
Kamar rawat itu kembali hening. Kai kembali merenung mengingat ucapan dokter Mike barusan ya ada benarnya. Selama ini waktunya ia habiskan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
"Kai, mungkin inilah saatnya kamu harus berubah, memperbaiki dan mengakui semua kesalahan yang telah kamu lakukan. Berhenti dari semua kegiatan yang tidak bermanfaat. Saatnya kamu harus menjadi orang yang berguna," ucapnya sekaligus mengingatkan dirinya sendiri.
"El, aku akan berusaha mencari dan akan berusaha menemukan dirimu. Walaupun kamu membenciku, sekalipun aku tidak peduli. Aku akan bertanggungjawab atas dirimu dan akan berjuang mendapatkan maaf darimu. Walau aku tahu itu sulit dan tidak mungkin. Izinkan aku menebus semua kesalahanku dan perbuatanku padamu." Kai berucap sambil meneteskan air matanya menyesali perbuatannya pada gadis itu.
.
.
.
.
Kediaman Pak Mulia ...
"Tara, ini sudah lewat dari sebulan, tapi El tetap nggak ada kabarnya. Apa kamu mau seperti ini terus? Mommy bukannya tidak mendukung hubungan kalian, tapi kenapa El bisa menghilang begitu saja tanpa pamit. Setidaknya jika memang dia tidak ingin menikah denganmu harusnya dia berterus terang bukannya main pergi begitu saja." Mommy Arini terlihat sedikit kesal.
Tara tidak menjawab melainkan ia hanya diam seribu bahasa.
Karena Tara hanya diam, Mommy Arini kembali melanjutkan ucapannya.
"Tara, umur kamu sudah tiga puluh dua tahun, Nak. Harusnya di usia kamu yang sudah cukup mateng itu sudah seharusnya menikah dan memiliki anak. Sampai kapan kamu akan menunggu El? Mommy dan Papa sudah memutuskan akan menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat papamu yang ada di Kota X."
Tara hanya menunduk dan lagi-lagi ia hanya bisa bungkam. Dia seakan tidak rela jika dirinya dijodohkan.
"Kasih aku waktu satu tahun lagi, Mom. Jika dalam waktu setahun aku nggak menemukan El, maka aku akan menerima perjodohan ini," pasrahnya.
"Apa!!! Satu tahun?! Apa kamu sudah nggak waras, Tara!!" pekik Momy Arini kesal.
Pak Mulia yang sejak tadi menyimak pembicaraan antara ibu dan anak itu pun ikut bersuara.
"Ma, sudahlah biarkan Tara yang menentukan sendiri pilihannya dengan siapa dia ingin menikah. Jangan memaksanya," timpal Pak Mulia membela putranya.
Karena malas berdebat dengan Momy Arini, akhirnya Tara memilih ke kamarnya yang ada di lantai dua.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Tara langsung merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah di atas ranjang empuknya lalu memejamkan matanya.
"El, di mana sebenarnya kamu berada? Bagaimana keadaanmu? Bahkan nomer rekeningmu kamu blokir. Lalu bagaimana aku akan membantumu membiayai kuliahmu? Kamu benar-benar tidak meninggalkan jejak sama sekali. Kai yang melakukan kesalahan itu, kenapa aku juga ikut kena imbasnya? Ini semua salahku karena tidak mengantarmu ke unit apartemenmu malam itu," ucap Tara sambil menangis.
.
.
.
.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu rumah El di ketuk. Ia yang sedang membalas email terpaksa harus menghentikan sejenak jarinya lalu beranjak dari tempat duduknya.
Sebelum membuka pintu, ia terlebih dulu mengintip di balik jendela. Setelah tahu siapa yang mengetuk pintu barulah, ia memutar kunci lalu membuka pintu.
"Masuklah, Dian. Huuuffff ... aku pikir siapa tadi?" kata El lalu mengusap dadanya.
"Candra, si bang ojol bohongan," jawab El.
Dian terkekeh menatap wajah kesal gadis itu.
Keduanya pun masuk ke kamar gadis itu. Kamar yang kecil namun sangat rapi dan bersih dan nyaman tentunya bagi El.
"Gerah ya, El? Soalnya setiap aku datang ke sini kamu selalu berpakaian minim seperti ini?" tanya Dian.
Ia menggeleng lalu terkekeh "Nggak, seperti inilah diriku jika di rumah sendirian. Lagian nggak ada yang lihat,'' jawabnya dengan santai.
Dian hanya mengangguk namun terus menatapnya yang terlihat serius sedang membalas email.
"Dian," panggil El.
"Hmm."
__ADS_1
"Kalau bisa panggil aku Lun saja, Lulu juga boleh. Asalkan jangan El."
"Ok. Tidak masalah," balas Dian.
Kamar itu hening sejenak. Sejak tadi Dian hanya menatap El dan memperhatikan punggungnya yang terukir tatto black rose bertangkai panjang hingga ke tulang punggungnya. Terlihat indah dan sangat kontras di kulit gadis itu yang seputih susu.
Tik ... tik ... tik ...
El menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Dian karena gadis cantik itu terlihat melamun.
"Mikirin apa sih?" tanya El, lalu membakar rokoknya.
"Nggak ada, Lun. Apa nggak sakit ya saat punggung mu di tatto? Apalagi mengikuti tulang punggungmu," tanya Dian merasa penasaran.
El hanya terkekeh lalu menghembuskan asap rokoknya sambil menggelengkan kepalanya.
"Sakitnya cuma sebentar," jelas El.
Dian hanya bisa bengong mendengar jawaban gadis itu.
"Oh ya, Dian. Orang tua kamu nggak tinggal sama kamu ya? Soalnya aku nggak pernah melihat mereka di rumahmu?" tanya El penasaran.
"Mereka tinggal di Kota A, soalnya Perusahaan papaku ada di sana, mereka nggak sendiri kok, soalnya ada kakak ku juga di sana. Paling seminggu lagi mereka ke sini. Soalnya setiap sebulan sekali mereka pulang kemari. Kadang-kadang jika aku nggak sibuk, aku yang akan ke Kota A, menemui mereka," ungkap Dian.
El hanya manggut-manggut mengerti.
"Kamu nggak kerja ya, hari ini?" tanya Dian.
"Kerja, aku dapat shift malam, aku masuk jam lima sore."
"Sekali lagi thanks ya, Dian. Jika bukan karena bantuanmu mungkin saat ini aku masih jadi 'PENGACARA', alias pengangguran banyak cara," kelakar El sambil terkekeh.
Dian ikut tertawa mendengar ucapannya. Mereka berdua terus melanjutkan obrolannya, sesekali El mengusili Dian dan menggodanya karena ia ingin menjadi Mak comblang untuk Dian dan Candra.
...----------------...
__ADS_1