
Sementara di kantor Tara ...
Daniel tampak mengulas senyum saat tahu El sedang berada di kota A.
"Sudah lama kita nggak bertemu El. Kangen banget dengan dirimu. Setidaknya aku ikut merasa senang karena kamu baik-baik saja bersama Kai," gumam Daniel.
Ting ...
Lagi-lagi senyumnya semakin mengembang saat membaca pesan dari Kai. Namun tak lama berselang senyumnya langsung sirna saat Tara menegurnya.
"Dan ... ada apa? Kelihatanya lagi senang banget," tanya Tara.
"Menurutmu?!" jawab Daniel dengan ketus.
Entah mengapa ia merasa jengah dengan sikap boss-nya itu. Tiba-tiba berubah dingin serta tempramental.
Tara bergeming. Namun tetap saja merasa penasaran
"Oh ya, ini sudah jam tiga sore. Aku sekalian pamit pulang," izin Daniel lalu meninggalkannya yang masih duduk di sofa.
"Hmm ..." Tara hanya berdehem lalu bergumam, "kenapa aku merasa jika Daniel mulai berubah. Ia terkesan cuek, ketus bahkan seolah menghindariku."
Ia pun beranjak lalu berpindah ke kursi kerja asistennya itu. Ekor matanya langsung tertuju ke arah frame foto sang asisten.
"Tante Karin," ucapnya lirih menatap foto kebersamaan Daniel, El juga tante Karin. "Bahkan sejak terakhir pemakaman itu, aku belum pernah lagi ziarah makamnya."
"Sayang, aku ziarah makam dulu ya," izin El.
"Apa nggak apa-apa kamu sendirian saja?" tanya Kai.
"Nggak apa-apa, sayang."
"Sayang, apa kamu nggak bisa nyetir?" tanya Kai.
"Bisa, hanya saja aku memang lebih suka menunggangi motor ketimbang menyetir," jelas El. "Udah ah, nggak usah di bahas."
"Baiklah, hati-hati ya, Sayang. Hubungi aku jika kamu ingin di jemput," pesan Kai.
El hanya mengangguk lalu memeluknya sejenak dengan perasaan gemas.
"Jika kamu lapar makanan sudah aku siapkan di atas meja," bisik El.
"Apa kamu memesan makanan?" tanya Kai.
El menggeleng. "Aku yang memasak," kata El lalu meninggalkannya yang masih berbaring di ranjang.
Sepeninggal El, Kai perlahan bangkit dari pembaringannya kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku harus menyusul El."
********
Sementara menunggu ojol, El kembali mengirim pesan kepada Lois.
Tit ... tit ... tit ...
__ADS_1
"Mbak Ellin Davina?" tanya bang ojol sesaat setelah tiba di depan gedung apartemen itu.
"Iya, Bang," jawab El. "Tolong antar aku ke Monic Flores dulu ya, Bang. Setelah itu ke TPU Permai."
"Siap, Mbak."
Bang ojol mulai memacu motornya ke lokasi pertama.
Sesaat setelah tiba di toko bunga langganannya, El langsung masuk ke toko itu lalu meminta dirangkaikan tiga kuntum bunga mawar putih.
"Monic, seperti biasa," pinta El.
"Eeeel, apa itu kamu, Dear? Kamu terlihat berbeda dengan rambut keritingmu," tanya Monic kegirangan lalu memeluknya.
El terkekeh. "Tentu saja ini aku, nggak mungkin hantu kan?" kelakar gadis itu.
"Sebentar ya, Dear."
El hanya mengangguk sembari menunggu temannya itu. Beberapa menit kemudian Monic kembali menghampirinya.
"El, ini bunganya," kata Monic.
"Terima kasih ya, Monic. Ini duitnya dan kembaliannya simpan saja. Aku buru-buru, takut kesorean."
"Ok, Dear. Hati-hati ya."
El mengangguk pelan lalu menghampiri bang ojol.
"Maaf ya, Bang soalnya lama. Ayo kita lanjut ke TPU," perintah El.
"Siap, Mbak!"
TPU kota A ...
El meletakkan bunga mawar di atas pusara kedua orang tuanya. Memeluk batu nisan bergantian lalu mengirimkan doa. Setelah itu ia lanjut ke pusara tante Karin.
Ia mengulas senyum lalu meletakkan sisa bunga terakhir yang dipegangnya. Turut mengirimkan doa untuk tante Karin.
Sebelum meninggalkan tempat itu, El kembali menatap nanar ketiga pusara itu bergantian yang berjarak tak terlalu jauh dengan mata berkaca-kaca.
"Aku menyayangi kalian," ucapnya lirih lalu menyeka air matanya yang mulai menetes. Setelah itu, ia melanjutkan langkah meninggalkan ketiga pusara itu.
Bersamaan dengan Tara yang baru saja tiba di tempat itu. Saat melihat El dari kejauhan, senyum penuh arti terbit di bibirnya.
"Suatu kebetulan kita bertemu di tempat ini," gumamnya sembari memperhatikan keadaan sekeliling.
Gadis itu tak menyadari jika Tara sedang memperhatikannya dari jarak yang kini tak terlalu jauh darinya.
"El!!" panggil Tara dengan senyum penuh arti.
Seketika langkah gadis itu terhenti. Keningnya seketika mengerut karena sangat mengenali suara berat khas itu.
Ia terlonjak kaget saat mendapati keberadaan Tara yang kini mulai menghampirinya dengan tatapan menghunus.
El memundurkan langkah sekaligus ingin berlari namun secepat kilat Tara langsung menangkap tangannya lalu menghilangkan ke belakang.
__ADS_1
"Tara!! Kamu apa-apaan sih! Lepasin nggak!!" bentaknya sambil meronta.
"Nggak akan. Aku akan membawamu ke apartemen kita," bisiknya.
"Apa kamu sudah nggak waras, hah!! Lepasin aku, Tara!!" El mulai menangis merasakan takut.
"Menangislah semau yang kamu inginkan," bisik Tara lagi. "Kai pasti sudah puas menjamah tubuhmu ini. Berapa dia membayarmu? Aku juga bisa membayar lebih dari Kai," geramnya lalu menggiring El mendekati pintu mobilnya.
"Lepasin aku, Tara!!" pekik El sambil menangis sekaligus meronta.
"Lepaskan El," suara bernada dingin dari Kai seketika menyapa gendang telinganya beserta kemejanya yang sedang dicengkeram dari belakang.
"Sayang," ucap El dengan lirih di sela-sela tangisnya.
Mau tidak mau Tara melepas kedua tangan El.
Begitu tangannya dilepas, El langsung menghampiri Kai. Memeluknya dengan erat sambil menangis dengan tubuh gemetaran.
"Apa kamu juga ingin menjadi pria brengsek, bajingan dan bejat sepertiku?" geram Kai dengan tatapan menghunus tajam. "Kamu sudah memiliki istri, Tara. Jika Dian tahu kamu seperti ini dia pasti akan sangat kecewa padamu," pungkas Kai.
Setelah itu, ia membawa El menghampiri mobil. Ketika sudah berada di dalam mobil, tangis El semakin pecah.
"Sayang," tegur Kai lalu memeluknya.
"I'm scared ..." bisik El dengan sesenggukan.
"I know," balas Kai. "Sejak tadi aku mengikutimu, perasaanku sudah nggak enak sejak kamu meninggalkanku."
Sedangkan Tara yang masih mematung ditempat terlihat begitu kesal.
Beberapa jam berlalu setelah dari TPU ...
El sedang duduk di pinggir kolam renang sambil memandang keindahan kota A dari ketinggian tempatnya berada saat ini.
Mengingat ucapan sinis dari Tara tadi sore, membuat hatinya mencelos. Ia langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam demi mendinginkan kepalanya.
"Jika saja Kai nggak datang tepat waktu, maka kejadian setahun yang lalu akan terulang lagi. Jika sampai itu terjadi, Dian pasti akan sangat membenciku," gumam El dalam hati.
El kembali berenang ke pinggir kolam lalu melepas dressnya. Menyisakan bra sport dan shortnya.
"Sudah?" tegur Kai yang baru saja tiba lalu memberinya kimono.
"Hmm."
********
"Sayang, lusa sebelum kita berangkat ke Jerman, izinkan aku bertemu dengan Dian besok," cetus El.
"Apa kamu yakin ingin bertemu dengannya besok?"
"Hmm, aku ingin menjelaskan semuanya tentang hubungan kita bertiga. Biar nantinya nggak ada kesalahpahaman," jelas El.
"Baiklah. Apa pun yang menurutmu baik, aku tetap mendukung," balas Kai. "Ayo, sebaiknya kita
berangkat sekarang.
__ADS_1