
"Sebaiknya aku ke kamar Bara dulu," desisnya sambil membayangkan wajah mungil putranya itu.
Baru saja ia akan membuka pintu, Dian sudah lebih dulu membuka benda itu lalu menghampirinya dengan seulas senyum.
"Ada apa?" tanya Tara dan membalas senyum istrinya. "Kelihatannya kamu bahagia banget," lanjutnya lalu mengelus pipi Dian dengan sayang.
Dian hanya mengangguk lalu menatapnya. "El datang berkunjung," bisik Dian.
Seketika raut wajahnya berubah dan alisnya saling bertautan.
"Apa dia sendiri atau diantar oleh suaminya?" selidik Tara.
"Dia datang bareng Vira," jelas Dian dengan seulas senyum.
"Lalu mana dia? Apa sudah pulang?" tanyanya dan sedikit kecewa.
"Di kamar Bara. Sejak tadi dia terus saja mengajak Bara bermain. Jangan-jangan mereka ketiduran lagi," kata Dian sambil terkekeh. "Tapi biarkan saja. Mumpung El lagi di kota ini dan puas-puasin bermain dengan Bara. Oh ya, aku ke bawah dulu," pamit Dian lalu meninggalkannya.
Sepeninggal Dian, Tara mengusap wajahnya lalu ke tengkuk. Perlahan ia melangkah menuju ke kamar putranya.
Begitu ia berada di ambang pintu kamar baby Bara, ia memutar handle pintu itu lalu masuk ke kamar putranya.
"El ..." lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca menatap wanita berparas cantik dan berkulit seputih susu itu, sedang tertidur pulas di samping putranya.
Pemandangan seperti itulah yang ia inginkan. ketika ia pernah berharap El menjadi istrinya dan memiliki anak darinya.
Perlahan ia menghampiri El dan putranya lalu duduk di sisi ranjang menatap lekat keduanya bergantian.
"Sayang, kelihatanya kamu nyaman banget tidur di samping aunty El," desisnya lalu menggendong putranya kemudian mengecup pipinya. "Bahkan aroma parfumnya ikut menempel di tubuhmu."
Sedetik kemudian, Tara meletakkan baby Bara di box bayi lalu kembali menatap El. Mengelus pipinya bahkan mendaratkan kecupan yang cukup lama di keningnya.
"El ... biarkan aku memelukmu sebentar," lirihnya lalu berbaring dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
Merasa seperti ada seseorang yang memeluknya, El mengira jika itu adalah Kai. Ia bahkan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang nan liat Tara.
"Sayaaaang," desisnya masih dengan mata yang yang terpejam.
Mendengar kata sayang, Tara semakin mengelus punggung El. "Sejak dulu, aku ingin panggilan itu kamu tujukan padaku," desisnya.
Tak lama berselang, El perlahan membuka matanya, mengerutkan keningnya lalu sedikit mendongak.
Seketika matanya langsung membulat sempurna ketika tahu siapa yang memeluknya.
"Damn!!! Lepasin!!" sentaknya lalu meronta dalam pelukan Tara.
"Jika kamu berontak seperti ini terus, aku nggak akan melepasmu," ancam Tara lalu mengungkungnya sambil menahan kedua tangannya ke atas.
__ADS_1
"Kamu gila Tara!!" desis El dengan suara tercekat menahan tangis.
"Ya ... aku gila karena kamu yang membuatku gila," bisiknya tepat di telinga El lalu menghirup dalam-dalam aroma parfum El di ceruk lehernya.
"Tara ..." lirih El dan tak kuasa menahan bulir bening di ujung matanya. Takut jika Tara akan berbuat nekat.
"Why? Bukankah kita pernah seperti ini dulu? Bahkan kamu sangat menikmati setiap sentuhaku, pelukanku dan ciuman penuh ghairah dariku. Sayangnya kita tidak pernah melakukan penyatuan," bisik Tara dan mulai mengelus paha mulus El.
"Lepasin!!" berontak El. "Aku akan teriak jika kamu akan berbuat nekat," ancamnya.
Alih-alih takut, Tara malah tersenyum lalu menatap wajah El lalu turun ke bibirnya.
"Teriak saja jika kamu ingin mengagetkan Bara," tantangnya.
El memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam. "Lalu ... aku harus bagaimana padamu?" desisnya. "Sssttt ... akh ... perutku," ringis El menahan sakit ketika Tara semakin menindihnya.
Sadar jika El sedang hamil, Tara langsung menegakkan tubuhnya lalu duduk di sisi ranjang.
"Akhh ..." El kembali merintih sembari memegang perutnya dan perlahan ia bangkit lalu mendudukkan dirinya.
"El," lirihnya lalu menatapnya khawatir dan ingin membantunya namun El menggelengkan kepalanya.
"Nooo ... don't touch me," desisnya dan perlahan beranjak dari sisi ranjang. Sebelum meninggalkan kamar itu, El kembali menatap baby Bara lalu mengecupnya. "Sayang, aunty pulang dulu ya," bisiknya seraya mengelus pipinya.
Tanpa memperdulikan Tara, ia berlalu begitu saja.
"Dian, Vira, Daniel ... maaf aku harus pulang sekarang. Perutku sakit banget," lirih El dengan wajah yang kini berkeringat.
"Biar aku antar," tawar Vira.
"Nggak usah. Aku akan menghubungi Mike," tolaknya lalu meraih ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Kai.
Kai yang kini sedang berada di ruang praktek Mike, segera merogoh kantong celananya lalu menatap layar ponselnya.
Ia langsung menggeser tombol hijau menjawab panggilan dari istrinya itu.
"Sayang, ada apa? Sudah puas bermain dengan baby Bara?" tanya Kai.
"Iya ... aku ingin kamu jemput aku sekarang," pintanya.
Kai mengerutkan keningnya lalu menatap Mike.
"Baiklah aku ke sana sekarang," jawab Kai merasa cemas. Perasaannya langsung tidak enak memikirkan istrinya.
"Cepat ya," pinta El dengan lirih sambil memejamkan matanya lalu memutuskan panggilan telfon.
Oh God ... perutku sakit banget. Ini pasti karena pikiranku lagi kacau," lirih batin El. Bahkan keringatnya mulai bercucuran.
__ADS_1
Melihat El menahan sakit dan terus memegang perutnya, Daniel mengernyit lalu mengarahkan pandangannya ke arah Tara yang masih berada di lantai dua.
"El ... are you Ok?" tanya Daniel lalu berjongkok di depannya.
El tidak menjawab melainkan langsung memeluk Daniel. "Perutku sakit banget," bisiknya.
"El, kamu berkeringat. Ini minumlah dulu," saran Dian seraya memberinya segelas air dan ikut merasa khawatir.
Dengan tangan yang bergetar ia meraih air itu lalu meneguknya hingga tandas.
"El, ayo aku antar kamu pulang," tawar Vira lagi namun El menolak.
Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya terdengar klakson mobil dari halaman rumah Tara.
"Dian, Vira, Daniel aku pulang dulu," pamitnya lalu menghampiri Tara. "Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di rumahmu, tapi sikap dan ulahmu membuat aku takut," bisiknya lalu berlalu meninggalkannya.
Sambil memegang perutnya, El mempercepat langkahnya menuju mobil Mike yang sengaja digunakan suaminya agar tidak ketahuan.
Begitu ia masuk ke dalam mobil, El langsung memeluk Kai dengan erat sambil menangis.
"I hate him," ucapnya dengan tersengal.
"Sayang, what happened to you?" tanya Kai merasa khawatir.
El tak menjawab melainkan semakin erat memeluknya sambil menangis.
"Mamy triplets, come on calm down," bisik Kai lalu membenamkan dagunya di puncak kepala El sembari terus mengelus punggungnya.
Setelah puas menumpahkan air matanya, ia mulai melonggarkan pelukannya lalu menyeka sisa air matanya.
Sedangkan Kai, ia mulai melajukan kendaraannya dan meninggalkan halaman rumah Tara. Sambil menyetir Kai terus menggenggam tangan istrinya.
"Sayang, perutku sakit," keluhnya sambil mengelus perutnya.
"Apa kita ke tempat praktek bunda Kiara saja, sayang? Sekalian kita periksa kandunganmu," usul Kai.
El hanya mengangguk dan menuruti usulan suaminya.
"Lagian kita bisa beristirahat sejenak di sana nanti," kata Kai. "Kamu bisa menceritakan apa sebenarnya yang terjadi padamu hingga membuatmu menangis seperti tadi," lanjut Kai merasa penasaran.
.
.
.
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1