All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
36. Dasar bastard!!


__ADS_3

"Damn!!!! Berani-beraninya El. Awas saja kamu," umpatnya sambil mengelus aset berharganya itu.


Sambil berbaring, ia memejamkan matanya dan menyesapi aroma parfum gadis itu yang masih terasa wanginya di hidung dan bajunya.


"Oh God ... dia terlihat cantik, anggun dan wangi banget," gumamnya dengan mata terpejam membayangkan wajah cantik gadis itu.


.


.


.


El masih terus tertawa mengingat Kai mengerang kesakitan akibat ulahnya.


"Huh!! Siapa suruh mesum ... dasar bastard! Dia pikir aku ini apaan? Menyebalkan," kesalnya.


"Kenapa ... hmm? Apa yang sudah membuatmu tertawa sekaligus mengomel?" tanya Tara.


"Kai," jawabnya spontan. "Nyebelin banget! Tadi, dia hampir saja membawaku ke kamar club. Syukurnya aku nggak kehabisan akal. Aku beri dia sedikit pelajaran dengan menendang aset paling berharganya, biar rudalnya nggak bisa on lagi," geram El kemudian menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


Tara langsung terkekeh mendengar dumelan gadis itu.


"Seberani itu kamu, El?"


"Hmm ... aku terdesak. Jika nggak begitu mungkin aku sudah ......"


El tidak melanjutkan ucapannya. Namun ia bergidik ngeri saat mengingat Kai memeluk dan mengendus lehernya. El mengusap tengkuknya lalu menoleh ke arah kaca mobil.


Oh God ... aku takut banget jika sampai diapa-apain sama si bastard itu.


"El." Tara memanggilnya.


"Hmm." Ia menyahut tanpa menoleh. "Antar aku pulang, please," pintanya.


"El." Tara kembali memanggilnya.


"Please, aku ingin menenangkan diriku," sahutnya lagi tanpa menoleh.


Tara hanya diam dan menuruti keinginan gadis itu.


Sesampainya di parkiran apartemen. El langsung turun dari mobil lalu mengambil langkah seribu menuju lift.


Tara yang merasa aneh dengan perubahan sikap El yang tiba-tiba. Tak tinggal diam, ia pun ikut turun dan mengejar gadis itu lalu menarik lengannya.


"Tara, please. Biarkan aku sendiri. Kembalilah ke club. Jangan biarkan pacarmu menunggu," pintanya. "Please ... aku ingin sendiri," tegasnya dengan posisi membelakangi Tara.


Begitu pintu lift terbuka, ia langsung masuk ke dalam benda berbentuk persegi panjang tersebut. Bahkan mengabaikan Tara yang masih menatapnya.


Sontak saja perubahan sikapnya yang tiba-tiba berubah membuat Tara sedikit heran dan bingung.


Kenapa El langsung tiba-tiba berubah dingin seperti itu? Seperti ada ketakutan dalam dirinya.

__ADS_1


Ia pun kembali ke mobilnya dan langsung melajukan kendaraannya itu menuju club.


Sementara El yang sudah berada di kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tampak berpikir.


"Aku takut banget bertemu dengannya lagi," gumamnya. "Aku bisa merasakan jika dia memang menginginkanku. Oh God ... bagaimana caranya aku menghindarinya," pikirnya lalu memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, ia malah tertidur tanpa mengganti pakaiannya bahkan sepatunya masih menempel di kakinya.


.


.


.


Kembali ke Bronze Bar ...


Dengan terpaksa, Tara menemani sang kekasih meskipun saat ini, yang ada dibenak pikirannya adalah El.


Asik dengan pikirannya, tiba-tiba ia terlonjak kaget ketika Kai menepuk punggungnya.


"Kai? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Tara.


Kai hanya menggedikkan bahunya dengan malas kemudian duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Nic, lagi," pinta Tara lalu mengangkat gelasnya.


Nico kembali menuang wiski ke dalam gelas dan langsung diteguk olehnya. Setelah itu ia melirik Clara.


Clara hanya mengangguk lalu memeluk lengannya.


"Kai, aku dan Clara duluan ya," pamitnya


"Barengan saja lagian aku juga sudah mau pulang," cetus Kai.


Ketika Kai hendak melangkah, ia malah tertahan oleh Siska yang menghadangnya dengan gerakan sensual. Namun ia memilih menghindari gadis itu.


"Sorry Sis, aku sedang tidak ingin malam ini. Kamu cari partner lain saja," tolak Kai dan langsung meninggalkannya.


Penolakan Kai, tentu saja membuat gadis itu merasa kecewa sekaligus kesal.


"Sial!! Lagi-lagi dia menolakku. Percuma saja aku dandan secantik ini dan seseksi ini, namun tetap saja dia tidak tertarik. Apa karena dia masih menginginkan El?" Kesal Siska merasa cemburu.


.


.


.


"Sayang kenapa sih, kamu diam saja?" tanya Siska.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kepalaku hanya sedikit pusing," bohongnya sambil fokus menyetir mobil.

__ADS_1


"Sayang ... apa kamu tidak ingin mengajakku menginap di apartemenmu malam ini?" tanya Clara lagi


"Lain kali saja, soalnya aku benar-benar butuh istirahat malam ini," kata Tara.


"Hmm, baiklah."


Sesaat setelah tiba di depan rumah gadis itu, Tara mengantarnya hingga sampai di depan pintu rumahnya.


"Sayang, masuk dan istirahatlah. Aku juga ingin segera pulang beristirahat," pintanya.


Clara hanya mengangguk lalu memeluk dan mencium bibirnya.


"Sayang, aku pulang ya," pamit Tara dan Clara menjawab dengan mengangguk.


Setelah itu, ia kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya. Alih-alih ke apartemennya, ia malah ke apartemen El.


Tak butuh waktu yang lama untuk tiba di apartemen itu karena jalanan mulai sepi.


Sesaat setelah berada didepan pintu unit, ia menekan password lalu membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan itu lalu menuju ke kamar.


Begitu masuk ke kamar, ia menatap El yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.


Ia menggelengkan kepalanya lalu ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu, ia kembali menghampiri El, lalu melepas sepatu dan kaos kakinya.


Sebelum ikut berbaring ia membelai wajah gadis cantik itu lalu mengecup keningny turun ke bibir dan sedikit melu*matnya.


Tak cukup sampai di situ, ia kembali mencium lehernya lalu mengecapnya. Karena merasa terusik El menggeliat lalu meracau.


"Tara, jangan lakukan. Please," racaunya sambil menggerakkan kepalanya.


Tara mengulas senyum lalu merebahkan tubuhnya disamping gadis itu lalu kembali membelai wajahnya.


Merasa seperti ada yang membelai wajahnya, El mengerjap membuka matanya.


"Tara," lirihnya lalu ikut mengelus rahang tegasnya.


"Mendekatlah, jika kamu ingin memelukku maka peluklah," desisnya. Ia kembali mengelus dan menatap bibir tipis gadis itu.


Antara sadar dan tidak, El menempelkan pipinya di dada bidang Tara lalu mengelus perutnya.


Tara hanya tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya. Beberapa detik kemudian, ia kembali tertidur. Tara semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku ingin setiap hari kita seperti ini. Jika aku mengatakan will you marry me? Apakah kamu mau menerimaku?" bisik Tara yang tidak mungkin didengar oleh El.


Sambil memeluknya, akhirnya ia ikut tertidur.


Jika Tara dengan nyamannya tidur sambil memeluk El. Beda halnya dengan Kai yang terlihat gelisah.


Sepulang dari club malam tadi, ia terus saja membayangkan wajahnya gadis bar-bar itu.


"Hari ininkamu boleh saja lolos, El. Tapi besok-besok jangan harap kamu kamu bisa lepas dariku. Akan aku buat dirimu mende*sah dan menjadi candu bagimu," desisnya yang saat ini tampak mengulas senyum, sedang berdiri di teras balkon kamarnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2