All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
108. Ya, i'm promise ...


__ADS_3

"Sayang."


"Hmm ... ." Kai memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari El di kedua matanya, alis, hidung, pipi dan bibirnya.


"Apa kamu ingat dua tahun yang lalu, saat kita berada di resort kala itu?"


"Ya, aku ingat bahkan aku nggak bisa melupakan momen itu."


"Saat kamu menabrakku lalu menatap mataku dalam-dalam?"


Kai membuka matanya lalu mengulas senyum. "Ya dan kamu bergeming."


"Saat manik kita bertemu? Honestly, aku merasa ada yang aneh," aku El. "Dan yang kedua, ketika kita bertemu di club malam ... mata kita kembali bertemu."


"Ya ... dan kamu menendang mil..." El mengecup bibirnya sekaligus menghentikan kalimat Kai.


"Saat itu, aku kembali merasa aneh," aku El lagi. "Dan yang terakhir saat kita berada di balkon kamar ini, mata indahmu ini," El mengecup kedua mata Kai lalu menyambung kalimatnya. "Kembali menatapku dalam-dalam sekaligus membuat jantungku berdebar kencang. Honestly, aku seolah nggak bisa berkutik ketika menatap bola mata indahmu ini. Apa kamu tahu Arti dari semua rasa aneh itu?"


Kai hanya mengulas senyum lalu menyatukan keningnya. "Yes ... i know ... ."


"Kamu benar dan itu adalah CINTA My Bastard," bisik El.


Kai langsung memeluknya sambil mengelus punggung mulusnya.


"Sayang ... hatiku nggak bisa berbohong jika aku mencintaimu My Bastard."


"Terima kasih, Sayang," sahut Kai merasa terharu. "Please ... tetaplah bersamaku di sini," bujuknya.


"Aku akan memikirkannya lagi nanti," balas El.


"Promise?"


"Ya, i'm promise," bisiknya El lalu kembali menyatukan keningnya bahkan kedua tangannya kini melingkar ke punggung leher Kai.


Perlahan tapi pasti, kai mencium bibir yang begitu menggoda imannya. Awalnya hanya ciuman biasa namun semakin lama ia semakin menuntut saat El membalas bahkan mengeksplor lidahnya masuk ke dalam mulutnya.


Keduanya semakin tak terkendali ketika tangan nakal Kai terus mengelus paha mulus El bahkan naik ke gunung kembarnya lalu meremasnya.


Ulah nakal Kai itu seketika membuat El langsung men*desah. Merasa belum puas, Kai melepas tautan bibirnya lalu beralih ke leher jenjangnya, mengecap leher turun ke tulang selangka, dada bahkan meninggalkan beberapa jejak tanda kepemilikkannya di sana.


Lagi ... suara desa*han El kembali lolos begitu saja. Sehingga membuat Kai mengulas senyum puas.


"Sayang ..." bisik El lalu menahan kepala Kai yang saat ini berada di belahan gunung kembarnya.

__ADS_1


Kai mengulas senyum kemudian mendongak menatap lekat wajah El dengan nafas yang memburu.


Kembali ia menyatukan keningnya sebelum akhirnya El memeluknya dengan erat lalu berbisik, "Sebaiknya kamu mandi, aku akan menyiapkan air hangat untukmu."


"Bagaimana jika kita mandi bersama," balas Kai.


"No ... bisa-bisa kita kebablasan, Sayang."


"Nggak masalah Sayang ... karena kita akan segera menikah.''


"Aku memilih aman. Dasar Om mesum," kata El sambil terkekeh lalu melepas pelukannya.


Kai tersenyum mendengar ucapan wanitanya yang sering menyebutnya om mesum. Kai mengalah lalu menurunkannya dari meja wastafel.


"Sebentar ya, Sayang. Aku isi bathup dulu," pintanya dan Kai hanya mengangguk.


Beberapa menit kemudian setelah bathup penuh, El menghampiri Kai lalu memeluknya sejenak.


Namun matanya langsung membulat saat merasakan milik Kai masih menegang. El langsung gelagapan lalu meronta saat Kai menahan tubuhnya.


Dengan senyum penuh arti Kai kembali menggodanya. "Sayang, bagaimana jika kita bercocok tanam di dalam bathup itu," ia mengarahkan wajahnya ke arah bathup yang sudah terisi air.


"No ... Sayang, lepasin nggak?! Please," melasnya.


"Pleeeease ... " pintanya dengan wajah memelas.


Kai langsung tertawa menatap wajah memelasnya.


"Baiklah, kali ini aku lepaskan. Tapi besok-besok aku nggak bisa menjamin," peringat Kai lalu mengecup bibir sekaligus melepasnya.


El melotot lalu mencubit perutnya. "Dasar mesum."


"Gemes banget sih? Hmm ... gadis bar-bar," gumam Kai lalu melepas handuk yang melilit area pribadinya kemudian masuk ke dalam bathup.


Karena tidak bisa menahan hasratnya, akhirnya ia menuntaskan secara solo di bathup itu sambil membayangkan wajah El.


"Ssssttt ... sayang, aku nggak akan bisa mengendalikan diriku jika kita terus-terusan begini. Aku harus segera menikahimu agar aku bebas menyentuhmu," gumamnya.


Sementara El ... ia memilih mandi di kamar bawah.


Beberapa menit kemudian, ia kembali ke walk in closet lalu mengambil salah satu baju kaos Kai lalu memakainya.


"Kai ngapain sih? Lama banget," gumamnya lalu ke dapur untuk menyeduh teh hangat. Begitu selesai, ia ke ruang tamu lalu membuka laptopnya memeriksa email dari kampusnya.

__ADS_1


Ia pun tampak membalas email dari kampusnya sekalian menyelesaikan beberapa tugas mata kuliah yang sempat tertunda.


Saking seriusnya mengerjakan sisa tugasnya, ia tidak menyadari jika Kai sudah berada di belakangnya.


"Sayang ..." tegurnya lalu duduk di samping El.


El menoleh lalu mengulas senyum. "Aku sudah membuatkannmu teh. Nikmatilah selagi hangat," sarannya sambil mengelus wajah Kai.


"Thanks, sayang."


"Iya, sama-sama," ucapnya lalu melanjutkan tugasnya.


Kai hanya memperhatikannya dan sesekali meneguk teh hangatnya.


"Sayang."


"Hmm."


"Ini ponsel baru untukmu."


El menghentikan jarinya lalu menatap ponsel yang baru saja Kai letakkan di atas meja. "Kartunya sudah dipasang. Kontaknya baru aku dan Richard."


"Sayang, ini ponsel mahal? Aku hanya butuh ponsel sederhana yang bisa aku pakai untuk sekedar menunjang aktivitasku dalam berkomunikasi," jelasnya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Ini bahkan belum ada apa-apanya," sahut Kai dengan seulas senyum.


"Sayang, apa kamu tahu? Satu harga ponsel ini bisa memberi makan puluhan kaum duafa. Bahkan bisa membantu pasien yang kurang mampu," jelas El seraya mengelus lengan Kai.


Kai merasa tertampar mendengar ucapan tulus El.


Seorang gadis yatim piatu bahkan dalam keterbatasan ekonomi, ia masih saja memikirkan orang yang jauh lebih membutuhkan.


"Sayang ... aku memiliki mimpi. Aku ingin membangun rumah sakit khusus untuk membantu pasien yang nggak mampu," ungkapnya.


"Percayalah, saat kita melihat orang-orang yang kita sayangi dan kita cintai sakit bahkan kita tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan biaya, itu sangat menyakitkan. Resikonya tentu saja kita harus kehilangan mereka," pungkas El lalu memeluknya sambil meneteskan air mata.


"Sayang, mimpimu itu akan segera terwujud. Beberapa tahun ke depan rumah sakit yang sedang aku bangun memang akan aku dedikasikan untukmu. Aku bahkan nggak menyangka jika kamu memiliki niat yang begitu mulia," gumam Kai dalam hatinya.


"Sayang, maafkan aku karena sudah menghancurkan semua harapan, impian serta mimpimu. Bahkan tega menjebloskanmu ke dalam penjara," bisik Kai dengan suara tercekat.


"Aku sudah memaafkanmu," balas lirih El. "Harusnya kamu bersyukur. Kita nggak akan pernah sedekat ini jika bukan karena kesalahan itu."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2