All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
22. Perginya tante Karin ...


__ADS_3

Sejak kejadian itu, El kembali menjalani kehidupan sehari-harinya di balik jeruji besi dan tetap mengikuti peraturan sebagai warga binaan lapas wanita.


Tasya dan temannya, semakin membenci El. Akibat kegaduhan yang terjadi antara dirinya dan El, hukumannya semakin bertambah.


El tetaplah El, seperti biasanya ia tidak mau ambil pusing dan tetap santai menjalani hari-harinya di hotel prodeo itu. Ia seakan tidak perduli dengan Tasya dan temannya yang terus saja mengusiknya.


El juga harus kehilangan Vira, karena masa hukumannya sudah selesai dan sudah bisa menghirup udara bebas.


El yang saat ini sedang berbaring di atas kasur lusuh nan tipis, tampak sedikit mengulas senyum. Ada secercah harapan di hatinya, karena hanya tinggal seminggu saja lagi, ia akan segera menghirup udara bebas.


"Tante Karin, hanya tinggal seminggu saja lagi, kita akan kembali bersama, aku janji akan merawat dan menjaga mu," ucapnya pelan sambil tersenyum dan membayangkan wajah wanita paruh baya itu.


Wanita yang selalu menguatkannya begitu perhatian dan sangat menyayanginya. Sejak orang tuanya meninggal, tante Karin lah, orang yang paling mengerti akan dirinya.


Sedang asiknya melamun, tiba-tiba saja seorang sipir wanita memanggilnya.


"El, ada keluargamu yang datang menjenguk," kata Bu sipir.


El langsung tersenyum membayangkan wajah tante Karin dan Daniel.Tampak jelas kebahagiaan di wajahnya membayangkan dua sosok itu.


El terus berjalan menyusuri lorong berjeruji besi itu menuju ke ruangan khusus yang selalu menjadi tempatnya bertemu. Senyumnya tak henti terukir di wajah cantiknya.


Setelah membuka pintu, El menautkan kedua alisnya karena hanya Daniel seorang yang ada di ruangan itu tanpa tante Karin.


"Daniel? Tante Karin nggak ikut? Apa dia masih sakit?" tanya El.


Daniel hanya diam, namun matanya mengisyaratkan jika ia ikut bersedih. El merasa bingung dengan sikap Daniel.


"Dan, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu hanya diam? Katakan sesuatu," pinta El lalu mencengkeram jas Daniel lalu mengguncang tubuhnya.


Daniel tetap diam dan memegang kedua tangan El yang masih mencengkeram jasnya lalu memeluknya sambil menangis.


"El, tante Karin sudah nggak ada, aku datang ke sini untuk menjemputmu. Semalam, sebelum tante Karin meninggal. Dia berpesan ingin kamu mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya," ungkap Daniel.

__ADS_1


Duuuuuaaaarrrr....


Bagai petir menyambar di siang bolong, El merasa kaki yang menopangnya seolah tak bertulang, penglihatannya langsung gelap dan akan terjatuh. Namun dengan sigap Daniel menahannya.


"El, jangan seperti ini, sadarlah," bisiknya sambil menepuk pipi El.


El hanya diam, tatapan matanya kosong. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh dan tamat. Lagi dan lagi ia merasa takdir mempermainkan hidupnya dan merasa Tuhan tidak adil kepadanya.


El langsung menangis histeris karena ia merasa cukup terpuruk. Semua orang yang ia sayangi satu persatu pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"God ... kenapa ... kenapa kau tidak adil padaku? Apa salah ku?!!" teriak El histeris.


Daniel hanya membiarkan El yang sedang tantrum, meluapkan segala emosi dan amarahnya hingga gadis malang itu merasa puas. El terus saja menangis sesenggukan.


"Aku tahu ini berat bagimu, El. Tapi kamu juga harus mengikhlaskan kepergian tante Karin. Sekarang dia sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi. Ayo kita ke sana sekarang. Tara sudah menunggu kita di sana," ajak Daniel sembari menghapus air matanya alu mengelus rambut panjangnya.


Pelahan-lahan El bangkit berdiri di bantu oleh Daniel. Ia masih saja menangis sesenggukan. Ia seolah tidak bisa menghentikan tangisannya. Terdengar pilu dan begitu menyakitkan.


Daniel meminta salah satu sipir lapas untuk ikut bersama mereka. Di sepanjang perjalanan, El hanya diam. Yang terdengar hanyalah suara lirih sesegukkannya.


😭😭😭😭😭😭


Setelah tiba di kediaman tante Karin, Tara yang sejak tadi menunggu El, datang menghampirinya lalu memeluknya dengan erat.


"El, kamu yang sabar ya. Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Jangan menganggap jika kamu hanya sendiri tapi ingatlah, kamu masih punya aku, Daniel dan temanmu yang selalu mendukungmu," bisik Tara lalu mengecup puncak kepala El.


Setelah melepaskan pelukannya, El menghampiri jenazah tante Karin yang sudah di kafankan dan hanya menyisakan wajahnya karena menunggu El.


El menghampiri tubuh yang sudah tidak bernyawa itu lalu memeluk tubuh kaku tante Karin. El mengecup kening wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. El tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, air matanya terus saja mengalir tanpa bisa dicegah.


"Tante, kenapa tante juga ikut pergi meninggalkan aku? Padahal aku sudah berjanji akan merawat tante setelah aku bebas. Hidupku sekarang benar-benar hampa dan nggak tahu ke mana arah tujuannya," ucap El dalam tangisnya sambil terus menatap wajah tante Karin.


Tara menghampiri El lalu duduk disampingnya dan merangkul bahunya.

__ADS_1


"El, sudah. Tante Karin akan segera dimakamkan. Kuatkan hatimu dan ikhlaskan tante Karin," bisik Tara menguatkan El.


El hanya mengangguk. Setelah itu, wajah tante Karin benar-benar ditutup dengan kain kafan. Setelah jenazahnya di shalatkan, mereka turut mengantar tante Karin ke tempat peristirahatan terakhir yang tidak jauh dari makam kedua orang tuanya.


Begitu selesai di makamkan dan di doakan. Satu persatu orang yang ikut mengantar, meninggalkan makam tersebut dan hanya menyisakan El, Daniel dan Tara.


El terus menatap makam tante Karin yang masih basah lalu mendoakannya. Setelah itu, ia pindah ke makam kedua orang tuanya yang tidak terlalu jauh jaraknya.


Tangis El kembali pecah saat berada di makan kedua orang tuanya.


"Mah, Pah, maafin aku. Aku belum bisa membanggakan kalian berdua. Aku belum bisa menjadi anak yang baik buat kalian. Sekali lagi maafin aku," liirih El disertai isak tangisnya.


Hari ini dirinya benar-benar terlihat kacau dan berantakan. Setelah mengungkapkan segala kesedihan dan keluh kesahnya, El meminta untuk langsung diantar ke lapas.


Daniel hanya menuruti keinginan El. Mereka pun meninggalkan TPU.


"El, jangan terus bersedih seperti ini. Doakan saja tante Karin," kata Tara.


El hanya mengangguk sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil di susul oleh Bu sipir.


"Dan, setelah dari lapas, langsung ke kantor. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."


"Baiklah, Tara," kata Daniel lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah Daniel meninggalkan TPU itu. Tara tersenyum sinis.


Mau apa sebenarnya dirimu Kai. Apa kamu mengira, aku tidak tahu sejak tadi kamu terus mengikutiku?


Tara segera menghampiri mobilnya dan kembali ke rumah tante Karin. Ia meminta beberapa tetangga dekat tante Karin untuk mengadakan tahlilan sebentar malam. Dikarenakan ia tidak bisa ikut tahlilan bersama, Tara menitipkan sejumlah uang untuk keperluan tahlilan tersebut.


Setelah itu, Tara langsung meninggalkan tempat itu dan menuju kantor tempatnya bekerja.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2