All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
83. Instingku memang nggak salah ...


__ADS_3

Enam bulan kemudian ...


Seperti rencana awal yang telah Kai atur sedemikian rupa untuk mengungkap identitas asli Culun, Mona bekerja cukup profesional.


Awalnya Mona memang agak kesulitan untuk mendekati El sekaligus ingin menjadi temannya. Di tambah lagi El cukup aktif dalam kegiatan kampus. Namun ia tak berputus asa.


El memang cukup ramah dan baik terhadap semua teman kampusnya termasuk Mona, tapi ia juga sangat berhati-hati. Bukan tanpa alasan, ia takut jika Mona adalah mata-mata. Padahal itu benar adanya.


Setelah berusaha dengan susah payah, akhirnya El mau berteman baik dengan Mona tanpa tahu niat tersembunyi dari gadis itu.


Sebenarnya ada sedikit perasaan bersalah saat Mona membohongi El. Namun terpaksa ia lakukan karena pekerjaan yang menuntutnya.


Pun begitu dengan Kai, setiap ada kesempatan ia pasti akan menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan El walaupun gadis itu masih saja bersikap dingin padanya.


Candra yang terbilang cukup dekat dengan El, masih saja merasa penasaran dengan sosok gadis yang menurutnya cukup misterius itu.


Sementara Tara, sejak terakhir kali ia meninggalkan apartemen El, ia menjadi sosok pria dingin dan hanya sedikit bicara. Setiap malam waktunya ia habiskan dengan minum-minum di bar miliknya.


Bertepatan dengan hari ini, tak terasa El sudah satu tahun lebih menjadi mahasiswi di kampus W sekaligus sebagai karyawan di Cecilia Restoran. El tetaplah El, wanita kuat, giat, gigih dan juga tangguh.


Tok ... tok ... tok ...


El dibuat kesal dengan suara ketukan pintu yang sejak tadi terus saja diketuk. Mau tak mau dengan malas ia bangkit dari tempat tidurnya.


"Cih! Ngeselin banget sih?! Nggak tahu apa ini libur kuliah!" gerutunya sambil mencepol rambut keritingnya.


Sesaat setelah berada di depan pintu, Ia pun memutar kunci lalu membukanya. Tahu siapa yang datang, ia langsung memutar bola matanya dengan malas.


"Masuklah dan jangan lupa tutup pintunya," perintah El. "Ada apa Mon? Biasanya kamu nelfon dulu jika ingin kemari. Tapi kok hari ini tumben kamu nggak menelfonmu dulu?" ketusnya.


Mona hanya bergeming sekaligus tertegun menatap El yang kini dengan wujud El asli. Tanpa freckles dan kacamata tebal. Sekelumit ingatannya kembali berputar enam bulan yang lalu.


"Jadi benar, Culun itu adalah Ellin Davina? Insting Tuan benar. Tenyata aslinya cantik banget."


Tik .... tik .... tik ....


El menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Mona. "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya El sambil geleng-geleng kepala.


"Nggak apa-apa Lun. Hanya saja kamu sangat jauh berbeda," aku Mona. "Apa kamu nggak punya rencana untuk berlibur?" tanya Mona.


"Nggak Mon, soalnya aku kerja. Lagian aku nggak enak minta cuti lagi pada managerku," jawab El. "Memangnya Kenapa?"


"Nggak apa-apa, Lun," jawab Mona.


"Ya sudah, aku ke dapur dulu sekalian bikin kopi," cetus El lalu meninggalkannya menuju dapur.


"Tuan, anda harus memberi bonus lebih untukku. Soalnya tugasku sudah selesai," gumam Mona.


Mona melangkah perlahan menyusul El lalu memandanginya yang terlihat sedang merebus air. Tanpa sepengetahuan El, ia memotret gadis itu diam-diam lalu mengirim fotonya ke nomor Kai.


"Lun, kenapa sih kamu nggak begini saja? Kenapa harus memakai kacamata tebal dan membuat freckless di wajah cantikmu ini?" tanya Mona.


"Biar nggak ada yang naksir," jawabnya santai lalu terkekeh. "Nih, kopi buat kamu. Not black coffee but capuccino," kata El


"Thanks ya, El," ucap Mona.


Keduanya pun ke ruang tamu lalu mengobrol santai.


.


.

__ADS_1


.


Kantor Gloria Abraham Kota X ...


Senyum Kai terus mengembang di bibir. Menatap foto El yang baru saja Mona kirimkan padanya.


"Good job Mona," gumamnya. "Sejak pertama kali bertemu denganmu di restoran itu, aku sudah curiga jika itu kamu El. Instingku memang nggak salah."


Kai kembali menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. "Sssttt ... aduh!" Kai meringis sembari memegang perutnya yang terasa perih dan sakit.


Tak lama berselang, pintu ruang kerjanya di ketuk. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Candra!"


"Kai, apa kamu nggak ingin ke lokasi proyek?" tanya Candra sesaat setelah duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Kapan kamu akan ke sana?" tanya Kai balik


"Sebentar lagi, kita satu mobil saja," cetus Candra.


Kai hanya mengangguk pelan sembari mengelus perutnya yang masih terasa perih dan sakit.


Selang beberapa menit kemudian Candra mengajaknya ke ke lokasi proyek. "Kai, ayo kita berangkat sekarang."


"Baiklah."


Keduanya pun sama-sama beranjak dari kursi lalu meninggalkan ruangan itu.


.


.


.


.


Setelah membakar rokoknya, ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri menatap gedung-gedung tinggi lewat kaca transparan kantornya.


"Sebenarnya ada di mana dirimu El? Sejak kiriman video terakhir, kamu benar-benar menghilang," gumam Tara lalu menghembus asap rokoknya dengan kasar.


"Setahuku beberapa bulan terakhir, Kai sering bolak balik dari Kota A ke Jerman bahkan ke Kota X. Herannya dia nggak bersamamu. Ini bahkan sudah lebih dari setahun," gumamnya lagi dengan perasaan hampa.


Ia kembali mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya sembari memejamkan matanya.


Tak lama berselang pintu ruang kerjanya di buka tanpa diketuk oleh Daniel.


"Tara!"


"Hmm."


"Pukul dua belas lewat tiga puluh menit siang, kamu ada pertemuan keluarga di Restoran xxxx," terang Daniel.


"Lalu?" Tara masih memejamkan matanya.


"Dian juga sudah tiba di kota ini seminggu yang lalu," jelas Daniel. "Sepertinya Tuan dan Nyonya akan membahas rencana pernikahan kalian."


"Hanya itu?"


"Iya."


"Hmm, keluarlah," perintah Tara masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


Daniel hanya menurut patuh. Sepeninggal Daniel Tara perlahan membuka matanya lalu menatap frame foto yang ada di hadapannya.


Foto El yang sedang tersenyum sambil memeluknya. Satu-satunya foto El yang tersisa.


"Aku membencimu!"


Tara meraih frame itu lalu kembali melemparnya ke tembok. Setelah itu ia langsung beranjak dari kursi kerjanya lalu meninggalkan ruangannya.


.


.


.


Siang harinya di Cecilia Restoran ...


El yang baru saja mengantar makanan pesanan tamu restoran, kembali di panggil oleh temannya.


"Lun!"


"Ya, ada apa Al?" tanya El sembari meletakkan nampan.


"Lun, tolong antar pesanan makan siang ini ke Kantor Gloria Abraham di Jln xxxx."


El mengerutkan kening dan tampak berpikir. Antara mau dan tidak karena merasa jengah dengan sang CEO perusahaan itu.


"Gloria Abraham?" tanyanya.


"Iya," sahut Ali.


"Baiklah," kata El lalu meraih paper bag yang sudah disiapkan. "Itu kan kantor cabang si Mr. bule bastard," gumamnya.


Dengan terpaksa, ia pun melangkah meninggalkan restoran lalu menuju area parkir.


Setelah memastikan semuanya aman, ia pun mulai memacu motor matic restoran menuju alamat yang dimaksud.


Sementara El dalam perjalanan menuju kantor Kai, tampak Mona sedang duduk berhadapan dengan sang CEO.


"Mona, kerja bagus. Aku sangat berterima kasih padamu. Tugasmu sudah selesai di sini," ucap Kai dengan senyum sembringah. "Oh ya, tiketmu sudah aku siapkan. Kembali lah ke Kota A hari ini supaya El nggak curiga."


"Baik, Tuan! Jangan lupa bonus untuk saya, Tuan," kelakar Mona.


Kai terkekeh. "Jangan khawatir Mona. Aku akan mentransfernya. Sekarang bersiaplah, Richard akan mengantarmu ke bandara," perintahnya.


"Baik, Tuan." Mona perlahan berdiri lalu berlalu meninggalkan Kai.


Sementara menunggu El, Kai memilih meninggalkan ruangan kerjanya lalu sengaja menuju ke arah ruangan kontrol CCTV.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang ditunggunya sejak tadi kini sudah berada di depan pintu ruang kerjanya.


Tampak El sedang mengetuk pintu beberapa kali lalu membukanya. Kai hanya mengulas senyum lalu segera meninggalkan ruang kontrol itu.


El yang sudah berada di dalam ruangan kerja Kai, dibuat bertanya-tanya karena sang CEO tidak berada di ruangan itu.


"Ke mana dia?" gumam El.


Ia pun meletakkan paper bag itu di atas meja sofa. Sambil menunggu, El memindai seluruh ruangan itu hingga ekor matanya tertuju pada sebuah pigura foto.


El menghampiri lalu memandangi lekat pigura itu. Terlihat Kai kecil bersama mama dan papanya di dalam foto itu.


Seketika sudut bibirnya melukis senyum menatap wajah Kai kecil yang begitu mirip dengan sang papa.

__ADS_1


Saking asiknya El menatap foto keluarga itu, ia tidak menyadari jika Kai sejak tadi sudah masuk ke ruangan itu sembari memperhatikannya.


...----------------...


__ADS_2