All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
169.


__ADS_3

Setibanya di halaman rumah bunda Kiara, sekaligus tempat prakteknya, Kai dan El menghampiri pintu lalu mengetuknya.


Sambil menunggu, Kai terus saja merangkul bahu istrinya. "Mamy triplets are you Ok," bisiknya.


"Aku rasa saat ini, aku tidak baik-baik saja," jawabnya pelan. "Perutku sakit. I am scared if something happened with my triplets," lirihnya sambil mengusap perutnya.


"Percayalah tidak akan terjadi apa-apa. Mereka anak-anak yang kuat, tangguh dan bar-bar sepertimu," kelakar Kai lalu terkekeh menghibur istrinya.


Perasaan El yang tadinya sedih seketika berubah kesal lalu menggigit dadanya.


"Sssttt ... sakit ... kenapa sih? Suka banget menggigit."


"Biarin."


Tak lama berselang pintu rumah dibuka.


"Kai ... El ... ayo masuk Nak," ajak bunda Kiara.


Kai mengajak istrinya dan langsung ke ruang santai.


"Bunda, aku pengen istirahat sebentar di sini. Apa boleh," tanya El.


Bunda Kiara tersenyum. "Tentu saja boleh, Nak. Anggap seperti rumah kamu sendiri," kata bunda Kiara.


"Sayang sebaiknya kamu baring di kamar saja," pinta Kai.


El menggelengkan kepalanya lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuan suaminya. "Aku ingin seperti ini," lirihnya sambil menatap wajah suaminya.


"Baiklah." Kai mengelus kepalanya dan sesekali mengecup keningnya.


"Kai, El, kalian pengen minum apa? Biar bunda buatkan," tawar bunda dengan seulas senyum.


"Aku pengen teh jeruk hangat Bun," pinta Kai.


"Aku nggak ingin apa-apa, Bun," tambah El lalu memejamkan matanya.


Bunda Kiara mengulas senyum lalu menuju dapur.


.


.


.


Sementara di rumah Tara, Daniel terlihat sedikit curiga pada boss-nya itu dan sedikit merasa geram.


"Tara bisa kita bicara sebentar?" kata Daniel lalu berjalan ke arah kolam renang.

__ADS_1


Tara hanya menurut dan mengikuti langkah sang asisten.


"Ada apa?" tanyanya lalu menghembus asap rokoknya dengan kasar.


"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan pada El?" selidik Daniel.


"Nggak ada, Dan?" bohongnya dan terlihat santai.


"Lalu kenapa El buru-buru ingin pulang setelah ia keluar dari kamar baby Bara? Hingga terlihat takut bahkan aku bisa merasakan tubuhnya bergetar saat memelukku tadi?" cecarnya dengan perasaan dongkol.


"Aku hanya memeluknya sebentar. Namun aku seolah tidak bisa menahan diriku. Aku ...."


Ucapannya terhenti karena Daniel langsung menyela.


"Aku sudah menduganya. Apa kamu sudah nggak waras, Tara?! El itu istrinya Mike dan saat ini sedang hamil. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kandungannya?" sentak Daniel sambil geleng-geleng kepala tak habis pikir dengannya.


Aku nggak bisa menahan diriku," balasnya.


Daniel merasa jengkel bukan kepalang. Ingin rasanya ia layangkan satu bogem mentah ke arahnya namun terpaksa ia tahan saat Vira menghampiri mereka berdua.


"Dan, aku pulang duluan ya," izinnya.


"Kita bareng saja. Soalnya aku nggak bawa mobil," usulnya.


"Baiklah, aku tunggu di mobil saja," kata Vira dan berlalu meninggalkan keduanya.


"Tara, aku benar-benar kecewa padamu. Aku merasa sudah tidak mengenal dirimu yang sekarang. Kamu benar-benar sudah berubah. Jika boleh jujur, aku kangen dengan Tara yang dulu," kata Daniel. Setelah itu ia ikut menyusul sang calon istri.


Daniel sempat berpapasan dengan Dian.


"Dian, aku juga sekalian pamit."


"Baiklah, kalian hati-hati ya," ucap Dian.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya lalu menuju ke arah mobil Vira.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Daniel langsung menyalakan mesin mobil lalu perlahan meninggalkan kediaman Tara dan Dian dengan perasaan kecewa.


*********


Malamnya pukul 21.30 ...


Setelah memeriksakan kandungannya, El merasa bersyukur karena kandungannya baik-baik saja.


Kini keduanya sudah berada di mansion. Tampak Kai sedang berada di ruang kerja menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Setelah itu, ia kembali ke kamar.

__ADS_1


Saat membuka pintu, ia mengerutkan keningnya.


"Kemana dia," gumam Kai mencari keberadaan istrinya hingga langkahnya terhenti di depan pintu yang terhubung dengan balkon kamar.


"Sayang ..." bisiknya lalu membenamkan bibirnya ke ceruk leher istrinya.


El hanya mengulas senyum lalu berbalik menghadapnya.


"Apa sekarang kamu merasa jauh lebih baik?" tanya Kai. "Sayang, sudah lah. Jangan diingat lagi kejadian di rumah Tara. Anggap saja dia hampir khilaf," kata Kai seraya menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang daun telinganya.


"Tapi dia hampir mencelakai triplets kita," bisiknya lalu membenamkan wajahnya di dada telanjang suaminya.


Kai hanya bergeming lalu mengecup puncak kepalanya dan mengusap punggungnya.


"Aku bisa gila jika sampai mereka ...." El tak melanjutkan kalimatnya.


"Mereka anak yang kuat, percayalah," sambung Kai menyemangati istrinya. "Yuk kita tidur, di sini dingin," bisik Kai.


El hanya menurut lalu mengikuti langkah suaminya dan kembali menggeser pintu. Ia lebih dulu naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.


Sedetik kemudian Kai ikut menyusul setelah mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur.


Sebelum membaringkan tubuhnya Kai mengecup kening istrinya lalu turun ke bibirnya.


"Sayang ... apa boleh aku menjenguk triplets," bisik Kai.


"Tapi ...."


"Kemarin kamu sudah berjanji," potong Kai dan kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Sayang ... boleh ya," bujuknya dengan suara berat dan serak. "Aku akan pelan-pelan saja," bujuknya lagi dan perlahan tangannya mulai meremas buah kenyal favoritnya.


Mau tidak mau, El kembali mengangguk setuju. Mendapat izin dari istrinya tanpa pikir panjang Kai kembali memberi sengatan-sengatan di titik sensitif istrinya.


Beberapa menit kemudian mereka melakukan penyatuan. Kembali melayang merasakan nikmatnya surga dunia. Desa*Han dan erangan saling bersahutan di antara keduanya hingga benar-benar mencapai puncak pelepasan dan membuat keduanya terkulai lemas.


"Terima kasih Sayang," bisik Kai lalu mengecup lama kening istrinya dan kembali membawanya masuk kedalam pelukannya. "Tidurlah."


El hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Pergulatan panasnya dengan sang suami benar-benar membuatnya tak berdaya.


Tak lama berselang, keduanya benar-benar terbawa ke alam mimpi. Tertidur pulas karena tenaga keduanya terkuras dengan pergulatan panasnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author recehan seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2