All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
140. Aku menginginkanmu


__ADS_3

Kai terkekeh mendengar ucapan istrinya. Namun ia tetap memijat lembut betis sang istri.


Merasa sudah cukup, ia pun berhenti lalu merangkak mendekati istrinya lalu mengecup bibirnya.


"Sayang, aku lelah," dalih El.


"Tapi aku menginginkanmu Sayang, biar sekalian lelahnya dibawa tidur," bujuk Kai.


El menatapnya, menangkup rahang tegas suaminya kemudian menyatukan keningnya.


"Please ... aku nggak mau menunda memiliki momongan darimu," mohon Kai dengan wajah memelas.


El langsung memeluknya dengan gemas. "Lakukanlah jika kamu menginginkannya."


Begitu El mengizinkannya, ia langsung tersenyum lalu melepas handuk yang melilit pinggangnya sekaligus melepas gaun tidur istrinya.


Menyentuh, menyesap setiap titik sensitif wanitanya, sehingga meninggalkan tanda jejaknya di sana.


Suara lenguhan, desa*han, erangan kenikmatan seketika saling bersahutan di kamar itu


"Sayaaang ..." bisik El. Menatap manja penuh ghairah pada suaminya.


"Teruslah memanggilku seperti itu di sepanjang percintaan kita," balas Kai.


Kembali menyesap leher jenjang istrinya turun ke tulang selangka hingga ke buah ranum yang begitu menggodanya. Meremas, memilin lalu menyesapnya bergantian.


Ulah nakal Kai itu semakin membuat suara desa*han El terdengar nyaring menyapa gendang telinganya.


Sambil memainkan senjata milik suaminya yang sejak tadi sudah menegang siap untuk bertempur.


"Oooh ... sh"it ... faster sayang, i love it," seru Kai dengan tangan satunya memainkan titik paling sensitif El.


"Saaayang ... i feel like ... aakhh," desa*hnya. Merasakan lembah keramatnya kini mengeluarkan cairan.


"Keluarkan saja Sayang. Itu tandanya kamu mencapai puncak," bisik Kai dengan suara yang sudah begitu berat juga serak.


Tak ingin berlama-lama, Kai mulai mengambil posisi. Perlahan menghentak masuk ke dalam goa keramat surga dunia.


"Ssssttt ... Sayang." El meringis merasakan perih, spontan menggigit pundak suaminya.


"Maaf ..." sahut Kai. "Kenapa rasanya masih sama saat aku menyentuhmu pertama kali?"


"Karena aku hanya sekali melakukannya denganmu. Setelah itu sudah nggak pernah," sahut El.


Kai mengulas senyum. "Tahan sebentar ya, Sayang ..." bisik Kai.


"Sayaaang ...."

__ADS_1


"Teruslah memanggilku Sayang hingga kita mencapai puncak kenikmatan bersama," sahut Kai dengan suara berat serta nafas memburu.


Kai terus memacunya, memberi sengatan penuh ghairah yang semakin membuat El terus mende*sah nikmat bersahut dengan suara erangan Kai.


"Saaayang .... aku ...."


"Sama-sama sayang," sahut Kai lalu mengecup bibirnya.


Sedetik kemudian Kai menumpahkan semua benihnya ke dalam rahim istrinya.


"Aaaaakkhhh ... finally." Kai mengusap perut rata El lalu mengecupnya. "Cepatlah hadir di rahim Mamy, daddy sangat menunggu kehadiranmu."


Keringat masih membasahi tubuh keduanya akibat pergulatan panas mereka. Kai menatap wajah El lalu mengusap keringatnya.


Mengecup lama keningnya, mata, hidung, pipi dan juga bibirnya lalu berbisik, "Thank you My wife."


Ia Lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh seputih susu itu dengan sayang.


"Sayang ... aku lelah, ingin tidur sejenak," bisik El lalu mengecup dada liat Kai.


"Tapi kamu belum makan."


"Nanti saja," kata El.


"Baiklah," sahut Kai dan kembali mengecup kening istrinya.


Selang sepuluh menit kemudian, suara dengkuran halus terdengar teratur. Menandakan sang pemilik suara telah terlelap. Perlahan Kai melonggarkan pelukannya lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Kai meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas. Menghubungi salah satu karyawan untuk mengantar dua gelas teh hangat chamomile.


Setelah itu ia melirik El yang terlihat menggeliat kecil lalu mengulas senyum. Hatinya langsung menghangat menatap wajah teduh istrinya.


Ia pun menghampirinya seraya mengelus kepalanya. Mmendaratkan kecupan di kening dan juga bibir.


"Sayang ..." Kai memanggilnya sembari mengelus pipi.


Namun El tak merespon. "Sepertinya dia benar-benar kelelahan," gumam Kai sedikit merasa bersalah.


Tak lama berselang, pintu diketuk menandakan pesanannya sudah datang. Ia pun menghampiri pintu lalu membukanya.


Setelah meraih nampan, Kai kembali menutup pintu. Ia memilih ke balkon kamar sambil membawa tehnya.


Senyumnya terus terukir sambil sesekali meneguk tehnya. Merasakan Kebahagiaan luar biasa.


*


*

__ADS_1


*


Saat perasaan bahagia tengah menyelimuti Kai dan El, lain halnya dengan Tara yang tampak begitu kesal.


Berkali-kali ia mencoba mengakses sistem keamanan perusahaan Kai namun berkali-kali pula ia gagal.


"What the fu*ck!!! Sial!!" makinya disertai perasaan marah.


Jika beberapa waktu lalu Kai menanggung kerugian besar akibat perbuatan Tara, namun sekarang malah sebaliknya.


El sudah mengamankan sistem keamanan perusahaan suaminya beserta semua informasi penting dengan memasang sandi tersulit hingga tak mudah diretas.


Di tengah usahanya yang berkali-kali gagal, Tara semakin berambisi ingin menghancurkan perusahaan ex sahabat sekaligus ex boss-nya itu.


"Brengsek!!!" umpatnya dengan perasaan kesal.


Ia seolah merasa frustasi. Ia memilih menuju ke mini barnya. Meraih sebotol wiski untuk menenangkan pikirannya yang kini sedang bekecamuk.


*


*


*


Sementara itu, Mike dan Lois yang masih menempuh perjalanan udara menuju kota A, terlihat berbincang-bincang kecil.


"Mike, aku senang banget bisa menghabiskan waktu dengan El walau hanya tiga hari," kata Lois.


"Ya ... aku juga begitu. Melihat El tersenyum bahagia aku juga bahagia," aku Mike.


"Aku nggak menyangka jika mamanya Kai baik banget. El beruntung banget ya. Terlihat banget jika Tante Glori sangat menyayanginya."


Mike mengangguk lalu meliriknya kemudian mengulas senyum.


"Oh ya, jika Damian ke kota A, kita harus mengajaknya jalan-jalan ke beberapa tempat populer di Kota A," usul Lois.


"Menurutku bukan ide yang buruk," sahut Mike lalu terkekeh. "Jika Damian ke kota A, aku sarankan kamu saja yang mengajaknya. Siapa tahu kalian berjodoh," kelakar Mike.


"Apaan sih?!" kesal Lois.


"Apa kamu nggak tertarik padanya?" tanya Mike.


"Siapa sih yang nggak tertarik dengan pria tampan juga tajir sepertinya. Tertariklah," aku Lois dengan senyum tipis.


Mike hanya terkekeh mendengar ucapan Lois. Menyandarkan kepala di sandaran kursi pesawat.


Sambil memejamkan mata, ia membayangkan wajah bahagia El.

__ADS_1


"El, i am late. Jika saja saat itu aku langsung menyatakan perasaanku padamu, mungkin saat ini kita sudah memiliki anak."


...----------------...


__ADS_2