
Setibanya di penthouse, El langsung buru-buru naik ke lantai dua menuju ke kolam renang.
Tanpa pikir panjang ia langsung melepas gaunnya kemudian langsung menceburkan dirinya ke kolam itu demi mendinginkan tubuh juga kepalanya.
Sedangkan Kai, ia memilih ke pantry untuk membuatkan El kopi.
"Lord ... aku merasa dejavu. Tapi kali ini posisi itu bukan aku melainkan Tara," gumam Kai.
Setelah menyeduh kopi, ia menyusul El ke lantai dua menuju ke arah kolam renang. Memandangi El yang tampak melamun memandang ke luar dinding kaca.
Kai menghela nafas lalu memanggilnya, "Sayang."
El langsung menoleh lalu berenang menghampirinya.
"Aku bawakan kopi pahit. Minumlah karena ini akan mengurangi sakit kepalamu," tawar Kai yang kini sudah duduk di pinggir kolam.
El meraih cangkir berisi kopi itu lalu meneguknya sedikit demi sedikit. "Terima kasih, Sayang."
"Hmm, nggak dingin?" tanya Kai seraya mengelus pipinya.
"Nggak ... ada kamu yang akan menghangatkanku," bisiknya lalu meletakkan kepalanya di paha Kai.
"Benarkah?" Kai mengelus punggung mulusnya.
"Hmm ..."
.
.
.
B.A bar ...
Ucapan El barusan masih terngiang-ngiang di telinga Tara. Tatapan menghunus tajam penuh amarah terlihat jelas di wajah gadis berparas cantik itu.
"Tara." Daniel menepuk pundaknya.
"Daniel." Sambil menghela nafasnya. "Tadi aku sempat berpapasan dengan Kai dan El di depan pintu masuk bar," kata Tara.
"Ya, sejak tadi mereka memang di sini bareng dokter Mike dan dokter Lois. Sebenarnya kami memang sudah janjian," aku Daniel.
Tara bergeming lalu meneguk minumannya.
"Tumben El ke kota A? Apa dia ada urusan mendadak?" selidik Tara.
"Ya," balas Daniel sembari menyesap rokoknya.
"Oh ..." Tara hanya ber oh ria.
"Tara, sebaiknya kamu pulang saja. Kasian Dian sendirian di apartemen? Suami macam apa kamu ini? Setiap malam malah menghabiskan waktu di bar," ujar Daniel sekaligus merasa kesal pada bossnya itu.
Tara tetap bergeming sambil bergumam dalam hati, "Maafkan aku Dian kerena sering mengabaikan dirimu."
.
.
__ADS_1
.
Di balkon kamar, El tampak melamun. Air matanya tiba-tiba saja menetes mengingat ucapan Tara. Terasa begitu menyakitkan hatinya.
"God ... aku benci mendengar ucapan itu," gumam El dalam hatinya.
Puas berdiri di balkon kamar, akhirnya ia kembali ke kamar. Menghampiri ranjang lalu merebahkan tubuhnya.
"Kai mana ya? Perasaan tadi dia masih di sini?" gumamnya sembari memejamkan matanya.
1 menit ...
2 menit ...
5 menit ...
Akhirnya ia terlelap. Tak lama berselang Kai masuk ke kamar.
"Rupanya sudah tidur," ucapnya lalu menutup pintu. Mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur.
Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping El. Tak lama kemudian ia pun ikut terbawa ke alam mimpi.
*******
Keesokan harinya .....
"Ssssttt ... kepalaku," keluh El disertai dengan ringisan. Memijat kening turun ke pangkal hidungnya. "Sakit banget!"
Ia pun bangkit dari tidurnya kemudian langsung ke kamar mandi dengan niat segera mengguyur tubuhnya di bawah shower.
"Sa-sa-sayang ... kamu mau apa?" tanya El tergagap karena Kai menggiringnya hingga berada di bawah shower.
"Ingin mandi bareng biar hemat waktu," bisik Kai lalu menyalakan shower. "Apa kepalamu masih sakit?" tanya Kai lalu melepas kaos yang membalut tubuh El.
El hanya mengangguk lalu mengusap wajahnya.
"Sayang," bisik El saat Kai mulai meremas gunung kembarnya. "Hentikan." Sambil menahan tangan besar prianya itu.
Bukannya berhenti, Kai malah semakin menggila menggerayangi tubuhnya.
Tak pelak, ulah nakal Kai itu membuat suara desa*han El lolos begitu saja menyapa gendang telinganya.
"Sayang ...." bisik El lalu memeluk erat tubuh besar Kai dengan nafas memburu.
Kai mengulas senyum lalu membenamkan dagunya di puncak kepala El sambil memejamkan matanya.
"Sayang ... sepertinya kamu nggak menolak tapi malah menikmatinya," bisik Kai menggoda.
"Om nakal!" balas El setengah berbisik.
Kai terkekeh mendengar ucapan gadis itu. Mau tidak mau keduanya terpaksa mandi bersama dibawah shower itu.
"Sayang ... aku duluan ya," bisik El lalu keluar dari tempat shower meninggalkan Kai.
Sepeninggal El, lagi-lagi ia harus menuntaskan hasratnya dengan bermain solo.
Satu jam kemudian ...
__ADS_1
El tampak membantu Kai mengenakan pakaian kantor yang telah ia siapkan sejak tadi.
"Terima kasih, Sayang," ucap Kai.
"Sama-sama," sahut El lalu memeluknya dengan gemas. "Ayo sarapan dulu, aku sudah menyiapkan makanannya," ajak El.
.
.
.
.
Apartemen Tara ...
"Tumben," gumam Dian saat melihat Tara menghampirinya.
"Dian, aku sarapan di kantor saja," cetusnya.
"Baiklah, hati-hati ya," pesan Dian.
Tara hanya mengangguk lalu mengecup pipinya kemudian meninggalkanya.
Sepeninggal Tara, Dian menghela nafas dengan kasar lalu memijat keningnya.
"Ssssttt ... kepalaku kok sakit begini ya? Mana mual lagi," keluh Dian dengan lirih.
Tak lama berselang bel pintu berbunyi. Dengan malas ia beranjak dari sofa lalu menghampiri pintu lalu membukanya.
"Daniel?" ucapnya dengan kerutan tipis di kening. "Tara baru saja berangkat. Apa kalian nggak bertemu?"
"Nggak. Aku ke sini hanya ingin menyampaikan pesan dari El. Dia ingin bertemu denganmu di cafe xxx jam 10 nanti," jelas Daniel.
"Benarkah? Kapan anak itu sampai? Kenapa dia nggak langsung menghubungiku?" cecar Dian sekaligus senang.
"Kemarin," jawab Daniel.
"Ya sudah, aku akan menemuinya nanti," timpal Dian dengan senyum sembringah.
"Baiklah, aku sekalian pamit ya," balas Daniel.
Dian hanya mengangguk sembari mengulas senyum. "Ya ampun, nggak sabar rasanya ingin bertemu denganmu El," gumam lalu menutup pintu.
.
.
.
Di Cafe xxxx ...
Sambil menunggu Dian El memilih memainkan ponselnya. Sesekali ia tersenyum ketika membalas pesan dari seseorang.
Ia tak menyadari jika ada sepasang mata yang sejak tadi sedang memperhatikannya.
...----------------...
__ADS_1