All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
96. Ibarat musuh dalam selimut ...


__ADS_3

Siang harinya ...


El sudah tampak sedang menunggu Alex. Ia hanya mengenakan dress simple selutut tanpa lengan berwarna lavender mix sepatu kets.


Sambil menunggu, ia memindai seluruh ruangan mewah itu.


"Apa dia nggak bosan tinggal sendiri di penthouse ini?" gumam El sambil terkekeh.


Tak lama berselang bel pintu berbunyi. El langsung beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri pintu.


Begitu pintu dibuka, Alex cukup tertegun menatap El.


Tik ... tik ... tik ...


El menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Alex.


"Ada apa?"


"Ah, nggak apa-apa Nona El," ucapnya sedikit canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo," ajak El dan berlalu menghampiri lift.


Alex hanya mengangguk kemudian menepuk jidatnya sambil tersenyum tipis. Ia pun menyusul El yang kini sudah berada di dalam lift.


Setelah beberapa menit berada dalam elevator, keduanya pun kini sudah berada di area parkir. Sesaat setelah berada di dalam mobil, Alex mulai melajukan kendaraannya menuju kantor.


Saat dalam perjalanan, El melirik ke arah Alex yang tetap fokus menyetir.


"Alex," tegur El. "Apa kamu sudah lama menjadi asistennya Kai?"


"Lumayanlah, Nona El. Sudah enam bulan sejak asistennya yang lama mengundurkan diri ," jawab Alex apa adanya.


"Oh gitu ya," gumam El sembari mengangguk pelan.


Setelah itu sudah tak ada pembicaraan lagi diantara keduanya hingga kendaraan yang dikendarai oleh Alex berhenti tepat di parkiran khusus.


"Ayo, Nona El, saya antar sampai ke ruangan Tuan," tawar Alex sesaat setelah keduanya keluar dari mobil.


El hanya mengangguk lalu mengikuti langkah sang asisten kepercayaan Kai itu. Keduanya mengarahkan langkah ke arah lift.


Begitu lift yang membawa keduanya berhenti lalu terbuka, Alex mengajak sekaligus menunjukkan ruangan kerja Kai.


"Nona El, ruangan Tuan ada di sebelah kanan," jelasnya seraya mengarahkan jempolnya ke arah yang dimaksud.


"Ok, thanks ya, Alex," ucap El dengan seulas senyum.


Ia pun mengayunkan langkahnya menghampiri pintu ruangan Kai. Ketika ia berada di ambang pintu, samar-samar ia mendengar suara seperti orang yang sedang berdebat dari dalam ruangan itu.


Karena penasaran, ia mendorong pintu ruangan lalu mengintip. Sepasang matanya langsung membulat ketika mendapati Siska sedang berdebat dengan Kai.

__ADS_1


Gadis itu terlihat berusaha memeluk dan ingin menciumnya. Namun Kai berusaha menjauh bahkan menahan tubuh gadis itu.


"Siska?" sebutnya dengan lirih. "Jadi dia benar-benar menyukai Kai? Oh God."


El membekap mulutnya dan tetap berdiri di ambang pintu sambil menguping pembicaraan mereka.


"Siska!! Apa kamu sudah nggak waras, hah!!!" bentak Kai sambil menahan kedua tangan gadis itu yang berusaha memeluknya.


"Harus berapa kali lagi aku harus katakan padamu, aku sama sekali nggak pernah mencintaimu."


"Hubungan kita hanya sebatas bed partner saat itu dan nggak lebih," tegas Kai sekaligus merasa geram lalu mendorong Siska. "Satu-satunya wanita yang aku cintai itu El, bukan kamu ataupun yang lainnya," tegasnya lagi lalu sedikit menjauhinya.


"Kenapa harus El, Kai?!! Sedangkan dia saja nggak mencintaimu tapi sangat membencimu! Justru yang tulus mencintaimu itu aku bukan dia!!" pekik Siska.


"Aku membencinya karena dia yang selalu menjadi batu penghalang bagiku!!" pekiknya lagi dengan begitu geramnya.


Ia mendekati Kai lalu menangkup wajahnya kemudian memaksa ingin menciumnya.


Lagi-lagi Kai menahan kedua tangan gadis itu dengan perasaan dongkol.


"Apa aku nggak salah dengar?" ucap El lalu tersenyum sinis.


Ternyata teman yang biasa ia bantu tak ubahnya seperti serigala berbulu domba. Ibarat musuh dalam selimut.


Sebelum benar-benar masuk ke ruangan itu, El menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaannya.


Mendorong pintu lalu pura-pura terkejut. "Ah, Siska," tegurnya. "Apa aku mengganggu kalian?" Ia kemudian menatap Kai yang terlihat gugup.


Kai terlihat gusar dan takut kalau-kalau El tidak akan mempercayainya lagi. Ia mengusap wajah kasar. Sedangkan Siska menatap benci pada El.


"Sayang," tegurnya. "Kenapa kamu nggak menghubungiku jika kamu sudah tiba di kantor?" tanyanya seraya merangkul pinggang El lalu mengecup bibirnya.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memanas-manasi Siska, El langsung melingkarkan kedua tangannya ke punggung leher Kai bahkan semakin memperdalam ciumannya.


Siska langsung melongo seolah tak percaya menyaksikan sepasang kekasih itu berciuman panas di depan matanya.


Karena merasa malu menyaksikan keduanya sedang berciuman panas, akhirnya ia memilih meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol.


Merasa pasokan nafasnya akan habis, barulah keduanya melepas tautan bibirnya.


"Sayang, maafkan aku," bisik Kai lalu memeluk wanitanya dengan erat.


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku mendengar semuanya tadi dan aku percaya padamu," balas El lalu melonggarkan pelukannya.


Sedangkan Siska yang kini berada di luar ruangan, mengumpat kesal, marah dan benci pada ex partner kerjanya itu.


"Dasar wanita munafik!! Bukankah dulu dia sangat membenci Kai? Dan apa itu tadi?!!!" umpatnyandengan begitu kesalnya.


Sementara di dalam ruangan Kai, El kembali berbisik, "Apa kamu nggak ingin mengajakku makan siang?"

__ADS_1


"Apa itu artinya kamu sudah siap go publik denganku?"


"Dia ditanya malah balik bertanya," kata El.


Kai tersenyum mendengar ucapannya. "Baiklah, aku nggak bahkan memaksa. Aku akan menunggu." Ia mendudukkan gadis itu di atas meja kerjanya.


"Sayang, besok aku akan kembali ke Kota X. Soalnya ada yang harus aku urus secepatnya."


Kita bareng saja aku tahu saat ini kamu nggak punya uang," sahut Kai. Baiklah, sehabis makan siang, kita cari ponsel dulu."


El menggelengkan kepalanya. "Kita bisa membelinya di Kota X."


"Ok, terserah kamu saja." Kai mengungkungnya lalu menatapnya penuh damba. Satu tangannya mulai nakal meraba paha mulusnya kemudian mendekatkan bibirnya.


El berdecak kesal sembari menahan bibirnya dengan telunjuknya. "Dasar player," bisiknya. Kai langsung terkekeh mendengar ucapannya sekaligus merasa gemas.


"Aku lapar ..." kata El lalu memeluknya yang terus mengelus pahanya. "Hentikan, nanti kamu nggak akan kuat. Jangan salahkan aku jika nggak bisa melayani hasratmu."


Tok ... tok ... tok ...


Pintu ruangan itu di ketuk. El mengulas senyum lalu melepaskan pelukannya.


"Sebentar, itu pasti kurir yang mengantar makan siang untuk kita," bisik Kai lalu menurunkannya dari meja kerja.


Ia pun menghampiri pintu lalu menerima pesanannya. Setelah itu ia menghampiri El yang sudah duduk manis di sofa.


El meraih paper bag berisi makanan itu lalu menatanya di atas meja.


"Ayo kita makan."


"Hmm."


Keduanya pun menyantap makan siang bersama. Setelah selesai menyantap makan siang, El kembali membereskan meja lalu membuang box bekas makanan mereka ke dalam tong sampah.


Beberapa menit kemudian....


Sayang."


"Hmm."


"Aku ingin mengajakmu ke resort," cetus Kai dan dijawab dengan anggukan oleh El.


"Baiklah, nggak masalah," jawabnya dengan seulas senyum.


"Maaf, mama belum bisa datang soalnya dia juga sibuk mengurus butiknya di Jerman.


"Nggak apa-apa. Aku mengerti."


"Jujur saja mama sangat ingin bertemu denganmu." Kai kembali membawanya masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku nggak akan melepasmu lagi, aku berjanji akan membahagiakan dirimu hingga akhir hayatku."


...----------------...


__ADS_2