
Meninggalkan El dan Dian, Kai yang kini sedang berada kamar sedang membuka laci meja nakas. Mengambil obatnya yang rutin ia minum dari dokter Mike.
"Sampai kapan aku harus meminum obat ini?" gumamnya.
Beberapa menit kemudian, ketika berada di kamar mandi ia menatap bathtub yang sudah terisi dengan air hangat.
Ia tersenyum tipis lalu masuk ke dalam bathtub. Merendam tubuhnya sembari memejamkan mata meresapi hangatnya air yang menggenangi tubuhnya.
Tiga puluh menit kemudian ...
Sambil menunggu El, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar.
"Sayang, aku nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Lord, aku nggak berharap banyak. Aku hanya ingin menghabiskan sisa usiaku bersamanya dan anak-anakku nantinya."
Asik dengan pikirannya sendiri tanpa terasa rasa kantuk mulai menyerangnya. Perlahan ia mulai memejamkan matanya.
Satu detik ....
Lima detik ....
Satu menit ....
Akhirnya ia benar-benar terlelap memasuki alam bawah sadarnya.
.
.
.
"Oh ya, Dian, aku sekalian pamit soalnya besok aku akan kembali ke Kota X. Masa liburan kuliahku juga sudah berakhir," pamit El.
"Baiklah, sekali lagi makasih ya El," balas Dian.
"Sama-sama, Dian. Oh ya, apa kamu sendiri saja?"
"Nggak, aku bareng Tara," kata Dian seraya mengarahkan telunjuknya ke arah sang suami.
"Kirain sendiri soalnya aku sekalian pengen ngantar kamu pulang," balas El. "Ya sudah, aku duluan ya, soalnya Alex sudah menunggu."
"Ok." Dian mengangkat kedua jempolnya lalu berkata, "El, aku juga menunggu kabar bahagiamu dengan Kai. Jangan lama lama nanti kalian bisa khilaf."
"Nggak usah khawatir, kami main aman kok," kata El lalu terkekeh. Setelah itu ia pun mengayunkan langkahnya meninggalkan Dian.
Sepeninggal El, Dian hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan temannya itu.
"Lex, kita ke supermarket sebentar ya," pintanya sesaat setelah duduk kursi mobil.
"Baik, Nona El." Ia pun kembali melajukan mobilnya ke arah supermarket terdekat.
Beberapa menit kemudian setelah sampai di tempat tujuan, El pun masuk ke supermarket untuk berbelanja sayuran, buah dan sedikit seafood untuk diolah ketika sampai di penthouse nanti.
__ADS_1
Merasa sudah cukup, ia pun langsung ke meja kasir untuk melakukan transaksi. Selesai urusan transaksi ia langsung meninggalkan tempat itu lalu menuju ke arah mobil.
"Lex ... ayo," ajaknya. Alex hanya mengangguk dan kembali mengendarai mobilnya.
.
.
.
"Thanks ya, Lex. Kamu nggak mampir dulu? Kita bertiga bisa ngopi atau ngeteh dulu," tawar El sesaat setelah ia keluar dari dalam mobil.
"Lain kali saja Nona El."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya," pesan El dan dijawab dengan anggukan oleh Alex.
El kembali melanjutkan langkahnya sambil menenteng kresek belanjaannya. Setelah masuk ke dalam lift, ia kembali terbayang wajah bahagia Dian.
"Semoga ini langkah awal kebahagiaan kalian berdua," gumamnya.
Sesaat setelah berada di dalam ruangan mewah itu, ia langsung ke pantry meletakkan barang belanjaannya di atas meja.
Ia kembali melangkah kecil menuju kamar utama lalu membuka pintu kamar. Ia tersenyum tipis mendapati Kai sedang tertidur
"Sepertinya dia kelelahan," gumamnya.
Karena tidak ingin mengganggu tidurnya, El kembali ke pantry untuk mengolah bahan makanan yang di belinya tadi.
Akhirnya selesai juga ia berkutat di pantry itu. Dengan cekatan ia menata makanan itu di meja makan.
"Finally," ucapnya dengan senyum tipis.
Ia tidak menyadari dari ambang pintu kamar, sejak tadi Kai sedang memperhatikannya sambil tersenyum.
"Hmmm ... rupanya bau masakan yang sejak tadi masuk ke indra penciumanku berasal dari sini," tegurnya.
"Sudah bangun?" tanya El dengan seulas senyum seraya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang prianya itu.
"Hmm," balas Kai lalu mendaratkan kecupan di bibir.
El terkekeh lalu melepas lingkaran tangannya. "Duduk lah, aku sudah membuatkanmu salad sayur dan buah. Oh ya, aku juga memasak udang saos asam manis untukmu. Tenang saja ini nggak pedas," pungkasnya.
"Thanks, sayang."
"Sama-sama," balas El. "Udangnya mau pakai nasi nggak Mr. bule?" tanya El lalu terkekeh.
"Nggak usah Sayang. Aku ingin makan salad saja."
"Baiklah," kata El. Layaknya istri sungguhan, El melayaninya dengan tulus.
"Sayang, maaf ya sudah membuatmu menunggu. Makan malam kita jadinya terlambat," ucap El lalu memberikannya mangkok berisi salad.
__ADS_1
Sebelum duduk di sebelah Kai, ia memeluknya sebentar lalu mengecup pipi calon suaminya itu.
Mendapat pelukan serta kecupan sayang dari El, seketika hati Kai menghangat merasa terharu. Penyesalan tiba-tiba saja menyelubungi dirinya.
Menyesali perbuatannya setahun yang lalu karena pernah membuat gadis yatim piatu itu menderita sampai-sampai menghancurkan semua mimpinya.
"Sayang." Kai menarik pelan lengan El lalu memintanya duduk di pangkuannya. Memeluknya sembari menatap lekat wajahnya
"Ada apa, hmm?" El tersenyum lalu mengelus rahang tegasnya dengan manik yang saling bertatapan. El perlahan memeluknya dengan erat.
Hening sejenak ...
Setelah merasa puas memeluk Kai, ia akhirnya mengurai pelukannya kemudian kembali menatap lekat manik hazel Kai yang kini meneteskan air mata.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya El lalu menyeka air mata Kai.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku merasa sangat terharu atas semua perhatianmu. Jika aku boleh jujur aku sangat menyesal pernah membuatmu terpuruk. Maafkan aku," ucap Kai dengan lirih.
"Semuanya sudah berlalu. Jangan dipikirkan lagi," bisik El. "Sudah ya, ayo kita makan soalnya aku sudah lapar."
Ia beranjak dari pangkuan Kau lalu duduk di sampingnya. Keduanya pun melanjutkan makan malam mereka.
Sesekali El menyuapinya di selingi dengan candaannya yang selalu membuat Kai tak berhenti tertawa.
Beberapa menit kemudian ...
Setelah selesai menyantap makan malam, keduanya kini sedang beristirahat di sofa santai sambil menatap pemandangan kota lewat dinding kaca pembatas ruangan itu.
Tampak indah dengan berbagai warna lampu yang menerangi di setiap gedung dan sudut bangunan kota itu.
"Sayang, besok kita berangkat ke kota X agak siang ya," cetus El sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kai.
"As you want, sayang," bisiknya Kai lalu mengecup puncak kepalanya.
Hening sejenak sebelum akhirnya Kai mengajaknya masuk ke kamar.
"Sayang, ini sudah larut. Sebaiknya kita tidur saja."
Sesaat setelah berada di dalam kamar El berkata, "Sayang, aku ganti baju dulu ya."
Kai hanya mengangguk lalu naik ke atas ranjang sambil menunggunya.
Selang beberapa menit kemudian, El ikut naik ke atas ranjang lalu meletakkan kepalanya di dada bidang nan liat Kai lalu memejamkan matanya.
Seketika sudut bibir Kai mengukir senyum sembari mengelus punggung mulus nan putih El.
Hingga akhirnya ia mendengar suara dengkuran halus yang menandakan jika gadis itu sudah terlelap.
"Jika dulu aku nggak bersikap kasar padamu, mungkin saat ini kita sudah memiliki anak. Sayang, please jangan membuatku menunggu terlalu lama. Aku nggak akan kuat jika setiap malam menatapmu seperti ini," gumamnya dalam hati.
...----------------...
__ADS_1