
"Tuan, Nona El, take care on your flight," ucap Alex lalu menyerahkan paper bag milik El kepada Kai.
"Thanks Alex. Kami masuk dulu," kata Kai seraya menepuk bahu sang asisten.
Keduanya kembali mengayunkan langkah sekaligus meninggalkan Alex
"Sayang ..." panggil El.
Kai langsung meliriknya. "Ada apa?" tanya Kai.
"Kepalaku sakit," keluhnya sambil memijat kening.
"Mau aku gendong?" kelakar Kai lalu terkekeh.
El menggeleng dan tetap menggandeng lengan suaminya. Ingin rasanya ia segera tiba di pesawat yang akan mereka tumpangi.
Sesaat setelah duduk di kursi penumpang, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Tidurlah," bisik Kai lalu mengecup kepalanya.
Tak ada jawaban dari El melainkan memilih memejamkan mata.
Sebelum pesawat take off, Kai mengirim pesan untuk mengabari Mike jika ia dan El sebentar lagi akan menuju ke kota X.
Setelah itu, ia langsung menonaktifkan ponselnya lalu memasang sabuk pengaman. Beberapa menit kemudian pesawat yang ditumpangi keduanya mulai mengudara.
Sejenak Kai mengerutkan keningnya karena merasakan hawa tubuh istrinya terasa hangat. Ia pun menempelkan punggung tangannya ke kening.
"Sayang, kamu demam," gumam Kai sekaligus merasa khawatir.
Padahal saat masih di mansion, istrinya itu terlihat baik-baik saja.
.
.
.
Kediaman Mike ...
Ia terlihat sedang membantu putranya mengenakan pakaian bahkan sesekali bercanda. Setelah setahun berada di negara kangguru, barulah ia bisa bertemu lagi dengan putra semata wayangnya itu.
"Daddy, aku masih merindukan momy El. Bisa nggak kita mengajaknya jalan-jalan?" kata Bryan sembari menatap wajah Mike.
"Tentu saja, Nak. Tapi kita harus bertanya dulu padanya," timpal Mike seraya memeluk putranya itu.
"Ok, Daddy," ucap Bryan dengan sembringah.
"Sebentar ya, Daddy hubungi momy El dulu," balas Mike lalu menhambil ponselnya di atas meja nakas.
Alisnya saling bertaut saat melihat satu pesan dari Kai.
βοΈ : Mike, aku dan El sebentar lagi akan berangkat ke kota X. Sampaikan maafku dan El pada Lois karena nggak sempat bertemu.
Mike langsung menghela nafas lalu menatap Bryan yang kini sedang mendongak menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Bryan, maaf Nak, momy El sudah pulang ke kota X," kata Mike sambil berjongkok lalu mengelus pipi sang putra.
Seketika raut wajah bocah tampan itu menjadi sendu. "Tapi aku masih merindukan momy El, Daddy."
__ADS_1
"Nggak apa-apa ya, Nak. Next time, maybe," bisik Mike.
.
.
.
Kantor Kai ...
Menjelang jam makan siang, Alex masih disibukkan dengan beberapa berkas penting yang harus segera ia selesaikan.
Setelah meneliti secara seksama lalu membubuhkan tanda tangannya ia menghela bernafas lega.
"Huuuufff ... finally," gumamnya kemudian menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
Tok ... tok ... tok ...
Alex langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Alisnya langsung bertaut. Pikirnya mungkin sekretarisnya. Namun dugaannya salah.
Alex langsung berdiri lalu menyapa saat tahu yang membuka pintu.
"Tuan Tara," sapanya. "Satu kehormatan Anda mau berkunjung ke kantor Tuan Kai lagi. Silakan duduk Tuan."
Tara hanya mengangguk sembari memindai ruangan itu. Ruangan yang pernah menjadi tempatnya bekerja kala itu.
Ingatannya kembali berputar saat ia dan Kai masih menjalin persahabatan.
Ada senyum tipis di sudut bibirnya saat mengingat hubungan yang pernah terjalin baik diantara mereka.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tegur Alex.
"Hal yang akan membuat reputasinya menjadi bahan gunjingan media online dan media cetak bahkan tentang skandalnya yang akan menjadi berita fenomenal."
"Maaf Tuan. Tapi Tuan Kai saat ini sedang tidak berada di ruangannya," jelas Alex.
"Apa dia sedang keluar makan siang?" tanya Tara dengan alis yang bertaut.
"Nggak Tuan. Tuan Kai tadi pagi sudah berangkat ke Jerman. Ia ingin menemui istrinya dan Nyonya besar," jawab Alex sedikit berbohong.
"Apa dia sudah menikah?" balas Tara dengan kerutan tipis dikening.
"Ya Tuan, tapi istrinya tinggal di Jerman bersama Nyonya besar."
"Sejak kapan? Eeee, maksudku sejak kapan Kai menikah? Apa istrinya orang indo atau ..." ucapannya terpotong karena Alex langsung menyela.
"Tuan Kai menikah dua bulan yang lalu. Istrinya orang indo tapi menetap di Jerman, Tuan."
"Ck ... ini semua gara-gara Tuan. Untung saja aku sudah mewanti-wanti jawaban yang masuk di akal," gerutu Alex dalam hatinya.
"What the fu*ck!!! Rencanaku gagal!!! Ini belum berakhir. Masih ada waktu di lain hari," umpat Tara dalam hatinya dengan tangan terkepal merasa geram.
"Sayang sekali ..." ia menghela nafas kecewa. "Ya sudah aku pamit. Lanjutkan pekerjaanmu."
Alex hanya mengangguk lalu ikut berdiri sembari menghampiri pintu lalu membukanya untuk Tara.
"Sekali lagi terima kasih, Tuan sudah mau berkunjung ke kantor ini," ucap Alex.
Tara hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Sesaat setelah berada di dalam lift ia kembali dibuat penasaran dengan sosok istri ex boss-nya itu.
"Jika benar yang di katakan Alex, berarti Kai benar-benar sudah move on dari El. Tapi di foto enam bulan yang itu mereka terlihat masih bersama," gumam Tara bertanya tanya sendiri.
.
.
.
Kota X, Mansion Kai ...
"Sayang ..." bisik Kai seraya mengelus kepala El.
Namun tetap saja El masih memejamkan matanya.
Selimut tebal yang membungkus tubuh wanitanya itu tampak ikut bergetar karena El menggigil merasa kedinginan padahal suhu tubuhnya begitu hangat.
"Mamaaa ... papaaaa," ia meracau memanggil kedua orang tuanya. Terus seperti itu hingga membuat Kai cemas.
"Sayang, jangan membuatku takut. Please buka matamu," pinta Kai.
Tak lama berselang terdengar pintu kamarnya diketuk lalu dibuka.
"Kai," sapa pak dokter.
Kai langsung menoleh ke arah sumber suara itu. "Dokter Tony, syukurlah Anda sudah datang. Tolong segera periksa istri saya, Dok."
Dokter Tony mengulas senyum seraya menepuk pundaknya. Ia pun duduk di sisi ranjang lalu mulai memeriksa El.
Dokter Tony kembali tersenyum kemudian menatap Kai yang terlihat cemas. Setelah selesai memeriksa El dokter Tony meresepkan obat.
"Kai, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Istrimu hanya demam tinggi. Sepertinya bawaan hamil juga," jelas dokter Tony.
Mendengar penjelasan dari dokter Tony, Kai langsung menghela nafas lega. "Sejujurnya aku sangat cemas melihatnya seperti itu, Dok."
"Tenanglah, istrimu baik baik saja nggak ada yang perlu dicemaskan. Saya sudah menyuntiknya. Sebentar lagi demamnya akan turun. Tebuslah beberapa obat ini di apotik," kata dokter Tony seraya memberikan Kai secarik kertas kecil.
Kai hanya mengangguk sekaligus berterima kasih lalu mengantar dokter Tony hingga ke pintu utama mansion.
"Sekali lagi, terima kasih ya, Dok dan hati-hati di jalan," ucap Kai.
"Sama-sama Kai," balas dokter Tony lalu menghampiri mobilnya.
Sepeninggal dokter Tony, Kai kembali bergegas ke kamar sekaligus menghubungi Richard. Memintanya menebus obat seperti yang telah di resepkan oleh dokter Tony.
Satu jam berlalu ...
"Sayaaaang." Suara lirih El terdengar memanggil Kai yang tampak sedang menatap layar laptopnya di meja sofa.
Mendengar suara istrinya ia langsung beranjak menghampirinya. Mengusap keringat yang membasahi kening lalu menyibak selimut tebal dari tubuhnya.
"Maaf ... gara-gara aku, kita nggak jadi ke resort," sesal El merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Sayang, besok-besok saja," bisik Kai lalu mengecup keningnya. "Istirahatlah, aku ingin melanjutkan pekerjaanku."
El hanya mengangguk lalu kembali memejamkan matanya.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπππ