All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
79. Aku benar-benar sangat menyesal ...


__ADS_3

Kediaman Pak Mulia ...


Sejak tiba di rumah, bu Arini tampak terus menyeka air matanya.


Kecewa ...


Sakit hati ...


Kaget ...


ketiga kalimat itu kini sedang mewakili perasaannya. Pak Mulia yang sedang duduk di sampingnya tampak terus menenangkan dirinya.


.


.


.


.


Sementara itu, Tara yang kini sedang berada di apartemennya, tampak duduk melamun di mini barnya. Menyesali sikapnya yang telah membentak sang momy.


"Momy ... maafkan aku," ucapnya lirih.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada sang momy, akhirnya ia memutuskan pulang ke kediaman orang tuanya.


Setibanya di kediaman orang tuanya, ia langsung menaiki tangga menuju kamar bu Arini.


"Mommy." Tara menghampiri Bu Arini sesaat setelah membuka pintu kamar. Wanita paruh baya itu masih saja terisak.


Tara berjongkok lalu meraih kedua tangan wanita yang telah melahirkannya itu. "Mom ... maafkan aku. Aku nggak bermaksud membentuk Momy. Pikiranku lagi kacau."


Bu Arini langsung memeluk putra semata wayangnya itu lalu mengelus punggung tegapnya.


"Maafkan aku, Mom," ucap Tara lagi lalu menatap wajah sang momy. "Sebenarnya Mommy mau bahas apa tadi di kantor?"


"Kita bahas besok saja," balas bu Arini lalu melepas pelukannya.


"Baiklah, besok malam aku akan kemari," sahut Tara.


Bu Arini hanya mengangguk. Setelah itu, Tara meninggalkan kamar itu lalu ke kamarnya. Sesaat setelah berada di kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


.


.


.


.


Sore harinya di Kota X ...


Saat ini El sudah berada di salon Miss Jeny.


"Lun? Kenapa rambutnya harus di keriting lagi sih? Padahal sudah bagus begini," tanya Miss Jeny.


"Cih! Sudah, cepat lakukan saja seperti perintah ku. Aku nggak mau lama-lama soalnya kepalaku masih pening, Miss," gerutu El.


"Baik lah, Dear," timpal Miss Jeny lalu mulai melakukan tugasnya.


Satu jam berlalu ...


Akhirnya rambut El kembali seperti yang ia inginkan. "Thanks.ya, Miss Jeny," ucap El.


"Sama-sama Dear."


Setelah merapikan rambutnya, El terlebih dulu melakukan transaksi pembayaran. Setelah itu ia pun meninggalkan salon lalu ke arah parkiran.

__ADS_1


"Sebaiknya aku ke danau buatan saja hingga malam menjelang. Lagian ini sudah sore," gumam El sambil memasang helm ke kepala.


Ia pun mulai memacu kuda besinya itu ke lokasi tujuannya. Setibanya di danau buatan itu, El memarkir motornya lalu melangkah kecil ke salah satu bangku yang kosong.


El mengulas senyum ketika memperhatikan beberapa pasang kekasih yang terlihat begitu mesra.


Karena merasa bosan, ia merogoh kantong jaketnya lalu mengeluarkan rokoknya. Setelah membakar rokoknya ia pun mulai menyesap benda itu.


Hingga tiba-tiba saja seseorang menghampirinya lalu menyapanya seraya bertanya, "Sendiri saja? Apa boleh tante duduk bergabung?"


El langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita bule yang tak lain adalah madam Glori. "Ya, tentu saja," sahut El dengan seulas senyum.


Madam Glori kemudian duduk di sampingnya. Wanita paruh baya itu mengulas senyum memandangi El.


"Sepertinya kamu perokok aktif ya?" tanyanya.


El mengulas senyum sembari mengangguk pelan sedetik kemudian ia balik bertanya, "Sendiri saja Tante?"


"Iya ... kebetulan tante single parents."


"Maaf," sesal El lalu kembali menyesap sisa rokoknya lalu mematikan apinya. "Berarti kita sama dong Tante. Aku juga jomblo," kelakar El lalu tertawa.


Madam Glori ikut tertawa sekaligus terhibur. Keduanya mengarahkan pandangannya ke arah danau.


"Apa Tante memiliki anak?" tanya El lagi.


"Ya ... seorang putra," jawab madam Glori.


"Syukurlah Tante, putra Tante masih sangat beruntung memiliki Tante. Nggak seperti diriku," balas El dengan wajah sendu.


Alis Madam Gloria saling bertaut mendengar ucapan gadis itu lalu bertanya, "Kenapa ...?


El mengulas senyum lalu akan menjawab namun kalimatnya tertahan saat seseorang menyapa madam Glori.


"Mama ..." sapa Kai yang sudah berada di belakang keduanya.


Sepasang mata El langsung membulat sempurna karena mengenal sang pemilik suara. "What! Jadi wanita ini ... mama si bule bastard? Oh God, hampir saja ..." gumam El dalam hatinya.


"Sayang, kemarilah," pinta madam Glori pada Kai.


Kai melirik sekilas ke arah El dengan senyum penuh arti.


"Hai ... wah, suatu kebetulan kita bertemu lagi. Bonusnya sama mamaku lagi," ucapnya lalu mendaratkan bokongnya diantara keduanya.


El memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan Madam Gloria tampak bengong.


"Jadi .... kalian sudah saling kenal? tanya madam Glori.


"Iya Mah, kami malah berteman. Bukan begitu Culun?" ucap Kai dengan santainya.


Dengan senyum terpaksa El menjawab. "Iya, Mr. bu ... eeemm ... maksudku Kai," kata El lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenalin, namaku Culun Tante. Maaf, namaku sedikit aneh seperti orangnya."


El terkekeh sesaat setelah selesai menyebut namanya lalu dibalas dengan sebuah senyuman tulus dari madam Glori.


"Sebenarnya, mama masih ingin mengobrol dengan Culun. Tapi kehadiranmu membuat mama nggak enak," kata madam Glori pada Kai. "Ya sudah, Lun, Kai mama duluan ya. Kalian lanjut saja," kata madam Glori.


Setelah itu, ia beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan keduanya di bangku itu.


"Sana! Antar mamamu?!" seru El dengan nada ketus.


"Mama sama supirnya," jelas Kai. "Kenapa sih, jika aku di sini? Emang nggak boleh ya?"


El bergeming lalu kembali mengeluarkan rokoknya kemudian menawari Kai. Namun pria itu menolak secara halus.


"Apa kamu nggak kerja?" tanya Kai.


"Nggak, aku libur sehari," jawab El sembari menyesap rokoknya.

__ADS_1


"Hmm ..." Kai menghela nafas lalu mengarahkan pandangannya ke arah danau.


Keduanya sama-sama bergeming. Hingga El yang lebih dulu membuka suara.


"Kai ...." El memanggilnya.


"Ada apa?" Kai menoleh lalu menatapnya. Namun orang yang di tatapnya masih mengarahkan pandangannya ke arah danau.


"Apa papamu sudah lama meninggal?" tanya El.


"Hmm .... sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar," jawabnya. "Papaku meninggal karena serangan jantung," lanjutnya.


El bergeming mendengar ungkapan jujur dari Kai. Seketika ia merasa iba.


"Berbicara tentang kehilangan sosok yang paling kita sayang, jujur saja aku merasa sangat bersalah pada seorang gadis yang bernama El," tuturnya.


"Kenapa kamu merasa sangat bersalah padanya?" tanya El.


"Karena aku sudah membuatnya menderita, merenggut segalanya darinya. Jika saja aku tahu sejak awal dia yatim piatu, aku nggak akan bersikap kasar padanya. Aku benar-benar sangat menyesal," jelas Kai.


"Kenapa kamu melakukan itu padanya?" tanya El lagi dengan lirih.


"Awalnya karena aku sangat benci dan dendam padanya. Dia satu-satunya wanita yang berani melawanku bahkan berani menamparku di depan umum."


"Wajar saja dia marah lalu menamparku saat itu karena aku menginginkan dia menjadi partnerku dan dia menolak. Tapi aku malah menodainya," aku Kai dengan lirih sambil tertunduk lesu.


"Semalam aku bertemu dengannya. Bahkan aku sudah bertekad ingin menikahinya tapi dia malah menghilang lagi," sambung Kai dengan hela nafas sekaligus merasa kecewa.


"Apa kamu mencintainya? Atau hanya merasa simpati saja?" tanya El lalu menghembus asap rokoknya dengan kasar.


"Aku benar-benar mencintainya. Sangat," jawab Kai dengan lirih.


Perlahan El menoleh ke arah pria yang telah menjebloskan dirinya ke penjara. Sekaligus pria yang telah menodainya dan pria itu juga yang sudah membuat dadanya berdebar kemudian pria itu juga yang sedikit membuat hatinya melunak.


Keduanya kembali terdiam dan saling tatap. Namun dengan cepat El segera mengarahkan pandangannya ke arah danau.


Kai mengerutkan kening dan tampak menyadari sesuatu.


"Suara lembut itu? Persis seperti suara El yang aku dengar semalam. Apa mungkin Culun dan El adalah orang yang sama?"


"El."


"Hmm ..." Tanpa sadar El menyahut tanpa menoleh.


Lagi-lagi alis Kai berkerut tipis sekaligus semakin merasa curiga pada gadis cantik itu.


Sedetik kemudian El tersadar dan langsung berdiri. "Maaf, ini sudah gelap sebaiknya kita pulang."


Tanpa pikir panjang El mempercepat langkah kakinya ke arah motornya.


"Tunggu! Biar aku mengantarmu pulang!" cetus Kai lalu mengejarnya.


Tak ada jawaban dari El. Melainkan ia semakin mempercepat langkahnya.


"Bisa tamat riwayatku jika dia tahu aku ini El. Sepertinya dia sudah mulai curiga. Harusnya aku lebih hati-hati."


Karena masih penasaran, Kai kembali memanggil nya "El!!"


Namun gadis itu enggan berbalik melainkan segera memakai helmnya sesaat setelah menaiki kuda besinya itu.


"Sebaiknya aku tancap gas saja. Takutnya dia malah mengekoriku."


Kai hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar setelah El meninggalkan dirinya. Ia hanya bisa memandangi gadis itu yang kini sudah menjauh.


"El dan Culun ... apakah mereka orang yang sama? Aku harus selidiki ini diam-diam," gumam Kai.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2