All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
50. Aku akan membantumu ...


__ADS_3

Menjelang sore barulah keduanya pulang.


"Thanks ya. Maaf sudah menyita waktumu."


"Nggak masalah. Ya sudah, aku pulang dulu," pamit Candra dan dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.


Sepeninggal Candra, ia mulai mengangkut barang-barang yang sejak tadi sudah berada di teras kontrakannya.


Tak lama berselang seseorang tampak sedang menyapanya. Seketika El berhenti sejenak seraya mengulas senyum ramah.


"Baru pindahan ya, Mbak?" tanya gadis itu yang baru saja pulang dari kantor.


"Iya, Mbak," balas El.


"Sini, aku bantuin," tawarnya.


"Nggak usah, Mbak, lagian nggak banyak kok. Hanya barang-barang seadanya saja," tolak El.


"Nggak apa-apa," balas gadis itu lagi.


"Ya sudah, terima kasih ya. Maaf sudah merepotkan," sesalnya.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Kini keduanya sedang duduk melantai sambil mengobrol santai.


"Kenalin, aku Diana Atalia, panggil Dian saja."


"Aku Culun," balas El dengan meyakinkan.


Mendengar El menyebut namanya Culun, sontak saja Dian langsung tertawa.


"Hmm ... dibilangin malah tertawa," kata El sambil melipat bibirnya. Ia juga ingin tertawa namun ditahannya.


"Bagaimana nggak tertawa, soalnya nama itu lucu tahu," balas Dian. "Oh ya, rumahku ada di sebelah. Misalnya kamu butuh sesuatu, jangan sungkan main ke sebelah, ya," tawarnya dengan ramah.


"Maksudmu, rumah besar yang ada di samping kontrakanku ini?" tanya El.


Dian mengangguk. "Jika kamu ingin membuat KTP, KK, jangan sungkan hubungi aku, soalnya aku bekerja di kantor Dukcapil," jelas gadis itu.


El bergeming dan tampak menimbang-nimbang. Sedetik kemudian ia menatap wanita cantik yang ada di hadapannya.


"Hmm." Ia mengangguk pelan.


.


.


.


Keesokkan harinya ...


Sedari tadi El sibuk mengutak-atik laptopnya. Mencari info tentang Universitas Negeri yang ada di Kota X. Sesekali ia tampak menyesap rokoknya.

__ADS_1


Setelah memilih tiga kampus Negeri, ia berencana akan mendaftar di ketiga kampus itu. Pikirannya jika ia lolos maka di situlah ia akan mengenyam pendidikannya.


"Mudah-mudahan aku lulus tes di salah satu kampus tersebut. Dua minggu lagi ... tapi bagaimana caranya aku merubah semua identitas namaku di akte, ijazah, kartu keluarga dan KTP-ku dalam waktu singkat?" Ia tampak berpikir.


Karena belum mendapat jawaban, gadis itu terus saja menyesap rokoknya. Hingga akhirnya ia teringa Dian.


"Aku coba search nama lengkapnya dulu."


Dengan lincahnya jari jemarinya bermain di keyboard laptopnya. Tak butuh waktu lama nama yang ia cari langsung terpampang sekaligus membuatnya terkejut.


Bagaimana tidak, Dian merupakan Kepala Dinas Dukcapil di kota itu dan keluarganya termasuk orang berpengaruh di kota X.


"Ternyata kami seuran," Desisnya dan tampak berpikir. "Apa aku minta bantuannya saja ya? Mudah-mudahan dia orang baik dan bisa di percaya," desisnya.


.


.


.


Jauh dari Kota X, Kai tampak mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan El.


"Ini sudah satu minggu berlalu tapi di mana gadis itu berada?" lirihnya.


Sejak malam kelam itu, ia seolah tak bisa melupakan gadis itu serta memikirkannya. Entah seperti apa keadaannya. Begitulah yang ada di benaknya.


"Jika aku menemukanmu maka aku akan membawanya ke Jerman dan menikahinya di sana. Aku nggak peduli dia jika ia marah dan memakiku sepuasnya."


Ia masih betah berdiri di depan kaca besar ruang kerjanya.


*****


Tidak terasa siang telah berganti malam...


Setelah lama berpikir, akhirnya El memutuskan untuk meminta bantuan Dian. Setelah memasukkan semua berkas yang ia butuhkan ke dalam amplop besar, ia langsung beranjak dari depan layar laptopnya.


Sesaat setelah berada di depan pintu rumah gadis itu, ia pun memencet bel pintu beberapa kali.


Tidak lama berselang, seorang wanita paruh baya membuka pintu.


"Selamat malam, Bi. Apa bu Diana Atalia ada di dalam? Tolong katakan padanya ada yang ingin bertemu iaitu Culu," pesannya.


"Sebentar ya," balas wanita paruh baya itu lalu meninggalkannya.


El hanya mengangguk sambil menunggu. Selang beberapa menit kemudian, wanita paruh baya itu kembali menghampirinya lalu mengajaknya menuju kamar.


"Makasih ya, Bi," ucapnya sesaat setelah keduanya berada didepan pintu kamar.


"Sama-sama, masuklah. Nak Dian sudah menunggumu."


Sebelum masuk, El mengetuk pintu. Setelah mendengar suara Dian yang menyuruhnya masuk, barulah ia membuka pintu.


Seketika ia terpaku ditempat saat mendapati Dian sedang menatap layar laptopnya. Ia langsung merasa gugup karena fotonya lagi-lagi terpampang jelas di monitor itu.

__ADS_1


"Apa kamu sedang membaca berita online," tanyanya.


"Hmm ... dari kemarin berita ini terus bermunculan dan membuat heboh. Lihat cewek ini, cantik banget. Tapi kenapa dia bisa hilang? Apa dia di culik? Atau dia kabur, ya?" tanya Dian.


"Yang bikin heboh, hadiahnya itu lho," sambung Dian.


El menghampiri gadis itu sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Jika menemukan cewek itu, apa kamu akan menghubungi nomor yang tertera di layar itu?" tanya El.


"Hmm. Hadiahnya lumayan tuh. Bisa berlibur ke Bali," jawab Dian dengan semangat.


"Bagaimana jika cewek itu ternyata sedang berada di kamar ini?" tanyanya lagi.


Dian mengerutkan kening lalu menatapnya dari bawah hingga ke atas.


"Apa kamu sedang bercanda?" tanya Dian.


El menghela nafasnya, matanya mulai berkaca-kaca menatap gadis yang ada dihadapannya saat ini.


"Aku sedang tidak bercanda, Dian. Gadis yang sedang di cari itu sedang berdiri di depanmu bahkan sedang berbicara denganmu," akunya lalu melepas maskernya.


Ia terkejut lalu berdiri. "Ini beneran kamu? Gadis yang sedang di cari-cari itu?" tanya Dian. Aslinya ternyata lebih cantik," pujinya.


Dian menatap layar laptopnya lalu menyebut nama lengkapnya.


"Jadi namamu, Ellin Davina? Kenapa kamu bilang Culun?" Dian kembali terkekeh.


"Panjang ceritanya," sahutnya lalu duduk bersandar di tepi ranjang. Ia kembali mengeluarkan rokoknya, membakar lalu menyesapnya dalam-dalam.


Dian hanya bisa melongo menatapnya yang dengan santainya duduk bersandar sambil menyesap rokok.


"Rokok, Dian?" Ia menawari gadis itu namun Dian menggeleng karena dia bukan perokok.


Kembali hening, namun diam-diam Dian menatap kagum akan kecantikan gadis itu. Ditambah tambah lagi kulitnya yang mulus dan seputih susu.


Tak lama berselang, El membuka suara.


"Dian, sekarang kamu sudah tahu siapa aku sebenarnya. Aku ke sini ingin meminta bantuan darimu. Bisa nggak bamu membantuku?" lirihnya penuh harap.


"Tentu saja," jawab Dian.


Karena merasa gadis itu butuh penjelasan, akhirnya ia pun menceritakan semua tentang dirinya tanpa ada satupun yang ia tutup-tutupi.


El semakin terisak saat mengingat kembali ucapan Kai malam itu.


Tak pelak seketika membuat Dian shock mendengar kisah gadis malang itu. Ia pun turun dari ranjangnya lalu memeluknya sambil mengelus punggungnya merasa iba.


"Dian, aku nggak tahu bakal seperti apa kehidupanku kedepannya nanti. Jujur saja, aku takut jika aku sampai hamil dan mengandung anak dari pria brengsek itu," lirihnya sembari menyeka air matanya.


"Jangan khawatir aku akan membantumu," bisik Dian dengan suara tercekat.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2