All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
152.


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Kai kembali mengalami morning sickness, ia terus memuntahkan isi perutnya bahkan kepalanya merasakan pusing yang amat sangat.


"Sayang ..." ucap El dengan lirih sembari memijat tengkuk suaminya.


"Sayang, jangan khawatir begitu. Nggak apa-apa aku yang mengalaminya. Asalkan kalian berdua tetap sehat dan baik-baik saja," bisiknya lalu membawa El masuk ke dalam pelukannya.


"Sebaiknya kamu nggak usah ngantor dulu ya," pinta El dengan perasaan cemas. "Apa seminggu terakhir kamu seperti ini?"


Kai hanya mengangguk lalu mengecup keningnya dengan sayang.


"Nggak apa-apa Sayang, jangan khawatir begitu. Percayalah aku baik-baik saja. Lagian Lois sudah meresepkan obat mual untukku," jelasnya.


El hanya bergeming menatap maniknya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah menduganya, inilah yang membuatku nggak tega jika kamu khawatir begini Sayang," batin Kai.


"Sayang, kita check up kandunganmu di rumah sakit lain ya. Takutnya kita ketahuan apalagi dokter yang menangani Dian adalah temanmu," cetus Kai.


El hanya mengangguk dalam pelukannya. "Mandilah dulu, aku akan membuatkanmu teh jeruk hangat," bisik El lalu mengurai dekapannya.


"Hmm."


Setelah itu El meninggalkannya lalu turun ke lantai satu menuju pantry.


"Selamat pagi Bi?" sapa El dengan seulas senyum.


"Pagi juga Nona El. Ada yang bisa Bibi bantu?" tanya bi Nita.


"Nggak Bi, aku hanya ingin membuat teh jeruk untuk Kai. Bibi siapkan sarapan saja ya," pintanya.


"Iya Non."


"Oh ya, Bi. Bi Aira kok nggak kelihatan?"


"Bibi ada di sini," sahutnya yang baru saja masuk dari arah pintu belakang.


"Ngapain di taman belakang Bi? Apa jangan jangan ...?" El menjeda kalimatnya lalu terkekeh.


"Jangan berpikir yang macam-macam. Bibi hanya menyiram tanaman," jelasnya sekaligus mematahkan pikiran usil majikannya itu.


El dan Bi Nita langsung tertawa. Sedangkan Bi Aira hanya geleng-geleng kepala menatap keduanya.


*******


Beberapa menit kemudian, Kai menghampiri istrinya yang sedang duduk di dekat pinggir kolam sambil membawa teh jeruk hangatnya.


"Sayang," tegurnya lalu duduk di sebelahnya.


"Sudah merasa baikkan?" tanya El dan di jawab dengan anggukan oleh Kai.


"Teh jeruk ini cukup membantu, setidaknya rasa mualku berkurang. Tapi justru karena kehadiranmu lah yang membuatku membaik," aku Kai.


"Sayang, aku mandi dulu ya," izin El. "Setelah ini kita siap-siap. Oh ya, aku sekalian ingin bertemu Vira. Apa boleh?"


"Boleh sayang, tapi kamu harus hati-hati ya," pesan Kai seraya mengelus perutnya yang masih rata. "Apa kamu belum mengabari Dian? Kemarin aku nggak sengaja bertemu dengannya dan Tara di rumah sakit."


"Nanti saja, setelah bertemu dengan Vira," balas El. Ia pun berdiri lalu meninggalkan suaminya.


*******


Pukul 9.30 pagi ....


El dan Kai tampak sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit C. Di sepanjang perjalanan, El terus menggenggam tangan suaminya.


Hingga keduanya tiba di rumah sakit C.

__ADS_1


"Sayang, ayo ..." ajak Kai seraya merangkul pinggang istrinya dengan posesif.


El hanya mengikuti langkah suaminya. Setelah mengambil nomor antrian keduanya pun duduk di salah satu bangku yang kosong.


Kai tersenyum saat melihat beberapa wanita hamil yang ikut mengantri bersama pasangannya masing-masing.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kok senyum-senyum begitu. Senang banget ya, bakal jadi calon Daddy," bisik El.


"Menurutmu?" Ia balik berbisik lalu mengecup keningnya.


"Sayang!" El lalu mencubit perut suaminya dengan gemas.


"Ssssttt, sakit tahu," ringisnya lalu terkekeh.


"Siapa suruh, sempat-sempatnya curi kecupan. Dasar mesum," bisik El.


"Nggak apa-apa mesum sama istri sendiri, asalkan jangan sama istri orang." Kai balik berbisik lalu terkekeh.


El melotot kesal, ingin rasanya ia menggigit dada berotot suaminya saat itu juga tapi urung ia lakukan karena berada di tempat umum.


Tak lama kemudian, nomor antrian mereka pun di panggil.


"Ayo sayang," ajak Kai dengan semangat disertai senyumnya yang mengembang sempurna.


Keduanya pun masuk ke ruangan praktek itu.


"Kai?" sapa sang dokter kandungan.


"Bunda," sahutnya sambil cengengesan lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siapa gadis ini? Jangan bilang kamu ...."


"Ini istriku Bunda," kata Kai sekaligus menyela cepat.


Dokter Kiara langsung menjewer telinganya. "Kenapa nggak mengabari Bunda jika kamu sudah menikah, hmm?" kesalnya lalu melepas jewerannya.


Sedangkan El hanya bengong menatap keduanya.


"Nggak," jawab Bunda Kiara sambil mendengus kesal.


Kai melirik istrinya. "Sayang, kenalin ini Bunda Kiara, mamanya Damian. Suami Bunda Kiara bersaudara sama mama," jelas Kai. "Bunda, ini El istriku. Maaf kami menikah secara tertutup di Jerman. Pernikahan kami sengaja kami rahasiakan hingga El lulus kuliah nanti."


"Ya sudah, selamat untuk kalian berdua, Nak. Walaupun terlambat memberi selamat, Bunda doakan pernikahan kalian akan langgeng dan bahagia," ucap Bunda lalu mengelus lengan Kai dan El.


"Terima kasih, Bunda," balas El dengan seulas senyum.


"Sama-sama Nak. Oh ya, apa kalian ingin konsultasi atau mau check kandungan?" tanya Bunda.


"Check kandungan," jawab Kai.


"Jadi ... kamu sedang hamil, Nak?" tanya bunda dengan rona wajah bahagia lalu memeluk El. "Apa mama Glori sudah tahu?"


"Belum, kami akan memberi tahu setelah mendapat foto USG," jawab Kai .


"Ya sudah ... kita ke bed ya," ajak Bunda.


El dan Kai hanya terkekeh melihat kelakuan Bunda Kiara yang tampak begitu semangat.


Bukan tanpa alasan, mendengar kabar bahagia itu, setidaknya ia bisa mengobati rasa kehilangannya atas meninggalnya sang menantu dan cucunya.


Setelah berbaring, Bunda Kiara mengoleskan gel ke perut El lalu mulai menggerakkan alat di atas perutnya.


Mata Kai dan El tak lepas dari layar monitor. Memperlihatkan janin mereka yang kini masih sebesar biji kacang.


"Kai, El apa kalian melihatnya? Mereka ada tiga, artinya kalian bakal punya baby triplets. Selamat ya, Nak," ucap Bunda dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang," lirih El seraya menggenggam jemari suaminya dengan perasaan terharu.

__ADS_1


"What!!! Triplets? Oh Lord, thank you so much," pekik Kai tak kuasa membendung air matanya.


Ia langsung memeluk El sambil menangis. "Sayang ... apa kamu lihat dan mendengar apa yang bunda katakan barusan? Kita akan memiliki triplets," bisiknya lalu mengecup lama kening istrinya kemudian menyeka air matanya.


"Selamat ya, Nak. Bunda ikut bahagia," ucap bunda. "Mama Glori pasti senang mendengar berita bahagia ini."


Untuk sejenak ruangan Bunda Kiara di selimuti dengan perasaan haru sekaligus bahagia sebelum akhirnya, ia kembali mengajak El dan Kai duduk di depan meja kerjanya.


"El, apa ada keluhan, Nak? Biasanya di awal-awal kehamilan, bumil pasti akan mengalami mual, pusing dan muntah-muntah," tanya bunda.


El menggelengkan kepalanya lalu melirik Kai kemudian tertawa. "Bukan aku Bun tapi Kai, dia mengalami couvade syndrome."


"Kok kamu tahu istilah itu, Nak?" tanya bunda dengan heran.


"Tahulah Bun, El ini calon dokter juga," sahut Kai.


"Beneran Nak?!"


El hanya mengangguk lalu tersenyum. "Bun, jika aku akan melahirkan, aku ingin Bunda yang menangani aku. Mau ya, Bun."


"Dengan senang hati, tentu saja Bunda mau, apalagi akan menyambut si triplets," ucap bunda. "Oh ya, Bunda resepkan vitamin saja ya, dan ini susu hamil yang bunda rekomendasikan. Nanti beli di apotik atau di swalayan saja," saran bunda lalu menyerahkan selembar kertas kecil pada El.


"Terima kasih, Bun. Kami sekalian pamit," ucap Kai.


Bunda Kiara pun mengantar keduanya hingga ke depan pintu.


"Kai, El ini foto USG calon bayi kalian. Kai, perhatikan dan jaga baik-baik istrimu Nak, dan kamu El, jaga selalu kesehatanmu ya. Semoga kamu dan calon bayimu sehat-sehat terus hingga lahiran nanti," pungkas Bunda lalu memeluk El dengan sayang.


El hanya mengangguk lalu mengurai dekapan bunda Kiara. Setelah itu keduanya pun melangkah ke arah apotik.


Lima belas menit kemudian ...


Setelah menebus obat, kini keduanya pun berada di dalam mobil.


"Sayang, doaku benar-benar terkabul," bisik Kau lalu memeluk istrinya. "Jika kamu hamil lagi, aku harap kembar lagi, biar kita memiliki anak yang banyak."


"Ppppfffff .... hahahaha, sampai segitunya keinginanmu?"


"Emang salah? Nggak kan," kata Kai.


"Hmm, ya sudah, ayo jalan. Antar aku ke restoran xxx. Aku ingin bertemu Vira di sana," pintanya.


"Ok my Queen, as you wan't," kata Kai.


Ia pun mulai melajukan kendaraannya ke restoran xxx seperti permintaan istrinya.


******


Setibanya di restoran xxx ....


"Sayang, hubungi Alex jika kamu ingin ke kantor ya," pesan Kai.


"Baiklah," bisik El lalu memeluknya dengan gemas kemudian mengecup bibir suaminya.


Setelah itu, ia pun turun dari mobil lalu melambaikan tangannya. Begitu mobil suaminya menjauh, ia pun melangkah masuk ke dalam restoran.


Saat akan menuju ke salah satu meja yang kosong, ia tak sengaja menabrak seseorang hingga membuat ponselnya terlepas dari genggaman tangannya.


"Maaf ..." ucap El lalu memungut ponselnya, namun sedikit kecewa karena layarnya sudah retak.


"Nggak apa-apa," sahut wanita tersebut.


Saat El berdiri kemudian menatap wanita itu, ia mengerutkan keningnya, di tambah lagi dua temannya yang berada di belakang gadis itu.


...----------------...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2