All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
38. Merasa was-was


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu, setelah El dihubungi oleh pihak perusahaan dan diterima bekerja di Perusahaan itu. Ia pun mulai menjalani aktifitasnya sebagai OG di kantor B.A.M, sambil menunggu pendaftaran penerimaan mahasiswa baru.


Sedangkan Tara, ia tetap bekerja di kantor Kai seperti biasanya. Sejak Tara mengancamnya, Kai mulai menjaga jarak dengannya.


Begitupun hubungannya dengan Clara. Tara memutuskan untuk mengakhirinya. Alih-alih merasa sakit hati ia malah kegirangan.


Tak terasa sudah empat bulan El bekerja sebagai OG di kantor B.A.M.


Walaupun hanya sebagai OG, ia sangat menikmati perannya dan merasa senang karena karyawan di kantor tempatnya bekerja sangat ramah dan saling menghargai.


Saat ini ia dan beberapa karyawan sedang berada di pantry untuk beristirahat sambil makan siang bersama.


Tak lama berselang, ponselnya bergetar.


"Daniel?" lirihnya sesaat setelah menatap layar ponselnya.


"Ya hallo, ada yang bisa saya bantu, Pak."


"El, tolong buatkan dua gelas kopi dan satu teh hangat ya."


"Baik, Pak."


Begitu panggilan terputus, temannya bertanya,


"Ada apa?"


"Nggak apa-apa. Boss minta dibuatkan kopi dan teh. Sepertinya beliau ada tamu," jelasnya lalu merebus air.


Setelah air rebusannya mendidih, ia mulai menyeduh kopi dan teh lalu meletakkan kopi dan teh beserta sepiring kue yang telah diiris di atas nampan.


"Guys ... bentar ya, aku ke ruangan boss dulu," izinnya lalu terkekeh.


"Ok ..." sahut temannya serentak.


Sesaat setelah berada tepat di depan pintu ruangan Daniel, ia pun mengetuk pintu lalu membukanya.


"Permisi," sapa El kemudian meletakkan kopi dan teh di depan Pak Mulia, Bu Arini dan Daniel.


Bu Arini dan Pak Mulia terus menatapnya dan merasa tak asing dengan wajahnya.


Daniel yang sedang duduk di single sofa, merasa bingung dan ikut menatap El, Pak Mulia dan Bu Arini bergantian


"Silakan Bu, Pak," tawar El. "Saya sekalian permisi keluar," lanjutnya berpamitan lalu berdiri dan meninggalkan ruangan Daniel.


Begitu selesai menutup pintu. Ia terkejut dan hampir saja menjatuhkan nampannya.

__ADS_1


"Tara! Kamu apa-apaan sih?! Sukur nampannya nggak jatuh. Kalau nggak, ruangan ini pasti berisik. Mau taruh di mana mukaku jika tau karyawan sepertiku ini bar-bar," omelnya dengan perasaan kesal.


Tara hanya terkekeh menatapnya.


"Sudah ngomelnya? Kalau sudah, balik gih ke pantry," suruhnya lalu mengacak rambut pendek gadis tengil itu.


Cih ..." El berdecih lalu memutar bola matanya malas kemudian meninggalkan Tara yang masih cengengesan.


Setelah gadis itu menghilang dari pandangan matanya, barulah ia masuk ke ruangan Daniel.


"Papa, Momy, sudah lama?" sapanya.


"Nggak juga, Nak," sahut bu Arini.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu di kantor Kai?" tanya papanya.


"Baik dan lancar-lancar saja, Pah," jawabnya dengan santai.


Pak Mulia dan Bu Arini hanya geleng-geleng kepala menatap Putra semata wayangnya itu.


Hening sejenak ....


"Mah, sepertinya Papa mengenal dan pernah bertemu dengan OG tadi." Pak Mulia membuka suara. "Tapi di mana ya?" Ia tampak berpikir sekaligus mengingat-ingat


"Mama juga seperti itu, sepertinya tidak asing deh Pah," timpal bu Arini dan tampak ikut mengingat-ingat.


Dia bakal calon mantu kalian.


"Tara, kamu kenapa sih, senyum-senyum begitu?" tanya Daniel.


"Hmm ... nggak apa-apa, Dan. Lucu saja melihat papa dan momy." Ia terkekeh. "Pah, Mom, mikir apa sih?" tanyanya pura-pura tak tahu.


"Nggak ada Sayang. Momy dan papa merasa tidak asing saja dengan wajah OG tadi, Nak. Kalau boleh Momy jujur, anaknya ramah dan sopan, cantik pula," puji bu Arini.


Setelah itu mereka terlibat obrolan kecil dan sesekali tampak tertawa. Setelah puas bercengkrama dengan putranya. Pak Mulia dan Bu Arini pun beranjak dari tempat duduknya.


"Sayang, momy senang karena kamu sudah sering pulang dan mau menginap dirumah. Momy dan papa berharap kamu segera membawa dan mengenalkan calon mantu kami," kata Bu Arini lalu memeluknya.


"Momy benar, Nak," sambung Pak Mulia lalu menepuk punggungnya.


Tara hanya mengangguk lalu melepaskan pelukannya.


"Momy dan papa pulang dulu ya," pamit bu Arini dan Pak Mulia bergantian.


Tara hanya mengangguk lalu memastikan kedua orang tuanya masuk kedalam lift barulah ia kembali menutup pintu.

__ADS_1


"Dan, aku ingin kamu membobol sistem keamanan perusahaan Kai lalu bocorkan sedikit informasinya ke beberapa perusahaan lain," perintah Tara dan ia terlihat serius sambil menghisap rokok yang baru saja dibakarnya.


"Bukankah itu sedikit berlebihan Tara?" tanya Daniel.


Tara hanya menggelengkan kepalanya lalu menghembuskan asap rokoknya.


"No, Daniel. Aku perhatikan selama beberapa bulan ini, dia berusaha membobol sistem keamanan perusahaanku, bahkan dia sampai menyewa hacker. Tapi sukurlah aku cepat menanganinya. Hacker yang disewanya cukup terkejut karena aku berhasil membuat laptopnya error. Aku heran, kenapa Kai terlalu berambisi untuk menghancurkan perusahaanku ini.


"Tapi, Tara."


"Gak ada tapi-tapi, Dan. Aku tidak ingin membuat tanganku ini kotor hanya karena ingin menjatuhkan perusahaannya. Aku hanya ingin sedikit bermain-main dengannya. Biar dia tahu dengan siapa dia bermain-main," tegas Tara dengan sinis lalu menghembuskan asap rokoknya.


"Hmm, baiklah."


"Aku ke ruanganku dulu, Dan," pamitny lalu beranjak dari tempat duduknya.


Sesaat setelah berada di ruangan kerjanya, Tara berdiri di balik jendela kaca besar sambil menatap gedung-gedung tinggi darin balik jendela itu.


"Kai ... Kai ... aku nggak bisa membayangkan, jika kamu tahu akulah CEO B.A.M itu. Perusahaan yang ingin sekali kamu jatuhkan. Kamu lupa ya ku jika aku ahlinya di bidang itu," desisnya lalu tersenyum sinis.


"El, thanks for everything. Selama bersamamu, kamu banyak mengajariku tentang arti sebuah hubungan, saling menghargai, menasehatiku dan selalu mengingatkanku."


"Aku hanya sedikit kecewa karena kamu lebih memilih menjalani hubungan kita tanpa status daripada harus berkomitmen. Walau bagaimana pun aku akan tetap menunggu hingga kamu benar-benar menerimaku sebagai pendamping hidupmu," lirihnya lalu memejamkan matanya.


.


.


.


Waktu kini telah menunjukkan jam 19:00 malam.


El masih betah berada di rooftop kantor. Setelah puas menatap langit yang bertabur bintang, ia pun mengenakan jaketnya.


Sebelum meghampiri lift, ia ke loker untuk mengambil helmnya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnyansambil menenteng helmnya masuk ke dalam lift.


"Kok, perasaanku jadi nggak enak begini ya," desisnya sambil mengusap tengkuknya sesaat setelah berada di dalam lift.


Ting ...


Pintu lift terbuka. Ia melangkah keluar lalu berjalan menghampiri motornya yang sedang terparkir.


Entah mengapa perasaannya semakin tidak enak. Lagi-lagi ia mengusap tengkuknya. Ia merasa was-was seperti ada yang sedang mengawasinya.


"Sepertinya ada yang sedang mengawasiku."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2