All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
81. Dasar wanita munafik ...!!!


__ADS_3

Sadar El sudah meninggalkan dirinya, Kai kembali mengejar gadis itu yang kini sudah berada di tangga eskalator menuju lantai dasar.


Sesaat setelah sampai di lantai dasar, El sengaja menunggu Kai. Di balik masker yang menutupi wajah cantiknya, ia tersenyum penuh arti.


Sedangkan Kai, ia malah jadi pusat perhatian para wanita yang menatap mendamba padanya.


"Kenapa?" tanya Kai sesaat setelah sampai di lantai dengan tatapan heran.


"Nggak apa-apa. Sebaiknya kita pulang saja soalnya besok aku harus kerja," kata El.


"Aku antar ya," tawar Kai lalu mengulas senyum.


"Nggak usah, aku bawa motor," tolak El sekaligus berbohong. "Oh ya, mobilmu yang mana sih?"


"Nggak jauh dari sini, itu yang berwarna silver." Kai mengarahkan telunjuknya ke arah mobilnya.


"Ayo aku antar sampai ke sana," tawar El. Keduanya sama-sama berjalan ke arah mobil itu.


"Pulang dan istirahatlah. Besok kamu juga harus ngantor kan, Pak CEO. Jika kamu merasa sulit memejamkan mata, merasa gelisah maka tenangkanlah pikiranmu lalu tarik nafas dalam-dalam kemudian bayangkan hal-hal indah tentang orang-orang yang kamu sayangi dan kamu cintai."


"Itu salah satu cara supaya bisa membantumu tertidur dengan nyenyak. Kamu tahu kan, kunci dari segala penyelesaian masalah adalah kita harus memiliki pikiran yang tenang dan sikap yang sabar," jelas El sambil menatap wajah Kai.


Ucapan nasehat bernada lembut yang terdengar ke telinga Kai, lagi-lagi seperti menghipnotisnya.


Tik .... tik .... tik ....


El menjentikkan jarinya tepat di wajah Kai yang tampak melamun. "Kai?" tegur El.


"Hmm ...."


"Apa kamu mendengar apa yang aku katakan barusan? Praktekkan itu setiap malam jika kamu merasa gelisah. Nggak baik mengkonsumsi obat penenang dalam jangka waktu yang lama. Itu justru akan membuatmu ketergantungan obat," pesan El.


"Iya, aku dengar," sahut Kai "Terima kasih ya, Lun."


El hanya mengangguk lalu memerintahkan supaya masuk ke dalam mobil.


Entah mengapa Kai malah menurut patuh pada El. "Ya sudah, aku duluan."


Lagi-lagi El hanya mengangguk pelan seraya melambaikan tangannya.


Setelah memastikan Kai benar-benar sudah menghilang dari pandangannya, El mengarahkan langkah kakinya ke taman kota yang tidak jauh dari Mall itu.


Ia menyandarkan punggungnya di bangku taman lalu mendongak menatap langit malam. "Separah itukah penyesalanmu, rasa bersalahmu? Bahkan sampai harus mengkonsumsi obat penenang dan menggunakan jasa psikiater untuk mengatasi kegelisahanmu? Oh God ... aku merasa terjebak dengan perasaanku."

__ADS_1


Tanpa ia sadari Candra yang sejak tadi memperhatikannya dari seberang jalan, datang menghampirinya.


"Lun .... sedang apa kamu di sini?" tanyanya lalu melepas jaketnya kemudian menutupi paha El yang terekspos lepas.


El mengarahkan pandangannya ke arah Candra yang sudah duduk di dekatnya. Menatap pahanya yang kini sudah tertutup jaket.


"Thanks ya, Candra," ucapnya lirih.


"Sedang apa kamu di sini? Kenapa pakaianmu seperti ini?" selidik Candra sedikit posesif lalu terkekeh. "Kamu sudah seperti buronan saja. Pakai topi, kacamata dan masker."


El ikut terkekeh di balik maskernya. "Hanya ingin cari angin segar saja, mumpung masih libur kuliah. Lalu dirimu sedang apa di sini?" El balik bertanya.


"Sama sepertimu, cari angin segar," jawab Candra.


"Cari angin segar atau kamu sedang menguntitku?" sindir El.


Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu terkekeh. Ucapan El selalu saja membuatnya tak berkutik.


"Candra, bisa antar aku pulang nggak?" pintanya.


"Bisa Lun. Tapi apa nggak apa-apa soalnya aku bawa mobil, takutnya kamu alergi," ledeknya.


"Hmm ... nggak jadi ah. Aku naik bis saja," kata El.


Candra cukup tertegun menatap El yang sangat berbeda dengan penampilannya saat ini. Terlihat ala bad girl.


"Siapa dirimu yang sebenarnya Lun?" Gumam Candra.


.


.


.


.


Kediaman Pak Mulia ...


Tara yang baru saja tiba di kediaman orang tuanya tampak sedang menghampiri bu Arini dan pak Mulia yang sedang duduk di ruang tamu.


"Mom, Pah ...." sapanya.


"Sayang kemarilah," pinta bu Arini.

__ADS_1


Tara hanya menurut patuh. "Ada apa, Mom?"


Ia pun mendaratkan bokongnya di samping sang momy.


"Tara, berjanjilah pada momy jika kamu akan menikahi Dian."


Tara hanya bergeming dan seakan enggan. Namun saat mengingat El yang seakan terkesan menghindar darinya, ia merasa geram dan marah.


Ditambah lagi saat melihat video yang dikirimkan oleh orang suruhannya tadi pagi.


Tara mulai berpikir yang tidak-tidak tentang El. "Mungkin saja selama ini El sudah menjadi pe*mu*as ranjang pria brengsek itu. Atau mungkin saja dia sudah rela menjual dirinya hanya untuk menyambung hidup dan melanjutkan kuliahnya. Apa bedanya dia dengan wanita murahan! Dasar wanita munafik!!!" maki Tara hanya dalam hatinya.


"Baiklah Mom, aku berjanji dan aku sudah siap. Tapi bersabarlah untuk sementara waktu. Jangan khawatir aku pasti akan menepati janjiku," kata Tara.


Setelah itu, ia langsung meninggalkan bu Arini dan pak Mulia. Keduanya kaget mendengar ucapan putra semata wayangnya itu.


Begitu masuk ke dalam mobil, Tara langsung melajukan kendaraannya itu menuju apartemen El.


Sesaat setelah ia berada di dalam unit El, ia mengedarkan pandangannya seluruh ruangan itu yang masih tampak berserakan.


Setelah itu ia menaiki tangga menuju kamar utama. Menghampiri ranjang berukuran king size itu hingga ekor matanya tertuju ke arah frame foto.


Tara meraih frame itu lalu tersenyum sinis sekaligus merasa miris. "Seminggu yang lalu kamu kemari kemudian mengambil semua barang-barang milikmu kecuali barang-barang yang aku belikan untukmu. Dan dalam waktu yang sama juga, Kai berada di kota ini."


"Apa kalian sudah janjian?" Ia bertanya-tanya pada foto itu. Foto El dan dirinya. sendiri. "Apa kamu sudah menikah dengan pria brengsek itu? Apakah itu alasanmu meninggalkanku hah!! Demi pria brengsek yang sudah membuatmu menderita dan dengan gampangnya kamu mau menjadi istrinya?!" ucap Tara begitu kesalnya.


Ia langsung melempar frame foto itu ke tembok kamar.


"Jika aku yang menemukan dirimu maka aku sendiri yang akan memberimu pelajaran," ujarnya lalu menyeringai penuh arti.


Entahlah apa yang kini dipikirkan oleh Tara.


.


.


Kembali ke Kota X ...


Kai yang kini sudah berada di dalam kamarnya, kembali merenung. Ia pun merebahkan tubuhnya lalu mencoba mengikuti sugesti yang telah El perintahkan padanya.


Kai mulai menenangkan pikirannya, menarik nafasnya dalam-dalam lalu memejamkan matanya kemudian membayangkan semua hal-hal indah.


Dan benar saja apa yang El sugestikan padanya ternyata berhasil. Tampak Kai bisa tertidur tanpa harus meminum obat penenang itu. Menyusuri alam mimpi di bawah alam sadarnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2