
Setelah merasa cukup tenang, Kai kembali mengajak El meninggalkan bandara dan mengajaknya jalan-jalan sekaligus menghiburnya.
"Sayang, sebelum kita kembali ke hotel, aku ingin mengajakmu jalan-jalan," cetus Kai.
"Boleh deh," sahut El dengan seulas senyum.
El melirik suaminya itu yang tampak fokus menyetir dan satu tangannya terus menggenggam tangannya. Merasa jika El terus memperhatikannya ia pun menoleh.
"Why?" tanya Kai merasa gemas.
El hanya menggelengkan dengan senyum manisnya.
"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Kai lagi.
"Nooo ... hanya saja, aura suamiku hari ini sangat berbeda. Terlihat jauh lebih tampan dan menggodaku," goda El lalu mengedipkan matanya.
"Sayaaang ... please, jangan mulai."
El langsung tertawa mendengar ucapan suaminya.
Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba juga di tempat yang dituju.
Lokasi tujuan pertama Kai dan El adalah Berliner Dom. Yaitu sebuah Gereja Katedral megah. Kebetulan saat Kai mengajak El ke tempat itu belum banyak pengunjung yang datang.
Keduanya pun menyusuri setiap sudut gereja tanpa ada yang mereka lewati, mengagumi setiap mahakarya arsitektur yang terukir indah di dalamnya.
"Sayang, indah banget detail gaya arsitekturnya," gumam El lalu menatap suaminya.
"Tapi bagiku kamu lebih indah dari apapun," sahut Kai lalu mengecup keningnya.
"Gombal," ucap El lalu terkekeh.
Keduanya terus berkeliling dan sesekali mengabadikan foto mereka berdua. Puas berkeliling di gereja umat Nasrani yang penuh dengan sejarah, Kai kembali mengajak El ke lokasi selanjutnya yang tak jauh dari lokasi pertama.
Mereka hanya cukup berjalan beberapa menit hingga tiba di lokasi selanjutnya. Layaknya pasangan pengantin baru yang lainnya, Kai dan El terus saling bergandengan tangan menikmati waktu luang mereka.
Mengingat, baik Kai dan El keduanya sama-sama sibuk jika sudah kembali ke Kota A. Sambil berjalan menuju lokasi selanjutnya, Kai melirik lalu tersenyum.
"Aku merasa bahagia melihat senyumanmu itu, Sayang. Ternyata hal sesederhana dengan membawamu jalan-jalan seperti ini sudah cukup membuatmu tersenyum lebar ketimbang mengajakmu berbelanja barang branded. Sungguh kamu wanita yang begitu spesial."
Kai menghentikan langkahnya sejenak. Menatap kemudian memeluknya erat seraya berbisik, "Terima kasih, Sayang karena sudah mau menjadi bagian dari hidupku."
El mengulas senyum lalu mengangguk. Setelah itu mereka kembali berjalan hingga tiba di sungai Spree Museum Inseln.
"Sayang ... apa kamu ingin jika kita naik perahu sambil menikmati pemandangan di sekitar museum-museum bersejarah ini?" saran Kai.
__ADS_1
El menggeleng pelan lalu berkata, "Aku lebih suka kita berjalan seperti ini. Menggandeng tanganmu sambil mengobrol menikmati pemandangan di sini. Kapan lagi kita akan seperti ini. Saat kita kembali ke sini, aku berharap kita sudah memiliki anak."
Hati Kai langsung menghangat mendengar ucapan istrinya. Tanpa terasa keduanya telah sampai di Museum Inseln atau biasa disebut pulau museum.
Dinamai Museum Inseln karena 5 museum berada di tengah-tengah sungai sehingga menyerupai pulau penuh museum. Museum-museum tersebut diantaranya, Pergamon Museum, Bode Museum, Neues Museum, Alte National Galerie, Altes Museum.
Lagi-lagi El merasa takjub, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto ria di tempat bersejarah itu.
Puas menyusuri museum yang berada di sana, Kai mengajaknya makan di salah satu restoran yang terdapat di tempat itu.
Saat akan memesan makan siang, El bingung menatap buku menu yang di pegangnya. Ia pun menatap suaminya lalu menutup buku menu.
"Sayang, apa di sini nggak ada mie ayam pedas? Aku nggak ngerti bahasanya?" bisik El lalu terkekeh.
Seketika tawa Kai memenuhi gendang telinganya lalu mengacak rambutnya dengan gemas.
"Sayang, ini bukan kota A tapi Berlin," kata Kai.
El memanyunkan bibirnya lalu mencubit perut suaminya.
"Ssssttt ... sakit sayang. Sepertinya kamu harus belajar bahasa Jerman juga," sarannya di sertai ringisannya.
"Aku pesan currywurst dan rouladen saja ya," cetus Kai dengan seulas senyum.
"Terserah, yang penting bisa menghilangkan lapar," sahut El lalu terkekeh. "Sayang, minumnya aku pesan jus jeruk saja," pinta El.
Beberapa menit kemudian pesanan keduanya pun diantar.
"Sayang, ayo kita makan. Setelah ini kita kembali lanjut berkeliling," usul Kai dan El mengangguk setuju.
Di sela-sela makan siang, Kai mengutarakan niatnya untuk mengajak El honeymoon ke pulau Bora-bora Perancis.
Seharian itu, Kai dan El terus menyusuri tempat itu. Sehingga tak terasa hari sudah mulai gelap. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke hotel.
Saat menuju hotel, El malah tertidur.
"Dia pasti kelelahan," ucap Kai setengah berbisik.
Satu jam kemudian mereka pun tiba di hotel.
"Sayang, bangun kita sudah sampai," bisik Kai lalu mengelus pipinya.
Perlahan El membuka matanya lalu melenguh.
"Sudah sampai ya?" ucapnya lirih lalu memeluk Kai yang sedang menatapnya. "Sayang ... terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan."
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang. Ayo kita ke kamar sekarang," ajaknya lalu melepas pelukannya.
*******
Sesaat setelah berada di dalam kamar hotel, El langsung meraih handuk lalu menuju kamar mandi.
"Lord ... lelahku terbayar dengan senyum dan pelukan hangat istriku," ucapnya lirih.
Baru saja ia ingin memejamkan mata ponselnya berbunyi.
"Sepertinya ada email yang masuk," gumamnya lalu bangkit dari tempat tidurnya.
"Alex ...? Sepertinya penting," gumamnya.
π§ : Tuan, Tuan Mashimaru, investor dari Jepang akan ke kota A tiga hari lagi. Beliau ingin bertemu langsung dengan Anda.
Kai mendesah kasar lalu duduk di sisi ranjang. Baru saja ia akan melewatkan beberapa hari, lagi-lagi pekerjaan kembali menuntutnya.
"Sayang, ada apa? Kok wajahmu kusut begitu?" tanya El lalu duduk di pangkuannya.
"Sepertinya kita harus menunda honeymoon kita. Besok kita harus kembali ke kota A. Ada investor dari Jepang yang ingin bertemu langsung denganku," jelas Kai dengan perasaan kecewa.
"Nggak apa-apa, Sayang. Honeymoon bisa kapan saja," bisik El dengan seulas senyum. "Sebaiknya kamu mandi."
"Hmm." Baru saja ia akan ke kamar mandi, pintu kamar diketuk. Ia pun menghampiri pintu lalu membukanya.
Rupanya room service yang sedang mengantar makanan.
Beberapa menit kemudian ...
El sedang bersandar di sandaran ranjang. Tak lama kemudian Kai menghampirinya lalu duduk disisinya.
"Ada apa, hmm?" tanya Kai.
"Betisku pegal," keluh El.
Tanpa basa basi Kai meletakkan kedua kakinya di atas paha lalu memijat dengan lembut.
"Thanks, Sayang," ucap El dengan seulas senyum.
"Sama-sama, tapi ...?" Kai menggantung ucapanya.
''Tapi apa?"
"Ini tidak gratis," sahut Kai dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
El terkekeh. "Ck ... aku sudah menduganya," decaknya.
...----------------...