
Tiga hari kemudian ...
Setelah di perbolehkan pulang dan baby triplets sudah dikeluarkan dari inkubator, kini mereka terlihat bisa bernafas lega karena sudah bisa kembali ke mansion.
Binar wajah bahagia El dan Kai terlebih sang grandma seolah tidak ingin jauh dari Faith, Hope dan Joy.
"Sayang, sudah," protes El karena sejak tadi Kai seolah tidak ingin meninggalkan triplets.
Sedangkan mama Glori hanya tersenyum, saat Kai menggendong anaknya satu-satu sebelum meninggalkan bayi mungilnya itu.
"Sayang, daddy berangkat ke kantor dulu ya. Daddy janji akan cepat pulang," bisiknya lalu mengecup putra dan putrinya.
Setelah itu ia menatap El lalu memeluknya dengan sayang. "Sayang, jaga kesehatanmu. Jangan banyak bergerak dulu, aku khawatir," bisiknya lalu melonggarkan dekapannya.
"Iya ... Sayang," balas El seraya menangkup wajah suaminya lalu mengulas senyum.
"Pokoknya istirahat, jika kamu membutuhkan sesuatu panggil bibi saja," pesannya lalu mengecup bibirnya. El hanya mengangguk.
Sebelum meninggalkan kamar bayinya, Kai kembali mengarahkan pandangannya ke arah bayi mereka.
"Sayang, sudah. Ayo berangkatlah," tegur El.
Mau tidak mau dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan anak dan istrinya.
Sepeninggal Kai, El menghampiri box bayinya. Senyumnya langsung mengembang menatap ketiganya yang masih tertidur nyenyak.
"My. triplets kalian mirip banget sama daddy,' desisnya lalu membelai wajah bayinya satu persatu.
Tak lama berselang mama Glori menghampirinya lalu mengajak duduk di ranjang.
"Sayang, kemarilah Nak," pinta mama dan El hanya menurut.
"Ada apa, Mah?"
"Sayang, apa rencana kalian setelah ini, Nak? Apalagi nggak lama lagi kamu akan segera wisuda. Apa sebaiknya triplets sama mama saja di sini?"
El mengulas senyum. "Mah, aku dan Kai rencananya akan kembali ke kota X, dua bulan lagi bersamaan dengan habisnya cuti kuliahku. Aku ingin Mama ikut dan kita akan mencari baby sitter untuk triplets. Aku nggak mau terlalu merepotkan Mama," kata El lalu memeluk mertuanya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mama senang bisa mengurus cucu mama. Setelah ini kamu fokuslah untuk menyelesaikan kuliahmu. Masalah siapa yang akan mengurus cucu-cucu mama itu gampang di atur. Kamu juga bisa membagi waktu."
"Untuk saat ini, aku mau fokus untuk mengurus baby triplets dulu Mah. Nggak masalah jika aku akan sedikit lama menyelesaikan kuliahku. Anak-anak ku yang lebih utama," sahut El lalu mengarahkan pandangannya ke arah box baby triplets.
.
.
.
Kota A ...
Tampak Daniel dan Tara berada di ruangan yang sama. Keduanya tampak tersenyum menatap foto baby triplets di layar ponsel Tara.
"Tara, Kai boleh juga ya. Aku harus belajar dan ingin tahu tipsnya supaya bisa memiliki bayi kembar sepertinya. Sekali isi langsung tiga, bonusnya langsung lengkap dengan seorang putri," celetuk Daniel menatap kagum ketiga bayi mungil itu.
__ADS_1
Tara terkekeh mendengar celetukkan asistennya itu.
"Memangnya gampang apa memiliki bayi kembar. Hanya orang-orang yang beruntung saja yang bisa memilikinya," kata Tara.
"Bener juga ya," sahut Daniel. "Apa kamu nggak ingin menambah anak, Tara?" celetuk Daniel sambil terkekeh.
"Masihlah, Bara bakal kesepian jika nggak punya adik," balasnya lalu menatap menyelidik asistennya itu. "Anyway, kamu kapan? Masa belum ada kabar bahagia dari kalian. Nggak malu apa sama Candra. Lois sekarang sudah hamil. Jangan-jangan ...." Tara menggantung ucapannya lalu tersenyum jahil.
"Apaan sih kamu. Aku normal dan nggak mandul," kesal Daniel.
"Hahahaha," tawa Tara langsung pecah memenuhi ruangan itu. "Maaf aku nggak bermaksud seperti itu, Dan. Apapun itu tetaplah berusaha. Aku yakin kalian pasti akan segera diberi momongan," ucap Tara dengan tulus.
"Ya, sampai detik ini pun, aku dan Vira masih berusaha. Doakan saja. Bay the way, kapan ya Kai dan El pulang? Rasanya aku sudah kangen banget sama mereka. Apalagi sama baby-nya, gemes banget," kata Daniel. "Faith, Hope dan Joy kapan kalian akan ke sini? Rasanya uncle dan aunty sudah nggak sabar ingin menggendong kalian."
Tara hanya mengulas senyum mendengar ucapan Daniel. Jauh dalam sudut hatinya ia juga sangat merindukan Kai dan El.
"Kalian mirip banget dengan daddy Kai. Sama seperti uncle Daniel, uncle juga sudah tidak sabar menanti kepulangan kalian ke kota ini."
.
.
.
Kota X ... kantor Candra ....
Tampak Lois baru saja keluar dari lift dan sedang menghampiri ruangan kerja Candra sambil menenteng paper bag makanan.
Ceklek ....
"Honey ... baru pulang?" tanyanya.
"Hmm ... soalnya aku sudah nggak ada pasien," jawabnya lalu meletakkan paper bag di meja sofa dan menghampiri Candra yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Ada apa? Sepertinya lagi senang banget," kata Candra lalu mengecup perut Lois yang masih kelihatan rata.
Saat ini teman baik El itu sedang hamil dua bulan.
"Bahagia banget, Hubby. Aku gemes banget lihat baby Faith, Hope dan Joy. Aku sudah tidak sabar menanti kepulangan mereka. Lagian aku juga kangen banget sama El," ungkap Lois lalu bersandar di dada Candra.
"Bukan kamu saja, aku juga. Aku kangen dengan sikap bar-bar dan sikap ketusnya, hehehe," aku Candra lalu terkekeh mengingat sikap El.
Seketika Lois ikut terkekeh mendengar pengakuan suaminya.
"Jangan sampai, Joy juga punya sikap seperti mamynya. Jika Joy punya sifat seperti itu, kita seperti melihat El muda," kata Lois masih sambil terkekeh.
"Hmm ... apa kamu nyaman bekerja di El Hospital Hunny?" Tanya Candra.
Ya, El hospital baru-baru diresmikan setelah rampung dalam proses pembangunan selama tiga tahun dan kini sudah beroperasi. Sayangnya saat peresmian, Kai dan El tidak bisa hadir karena El dalam keadaan hamil besar.
"Ya, hanya saja aku ingin El segera menggantikan posisiku. Lagian El apa-apaan sih, dia malah memilih aku sebagai Dirut di rumah sakitnya sendiri."
"Karena dia tahu, kamu sudah berpengalaman," sahut Candra.
__ADS_1
"Dia pasti sengaja. Kamu tahu kan dia sedikit jahil. Pasti dia mau lepas tanggung jawab," gerutu Lois. "By the way, nggak lama lagi dalam satu tahun kedepan dia akan di wisuda. Rasanya aku turut bahagia, El akan menerima gelarnya dan akhirnya cita-citanya tercapai. Aku salut banget sama dia. Aku yakin baby triplets pasti akan setangguh dirinya."
Candra hanya mengangguk lalu tersenyum.
.
.
.
Siang harinya waktu kota Berlin pukul 13.30 ...
"Sayang, Mah ... sapa Kai yang baru saja pulang dari kantor.
Binar bahagia kembali terpancar saat menatap El sedang duduk di ranjang sambil memberi ASI pada baby Joy.
"Apa mereka rewel, Sayang? tanya Kai sesaat setelah duduk di samping istrinya lalu mengecup keningnya singkat.
"Nggak juga, Sayang. Si cantik ini saja yang agak sedikit rewel, mungkin karena dia yang paling kecil," kata El sambil mengelus pipi baby Joy.
Kai melirik sang mama yang terlihat mengendong, baby Hope sedangkan baby Faith terlihat sedang tertidur.
"Mama nggak ke butik?" tanyanya dan mengisyaratkan ia ingin menggendong baby Hope yang terlihat sedang membuka matanya.
"Nggak, Sayang. Mama seolah berat ingin meninggalkan cucu mama," kata mama dengan seulas senyum lalu memberikan baby Hope padanya. "Mama ke bawah dulu."
"Iya, Mah," jawab Kai dan El.
"Sayang, apa kamu sudah makan?" tanya El.
"Sudah di kantor tadi bareng Damian," jelasnya dengan seulas senyum.
"Syukurlah," kata El lalu kembali meletakkan baby Joy di samping baby Faith. Setelah itu ia memeluk Kai dan baby Hope.
"Ada apa, hmm?" tanya Kai seraya mengecup puncak kepalanya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku merasa waktu terasa begitu singkat. Dua bulan lagi kita akan kembali ke kota X."
"Jangan sedih begitu, Sayang. Kamu harus semangat. Apalagi setelah cutimu selesai kamu akan kembali aktif di kampus."
"Tapi tetap saja aku nggak mau jauh-jauh dari baby triplets, Sayang. Aku akan membagi waktu dan akan mengurangi kegiatanku di kampus nanti. Nggak masalah jika aku sedikit terlambat menyelesaikan kuliahku. Anak-anak kita lebih penting dari itu," pungkas El.
Kai kembali mengecup puncak kepalanya dan merasa terharu mendengar ungkapan tulus istrinya.
"Kita akan bersama-sama mengurus baby Faith, Hope dan Joy. Ada mama dan kita akan mencari jasa baby sitter berpengalaman untuk membantumu nanti," bisik Kai lalu meletakkan baby Hope di samping baby Joy.
Setelah itu, Kai merangkul bahu istrinya dan sama-sama menatap ketiga bayinya sambil tersenyum.
"See ... mereka tampan dan cantik," bisik Kai lagi.
"Semuanya mirip denganmu, Sayang," balas El.
Lagi-lagi Kai hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
...----------------...