All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
80. Bukan aku tapi kamu Mr. bule bastard ...


__ADS_3

Malam harinya ...


Seperti janjinya pada Dian, El menyambangi Dian ke rumahnya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi padanya kemarin malam.


"Nyamannya ... sudah lama aku nggak tidur di kasur empuk seperti ini," aku El lalu terkekeh.


"Aku sudah bilang, tinggal saja bersamaku tapi kamu nggak mau," sahut Dian dan lalu ikut berbaring. "Lun."


"Hmm ... ada apa? Pasti kamu masih penasaran tentang kemarin malam kan?"


"Ya ..." sahut Dian.


"Dia teman lamaku, kami nggak sengaja bertemu di bar. Aku minum terlalu banyak semalam. Karena dia nggak tahu alamat rumahku akhirnya dia memutuskan membawaku ke apartemennya," jelas El meski sedikit berbohong.


"Tapi kalian nggak sampai ..."


"Nggak ..." potong El lalu terkekeh mengerti dengan apa yang dimaksud Dian.


"Berani banget sih, kamu pergi ke tempat begituan Lun," sambung Dian.


"Sekali-kali nggak apa-apa kali. Lagian sudah lama aku nggak menginjakkan kakiku di tempat seperti itu," balas El.


Dian bergidik membayangkan tempat itu. Ia melirik El yang hanya mengenakan celana pendek sepaha dan crop top.


"Dian, aku pulang soalnya mau istirahat. Besok aku masuk shift pagi. Oh ya, jangan lupa kabari aku jika hari H-mu sudah dekat."


El merubah posisinya menjadi duduk kemudian disusul Dian. Setelah itu ia meraih jaketnya lalu mengenakannya.


"Iya Lun. Aku sangat berharap kamu datang di hari bahagiaku itu," sahutnya.


"Aku pasti datang," kata El lalu meninggalkan kamar itu.


Sesaat setelah berada di ambang pintu utama, El terkejut saat berpapasan dengan Andra yang baru saja tiba.


Ia tidak menyapa melainkan menundukkan kepala lalu mempercepat langkahnya. "Damn! Dian gimana sih! Kenapa dia nggak bilang jika Andra ada di Kota ini," gumamnya dalam hati.


Andra tertegun menatap El. Seketika ia tampak berpikir. "Sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu, tapi di mana ya?"


Sedangkan El, ia terpaksa mengarahkan langkahnya ke arah yang berbeda untuk menghindar.


Mau tidak mau ia ke salah satu toko untuk membeli masker dan topi. "El, kenapa kamu bisa ceroboh begini sih? Bagaimana jika ada yang masih memata-mataimu?" gumamnya. "Sebaiknya aku ke Mall saja."


Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya lalu memesan ojol. Sambil menunggu tiba-tiba saja ia teringat Lois dan Mike.


"Aku kangen banget dengan kalian berdua," ucapnya.


Ia kembali mengenang kebersamaan mereka bertiga. Lois sahabatnya yang pecicilan, suka tebar pesona. Sedangkan Mike, sosok yang kalem.


Tit .... tit .... tit ....


Suara klakson motor seketika membuyarkan lamunannya. "Dengan Mbak Culun ya?"


"Iya Bang. Tolong antar aku ke Mall X ya?" pinta El lalu naik ke atas motor lalu mengenakan helm.


"Siap Mbak!"


Di sepanjang perjalann, El kembali teringat ungkapan penyesalan Kai semalam.


"Apa benar dia nggak tahu jika aku ini yatim piatu? Atau hanya berpura-pura saja? Entahlah," batin El.

__ADS_1


"Mbak ... Mbak ... kita sudah sampai," tegur bang ojol.


"Hmm ... sudah sampai ya?" sahut El kemudian turun dari motor lalu melepas helmnya. "Makasih ya, Bang. ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi."


"Iya, Mbak," balas bang ojol.


El pun melangkah pelan memasuki pusat perbelanjaan itu lalu mengarahkan langkah kakinya ke salah satu galery optik untuk membeli kacamata.


"Sial! Jika bukan karena Andra, aku sudah rebahan cantik," gerutunya.


Setelah mendapat kacamata yang ia inginkan, ia pun meninggalkan tempat itu.


El terus melangkah pelan dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar. Sehingga ia tiba-tiba saja terlonjak kaget karena bahunya ditepuk oleh seseorang.


Deg ...


Jantungnya langsung berdebar kencang, takut kalau-kalau itu adalah mata-mata Kai dan Tara.


"Sendiri saja Lun?"


Lagi ... sepasang matanya langsung membulat mendengar suara itu.


"Kai? Sejak kapan dia ada di sini? Bagaimana caranya aku pulang jika dia terus mengikutiku? El, come on pikirkan sesuatu!"


El tidak menjawab melainkan ia terus mempercepat langkahnya meninggalkan Kai.


Sedangkan Kai terlihat menyeringai menatap punggung gadis itu yang sudah agak jauh darinya.


"El!!!" panggilnya dengan suara lantang. Pikirnya El akan berbalik atau berhenti. Namun dugaannya salah sekaligus membuatnya kecewa.


"Kamu pikir aku bodoh apa?!" geram El. "Aku nggak akan terkecoh lagi."


Tak pelak, ulahnya itu membuat El risih dan kesal.


"Kamu apa-apaan sih! Lepasin nggak! Apa kamu ingin dibilangin Om--Om nggak tahu diri?" sindir El.


Ingin rasanya gadis berambut keriting itu tertawa namun sebisa mungkin ia menahannya.


Mendengar El mengatai dirinya Om, Kai langsung berdecak kesal. "Ck ... aku belum setua itu, Lun. Aku masih ok, tampan dan ..."


"Dan apa?" ketus El sekaligus menghentikan langkahnya.


Kai mendekatkan bibirnya ke telinga El lalu berbisik, "Masih perkasa di atas ranjang untuk membuat anak."


El membelalakkan matanya lalu mendorong dada Kai. "Dasar Mr. bule bastard mesum!"


Kai langsung terkekeh mendengar kalimat gadis itu barusa. Ia masih saja menatap lekat wajah El meski tertutup masker.


"Mr. bule, jangan menatapku seperti itu, takutnya kamu bakal jatuh cinta pada gadis culun, jelek dan bar-bar ini," kelakar El.


"Masalahnya, jika itu benar terjadi apa kamu mau menerimaku?" cecar Kai.


"Lalu ... bagaimana dengan El?" El balik bertanya.


"Jika aku sudah berusaha namun nggak berhasil menemukannya, nggak ada salahnya jika aku jatuh cinta padamu," kata Kai.


"Apa kamu nggak malu jika kamu bakal dicibir? Apalagi kamu seorang CEO terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri. Apa kata dunia jika seorang Kai memiliki pacar yang jauh dari kata sempurna," tutur El panjang lebar.


"Lagian aku juga nggak tertarik dengan pria sepertimu meski kamu kaya raya," sindir El.

__ADS_1


"Kenapa?" selidik Kai.


"Karena kamu seorang player," jawab El.


Kai menghela nafasnya kasar. "Sebelum menodai El, aku akui diriku memang seorang player. Aku sudah berubah sekarang. Setelah kejadian malam itu, aku sudah nggak tertarik lagi dengan wanita manapun kecuali pada El ..."


El menggedikkan bahu sambil menaikkan kedua alisnya. "Ada apa?" tanya El.


"Aku cukup penasaran dengan gadis culun, jelek dan bar-bar sepertimu," bisik Kai. "Entah mengapa aku melihat sosok El ada di dalam dirimu."


Tangan Kai perlahan terangkat ingin melepas kacamata dan masker yang menutupi wajah El namun dengan cepat El menahannya.


"Jangan ... atau tangan ini akan patah," ancam El sekaligus menahan tangan besar Kai.


"Coba saja, aku ingin tahu bagaimana caramu mematahkan tanganku ini," tantang Kai dengan senyum tipis.


"Kamu!!" kesal El lalu menghempaskan tangan Kai.


"Kenapa? Jangan membenciku Lun. Sahabatku Tara ... no, ralat sahabat. Itu dulu, sekarang kami malah bermusuhan. Dia pernah mengatakan padaku antara cinta dan benci itu saling berhubungan dan perbedaannya hanya sedikit. Bisa saja kan kamu yang jatuh cinta padaku karena membenciku,"


"Cih! Hanya dalam mimpimu saja jika aku bakal jatuh cinta padamu Mr. bule," sahut El dengan ketus lalu memutar bola matanya malas.


Kai tersenyum menatapnya. Entah mengapa ia merasa gemes dengan sikap El. Keduanya kembali terdiam.


"Mr. bule ..."


"Ada apa?" Kai menoleh.


"Tadi kamu bilang, sahabatmu tapi kalian malah bermusuhan. Kenapa bisa?" selidik El.


"Semuanya bermula setelah kejadian malam itu. dia menghajarku habis-habisan lalu mengundurkan diri sebagai asistenku."


"Aku baru tahu jika dia ternyata CEO dari B.A.M. Nggak sampai di situ saja, dia juga memutuskan semua hubungan kerjasama dengan perusahaan ku. Sejak saat itu, aku dan dia sudah nggak pernah lagi bertegur sapa."


Kai menundukkan wajahnya. Menghela nafas lalu kembali melanjutkan kalimatnya ceritanya.


"Apa kamu masih ingat? Seminggu yang lalu ketika kita berada di Kota A? El juga ada di Kota itu tapi kami sama-sama nggak menemukan jejaknya. Lagi-lagi Tara mendatangiku ke kantor lalu menghajarku hingga nyaris kehilangan nyawa."


"Saat itu yang ada di pikiranku adalah El. Nggak masalah jika aku meninggal detik itu juga jika El sudah memaafkanku," pungkas Kai lalu menyeka air matanya.


El hanya bergeming. "Oh God, tampak jelas jika si bule bastard ini benar-benar menyesali perbuatannya. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku perhatikan dia memang sudah berubah. Tapi entahlah."


"Bagaimana jika El masih membencimu dan nggak mau memaafkanmu?" tanya El.


"Maka selamanya aku akan terjebak dalam penyesalan terdalam. Lun, sampai detik ini aku masih terus berkonsultasi dengan psikiater untuk mengatasi perasaan bersalah itu. Setiap malam aku terpaksa meminum obat penenang. Jika nggak begitu maka aku akan merasa gelisah."


"Anehnya semalam, saat El tidur bersamaku aku malah bisa tertidur dengan nyenyak," pungkas Kai.


El bergeming sekaligus sangat terkejut mendengar penjelasan Kai barusan.


"Maaf ... jika aku seolah mengintrogasimu," kata El.


"Nggak apa-apa," balas Kai lalu menyeringai. Ia lalu berbisik, "Sepertinya kamu mulai luluh padaku."


El menggelengkan kepalanya lalu menangkup wajah Kai. Menatap dalam manik hazelnya. "Bukan aku tapi kamu Mr. bule bastard."


Ucapan El seketika membuat dada Kai kembali berdebar. Ia tertegun mendengar suara lembut gadis itu.


Setelah itu, El perlahan melangkah meninggalkannya yang masih terpaku ditempat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2