
Malam semakin larut. Namun El belum bisa memejamkan matanya. Akhirnya ia memutuskan ke bar resort untuk menghibur dirinya.
Sesampainya di bar, ia langsung duduk di salah satu kursi bartender.
"Sayang, aku jadi teringat saat kita bertemu di bar itu," gumam El dalam hatinya.
"Bro, orange juice satu," pinta El. Sambil menunggu, ia memperhatikan orang-orang yang sedang asik berjoget di floor dance.
"Sist, ini minumannya." El hanya mengangguk lalu meraih gelas itu kemudian menyedotnya sedikit.
Tak lama berselang, pundaknya di tepuk oleh seseorang hingga membuatnya terlonjak kaget.
"El ... sedang apa kamu di sini?" tegur Damian
"Damian?" sahutnya sesaat setelah menoleh. "Hanya menghibur diri soalnya aku nggak bisa tidur,," sambungnya alu kembali menyedot minumannya.
"Tapi di sini bukanlah tempatmu untuk menghibur diri, El," protes Damian.
"Come on, Damian. Jangan khawatir begitu, aku sudah terbiasa dengan tempat seperti ini. Lagian tempat seperti ini nggak tabu bagiku, Bro," kata El lalu terkekeh.
"Maksudmu?" selidik Damian.
"Sebelumnya aku pernah bekerja sebagai bartender di Bronze Bar waktu itu," kata El lagi.
"Really?" Damian semakin penasaran.
"Hmm." El kembali menyedot jusnya hingga tandas. "Oh ya, Damian, tolong bayarkan ya minumanku?" pinta El lalu lalu terkekeh.
"Ok, nggak masalah."
"Ya sudah, aku pamit," izin El lalu meninggalkan Damian di tempat itu.
"Kai ... dia gadis yang unik?" gumam Damian dengan senyum tipis. Memandangi punggung gadis itu yang tampak sudah menjauh.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Setelah sarapan bersama di restoran resort, Mama Glori, El dan Damian pun bersiap-siap untuk menuju ke bandara.
"Sayang, maaf, mama harus meninggalkanmu lagi. Mama harus menemani Kai di kota A untuk sementara," kata mama Glori seraya memeluk El.
"Nggak apa-apa, Mah. Aku mengerti. Damian, sebelum lanjut ke bandara, tolong antar aku ke kampus dulu ya," pinta El.
"Tapi El, siapa yang akan menjemputmu nanti?" tanya Damian.
"Ada Richard, so ... mobil Kai titip saja sama petugas bandara nanti," saran El.
"Ok ..."
*******
Satu jam kemudian Damian menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang kampus.
__ADS_1
"Mah, aku masuk dulu ya." El kembali memeluk Mama Glori.
"Belajar yang giat semoga kamu lulus dengan nilai yang sempurna," bisik mama Glori.
"Iya Mah. Damian, thanks ya. Hati-hati."
"Ok, El. Masuklah nanti kamu terlambat," cetus Damian dan dijawab dengan anggukan oleh El.
Setelah itu, El keluar dari dalam mobil lalu melambaikan tangannya. Begitu mobil sudah menghilang dari pandangan matanya, barulah ia melangkah masuk ke halaman kampus.
.
.
.
.
Seminggu kemudian ....
Setelah bertemu dokter Mike dan Daniel, Kai sedikit merasa lega. Pun begitu dengan urusan berkas dan paspor El. Semuanya bisa selesai dalam sekejap atas perintahnya tanpa harus turun tangan.
Tak lama berselang pintu ruangannya di ketuk. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Alex?!" tegurnya. "Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Iya Tuan, sebentar lagi Nyonya besar akan berangkat ke bandara. Dia ada di loby sedang menunggu Anda," jelas Alex.
"Baiklah, aku akan ke loby sebentar lagi. Oh ya, Lex. Siapkan tiket penerbangan malam tujuan kota X," perintahnya.
"Baik, Tuan."
Sesaat setelah keduanya berada di loby, Kai langsung menghampiri mama Glori.
"Mah ..." panggilnya.
"Sayang," sahut mama Glori dengan seulas senyum. "Mama hanya ingin pamit. Ingat, waktu kalian tinggal beberapa minggu lagi. Awas saja jika kalian ingkar janji," ancam mama Glori.
Kai terkekeh. "Baik Mah. Hanya saja El kadang dengan cepat berubah pikiran."
"Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus membujuknya. Mama sudah nggak sabar pengen gendong cucu."
"Jika masalah cucu gampang, Mah. Sebelum nikah pun aku bisa kok nyicil sama El," kelakarnya.
"What!!! Jangan macam-macam kamu Kai," geram mama Glori lalu mencubit perutnya.
"Mah ... sakit."
"Biarin. Ya sudah ayo antar mama ke bandara."
"Hmm ... baiklah. Alex siapkan mobil dan antar kami ke bandara," perintahnya.
"Baik, Tuan."
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, keduanya terlibat obrolan kecil bahkan sesekali Kai membuat mamanya geram.
Sesaat setelah tiba di bandara, Kai dan mama Glori berpapasan dengan Tara dan Dian.
__ADS_1
Karena sangat mengenal baik dengan mama Glori, Tara langsung menyapa wanita bule itu.
"Tante ..." sapanya lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Nak Tara, apa ini istrimu, Nak? Maaf Tante nggak bisa hadir di hari bahagiamu soalnya Tante ada urusan mendadak. Selamat ya, Nak," ucap mama Glori.
"Terima kasih, Tante. perkenalkan ini Dian."
"Senang bisa bertemu dengan kalian, Nak, meski bertemu dadakan. Oh ya, tante masuk dulu ya," pamit mama Glori.
Tara dan Dian hanya mengangguk. Setelah itu keduanya pun langsung menghampiri mobil yang sudah menjemput keduanya.
"Sayang, mama berangkat ya." Madam Gloria memeluk putra semata wayangnya itu. "Mama ingin kamu segera membawa menantu mama ke Jerman," bisiknya.
"Iya Mah. Hati-hati dan salam untuk Damian." Madam Gloria hanya mengangguk lalu melerai pelukannya kemudian meninggalkannya.
.
.
.
Malam harinya ...
"Oh God, lelahnya," keluh El lalu membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. "Sayang, aku kangen banget."
Sedetik kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Tiga puluh menit berlalu ...
Setelah mengenakan pakaian rumahan, El kembali ke ruang santai untuk mengerjakan tugas kuliah.
Beberapa jam lamanya ia berkutat dengan laptopnya menyelesaikan tugas kuliah lalu beristirahat sejenak.
karena merasa bosan, ia pun keluar ke teras balkon sambil memperhatikan kesibukan kota X dari tempatnya berdiri.
"Sayang, aku nggak menyangka jika kamu pernah dikhianati sedemikian rupa. Oh God, aku nggak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati dan perasaanmu saat itu."
"Kini terjawab sudah alasan dia bersikap dingin, arogan dan menjadikan wanita sebagai pemuas ranjangnya? Aku seolah nggak percaya. Oh, Kai yang malang," gumam El.
Setelah merasa puas berada di teras balkon, El kembali ke ruang santai lalu merapikan buku serta laptopnya bahkan membiarkan semua benda itu tetap di tempat.
Karena merasa sangat lelah, ia kembali ke kamar lalu berbaring. Perlahan memejamkan kedua matanya lalu tertidur.
Satu jam berlalu....
Tampak Kai baru saja membuka pintu apartemen.
"Sepi banget, apa El sudah tidur ya?" gumamnya yang baru saja tiba dari kota A. Ia pun melangkah menaiki anak tangga hingga sampai di kamar.
"Ternyata dia beneran tidur," gumam Kai lagi.
Karena tak ingin mengganggu, ia langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian setelah mengganti pakaian, ia pun menghampiri wanitanya itu lalu mengecup keningnya.
"Sayang, aku kangen banget," bisiknya lalu ikut berbaring kemudian membawa El masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Karena merasakan lelah yang amat sangat, ia pun ikut memejamkan matanya hingga masuk ke alam mimpi.
...----------------...