
Sesaat setelah berada di apartemen. El langsung menapaki tangga menuju kamar kemudian langsung ke walk in closet.
Ia langsung menggelengkan kepalanya ketika mendapati kopernya sudah berada di ruang ganti itu
"Bener-bener nekat." El lalu duduk di sofa. Karena bingung tak tahu harus ngapain, akhirnya ia menata ulang semua benda yang ada di ruang ganti itu dengan rapi.
Setelah kurang lebih satu jam berkutat menata ulang semua benda yang ada di ruangan itu, kini El merasa puas lalu mengulas senyum.
"Finally selesai juga." Setelah itu, ia ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian ...
Ia sudah rapi mengenakan dress selutut berwarna blue sky . Sebelum berangkat ke restoran, ia menghubungi Kai terlebih dahulu.
Hanya di deringan pertama, Kai langsung menjawab panggilan video darinya.
Seketika Kai langsung mengulas senyum menatap El lewat layar benda pipih tersebut.
"Sayang ... apa kamu akan berangkat sekarang?" tanya Kai.
"Iya."
"Sayang, biar Richard yang mengantarmu," tegas Kai.
"Baikah ... kamu pulang jam berapa nanti?" tanya El.
"Sekitar jam lima sore, say6ang. Aku akan menghubungimu nanti. Oh ya, mungkin sebentar lagi Richard sampai."
"Ok... kamu hati-hati ya," pesan El lalu mengulas senyum sambil melambaikan tangannya.
Setelah itu ia pun memutuskan panggilan video. Tak lama berselang bel pintu berbunyi. El segera meraih tas tangannya lalu turun ke bawah.
Saat membuka pintu, Richard tertegun menatapnya. "Anggun banget pacar si boss," gumamnya dalam hati.
"Ayo ..." ajak El lalu terkekeh.
"Ah ... i--iya, Nona El."
Sesaat setelah berada di dalam mobil. "Maaf ya, sudah merepotkanmu," kata El sambil memasang seat belt.
"Nggak apa-apa, Nona El. Memang sudah menjadi tugas saya," sahut Richard lalu mulai mengendarai mobilnya.
Di sepanjang perjalanan El terus mengajak Richard mengobrol bahkan sesekali mengusilinya. Richard tidak menyangka jika El seramah itu.
Tak lama berselang mereka pun tiba di restoran.
"Thanks ya, Richard. Kamu pulang duluan saja, soalnya aku mungkin sedikit lama," kata El.
"Tapi ..."
"Nggak apa-apa, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Jangan khawatir, nanti aku akan menjelaskan pada Kai."
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah memastikan Richard meninggalkannya, El menghela nafas. Sambil melangkah pelan ia menghitung setiap langkahnya sehingga lagi-lagi ia menubruk seseorang.
Ia berhenti lalu mendongak. "Candra?!"
Candra hanya bergeming menatapnya yang terlihat anggun.
"Jadi, aslinya Culun seperti ini? Aku sudah bisa menebak sejak awal. Di balik kacamata tebalnya serta wajah yang di penuhi bintik-bintik fake itu, menyimpan kecantikan alami," batin Candra.
"Candra, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya El dengan seulas senyum.
Candra hanya mengangguk. "Tentu saja, Lun."
"Sebelumnya aku ke ruangan bu Amanda dulu ya," izinnya.
"Hmm ... aku akan menunggumu di VIP room restoran, ya."
"Ok ..."
El mempercepat langkahnya ke ruang kerja Bu Amanda. Setelah mengetuk pintu ia pun masuk menemui manajernya itu.
"Selamat sore b6u," sapa El lalu tersenyum.
Bu Amanda menautkan alisnya menatap heran padanya.
"Bu, aku Culun," aku El. "Nggak usah bengong begitu Bu." El lalu duduk di kursi berhadapan dengan bu Amanda.
"Apa benar kamu Culun?" tanya bu Amanda tidak percaya.
Bu Amanda menatap lekat wajah El.
"Bu, aku sekalian mau resign. Soalnya aku ingin fokus kuliah, apalagi saat ini aku ambil mata kuliah tambahan dan akan semakin aktif di kampus," jelas El. "Sekali lagi aku sangat berterima kasih."
"Apapun keputusanmu, saya dan teman-teman di sini tetap mendukungmu. Tetap semangat ya."
"Terima kasih banyak ya, Bu."
Setelah itu, El menjabat tangan bu Amanda lalu berpamitan kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangan VIP untuk menemui Candra.
"Candra ... maaf. Aku sudah membuatmu menunggu," sesal El lalu duduk berhadapan dengannya.
"Nggak apa-apa Lun," sahut Candra sambil menatap lekat wajah gadis itu.
"Candra ... sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu. Tanpa rasa malu kamu mau berteman denganku bahkan saat aku terlihat aneh," kata El lalu terkekeh. "Maaf ... jika selama ini aku selalu saja bersikap ketus dan kasar padamu. Terima kasih juga karena selama setahun ini kamu sudah banyak membantuku," pungkasnya.
Candra hanya bergeming dan hanya menjadi pendengar bahkan terus menatap wajahnya.
Setelah mengobrol sebentar dengan Candra, El akhirnya berpamitan.
"Lun, biar aku mengantarmu," tawar Candra.
"Baiklah ... antar aku ke apartemen Kai. Soalnya aku ingin bertemu dengannya di sana." El terpaksa berbohong karena ia tidak ingin Candra tahu jika ia sudah pindah ke tempat itu.
.
__ADS_1
.
.
Setibanya di depan gedung apartemen, tak lupa El berterima kasih pada Candra.
"Candra, thanks ya."
Candra hanya mengangguk lalu mengulas senyum.
Setelah itu, El melangkah menuju lift untuk mengantarnya naik ke unit Kai.
Sesaat setelah berada di ruangan itu, ia langsung ke ruang santai untuk beristirahat. "Sepi banget," keluhnya. "Apa kabar Dian dan Tara ya? Semoga saat ini mereka berdua sudah berada di Maldives."
El kembali melangkah menaiki anak tangga menuju kamar. Saat berada di ambang pintu, alisnya saling bertaut menatap Kai yang sedang berdiri di teras balkon kamar.
"Sayang .... " gumamnya lalu menghampiri Kai.
El langsung memeluknya dari belakang sesaat setelah berada tepat di belakang punggung prianya itu.
"Sayang, kamu sudah pulang," bisiknya Kai sembari mengelus lengan El yang melingkar di perutnya.
"Hmm ..."
"Sudah bertemu dengan manajermu dan candra?"
"Hmm ..."
Kai mengulas senyum mendengar jawaban singkat El. Ia berbalik lalu merengkuhnya kemudian membenamkan dagunya di puncak kepala.
"Sayang ... apa kamu sudah siap menikah denganku?"
"Siap tidak siap, aku harus siap," bisik El lalu mengecup dada bidang Kai. "Sayang, kamu mau kan menungguku enam bulan lagi setelah aku selesai ujian semester tiga?" El melonggarkan sedikit dekapan Kai lalu menatapnya.
"Sayang, aku merasa itu terlalu lama," protes Kai.
"Mau bagaimana lagi. Nggak mungkin kan aku izin lagi, soalnya aku baru-baru habis libur semester," jelas El.
"Aku takut nggak bisa mengendalikan diriku, sayang," bisik Kai lalu mengecup bibirnya.
"Kamu pasti bisa," sahut El lalu mengalungkan kedua tangannya ke punggung leher Kai.
Kai langsung menggendongnya seperti anak koala lalu membawanya ke tempat tidur kemudian mengungkungnya.
"Sayang, jangan mulai deh," bisik El.
"Untuk bekalku besok, Sayang," goda Kai.
El langsung terkekeh sambil mengelus rahang tegas Kai. Keduanya sama-sama tertawa lucu sebelum akhirnya suara seseorang menegurnya.
"Sayang ... sedang apa kalian?"
...----------------...
__ADS_1