All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
127. Jangan bilang kamu sedang hamil ...


__ADS_3

"Apa ini suatu kebetulan? Sepertinya dia sedang menunggu seseorang? Apa dia sedang menunggu bed partnernya," sinis Tara.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia pun menghampiri El yang masih sibuk dengan ponselnya. Bahkan gadis itu tidak menyadari jika Tara sudah berdiri di hadapannya.


Jauh dalam sudut hati, Tara tak bisa memungkiri jika ia sangat merindukan gadis itu bahkan ingin memeluknya.


"El," sapanya.


Seketika jari yang sedang lincah mengetik pesan, terhenti sejenak. Rasa sakit seketika menjalari hati mengingat ucapan pria itu semalam.


El mendongak dengan senyum sinis.


"Ada apa? Apa kamu ingin menghujatku lagi seperti yang kamu lakukan semalam, hmm? Silakan dan hujat saja sepuas yang kamu inginkan," seru El dengan wajah datar.


"El, a-aku nggak bermaksud ..."


"Nggak bermaksud menghinamu," sambung El. "Itu kan yang ingin kamu katakan."


El kembali tersenyum sinis sekaligus merasa miris. "Terima kasih untuk semua hujatanmu itu," pungkasnya.


Tara bergeming sambil menundukkan pandangan wajahnya. Lidahnya tiba-tiba terasa keluh tak bisa membalas ucapan gadis itu.


"El, Tara!!" panggil dian yang baru saja tiba.


El dan Tara langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Jadi El datang ke sini ingin bertemu Dian?" batin Tara.


"Dian!!" jawab El dan Tara serentak.


"Maaf ya, El, aku telat soalnya jalanan macet," sesal Dian kemudian melirik Tara lalu bertanya, "Tara, sedang apa kamu di sini?"


"Aku baru selesai bertemu klien," jelas Tara.


"Gitu ya. Duduk yuk," cetus Dian. "El? Apa kalian memang saling mengenal?" selidik Dian sembari memandangi keduanya bergantian.


"Iya," tegas El singkat. Jawaban El sontak membuat Dian terkejut.


"Jangan kaget begitu, Dian. Apa kamu lupa Kai dan Tara bersahabat? Upsss ... maaf." El menyentuh bibirnya. "Maksudku rekan bisnis, bukan begitu Tara?" sambung El lalu menatapnya.


Tara tetap bergeming dengan tangan terkepal.


"Sebaiknya kalian pesan makanan dulu," tawar El. "Itupun jika suamimu nggak jijik jika aku yang mentraktir. Apalagi jika dia tahu uangku bukan uang halal melainkan uang hasil dari menjual tubuhku," sindir El dengan santai.


"Kamu ngomong apaan sih El?" tanya Dian sedikit bingung.


Karena tak ingin mengganggu kedua wanita itu, akhirnya Tara memilih berpamitan untuk kembali ke kantor.


Sepeninggal Tara, El menatap wajah Dian yang terlihat pucat serta lesu.


"Dian, apa kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat?" tanya El.

__ADS_1


"Nggak, hanya sedikit pusing dan mual. Entahlah El, sudah seminggu ini aku mengalaminya," jelas Dian.


Ucapan Dian membuat El kembali tersenyum lalu menggenggam tangannya.


"Sepertinya Dian sedang hamil. Sebaiknya aku mengajaknya ke rumah sakit setelah ini."


"El, ada apa sih?! Kok kamu senyum-senyum?" tanya Dian keheranan.


"Penasaran yaaa?" goda El lalu melanjutkan ucapannya. "Dian, aku sengaja mengajakmu bertemu karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."


"Hal penting?" tanya Dian.


"Hmm ... ini ada hubungannya dengan suamimu juga," jawab El lalu menyedot minumannya.


"Maksudmu?!" Dian terlihat penasaran.


"Dian ... sebelumnya aku minta maaf. Aku nggak ingin terjadi kesalahpahaman di antara kita nantinya. Aku ingin hubungan pertemanan kita tetap terjalin baik," kata El.


"Kok aku jadi deg-degan ya, El," balas Dian sembari memegang dadanya.


El mengulas senyum. Menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapan.


"Dian, sebenarnya antara aku, Tara dan Kai, kami bertiga saling berhubungan. Tapi itu dulu, dua tahun yang lalu. Sebelum aku dan Kai menjalin hubungan serius seperti saat ini, aku dan Tara pernah menjalin hubungan tanpa status selama tiga bulan," terang El. "Aku dan Tara bahkan hampir menikah saat itu."


Seketika Dian mengerutkan kening sekaligus terkejut mendengar ungkapan dari temannya itu.


"El," sebut Dian dengan lirih.


"Maafkan aku, Dian," ucap El sekaligus merasa bersalah.


"El ..." Dian menunduk lalu menangis.


"Maafkan aku, Dian," bisik El kemudian memeluknya.


"Kenapa kamu nggak berterus terang padaku saat Tara melamarku? Kamu malah berpura-pura tidak mengenalnya," bisik Dian.


"Dian, aku merasa nggak pantas. Selain status sosial kami yang berbeda, alasan lainnya adalah karena diriku sudah dinodai oleh Kai," balas El.


"Tapi El, Tara sangat mencintaimu," aku Dian dengan suara tercekat. "Apa kamu tahu, beberapa kali saat aku membangunkannya, dia selalu menyebut namamu," aku Dian lagi. "Awalnya aku berpikir jika El yang ia maksud adalah El yang lain, tapi ternyata kamu," pungkas Dian.


El mengurai dekapannya, mengusap air mata Dian yang masih mengalir di pipi.


"Dian, percayalah padaku, Tara pria yang baik bahkan sangat penyayang juga perhatian. Jangan pernah tinggalkan dirinya tapi rangkul dia serta nasehati dia. Selau berikan dia sebuah pelukan hangat. Aku yakin lambat laun dia pasti akan luluh serta mencintaimu," pungkas El.


"El," ucap lirih Dian seraya menggenggam kedua tangan El.


"Nggak apa-apa Dian. Percayalah padaku. Jangan menyerah untuk meluluhkan hatinya," kata El menyemangatinya.


Tanpa keduanya sadari, Tara yang masih berada di luar cafe terus memperhatikan keduanya dari kejauhan.


"Apa yang sedang mereka bahas?" gumamnya sekaligus penasaran.

__ADS_1


"Dian, sebaiknya kamu makan dulu. Setelah ini, aku ingin mengajakmu ke rumah sakit," cetus El dengan senyum penuh arti.


"Tapi aku nggak selera El. Rasanya aku langsung mual setelah makan. Pokoknya nggak enak banget," akunya.


"Baiklah, aku nggak akan memaksa." El menyedot minumannya hingga tandas. "Ayo, kita ke rumah sakit," ajak El lalu meninggalkan tiga lembar uang merah di atas meja.


"Tapi untuk apa, El?" tanya Dian penasaran.


"Nggak apa-apa, aku ingin bertemu dengan temanku sekalian akan mengenalkanmu pada mereka," jawab El lalu menggandeng tangannya meninggalkan cafe.


.


.


.


.


Setibanya di rumah sakit Kota A ....


"Dian ..."


"Hmm ..."


"Di rumah sakit iniah aku magang saat itu. sebelum Kai mencebloskanku ke dalam penjara," celetuk El lalu terkekeh mengingat sikap arogansi sang calon suami.


Sesaat setelah membuka pintu ruangan praktek Lois, El langsung menyapa sahabatnya itu.


"Selamat pagi menjelang siang, Bu dokter,."


"Dear, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lois.


"Ya, menurutmu?" jawab El lalu terkekeh. "Apa Syakila ada di ruangannya?"


"Ya." Lois menatapnya penuh selidik dengan menyipitkan mata. "El, jangan bilang kamu sedang hamil?!"


"Jika pun aku hamil kan nggak masalah. Ayah bayiku sudah pasti Kai," sahut El dengan santai disertai gelak tawa.


"So ...? Kamu beneran hamil?!!" pekik Lois.


"Ck, bukan aku tapi Dian istrinya Tara." El memegang pundak Dian sekaligus memperkenalkannya pada sahabatnya itu.


Keduanya saling bersalaman sekaligus menyebut namanya masing-masing.


"Lois aku ajak Dian ke ruangan Syakila dulu ya," izin El.


"Ok, Dear."


Dian sedikit merasa penasaran ketika El membawanya ke ruangan dokter spesialis kandungan.


Keduanya tidak menyadari jika sejak tadi Tara terus membuntuti keduanya.

__ADS_1


"Spesialis kandungan? Mau apa El dan Dian ke dokter kandungan?" gumam Tara


...----------------...


__ADS_2