
Sore harinya ....
Kai yang sedang berada di ruang kerjanya, menghentikan sejenak jarinya di keyboard laptopnya dan melirik ke arah ponselnya yang bergetar.
Ia langsung tersenyum lalu meraih ponselnya dan segera menggeser tombol hijau.
"Ya hallo, Mah."
"Sayang ... selamat ya, Nak. Mama turut bahagia mendapat kabar bahagia dari kalian berdua. Mama pun sudah tidak sabar ingin menimang cucu mama," jawab mama dengan suara bergetar karena terharu.
"Terima kasih, Mah."
"Sayang, mama ingin bicara sebentar dengan menantu mama."
"Sebentar ya, Mah. Mudah-mudahan El sudah bangun, soalnya tadi dia masih tidur."
Kai langsung beranjak dari tempat duduknya lalu ke kamar utama, menghampiri istrinya yang sedang berbaring. Kai mengalihkan panggilan suara ke panggilan video.
"Mah, El masih tidur," sesalnya lalu mengarahkan kamera ke arah El yang masih terlihat memejamkan matanya.
"Apa istrimu sakit, Nak?" tanya mama merasa khawatir.
"Iya, Mah. Tapi mama nggak usah khawatir El sudah minum obat."
"Sayang, tolong jaga istrimu baik-baik dan anak yang sedang di kandungnya. Jangan biarkan dia terlalu kerja yang berat-berat dan kurangi sedikit aktivitasnya di kampus," pesan mama sambil menatap wajah menantunya yang sedang tertidur pulas.
"Iya Mah. Mama juga jaga kesehatan. Mama juga jangan terlalu capek. Aku dan El menyayangi mama," lirih Kai dengan senyum tipis.
"Iya sayang. Mama juga menyayangi kalian. Salam sayang dari mama untuk El. Ya sudah, mama tutu," jawab mama lalu tersenyum seraya melambaikan tangannya.
Setelah itu mama Glori memutuskan panggilan Video.
"Mama," lirihnya dan seketika itu juga ia merasa sangat merindukan wanita paruh baya itu. "Rasanya aku pengen terbang ke Jerman saja," desisnya lalu menatap wajah El.
"Sayang ... bagaimana jika kita ke Jerman saja. Lagian kamu kan, libur kuliah selama dua minggu," cetus Kai sambil mengelus pipi istrinya yang masih tertidur. "Lord ... aku ini kenapa sih?! Kok keinginanku jadi aneh-aneh begini? Apa ini ada hubungannya dengan kehamilan El juga ya?"
Kai mengelus perut rata El. "Sayang ... jangan sekarang ya, kasian Mamy," ucapnya
__ADS_1
"Sayaaang ... aku haus," lirih El lalu mendudukkan dirinya dan bersandar di sandaran kepala ranjang.
"Sebentar," kata Kai lalu menuang uang air ke dalam gelas yang sudah di sediakan. "Sayang ... ini minuman lah."
El meraih gelas dari tangan suaminya lalu meneguknya hingga tandas.
"Terima kasih," bisiknya lalu menyerahkan kembali gelas itu. "Sayang mendekatlah aku ingin memelukmu sejenak," pinta El.
Tanpa pikir panjang Kai langsung mendekat dan mendekap El dengan erat. "Sayang aku ingin kita berlibur ke Jerman saja, mumpung kamu libur kuliah. Kita berangkat besok ya," cetus Kai.
El langsung melepas dekapan Kai lalu menatapnya. "Kamu pikir aku ini apa?! Apa kamu nggak mikir keadaanku sekarang lagi nggak enak badan!!!" marah El. "Kamu saja yang berlibur sendiri, aku nggak mau!!" bentaknya lalu beranjak dari tempat tidur meninggalkan Kai.
Tak pelak, bentakkan dari El membuat Kai kaget bukan kepalang. Ia tak menyangka El akan semarah itu.
"Sayang ... aku nggak bermak ...." ucapannya terpotong karena El langsung menyela.
"Nggak bermaksud gimana?! Belum cukup 24 jam aku berada di kota A, kamu sudah mengajak pulang. Lalu saat aku nggak enak badan begini lagi-lagi kamu ingin kita berangkat ke Jerman besok!!! Apa kamu sudah nggak waras!!!" El kembali membentak dan menumpahkan semua kekesalannya.
Setelah itu ia meninggalkan Kai di kamar itu dan memilih ke kamar sebelah lalu mengunci pintu. Entah mengapa ia begitu jengkel pada suaminya.
sedangkan Kai yang masih berada di dalam kamar hanya mematung di tempat dan merasa bersalah pada istrinya. Ia merenung dan membenarkan ucapan El.
"Sayang, buka pintunya," pinta Kai sambil menggedor-gedor pintu. Namun El hanya membiarkan saja dan tak memperdulikannya.
Ia masih merasa jengkel pada suaminya itu.
"Gedor saja pintunya hingga kamu puas, menyebalkan," kesal El lalu melangkah ke arah balkon kamar. "Oh Lord, sudah malam rupanya. Berarti aku tidur cukup lama," gumamnya.
Sedangkan Kai yang masih berada di depan pintu memilih mencari kunci serep. Namun tak ia temukan.
"Sh*it!! Kuncinya kok nggak ada?" umpatnya merasa kesal. Karena tidak menemukan kunci serep ia kembali lagi ke ruang kerjanya.
Beberapa jam kemudian, setelah emosinya meredam, baru lah ia kembali ke kamarnya lalu segera membersihkan dirinya.
Tanpa ingin tahu di mana suaminya, setelah selesai mandi ia cepat-cepat mengenakan piyama lalu turun ke lantai satu menuju meja makan.
"Bi, tolong bikinkan aku susu ya. Setelah itu, tolong antar ke ruang nonton," pinta El lalu menuju ruang nonton sambil membawa cemilan.
__ADS_1
Kai yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, cepat-cepat menuju kamar El lalu kembali menggedor pintu sambil memutar handle-nya.
"Terbuka," desisnya lalu masuk ke dalam kamar namun tak mendapati wanita itu di sana. Ia kembali ke kamar utama. Lagi-lagi ia dibuat uring uringan karena El juga tidak berada di kamar itu
"Sayang ... kenapa kamu semarah itu padaku? Jika kamu tidak ingin kita berlibur ke Jerman tinggal bilang nggak. Tapi ini kamu langsung marah padaku," lirihnya.
Dengan langkah gontai ia menuruni anak tangga lalu ke dapur ingin meneguk air.
"Bi, apa El yang meminta bibi membuatkannya susu?" tanya Kai sambil membuka pintu kulkas.
"Iya, Nak."
"Letakkan di situ saja Bi. Biar aku yang membawakannya," cetus Kai dan ia bisa menghela nafas lega. "Oh ya, Bi. Di mana dia?"
"Nona El ada di ruang nonton, Nak," kata bibi.
"Ya sudah, Bibi siapkan makan malam saja. Biar aku bawakan susu ini padanya. Soalnya dia lagi ngambek," kata Kai lalu terkekeh.
Setelah meneguk air hingga tandas, Kai meraih nampan berisi susu itu lalu membawa ke ruang nonton.
Ia langsung mengulas senyum lalu menghela nafas lega saat melihat istrinya sedang menonton dan mengemil makanan ringan.
Dengan langkah perlahan ia menghampirinya lalu berdiri di belakangnya kemudian membenamkan bibirnya di puncak kepalanya.
El langsung mendongak dan kembali mengarahkan matanya ke arah tv. Kekesalannya masih belum reda pada suaminya itu.
"Sayang ini susu mu, minum lah selagi hangat," kata Kai lalu meletakkan nampan di atas meja sofa kemudian mendaratkan bokongnya di samping istrinya.
Ia meraih jemari El lalu mengecupnya. "Maaf ... sudah membuatmu marah," bisiknya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
El hanya bergeming dan hanya membiarkan Kai mendekapnya. Setelah merasa perasaannya sudah membaik, barulah ia membalas pelukan suaminya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ