All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
136. Spesial Moment ...


__ADS_3

Penantian Kai untuk mempersunting El untuk menjadi istrinya akhirnya bisa terwujud juga.


Tak ada kata yang bisa ia ungkapkan melainkan merasakan kebahagian yang luar biasa di segenap hatinya.


Pagi hari tepatnya jam sembilan pagi waktu setempat, Kai mengucap ijab qobul di mansion dan dihadiri oleh keluarga dekat saja.


Setelah itu ia mencatatkan pernikahan mereka di Standesamt Jerman.


Baik Kai maupun El, keduanya hanya menunggu waktu menjelang sore untuk melaksanakan wedding party secara sederhana dan tertutup.


Undangan yang akan hadir hanyalah kerabat keluarga dari mama Glori dan papa Abraham beserta beberapa teman bisnis.


Sebelum menyelenggarakan resepsi yang akan berlangsung malam nanti, Kai dan El menyempatkan diri ke lokasi resepsi.


"Sayang, ide kamu boleh juga. Aku ingin setelah kamu selesai kuliah kita akan membuat konsep wedding outdoor yang jauh lebih megah dari ini," usul Kai.


Mendengar keinginan suaminya, El langsung memeluknya dengan perasaan terharu.


"Megah ataupun tidak, aku merasa ini sudah lebih dari cukup, Sayang," bisik El.


Hening sejenak ...


"Maafkan aku karena sikapku terdahulu," ucap Kai setengah berbisik. "Mulai detik ini dan seterusnya aku akan membahagiakan dirimu dan anak-anak kita."


El bergeming, air matanya perlahan menetes di pelukan sang suami. Ingatannya kembali berputar mengenang pertemuan pertama mereka yang terbilang jauh dari kata bersahabat.


"Sayang ... kamu benar, kita nggak akan pernah tahu pada siapa seseorang akan melabuhkan cintanya kepada pemilik sesungguhnya. Ternyata cintamu akhirnya berlabuh pada pria bastard, bajingan juga brengsek ini," ucap Kai lalu tergelak.


Ucapan yang terlontar dari bibir suaminya itu seketika membuat El ikut tergelak lalu memukul dada liatnya. Perasaan yang tadinya haru berubah menjadi lucu.


Ia kembali teringat wajah kesal sang istri yang sering menyebutnya bastard.


"Aku mencintaimu, Sayang bahkan hingga akhir nafasku berhenti," ucap Kai lalu mengecup lama kening istrinya.


Keduanya tak menyadari jika Mike, Lois dan Damian sedang menghampiri keduanya.


"Ehem ... ehem ...." Damian berdehem menyadarkan pasangan yang sudah resmi menyandang status suami istri itu. "Romantis banget."


Ia pun memeluk sepupunya itu sekaligus memberi selamat. Pun begitu dengan Mike dan Lois.


"Dear ... selamat ya," ucap Mike. "Berbahagialah."


"Thanks, Mike," balas El lalu tersenyum.


"El, selamat ya, Dear. Semoga langgeng hingga ke anak cucu," ucap Lois lalu memeluknya.


"Thanks ya, Lois. Kamu sahabat terbaikku. Semoga kamu juga cepat menyusul."


Suasana pagi itu terasa syahdu, tenang sekaligus terasa damai dengan ikatan pertemanan serta persaudaraan mereka.

__ADS_1


"Sayang, yuk kita abadikan dulu moment ini dengan foto bareng," usul Kai.


"Boleh ..." sahut El.


Kai meminta salah satu karyawan yang sedang sibuk menata kursi, untuk memotret mereka ber-lima.


Setelah itu, ia langsung meng-upload foto itu ke medsosnya dengan caption 'Special moment'.


Senyum manis, saling merangkul menambah kesan persaudaraan mereka terlihat jelas.


.


.


.


.


Jauh dari belahan dunia dengan perbedaan waktu lima jam lebih cepat dari kota Berlin, kota A sudah mulai sore.


Dian yang saat ini sedang berada di kediaman mertuanya tampak beberapa kali menghubungi El.


"Kok, nomor ponsel El nggak pernah aktif sih?" gumamnya. "Apa dia sibuk banget ya di kampus?"


"Dian, ada apa?" tanya Tara yang baru saja pulang dari kantor. Ia pun duduk di samping istrinya.


"Nggak apa-apa. Sejak tadi aku menghubungi El tapi nomornya nggak aktif," jelas Dian.


"Coba hubungi lewat medsosnya saja," saran Tara, namun ia juga sedikit penasaran.


"Benar juga ya," ucap Dian setengah berbisik.


Tak lama berselang dari arah dapur, momy Arini menghampiri anak dan menantunya itu dengan membawa teh hangat juga cemilan.


"Tara, sudah lama, Nak?" tanya momy Arini.


"Baru saja, Mom," jawab Tara lalu bersandar di sofa.


"Sayang, ini teh hangat juga cemilan," kata momy Arini sembari meletakkan nampan itu di atas meja sofa. "Momy bersyukur karena sebentar lagi momy dan Papa akan segera menjadi nenek dan kakek."


Dian dan Tara hanya tersenyum mendengar ucapan momy Arini.


"Waaah, so sweet banget sih?! Tara, lihat deh." Dian memperlihatkan layar ponselnya. "Keren banget tempatnya."


Tara menatap lekat layar ponsel istrinya itu lalu membaca caption yang tertulis.


"Special Moment? Yang men-tag Kai. Ada Damian juga. Sepertinya mereka ada di acara wedding party?! Tapi siapa yang menikah? Apa Mike dan Lois?" Benak Tara kini dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


"El cantik banget ya. Lihat gaun yang di kenakan serasi banget dengan kemeja Kai," puji Dian menatap kagum pasangan itu. "Dokter Lois dan pria di sampingnya juga mengenakan pakaian senada. Dan pria yang mirip banget dengan Kai ini siapa?" tanya Dian penasaran.

__ADS_1


"Sepupunya Kai dan di samping dokter Lois itu dokter Mike, mungkin saja mereka yang menikah," jawab Tara menebak.


Sedangkan bu Arini yang sedikit penasaran dengan pembicaraan anak dan menantunya itu sedikit mendekat.


"Boleh momy tahu kalian sedang membahas apa?"


"Cuma foto, Mom," jawab Dian lalu menunjukkan foto itu.


Bu Arini tersenyum sinis seolah tak suka. Bukan tanpa alasan, sejak El meninggalkan Tara tanpa berita, entah mengapa ia berbalik tidak menyukai El.


"Momy sarankan kamu nggak usah terlalu dekat dengan El. Entah mengapa momy sudah nggak respect dengan anak itu sejak dia meninggalkan Tara. Sepertinya dia bukan gadis baik-baik. Lihat sendiri kan dia lebih memilih Kai. Itu karena dia pasti mengincar harta," tuduh bu Arini.


Tara dan Dian hanya bergeming mendengar tuduhan momy Arini yang ditujukan pada El.


"Aku ke kamar dulu," pamit Tara lalu beranjak dari sofa menuju kamarnya.


Niat Dian yang tadinya ingin menghubungi El, seketika lenyap sekaligus memilih menyusul Tara.


.


.


.


Jam 6 sore waktu kota Berlin ....


Tampak Kai begitu setia menemani sang istri yang masih di rias oleh MUA. Senyumnya terus mengembang menatap kagum istrinya itu.


Tiga puluh menit kemudian, El selesai dirias. MUA pun meninggalkan keduanya di kamar hotel tersebut.


Kai menghampiri sang istri lalu berdiri tepat di belakangnya. Menatap pantulan diri mereka dari kaca rias.


"Sayang," lirih El lalu berdiri kemudian berbalik berhadapan dengan Kai. Ia menangkup wajah suaminya lalu mengulas senyum.


"Sayang, you are so beautiful," puji Kai.


"Terima kasih atas pujiannya, Sayang," bisik El dengan senyum manis.


"Sebentar, aku akan memakaikanmu perhiasan ini." Kai membuka kotak perhiasan yang dihadiahkan oleh mama Glori untuk El.


Sementara Kai memakaikan set perhiasan itu, El berkelakar pada suaminya.


"Sayang ... hadiah darimu untukku mana? Masa cuma mama yang memberiku hadiah. Kamu nggak romantis seperti papa."


Mendengar ledekan istrinya, Kai berdecak kesal. Namun sedetik kemudian ia menyeringai.


"Ada kok, aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari Sayang," bisik Kai.


"Benarkah?" tanya El.

__ADS_1


"Hmm, hadiahnya bahkan lebih spesial dari ini. Yang pastinya akan membuatmu jauh lebih bahagia," bisik Kai. "Nanti saja aku berikan. Ayo kita turun sekarang. Kerabat mama dan papa pasti sudah menunggu kita."


...----------------...


__ADS_2