All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
184.


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian ....


Setelah pulang ke mansion, dua hari kemudian Tara dan Dian juga sekalian berpamitan kembali ke kota A karena Tara harus kembali bekerja.


Bahkan keinginan El untuk mengajak keduanya jalan-jalan di kota itu terpaksa ia urungkan dan meminta Tara dan Dian menginap di mansion.


Sekembalinya Tara dan Dian ke kota A, baik kai maupun El kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Tak jarang El menemaninya di kantor sambil kuliah dan mengerjakan tugas di kantor suaminya.


Pun begitu, kadang ia menyempatkan waktu.ke butik mama Glori untuk sekedar membantu dan mengusir rasa bosan.


Dua bulan kemudian, Kai dan El menyempatkan waktu kembali ke kota A untuk menghadiri pernikahan Lois dan Candra. Lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya, hotel Kai menjadi saksi bisu resepsi pernikahan orang-orang terdekatnya.


Tak tanggung-tanggung, Kai tidak memungut biaya sepeserpun alias gratis untuk sahabat terbaik istrinya dan teman kecilnya. Kai juga menghadiahkan Lois dan Candra tiket honeymoon ke Italia tepatnya di Monterosso Al Mare.


Sebelum kembali ke Jerman, Kai dan El menyempatkan waktu untuk berlibur ke Bali selama tiga hari bersama Tara, Dian, Daniel, Vira dan Mike.


...****************...


Siang hari tepatnya jam 11.00 waktu Berlin ....


El yang baru saja tiba di kantor suaminya tampak sedang membawa makan siang untuk suaminya. Dengan langkah pelan ia menghampiri lift sambil tersenyum ramah menyapa karyawan di kantor itu.


Sesaat setelah berada di dalam lift, El mengelus perutnya yang terasa sedikit mules.


"Sssttt," ringisnya. "Sepertinya ini kontraksi palsu." El mengulas senyum sembari terus mengelus perut buncitnya.


Tinggg ....


Pintu lift terbuka. El kemudian kembali melangkah kecil menghampiri pintu ruangan kerja suaminya.


Setelah mengetuk pintu, ia pun masuk ke dalam.


"Sayang ... Damian," sapanya dengan seulas senyum.


"Sayang."


"El."

__ADS_1


Balas Kai dan Damian bergantian.


"Aku bawa makan siang buat kalian," kata El lalu meletakkan paper bag di atas meja.


"Kenapa kamu harus repot-repot sih," protes Kai sambil mengelus kemudian menciumi perut buncit istrinya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Lagian aku jenuh di butik mama tadi. So ... aku putuskan ke sini saja dan singgah sebentar di restoran membeli makanan.


Kai dan Damian terkekeh. "Pasti waitersnya kebingungan karena kamu nggak bisa berbahasa Jerman," ledek Kai.


"Siapa bilang," protes El. "Aku pakai Google translate Daddy triplets."


Lagi-lagi Kai dan Damian menertawainya. Tak ingin menjadi bahan tertawaan suami dan iparnya itu, El meminta keduanya segera menyantap makanan yang ia bawa.


Sedangkan ia sendiri kembali beranjak dari sofa dan memilih duduk di kursi kebesaran suaminya.


"Akh ... sssttt ..." Ia kembali meringis lalu mengusap perutnya karena kembali merasakan kontraksi dan sedikit mules.


Mendengar suara rintihan dan ringisan El, Kai meliriknya dan merasa khawatir.


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku hanya merasakan kontraksi palsu," jelasnya dengan seulas senyum. "Kalian lanjutkan saja makannya," kata El.


Namun tetap saja ia semakin merasakan mules.


Sepertinya aku mau melahirkan.


El menyandarkan punggungnya di kursi itu sambil memejamkan matanya lalu mengatur nafasnya.


Beberapa menit berlalu, El semakin merasakan mules.


"Sayang," lirihnya.


Kai langsung beranjak dari sofa lalu menghampirinya.


"Ada apa? Apa perutmu sakit?" tanya Kai yang kini sedang berjongkok di depannya lalu memegang perutnya.


"Sepertinya aku mau melahirkan," lirihnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya, Kai langsung tersenyum bahagia.


"Ssssttt ... Sayang," ringisnya lagi lalu ingin beranjak dari tempat duduknya. Baru saja ia berdiri, ia merasakan sesuatu mengalir dari area intimnya.


Seketika Kai menjadi panik lalu merengkuh tubuh istrinya.


"Sayang ... ketubanku sudah pecah," lirih El. "Sebaiknya kita ke rumah sakit. Aku takut triplets akankekeringan dalam kandungan," desis El sambil menahan mules yang semakin terasa.


"Damian, ayo bantu aku. Kita harus ke rumah sakit sekarang," ujar Kai.


Tanpa pikir panjang, Damian langsung beranjak dari sofa kemudian membuka pintu.


"Sayang, aku gendong ya," tawar Kai namun El menolak.


.


.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Kai semakin bertambah panik karena El terus meringis sembari mengelus perutnya. Bahkan keringat mulai bercucuran di keningnya.


"Damian ayo cepetan jalan," desak Kai.


"Ini sudah jalan, Kai," sahut Damian sambil terkekeh menatap wajah panik sang calon ayah.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kai terus menggenggam tangan istrinya, mengelus lembut perutnya dan menyeka keringatnya.


tiga puluh menit kemudian, ketiga pun tiba di rumah sakit. Dengan sigap suster yang bertugas langsung menghampiri mereka dengan mendorong kursi roda.


Sementara Damian, ia langsung ke loket untuk mendaftar dan langsung meminta disiapkan kamar VIP untuk El.


Setelah selesai dengan urusan administrasi, kai mengikuti langkah perawat menuju lift untuk mengantar mereka ke kamar VIP yang akan digunakan El untuk melahirkan.


"Akh ... sssttt. Oh God, perutku mules banget," rintihnya. "Sayang, bantu aku ke toilet," pinta El karena ingin melepas underwear-nya yang sejak tadi sudah basah.


"Sebentar lagi mama akan tiba, Damian sudah mengabarinya," kata Kai dan dijawab dengan anggukan kepalanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2