar-benar Culun? Apa secepat itu proses operasi plastik?" Candra bertanya-tanya sendiri.


Sebelum ke bank, El terlebih dulu ke kantor Dukcapil untuk mengurus KTP. Setelah mengisi beberapa formulir dan melengkapi biodatanya ia pun menunggu giliran. Kurang lebih dua puluh lima menit ia berada di kantor itu untuk pengurusan KTP.


Begitu urusan KTP selesai, ia langsung ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan kehilangan lalu ke bank untuk mengurus kartu ATM-nya secepatnya. Ia tidak ingin gara-gara kartu itu, nantinya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit menunggu giliran, ia pun mulai menjelaskan masalahnya kepada pegawai bank yang sedang bertugas. Tak lupa ia menunjukkan surat laporan keterangan kehilangan yang ia dapatkan dari kantor polisi.


Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya pengurusan kartu ATM-nya selesai sekaligus membuka buku rakening yang baru. Tak lupa ia memindahkan semua uang yang ada di rekening lama ke rekening yang baru.


Setelah selesai, akhirnya El bisa bernafas lega. "Syukurlah semuanya bisa selesai dalam waktu yang singkat."


Ia melirik ke arah jam dinding yang tergantung di ruangan itu. "Ya ampun sudah hampir jam tiga."


"Sebaiknya aku cari makan dulu." Ia pun meninggalkan bank lalu memacu motornya ke salah satu restoran cepat saji.


Sesaat setelah menerima nampan pesanan makanan, ia pun mencari tempat yang kosong untuk menyantap makan siangnya yang sudah terlambat.


.


.


.


Kantor Tara ...

__ADS_1


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Daniel tampak bersiap untuk pulang. Baru saja ia akan membuka pintu, benda itu sudah di buka oleh Tara yang akan masuk ke ruangannya.


Karena masih merasakan kecewa pada bossnya itu, tanpa sepatah katapun ia berlalu meninggalkannya begitu saja.


"Dan!! Tunggu!!"


Namun panggilan sang boss tidak ia indahkan sama sekali namun mempercepat langkahnya.


Tak ingin kehilangan jejak, Tara berlari kecil mengejar Daniel yang terlihat sudah memasuki lift. Saat berada tepat di depan pintu lift, benda itu malah sudah tertutup rapat.


Merasa geram, ia hanya bisa meninju udara. Sementara Daniel, ia hanya tersenyum miris karena merasakan perubahan sikap Tara yang cenderung malah bersikap arogan.


"El pasti sangat terpukul dengan sikapmu itu. Apalagi kamu sudah menghina bahkan merendahkannya," gumam Daniel. "Aku benar-benar kecewa padamu Tara.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, ponselnya bergetar.


"Kai," ucapnya lirih lalu menjawab panggilan itu.


"Ya hallo, Kai. Apa El masih bersamamu?''


"Nggak, Dan, ada apa?" tanya Kai.


"Tadi pagi aku mengira jika kalian masih berada di kota A. Soalnya aku ingin bertemu. Jujur saja, aku juga sangat merindukan El," jujur Daniel.


"Daniel, jika kamu mau, kapan pun kamu bisa datang ke kota X. Tanpa sepengetahuan kita, ternyata selama ini El tinggal di kota ini," jelas Kai.


"Benarkah?"


"Baiklah ... terima kasih, Kai."


"Sama-sama, Daniel."


Daniel langsung merasa lega setelah tahu jika El tinggal di kota itu.


"Aku akan ke sana jika ada waktu. Bahkan kamu bakal nggak percaya jika aku akan ke sana bersama seseorang yang sangat kamu kenal," gumamnya.


.


.


.


Malam harinya ....


Mungkin karena kelelahan, El masih saja tertidur sehabis pulang dari restoran cepat saji. Bahkan pintu rumahnya yang sejak tadi di ketuk tidak terdengar olehnya saking nyenyaknya tidurnya.


"Ck ... anak ini ngapain sih di dalam?" kesal Kai.


Ia pun bersandar di motor sambil memainkan ponselnya.


"Ini bahkan sudah jam tujuh, lampunya belum menyala," gumamnya lalu kembali mengetuk pintu beberapa kali.


Tak lama kemudian lampu rumah dan teras menyala. Kai langsung tersenyum bersamaan pintu rumah yang telah dibuka.

__ADS_1


"Sayang ... kamu ngapain sih di dalam?" tanyanya.


"Maaf ... aku ketiduran."


"Pasti belum mandi," ledek Kai.


"Nggak sempat, ini baru mau mandi."


"Ya sudah aku tunggu di kamar saja."


"Nggak, kamu nunggu di sini saja," kata El.


"Hmm ... baiklah." Kai mengalah.


Sepeninggal El, ia terus memindai seluruh sudut ruangan rumah kontrakan itu. Rasa bersalah kembali menyelimuti dirinya. Ia pun masuk ke kamar sembari menatap kamar kecil itu.


lima belas menit kemudian ....


El berdecak kesal ketika mendapati Kai sedang mengutak-atik laptopnya.


"Ck ... kamu ngapain utak-atik laptopku? Nggak ada rahasia di situ," tegurnya. " Hanya catatan dan tugas kuliah saja."


Kai hanya mengulas senyum mendengar ucapan tanda protes gadis itu.


"Sayang, bisa keluar dulu nggak?" pintanya.


"Ck, aku nggak bakalan intip. Jika ingin pakai baju pakai saja, nggak usah malu lagian aku sudah lihat semuanya," ucap Kai dengan santai.


"Cih alasan," protes El. "Bukan malu masalahnya kamu yang nggak akan bisa mengendalikan dirimu," sindirnya.


Kai merasa gemas lalu berbalik menatapnya yang hanya mengenakan handuk. Ia pun berdiri lalu mendekat.


Tidak ingin kebablasan, El menatapnya dengan tatapan lembut lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang prianya itu.


Ulahnya malah memancing hasrat Kai yang mulai menggebu. "Sayang, sedang apa kamu, hmm? Apa kamu memancingku?" bisiknya lalu mengecup pundak polos El.


"Nggak, aku nggak memancing. Aku hanya ingin memelukmu sebentar," ucapnya lalu menangkup wajah Kai kemudian mengecup bibirnya singkat. "Kamu mau kan menungguku sebentar di luar?"


Ucapan dan sentuhan lembut El, membuatnya menurut walaupun terpaksa menahan hasratnya.


Namun bukan Kai namanya jika tidak menawar. "Baiklah, aku akan menunggu di luar tapi ada syaratnya."


El mendongak sembari membatin, "Aku sudah menduganya."


"Apa?" tanyanya dengan manja.


"Malam ini kamu harus menginap di apartemen."


"Ta ..."


"Jangan protes, Sayang," potong Kai cepat lalu mengecup bibinya kemudian meninggalkannya di kamar dengan senyum puas.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2