All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
97. Apa kamu sudah nggak waras ...?!


__ADS_3

Daniel yang kini sedang berada di ruang kerjanya, tampak sedang memperhatikan kartu kartu milik El yang telah ia ambil dari ruang kerja Tara di apartemen.


Lagi-lagi ia harus memanggil jasa petugas kebersihan untuk membersihkan ruangan itu.


"Heran banget sama tuh anak. Sejak ditinggal pergi oleh El, dia menjadi tantrum," gumam Daniel.


Alisnya bertaut ketika menatap foto gadis yang ada di KTP itu. Sekelumit ingatannya kembali berputar mengingat sesuatu.


"Gadis ini? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya di gedung apartemen El."


Ia meraih ponsel gadis itu lalu memeriksanya. Ia pun mencocokan semua data data yang ada di ponsel itu dengan berkas lama yang ada di dalam lacinya.


"Jadi gadis ini adalah El?!! Ya Tuhan! Jika Semalam dia juga terlihat di resepsi Tara. Apa semalam Tara ...."


Daniel tak melanjutkan kalimatnya melainkan menebak-nebak. Apalagi semalam Tara sempat menghilang sejenak.


"El ... trikmu untuk membuat orang terkecoh cukup mumpuni. Hanya saja data data kedua orang tuamu tak bisa berbohong."


Daniel menepuk jidatnya. "Kenapa aku nggak sampai kepikiran mencari tahu data orang tuanya di setiap kampus?"


Ia pun menghubungi Tara yang kebetulan saat ini sedang berada di kediaman pak Mulia.


Saat ponselnya bergetar Tara langsung merogoh saku celananya. Ia langsung tersenyum lega menatap layar ponselnya.


Bagaimana tidak sejak tadi ia sudah merasa bosan dan jengah berada di tempat itu.


"Good job Daniel, kamu menghubungi di waktu yang tepat."


"Dian, aku terima telfon duluya. Mungkin ini penting," izinnya dan dijawab dengan anggukan oleh Dian.


Ia pun sedikit menjauh dari ruang keluarga itu lalu menjawab panggilan dari Daniel.


"Ya, Dan, ada apa?"


"Tara, apa kamu sudah mengetahui El ..."


"Ya, aku sudah tahu," potongnya cepat. "Aku ke kantor sekarang."


Tara langsung memutuskan panggilan telefon. Setelah itu, ia kembali ke ruang keluarga untuk meminta izin.


"Dian, aku pamit ke kantor sebentar ya. Ada urusan penting yang harus aku bahas dengan Daniel," ujarnya sedikit berbohong.


"Oh ya, sore nanti sepulang dari kantor, aku akan mengajakmu ke resort," ujarnya lagi lalu mengecup pipi istrinya kemudian meninggalkannya.

__ADS_1


Mendapat kecupan mendadak dari suaminya, jantung Dian langsung berdetak kencang bahkan kedua pipinya kembali merona.


.


.


.


Setibanya di kantor, Tara langsung ke ruang kerja Daniel.


"Dan," sapanya sesaat setelah membuka pintu.


Dengan santainya ia menghampiri Daniel yang sedang duduk di sofa. Mendaratkan bokongnya lalu menyandarkan punggungnya.


"Tara, apa semalam kamu ..." Belum sempat Daniel menyelesaikan kalimatnya Tara langsung menyela.


"Ya, aku bertemu dengannya," sahutnya cepat sekaligus memotong ucapan Daniel. Ia pun menceritakan kejadian semalam.


Setelah selesai mendengar penuturan Tara, Daniel seakan tidak percaya jika Tara bisa bersikap kasar pada El.


"What!! Apa kamu sudah nggak waras, Tara?!! Sulit dipercaya, aku bahkan seperti sudah nggak mengenal dirimu yang sekarang," pungkasnya sekaligus merasa sangat kecewa.


Tara hanya tertunduk mendengar ucapan Daniel yang terdengar begitu kecewa padanya. Sedetik kemudian mengangkat wajah lalu menatap nanar punggung sang asisten yang memilih meninggalkannya di ruangan itu.


Seketika kebenciannya pada pasangan kekasih itu semakin merasuki dirinya.


Kini keadaan berbanding terbalik. Jika dulunya ia sangat melindungi gadis malang itu, tapi sekarang malah sebaliknya.


Lamunannya seketika membuyar ketika ponsel yang ada di atas meja kerja Daniel bergetar. Ia pun beranjak dari tempat duduknya.


Saat menatap nama kontak yang memanggil di layar ponsel milik El, Tara hanya membiarkannya saja.


"Dian?!" ucapnya lirih.


Setelah ponsel itu berhenti bergetar, ia meraihnya lalu menatap lekat benda pipih itu. Ponsel yang sama sejak pertama kali ia mengenal gadis yang awalnya berprofesi sebagai bartender.


"Bahkan ponselnya masih sama dan dia nggak menggantinya," gumam Tara.


Karena merasa penasaran, ia memeriksa nama serta nomor kontak yang ter-save di ponsel itu.


Hanya nama kontak teman kerjanya, dosen kampusnya. Namun ada satu nama kontak yang sangat mencuri perhatiannya.


"My Bastard?!" ucapnya sekaligus penasaran.

__ADS_1


Setelah tahu siapa pemilik nomor itu, hatinya seperti dihunus belati.


"Jadi, My Bastard itu, Kai?" ucapnya lagi dengan perasaan geram sekaligus kebenciannya kini semakin menjadi-jadi.


"Jadi itu panggilan untuk Kai?" Ia pun mencoba menghubungi Kai lewat ponsel itu.


Kai yang sedang sibuk dengan pekerjaannya terpaksa menghentikan sejenak aktifitasnya. Meraih ponsel yang sedang bergetar di samping laptopnya.


"My Baby?" gumamnya dengan kerutan tipis di kening.


Mengarahkan pandangannya ke arah El yang sedang tertidur di sofa. Kai tersenyum sinis lalu menjawab panggilan yang ia yakini itu dari Tara.


"Sayang, apa kamu ingin di jemput sekarang?" tanyanya sengaja memancing emosi Tara.


Tara bergeming dari seberang sekaligus merasa kesal mendengar panggilan sayang dari pria blasteran itu.


"Sayang, apa kamu mendengarku? Kenapa kamu kok diam saja? Apa ada masalah?" cecar Kai sambil melipat bibirnya menahan tawa.


Seketika emosi Tara langsung terpancing lalu menjawab ucapan Kai dari seberang dengan bentakkan.


"Pria brengsek!!! Katakan pada El, jika dia masih menginginkan ponsel dan tasnya, suruh dia temui aku di apartemennya!!"


"Untuk apa aku menyampaikan padanya, sedangkan orangnya sedang bersamaku di kantor. Jika kamu ingin, langsung bicara saja padanya," tawar Kai.


"Brengsek!! Apa kamu pikir aku percaya dengan omonganmu!!" Pikirnya Kai sedang berbohong. Ia pun mengalihkan ke panggilan itu ke video.


Seringai penuh arti terbit di wajah tampan Kai. Sebelum menjawab panggilan video, ia meletakkan kepala wanitanya itu di pangkuannya. Setelah itu barulah ia menjawab panggilan video itu.


"See ..."


Kai mengarahkan layar ponselnya ke arah mereka berdua.


Dari seberang layar, Tara bergeming menatap wajah gadis itu. Jauh dalam sudut hatinya ia sangat mencintai dan merindukan itu.


Ia tak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Gadis itu sedang tertidur nyenyak di pangkuan Kai.


"Apa kamu masih belum percaya jika El atau Culun yang telah kamu hina dan kamu rendahkan saat ini sedang bersamaku?"


"Bahkan dengan teganya kamu membogemnya hingga membuatnya pingsan dan masih menyisakan bekas dipunggugnya," pungkas Kai dengan senyum sinis.


Tara hanya diam seribu bahasa. Namun matanya terus menatap wajah El lewat benda pipih itu.


Karena merasa sudah cukup memanas-manasinya, Kai akhirnya memutuskan panggilan video itu sekaligus merasa puas setelah menatap wajah tak percaya ex asistennya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2