
Enam bulan kemudian ....
Seperti keinginan Kai, ia memilih tinggal di mansionnya bersama El dan ditemani oleh tiga asisten rumah tangga kepercayaan mama Glori.
Tak terasa enam bulan sudah Kai dan El menjalani biduk rumah tangga. Pernikahan yang mereka rahasiakan masih tertutup rapat.
Walaupun harus sering di tinggal karena urusan pekerjaan, namun El tidak pernah mempermasalahkan itu karena ia juga semakin aktif di kampus.
Sampai di bulan yang ke-enam El dan Kai masih harus bersabar dan masih berusaha untuk memiliki momongan. Walaupun El harus kecewa dan merasa sedih, namun Kai tetap memberinya semangat.
El juga merasa senang, setelah tiga tahun ia baru bisa bertemu dengan Vira, teman sekamarnya sewaktu mendekam di penjara. Ia tidak menyangka jika Vira merupakan pemilik yayasan kampus W dan keluarganya sangat berpengaruh di kota X.
Tak jarang keduanya sering menghabiskan waktu bersama jika Vira ke kota X jika ada urusan bisnis. Pun begitu, hubungan pertemanannya dengan Dian masih terjalin baik.
******
Saat ini, El baru saja selesai mengikuti ujian
semester ganjil dan itu artinya ia akan kembali libur kuliah.
Ketika satu persatu temannya mulai meninggalkan kelas ia malah masih betah duduk di kursinya sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Oh God, aku kangen banget with my bastard man. Sudah seminggu kami berjauhan," lirihnya lalu menatap wallpaper ponselnya. "Sayang, i really miss you."
Baru saja ia menyebut prianya itu, sedetik kemudian ponselnya langsung bergetar. Ia langsung tersenyum lalu menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Hallo Sayang?"
"Sayang," lirih Kai dengan suara lemah.
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa nada suaramu seperti itu?" tanya El sedikit khawatir.
"Aku nggak enak badan, Sayang. Sudah seminggu ini aku merasakan pusing dan mual, demam bahkan aku muntah-muntah."
"Sayang, sebaiknya kamu konsultasikan kesehatan mu ke Lois," saran El.
"Sayang, bisa nggak kamu berangkat hari ini ke kota A," mohon Kai.
"Baik lah, tapi kamu harus berobat dulu ya. Biar Alex yang akan mengantarmu ke rumah sakit bertemu Lois."
"Iya, Sayang," lirih Kai lalu memutuskan panggilan telfon.
Begitu panggilan berakhir El terkekeh mengingat suaminya
"Ada-ada saja," desis El lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kelasnya. Satu demi satu anak tangga ia lewati dan di hitungnya begitupun dengan langkahnya.
Kebiasaannya yang sulit dihilangkan. Sampai akhirnya kepalanya kembali menubruk seseorang. Ia pun mendongak dan jidatnya langsung di sentil.
"Awww ... Candra!" kesalnya lalu mengusap jidatnya.
"Kamu tuh ya, kebiasaan banget," kata Candra lalu terkekeh. "Sudah selesai ujiannya?" tanya Candra.
__ADS_1
"Hmm ... by the way, kamu ngapain di sini?" El balik bertanya sambil berjalan bersisian dengan Candra.
"Mau mengajakmu makan siang," jawab Candra.
Langkah El terhenti lalu meliriknya. "Tapi aku masih kenyang," bohongnya lalu menatap layar ponselnya.
"El ... bisa nggak sekali saja kamu nggak menolak ajakan ku," lirih Candra.
"Masalahnya ini bukan waktu yang tepat, suamiku lagi membutuhkan aku," batin El.
"Candra ... maaf ya. Mungkin lain kali saja," kata El lalu menepuk pundak pria blasteran itu.
Candra menghela nafas. Lagi-lagi ia harus kecewa dengan penolakan El.
"Baik lah," lirihnya dengan hela nafas kasar.
"Aku duluan ya," pamit El lalu ke arah motornya di parkir.
Candra hanya bisa menatap punggung El yang terlihat sudah menjauh darinya.
.
.
.
Kantor Kai ...
"Sayang cepat lah kemari. Entah mengapa aku ingin terus memelukmu," lirihnya lalu berbaring di sofa.
Sambil memejamkan matanya, ia merenung dan bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya ada apa dengan dirinya. Sudah seminggu ini ia terus saja merasakan pusing, mual, muntah-muntah dan tidak nafsu makan.
Tapi saat mendengar suara istrinya, ia akan merasa sedikit membaik. Asik dengan pikirannya, tak lama kemudian, Alex menyapanya.
"Tuan, saya sudah membuat janji dengan dokter Lois, Anda akan bertemu dengannya," jelas Alex.
"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajak Kai.
"Baik Tuan."
Kai segera beranjak dari sofa sambil memijat keningnya lalu meninggalkan ruangannya. Keduanya pun menuju lift. Saat berada di kotak besi itu Kai bersandar dan dan terus memijat keningnya.
Sedangkan Alex, ia hanya menatap iba sang CEO.
"Kasian banget si boss, dalam keadaan sakit begini, ia harus sendiri. Mana istrinya juga sibuk dengan ujiannya." Alex hanya bisa membatin.
Ting ....
Pintu lift terbuka. Dengan langkah panjang Kai langsung buru-buru keluar dari lift dan langsung menuju ke arah mobilnya di parkir lalu menunggu Alex.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, Kai langsung menyandarkan kepalanya lalu mengusap perutnya karena kembali merasakan mual.
__ADS_1
"Jika El melihatku seperti ini, dia pasti akan sangat khawatir," gumam Kai. "Rasanya aku ingin minum obat tidur saja sampai El tiba di kota ini," desis Kai lalu terkekeh.
"Tuan, apa nona El akan kemari?" tanya Alex sambil fokus menyetir.
"Iya, aku sudah menghubunginya tadi," jawab Kai.
"Apa nggak apa-apa, Tuan. Soalnya nona El kan, hari ini lagi mengikutimu ujian semester," sahut Alex.
"Nggak apa-apa, Lex. Dia sudah selesai ujian. Nanti satu jam kedepan kamu jemput dia di bandara," perintah Kai.
"Baik Tuan."
Tiga puluh menit kemudian ...
Mereka pun tiba di rumah sakit.
"Lex, aku masuk dulu ya, Kamu tunggu di sini saja," kata Kai. Alex hanya mengangguk.
Ia pun melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit. Saat akan menaiki tangga, ia berpapasan dengan Tara dan Dian.
"Tara, Dian ..." sapanya dengan seulas senyum.
"Kai ... sendiri saja," tanya Dian.
"Ya," jawabnya singkat.
Sedangkan Tara hanya diam dan menatap tak suka pada ex boss-nya itu.
"Jadi benar, dia dan El memang sudah tidak memiliki hubungan apapun? Buktinya dia dan El sudah tidak pernah terlihat bersama lagi. El, aku benar-benar nggak menyangka jika kamu itu ternyata wanita munafik. Apa bedanya dirimu dengan Siska dan Clara sama saja. Sama-sama wanita murahan!"
Tara membatin dengan senyum sinis menatap Kai.
"Dian, kamu duluan ya ke mobil," pintanya dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
Setelah memastikan Dian menjauh, Tara menghampiri Kai lalu tersenyum sinis menatapnya.
"Tumben sendiri? Mana wanita yang sangat kamu banggakan itu?" tanyanya dengan sinis.
"Sepertinya aku nggak perlu jelaskan, bukankah foto Mike dan El sudah cukup menjelaskan hubungan mereka. Lalu kenapa kamu bertanya padaku?" sindir Kai tak kalah sinis.
Ucapan frontal bernada sindiran yang terlontar dari bibir Kai membuat Tara terpekur dan tak bisa membalas Kai. Hanya tangannya saja yang mengepal merasa dongkol.
"By the way, congrats, Bro. Sebentar lagi kamu akan segera menjadi ayah," ucap Kai dengan tulus seraya menepuk pundak Tara. "Aku hanya berharap, kamu harus bisa melupakan El seperti aku yang sudah move on darinya," bohong Kai. "See, sekuat apapun aku mengejarnya dan memohon padanya tetap saja dia lebih Mike dan bukan aku ataupun kamu. So ... forget her," sambung Kai lalu melangkah meninggalkan Tara yang hanya bisa terdiam, bungkam dan masih terpaku di tempat.
*
*
*
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°πππ
__ADS_1