All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
175.


__ADS_3

Keesokkan harinya jam 8.00 pagi ...


Setelah mendapat kabar jika kai sudah sadar, El langsung bisa bernafas lega. Kini ia terlihat sedang menyiapkan beberapa pakaian ganti untuk dibawanya ke rumah sakit.


Setelah berada di lantai bawah, bi Nita dan bi Aira sudah menyiapkan makanan di wadah khusus untuk dibawah ke rumah sakit.


"Non, bawalah makanan ini, nanti siang kami akan menyusul menjenguk tuan," kata bi Nita.


"Terima kasih, Bi. Doakan kami supaya operasinya berjalan lancar nantinya," kata El.


"Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, Non. Kapan rencananya tuan dan Nona El akan di operasi?" tanya bi Aira.


"Rencananya, tunggu kedatangan mama dulu," jelas El. "Jika nggak ada halangan, kemungkinan mama akan tiba siang nanti. Bibi ke rumah sakit bareng mama saja nanti ya," usul El.


"Baiklah. Ayo bibi antar sampai ke depan," kata bi Nita.


El hanya mengangguk lalu melangkah menghampiri mobil. Setelah meletakkan tas kecil berisi pakaian dan wadah makanan di belakang kursi mobil, El kemudian berpamitan lalu duduk di kursi kemudi.


"Nona El, hati-hati ya," kata bi Aira dan bi Nita bergantian.


"Iya, Bi."


Setelah itu, El mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


.


.


Rumah sakit kota A, kamar VIP ...


Semalaman bunda Kiara, pak Jason dan Mike berada di rumah sakit. Demi memastikan Kai dalam kondisi stabil, Mike rela menginap dan sesekali masuk ke ruangan ICU memeriksa Kai.


Ketika Kai mulai siuman pagi tadi, yang pertama ia cari adalah istrinya. Kini ia sudah dipindahkan di kamar rawat VIP dan terlihat sedang duduk bersandar di kepala ranjang, ditemani bunda Kiara dan sang paman.


Tak lama berselang, Mike membuka pintu lalu menghampirinya.


"Kai ... " sapa Mike menatap wajah pucatnya.


"Mike, El pasti sangat panik dan khawatir," tebaknya. Ia melirik ke arah bunda dan pamannya.


"Dia bahkan tidak ingin meninggalkanmu," sahut bunda dengan mata berkaca-kaca. "Tapi bunda yang memaksanya pulang karena khawatir dengan janinnya," jelas bunda.


"Aku sudah menduganya, Bun," lirih Kai. "Pah, Bun, pulanglah," suruhnya. "Paman dan Bunda pasti lelah karena sudah semalamam menjagaku."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Nak. Ya sudah, paman dan bunda pulang dulu. Sebentar sore kami akan menjenggukmu lagi," kata paman dan Kai hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sepeninggal bunda Kiara dan pak Jason, tampak termenung memikirkan istrinya.


"Mike, aku nggak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya El semalam. Honestly beberapa hari ini aku sering merasakan nyeri, tapi semalam aku benar-benar sudah nggak kuat menahannya," aku-nya.


"Kai ..." Mike ragu ingin mengutarakan niatnya.


Alis Kai bertautan menatap wajah ragu-ragu sang dokter.


"Ada apa? Katakan saja," pinta Kai.


"El ingin kamu menjalani operasi transplantasi hati secepatnya."


Kai bergeming lalu tertunduk. Seketika kamar itu menjadi hening. Di tengah keheningan itu, keduanya sama-sama mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang terdengar di buka oleh seseorang.


"Sayang ..."


"Dear ..."


Lirih keduanya menatap El yang sedang menghampiri mereka berdua.


"Sayang ... Mike ..." sapa El. "Mike tinggallah sebentar, kita sarapan bersama," pinta El lalu meletakkan wadah makanan di atas meja lalu membantu Kai turun dari bed pasien.


Beberapa menit kemudian, setelah menata makanan di atas meja sofa, mereka mulai menyantap makanan yang di bawa El tadi hingga


Setelah selesai sarapan bersama, mereka terlihat bersantai sejenak dan mengobrol kecil.


"Dear, thanks," ucap Mike dan dijawab dengan anggukan kepala El. "Oh ya, aku sekalian pamit. Jika ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi aku," pesannya.


Kai mengangkat jari jempolnya seraya mengangguk.


Sepeninggal Mike, El menatap suaminya lalu memukul dada suaminya berulang-ulang karena kesal.


"Aku membencimu! Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku, kenapa?!" kesalnya. "Apa kamu ingin membuat triplets kita bernasib sama seperti kita, huh!! Apa kamu ingin mereka menjadi yatim?! Kamu jahat, jahat!!!" ucap El tanpa henti terus memukul dada suaminya sambil menangis.


"Sayang ... tenanglah," pintanya lalu memegang kedua tangan istrinya itu lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf ... aku hanya nggak mau kamu mengkhawatirkan ku," bisik Kai.


"Kamu nggak ingin aku khawatir, lantas bagaimana dengan triplets? Justru mereka yang harus kamu khawatirkan," lirih El sambil terisak mencengkeram baju suaminya.


"Sayang ..."

__ADS_1


"Kamu jahat ... jahat!!" kesalnya seolah tak ingin memberi kesempatan pada suaminya untuk berbicara.


Kai hanya bungkam mendengar ocehan istrinya yang terdengar kesal. Ia hanya membiarkan wanitanya itu mengeluarkan semua uneg-unegnya padanya.


Beberapa menit berlalu ...


El melonggarkan pelukannya lalu menangkup wajah suaminya, menatap dalam manik hazel itu lalu berbisik, "Aku mencintaimu My Bastard Man. Aku takut kehilanganmu. Tetaplah bertahan demi aku, anak-anak kita dan mama."


"Sayang ..." lirih Kai.


"Sejak awal, aku sudah curiga jika kamu nggak baik-baik saja, apalagi belakangan ini aku sering memergokimu meringis menahan sakit," pungkasnya dan kembali mendekap erat tubuh prianya itu.


"Sayang, aku sudah memutuskan, kita akan menjalani operasi bersama. Aku yang akan menjadi pendonor hati untukmu."


Seketika mata Kai membulat sempurna.


"Apa kamu sudah nggak waras? Itu sama saja membahayakan dirimu dan triplets," protes Kai seolah menolak keinginan tulus istrinya.


El menggeleng. "Segala sesuatu yang telah aku putuskan sudah aku pikirkan secara mateng termasuk resikonya," jelasnya lalu melepas pelukannya.


Kai bergeming, ingin protes pun ia tak bisa karena ia tahu benar watak istrinya itu, ditambah lagi ia lebih tahu.


"Baiklah," lirih Kai dan hanya bisa pasrah. Sedetik kemudian ia mengelus perut El lalu menciuminya.


"Maafkan Daddy sudah membuat kalian khawatir. Sehat-sehat terus di dalam sana ya. Daddy sudah tidak sabar ingin bertemu dan bermain dengan kalian," ucapnya.


*******


Kantor Tara ...


Ia terlihat sedang berdiri menatap keluar lewat kaca jendela besar kantornya.


Sekelumit ingatan tentang kejadian semalam kembali bermain di benaknya. Ucapan El cukup buatnya terhenyak dan tak mampu berkata-kata bahkan ingin membalas ucapannya saja ia tidak punya balasan kata.


Belum lagi kenyataan yang harus ia terima jika El dan Kai benar-benar sudah menikah bahkan saat ini El sedang mengandung anak dari ex sahabat sekaligus boss-nya itu.


Ungkapan berapi-api penuh amarah mengandung kata-kata kasar serta penghinaanya pada El, sukses membuatnya menyesal dan merasa kini di jauhi oleh wanita yang kini berstatus istri dari seorang Kai Intezar Abraham.


"Lord ....aku harus bagaimana sekarang?" desisnya. "El pasti membenciku karena ucapanku semalam."


Merasa pikirannya sedikit kacau, Tara memutuskan meninggalkan kantornya dan memilih ke apartemen lama El.


Lagi-lagi di sepanjang perjalanan menuju apartemen, ucapan El kembali terngiang di telinganya.

__ADS_1


"Tara ... mari berdamai dengan diri dan hati kita masing-masing. Jangan pernah ada dendam lagi. Setidaknya kita pernah bersama. Kamu dan Kai pernah bersahabat bahkan sampai detik ini pun Kai masih menganggapmu sebagai sahabatnya."


...----------------...


__ADS_2