All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
93. Apa aku masih menjijikkan bagimu ...?


__ADS_3

Malam semakin larut sekaligus resepsi yang digelar di hotel bintang lima itu pun selesai digelar.


Tampak Dian dan Tara sudah berada di kamar presidential suite hotel itu. Setelah membantu Dian melepas gaun pengantinnya Tara memilih ke balkon kamar untuk menyesap rokok.


Ingatannya kembali berputar mengingat kejadian tadi. Ia tampak melamun sekaligus seolah menyesali perbuatannya.


Asik dengan pikirannya, ia merasa sepasang tangan sedang melingkar di perutnya. Tara pun berbalik lalu menatap Dian yang kini terlihat mengenakan lingerie hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?" tanya Dian dengan suara lembutnya.


Tara bergeming sekaligus merasa bersalah pada istrinya itu. Seketika ucapan El seolah terngiang di telinganya.


"Selamat ya, Tara. Jangan sia-siakan gadis sebaik dan selembut Dian. Cintailah dia, sayangi dia dan bahagiakan dia."


Ia pun mengecup kening istrinya lalu berbisik, "Ayo kita tidur, aku sudah mengantuk."


Ia merangkul pinggang sang istri lalu mengajaknya masuk kamar menghampiri ranjang.


Dian terlihat gugup bahkan kini dadanya berdebar tak karuan setelah mendapat kecupan dan ajakan tidur dari Tara.


Pikirannya kini membayangkan hal yang membuat perutnya seperti dihinggapi oleh ribuan kupu-kupu.


Terasa geli dan sesuatu di bawah sana langsung berkedut. Sedangkan Tara terlihat biasa saja dan tidak seantusias dirinya.


"Ayo kemarilah," pinta Tara yang kini sudah berbaring.


Dian mendekat lalu berbaring di samping Tara. Karena tidak ingin Dian curiga, ia membawa Dian masuk ke dalam pelukannya lalu kembali mengecup kening dan bibir istrinya itu.


Dian semakin gugup bahkan pipinya kini ikut memerah seperti kepiting rebus.


"Tenanglah, aku nggak akan meminta hakku jika kamu belum siap. Lagian malam ini aku masih capek. Kita bisa melakukannya di lain waktu," bisik Tara.


Dian hanya mengangguk pelan lalu semakin membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Capek hanyalah alasan Tara. Ia merasa seolah tidak berghairah. Yang ada di pikirannya saat ini adalah ingin segera ke bar.


Sambil menunggu Dian tertidur, pikirannya ikut melayang.


"Apa selama setahun terakhir, El memang tinggal di Kota X? Apa Dian juga yang membantunya membuat identitas baru dan mengubah semua datanya?" batin Tara.


Pikirnya terus melayang jauh. Sesekali ia menatap wajah polos Dian yang sudah terlelap. Ia pun kembali mengecup kening dan bibirnya.


Perlahan-lahan ia melonggarkan dekapannya lalu memperbaiki posisi tidur istrinya. Setelah menyelimuti Dian, ia pun langsung beranjak dari tempat tidur.


Setelah mengenakan pakaiannya, Tara akhirnya meninggalkan Dian dan memilih ke bar.


.

__ADS_1


.


.


.


Sementara Kai dan El, keduanya sejak tadi sudah berada di penthouse. Kak terus memandangi wajah El yang terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.


"Sayang ..." panggilnya. "Sayang ..." Kai memanggil untuk yang kedua kali. "Sayang ...." El tetap bergeming tak merespon.


"Maafkan aku," bisik Kai.


Ia mengecup kening, mata, kedua pipi, bibir dan leher El . Menghirup dalam-dalam aroma parfum beraroma mawar itu lalu kembali menatap wajah calon istrinya itu.


Setelah itu, ia menuju ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya sekaligus mengambil salah satu kaosnya untuk mengganti pakaian El.


Dengan telaten Kai mengganti pakaian gadis itu dengan baju kaosnya sambil terkekeh.


Merasa matanya belum mengantuk, ia ke ruang tamu lalu duduk di kursi santainya menghadap dinding kaca.


Memandangi keindahan kota A di malam hari dari balik kaca ruangan itu. Semuanya terlihat jelas dari atas ketinggian tempatnya berada saat ini.


Satu jam kemudian, ia kembali ke kamar lalu menatap El yang masih tertidur nyenyak. Karena tidak ingin mengganggu, ia memilih ke balkon kamar. Kai tampak melamun dan merenung.


Tak lama setelah Kai berada di balkon kamar, El menggeliat kecil lalu perlahan membuka matanya.


Yang tersisa hanyalah dalaman bra sport dan celana short yang membalut tubuhnya.


"Kai mana ya?" gumamnya sambil celingukan.


Ia pun memilih ke kamar mandi lalu mencuci muka lalu menatap punggungnya yang masih menyisakan memar samar-samar.


El menghela nafasnya pelan. Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia mencari keberadaan Kai. Hingga langkahnya terhenti ketika mendapati Kai tampak melamun di balkon kamar.


Ia pun perlahan menghampirinya lalu memeluknya dari belakang. Mengecup punggung tegapnya lalu berbisik, "Apa yang sedang kamu pikirkan? Lamunanmu terlihat jauh?"


Mendapat pelukan hangat dari wanita yang pernah membencinya, sudut bibir Kai melengkung sempurna lalu semakin mengeratkan kedua tangan gadis itu yang melingkar di perut liatnya.


"Nggak ada Sayang," ujarnya. "Aku hanya berpikir tentang masa depan kita dan anak-anak kita nantinya."


Ia melepas kedua tangan El lalu berbalik menghadapnya dengan kerutan tipis di kening. "Kenapa kaosnya di lepas?"


"Aku risih memakai baju jika di rumah," jawab El.


"Apa sejak dulu kamu seperti ini?" tanya Kai dan dijawab dengan anggukan oleh El. "Berarti dulu, Tara juga sudah sering melihatmu seperti ini?"


"Hmm," jawab El singkat.

__ADS_1


"Aku cemburu," aku Kai.


"Namun, satu-satunya pria yang sudah meniduriku dan berhasil membuat jantung ini berdetak kencang adalah kamu," pungkas El.


Ia meletakkan tangan Kai di dadanya sembari menatap lekat mata indah prianya itu.


Kai mengecup bibir tipis El lalu memeluknya dengan erat. "Maaf, aku nggak akan pernah lelah mengucapkan kata itu, karena aku memang salah."


El hanya bergeming dan semakin erat mendekap tubuh tegap Kai sembari memejamkan matanya, merasakan hangatnya tubuh pria itu.


Kai hanya tersenyum bahagia sekaligus terharu. Tanpa paksaan, El sudah mau memeluknya, menciumnya bahkan tidak menolak dirinya.


"Kai, aku lapar," celetuknya. "Apa ada yang bisa di masak di dapur?" tanyanya dengan manja.


"Bakal lama jika nunggu kamu selesai masak," jawab Kai. "Sebentar lagi karyawan hotel akan kemari, aku sudah memesan makanan dan sekalian menyuruhnya membawa kopermu ke sini. Oh ya, Sayang, besok kita ke Mall saja cari ponsel baru untukmu."


"Baik lah."


"Ayo kita masuk, di sini udaranya semakin dingin," ajak Kai.


"Gendong," pintanya dengan manja.


Tanpa pikir panjang Kai langsung menggendongnya seperti anak koala lalu membawanya ke arah ranjang.


"Apa aku masih menjijikkan bagimu?" tanya Kai sesaat setelah keduanya berada di atas ranjang itu.


Dibawah kungkungan Kai, El menggelengkan kepalanya. Jemarinya terangkat lalu mengelus alis tebal Kai, mengusap mata indahnya, hidung mancungnya turun ke bibir.


Kai mengulas senyum sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan jemari yang terus bermain di wajahnya. Mengelus rambut terus turun ke dada bidang nan liatnya.


Kai terbawa perasaan, terbuai dengan semua sentuhan lembut El. Sentuhan yang sangat ia dambakan dari wanitanya itu.


"Sejak dulu, aku mendambakan sentuhan lembut ini darimu, Sayang," bisik Kai di telinga El. Ia kembali membelai wajah mulusnya.


Baru saja ia ingin menautkan bibirnya, bel pintu terdengar berbunyi.


"Damn!!!! Huh mengganggu saja!!" umpatnya dalam hati.


El langsung terkekeh menatap wajah kesal Kai. Ia pun mendorong pelan dadanya supaya terlepas dari kungkungannya. Memeluknya sejenak lalu mengecup bibirnya.


"Itu pasti karyawan hotel. Tunggu di sini, aku yang akan membuka pintu," kata El lalu memakai kaos yang tergeletak di atas ranjang.


Baru saja El akan melangkah, Kai ikut berdiri lalu memeluk pinggang rampingnya.


"Sayang, satu ciuman lagi," pintanya dan langsung mendaratkan ciumannya. Setelah itu Kai kembali merebahkan tubuhnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2