All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
42. Rencana Kai ...


__ADS_3

Tampak Tara dan Kai kini berada di Perusahaan B.A.M.


Daniel yang sejak tadi sudah menunggu terlihat santai.


Tak berapa lama Kai dan Tara pun masuk ke ruang kerja Daniel.


"Ayo silakan duduk. Pak Tara, Pak Kai," kata Daniel.


"Makasih Pak Daniel," sahut Kai dan Tara bergantian.


"Baik lah, kalau begitu kita langsung saja mulai meetingnya," saran Daniel tanpa basa basi.


Mereka pun tampak serius, sesekali Kai tampak sedikit kesal karena sikap Daniel yang tidak sependapat dengannya.


Setelah kurang lebih satu jam mereka berbincang, akhirnya mereka kembali membuat kesepakatan.


"Sebentar, saya hubungi OG dulu untuk membawakan kopi ke sini."


Daniel pun menghubungi El.


El yang sedang berada di pantry, merogoh kantong celananya lalu mengambil ponselnya.


"Daniel," lirihnya.


"Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong antarkan tiga gelas kopi ke ruanganku, ya."


"Baik Pak, ditunggu sebentar ya."


El mulai merebus air terlebih dulu. Setelah mendidih barulah ia menyeduh kopi yang sudah ia siapkan di dalam gelas. Setelah selesai ia pun menaruhnya di atas nampan.


***


Tok ... tok ... tok ...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Maaf, permisi Pak," sapa El sembari membuka pintu ruang kerja Daniel dengan seulas senyum.


"Ah, El, masuk lah," pinta Daniel.


El pun menghampiri Daniel lalu meletakkan nampan dan menyuguhkan kopi di hadapan mereka bertiga.


"Thanks my Dear," bisik Tara dengan seulas senyum.


El hanya tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Kai, ia terus menatap gadis itu dan seakan tidak percaya jika El bekerja di perusahaan itu sebagai OG.


Jadi sekarang dia beralih profesi sebagai OG? Bukan bartender lagi? Pantasan saja.


Kai hanya mangut-mangut namun tatapannya tak bisa lepas dari El.


"Silahkan dinikmati kopinya. Saya sekalian pamit," tawar El lalu meninggalkan ruangan itu.


Tik ... tik .... tik ...


Tara menjentikkan jarinya di depan wajah Kai.


"Lihatnya biasa saja Kai. Seperti baru lihat cewek saja," ledeknya.


"So ... dia kerja di sini?" tanya Kai.


"Emang kenapa? Siapapun bebas mau kerja apa dan di mana," jawab Daniel menimpali.


Kai hanya mangut-mangut lalu meraih gelas yang berisi kopi lalu menyeruputnya sedikit.


Enak juga kopi buatannya.


"Tara, apa kamu akan makan siang diluar? Kalau iya, kita bareng aja," cetus Kai.


"Nggak Kai, aku sudah janjian dengan El di sini. Kamu cari partner saja. Siska or Clara, whatever dan yang lainya. Soalnya aku ingin menikmati makan siangku berdua saja with my women."


Mendengar ucapan Tara. Sontak saja membuat Kai jengkel.


Setelah menghabiskan kopinya, Kai pun pamit meninggalkan Tara dan Daniel. Begitu Kai masuk ke dalam lift, barulah Tara kembali ke ruang kerja Daniel.


"Dan, tolong pesankan aku dua porsi makan siang di kantin lewat El dan suruh dia antar ke ruang kerjaku.


Daniel terhenyak mendengar ucapan sang CEO.


"Are you sure Tara?"


"Hmm ... ."


"Ok done Tara."


"Kalau begitu, aku ke ruang kerjaku dulu." Tara meninggalkan Daniel.


Setelah itu Daniel menghubungi El dan mengatakan seperti yang sudah Tara sampaikan kepadanya.


****


"Wahhh .... nggak nyangka banget bisa bertemu langsung dengan pemilik Perusahaan ini. Mudah-mudahan dia nggak seperti CEO lainnya yang biasa bersikap dingin dan angkuh. Itu sangat menyebalkan," ucap El sambil berjalan dan membawa nampan.


Setelah berada di depan pintu yang bertuliskan papan CEO. El mengetuk pintu lalu masuk ke ruangan itu.


"Permisi Pak, ini makan siang pesanan Bapak." El meletakkan dua piring makan siang di meja sofa ruang kerja itu.

__ADS_1


El mengerutkan alisnya karena di ruangan itu hanya ada satu orang yang sedang duduk di kursinya sambil membelakanginya.


"Pak," panggilnya.


Ia memperhatikan papan nama yang terletak di meja kerja tersebut.


"Bima Argantara Mulia. CEO." El tampak berpikir namun masih bisa didengar oleh Tara.


"Ya El, that's my full name, sekaligus nama Perusahaan ini," sahut Tara lalu membalikkan kursi kerjanya.


Mendengar suara berat itu bahkan kini Tara menatapnya, mata El langsung terbelalak. Ia sangat terkejut sehingga nampan yang di pegangnya langsung terjatuh.


Tubuhnya langsung gemetar. El berpikir jika Tara akan sama seperti Kai dan akan mengambil kesempatan terhadap dirinya.


Oh God, jangan-jangan selama ini dia baik kepadaku karena dia juga mengincar tubuh ini.


Seketika itu juga dua bulir bening di matanya jatuh begitu saja. El memundurkan langkahnya.


Merasa El tampak ketakutan dan mulai melangkah mundur, Tara langsung berdiri dan segera menghampirinya lalu memeluknya.


El semakin gemetar dan ketakutan, ia meronta dan memberontak dan terus memukul-mukul dada Tara.


"No ... no ... let me go!! Let me go Tara.!!!" teriaknya sambil meronta.


"El!! Calm down ... please," pinta Tara lalu memegang kedua bahunya.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu pasti berpikir kalau aku sama saja dengan Kai," ucapnya sambil menatap mata El lalu menghapus air matanya.


El hanya bergeming tapi tubuhnya masih saja gemetar.


"El, my Dear ... listen to me. Jika aku seperti Kai, untuk apa aku menahan hasratku untuk tidak menidurimu," terangnya. "Apalagi kita sering tidur di satu ranjang yang sama ditambah lagi kamu yang sering berpakaian minim ketika kita hanya berdua aja," akunya. "Pria manapun tidak akan bisa menahan hasratnya melihatmu seperti itu termasuk aku. Jika aku mau, aku sudah melakukannya padamu, tapi aku tidak mau karena aku tau kamu masih suci," pungkasnya.


El hanya bergeming namun membenarkan ucapan Tara.


"Jangan takut begitu, El. Aku nggak seperti Kai. Aku Bima Argantara Mulia anak dari Pak Mulia dan Bu Arini. Pasien yang pernah kamu rawat dua tahun yang lalu," jelasnya lagi.


"Akulah pemilik Perusahaan ini," akunya. "Aku mencintaimu tulus dan tidak ada niatan sedikitpun untuk merenggut kesucianmu kecuali kamu sudah menjadi istri sahku," pungkasnya lalu memeluk El seolah tidak ingin melepasnya.


El hanya bisa menangis mendengar ucapan Tara.


"Sudah ... jangan menangis lagi. Tolong rahasiakan ini dari temanmu, jika aku adalah CEO Perusahaan ini. Bila sudah tiba waktunya, aku sendiri yang akan mengumumkannya di depan awak media."


El hanya mengangguk.


"Ayo kita makan dulu. Sebentar sore biar aku yang memboncengmu. Nggak apa kan kita singgah dulu di kantor Kai. Soalnya mobilku masih di sana."


"Hmm."


Akhirnya keduanya pun menyantap makan siangnya. Tara juga menjelaskan alasannya lebih memilih bekerja di Perusahaan Kai Abraham ketimbang mengurus Perusahaan sendiri.


Ia terlibat pembicaraan serius dengan seseorang yang dihubunginya. Setelah selesai menghubungi orang itu, Kai tersenyum penuh arti.


Entah apa yang dibicarakannya dan apa yang sedang direncanakanya.πŸ™„πŸ™„πŸ™„


****


Jam 5 sore....


Setelah selesai membersihkan ruangan karyawan di kantor itu. El keruang kerja Daniel untuk berpamitan.


Sesaat setelah berada di parkiran, El tampak sedang memainkan ponselnya dan sesekali tersenyum.


El tidak menyadari dari kejauhan seseorang sedang mengamatinya dan memotretnya.


"El, ayo antar aku ke kantornya Kai," pinta tara lalu memakaikannya helm.


"Tara? Kapan kamu beli helm?


"Pinjam helmnya Daniel," sahutnya lalu terkekeh.


El hanya menggeleng kepala mendengar ucapan Tara.


Setelah itu, Tara pun memacu motor El menuju kantor Kai.


Disepanjang perjalanan tampak keduanya sesekali tertawa dan becanda. Hingga tak terasa keduanya pun sampai di parkiran gedung kantor bersamaan dengan Kai yang sedang menghampiri mobilnya.


Tara melepas helm nya dan El.


"El, ini kan malam minggu, bersiap dan berdandan lah yang cantik, aku akan menjemputmu untuk mengenalkan mu pada orang tuaku," cetus Tara sambil mengelus pipi dan rambut El.


"Tapi aku ragu, apalagi aku hanya seorang OG. Sedangkan kalian bukanlah orang sembarangan melainkan konglomerat yang cukup terkenal dan disegani banyak orang," lirih El seraya memegang tangan Tara yang masih menempel di pipinya.


Tara langsung memeluknya dan mengecup puncak kepalanya.


"Jangan khawatir El, aku yang akan menjelaskan kepada mereka nanti. Lagian orang tuaku ingin aku segera mengenalkan calon menantunya. My Dear usiaku sudah tidak muda lagi. Aku ingin kita segera menikah dan memiliki anak," bisiknya.


Setelah itu Tara melepas pelukannya lalu mengecup kening dan bibir El singkat.


Semua perlakuan lembut Tara ke El, sejak tadi tak lepas dari tatapan Kai. Ia mengepalkan kedua tangannya dan terlihat terbakar api cemburu.


πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜πŸ˜πŸ˜


Setelah itu, Tara kembali memasangkan helm ke kepala El dan menyuruhku segera pulang.


Setelah memastikan El menghilang, barulah ia masuk ke mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya menuju ke kediaman orang tuanya.


El tidak menyadari jika ia terus dibuntuti oleh pria itu hingga El sampai di parkiran apartemennya.

__ADS_1


Setelah mengetahui tempat tinggal El, pria itu hanya tersenyum.


"Jadi, dia tinggal disini rupanya," desisnya lalu tersenyum penuh arti.


****


Jam 7 malam....


El kini bersiap dan sedang menatap dirinya didepan kaca. El memilih gaun press body berwarna nude lengan panjang selutut di padukan dengan flat shoes hak.


Dengan riasan make up natural di wajahnya dan tidak berlebihan, ia tetap terlihat cantik dan elegan.


El memejamkan mata lalu menghela nafasnya untuk menetralkan perasaannya yang sedang gugup.


Tara yang baru saja tiba langsung menuju kamar dan masuk ke walk in closet.


Ia tertegun dan seolah terhipnotis menatap El yang terlihat cantik dan elegan dengan gaun berwarna nude yang melekat di tubuhnya.


Perlahan tapi pasti Tara menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu terlihat cantik dan wangi banget, my Dear." Tara meletakkan dagunya di pundak El dan menatap pantulan dirinya bersama di depan kaca besar itu.


"Tara," lirihnya


El membuka matanya dan ikut menatap dirinya yang sedang di peluk Tara lalu mengulas senyum.


"Ayo kita berangkat, Momy dan Papa sudah menunggu kita. Mereka memilih salah satu restoran mewah yang sudah di reservasi spesial untuk calon menantunya ini," bisiknya lalu melepas pelukannya.


El hanya mengangguk lalu meraih tas tangannya sembari menautkan jemarinya dengan Tara lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


Disepanjang perjalanan menuju restoran, Tara terus menggenggam jemari lentik El. Senyumnya terus mengembang di wajah tampannya.


Kurang lebih lima belas menit mengendara, akhirnya mereka pun tiba di restoran itu. Tara kembali menautkan jemarinya dengan El.


Mereka menuju lantai dua restoran tepatnya ruang VIP yang sudah di reservasi.


Sebelum masuk, El menarik nafasnya dalam-dalam. Tara pun membuka pintu lalu menyapa Papa dan momynya.


"Malam Pa, Mom. Maaf, sudah membuat Papa, Momy menunggu."


"Tidak apa-apa, Sayang," sahut Momy dan Papa bergantian.


"Mom, Pa, kenalin, ini El. Calon istri dan calon mantu kalian."


Dengan seulas senyum El menyapa Pak Mulia dan Bu Arini dengan sedikit menunduk sebagai rasa hormat lalu menyalami dan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Kemarilah sayang, Momy ingin memelukmu," pinta Bu Arini.


El pun mendekat lalu memeluk Bu Arini. Setelah sekian lama, ia baru merasakan lagi pelukan hangat seorang ibu. Ia langsung terisak di pelukan Bu Arini.


"Sayang, jangan menangis," ucap Bu Arini lembut sambil mengelus rambut pendek El.


"Gak usah sungkan, Nak, Tara sudah menceritakan semuanya tentang dirimu. Momy dan Papa gak menyangka jika Kai bisa seperti itu kepadamu," kata Bu Arini sembari mengelus jemarinya.


"El, Papa dan Momy juga tidak mempermasalahkan statusmu seperti apa. Tara sudah menjelaskan semuanya. Kamu ini anak yang jujur, pekerja keras dan gigih. Papa dan Momy salut padamu dan mendukungmu jika kamu masih ingin lanjut kuliah," timpal Pak Mulia.


Air mata El lolos begitu saja merasa terharu mendengar ucapan Pak Mulia dan Bu Arini.


"Makasih Tante, Om. Apa kalian nggak malu jika aku menjadi menantu kalian? Apalagi aku ini hanya seorang yatim piatu dan gak jelas asal usulnya," akunya dengan berlinang air mata.


"Tidak, Nak. Satu lagi, jangan panggil Tante dan om tapi panggil Momy dan Papa saja," pinta Bu Arini lalu menghapus air matanya


"Sudah ah! Ayo kita makan, kasian makanannya jadi penonton dari tadi," protes Tara lalu terkekeh.


Mereka pun mulai menyantap makan malam dan lanjut berbincang. Tampak raut wajah bahagia El berada di tengah keluarga kecil itu.


Setelah kurang lebih satu jam menghabiskan waktu bersama di restoran, akhirnya kedua orang tua Tara berpamitan.


"Papa, Momy pamit ya, Nak. Kalau ada waktu mainlah ke rumah dengan Tara."


"Iya, Nak. Rumah kami selalu terbuka untukmu," timpal Bu Arini sembari memeluknya.


Setelah itu mereka pun pulang ke tempat tujuan masing-masing-masing. Setelah mengantar El sampai di parkiran apartemen, Tara pun pamit untuk bertemu Daniel di B.A Pub.


"El, kamu hati-hati ya. Nggak apa-apa kan, aku nggak mengantarmu hingga ke unitmu? Soalnya aku masih ada urusan dengan Daniel di pub," jelasnya sambil memeluk lalu mencium bibirnya.


"Iya nggak apa-apa," bisiknya.


Sepeninggal Tara, El kemudian melangkah kecil menuju lift.


Saat berada di depan pintu lift, seseorang memanggilnya.


"Mbak ... Mbak maaf, aku mau nanya boleh nggak?"


Tanpa curiga sedikitpun pun El menoleh lalu mengangguk.


"Iya, boleh kok Mas."


"Aku mau nanya, kenal nggak sama wanita yang di foto ini? Katanya dia tinggal di apartemen ini juga." Ia menunjukkan foto seseorang.


"Coba aku lihat Mas." El meraih foto itu.


Tanpa diduga, pria itu langsung membekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Tak butuh waktu yang lama, El langsung tidak sadarkan diri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2