All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
54. Jangan mimpi kamu!!


__ADS_3

Dua minggu kemudian.........


Sambil menunggu hasil tes ujian masuk kuliah, El sudah di terima bekerja di salah satu restoran mewah yang ada di Kota X. Berbekal pengalaman kerja selama tiga tahun sebagai bartender, itulah alasan El di terima bekerja di restoran tersebut.


Saking senangnya, El lupa jika sudah sebulan lebih, ia berada di kota itu dan lupa akan tamu bulanannya yang sudah telat lima hari.


Jam kini telah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam. Saat ini, El tampak sedang bersiap-siap untuk pulang kerja.


Setelah berpamitan pada teman-temannya, ia pun berjalan dengan langkah kecil menuju halte untuk menunggu bis.


Setelah tahu siapa sosok Candra yang sebenarnya, ia memilih menghindar dan menjaga jarak dari pria itu.


Saat sedang asik memainkan ponselnya, ia merasa perutnya tiba-tiba merasa sakit dan merasakan ada sesuatu yang keluar di bagian intimnya.


"Sssttt ... aawww ... perutku sakit banget," ringisnya sambil memegang perutnya yang seolah-olah di remas.


Saking sakitnya, ia sampai berkeringat dingin menahan sakit di perutnya.


"Duh! Sepertinya ada yang keluar deh," gumamnya lalu berdiri kemudianmeraba roknya yang terasa basah.


"Oh God, rupanya aku kedatangan tamu bulanan," bisiknya lalu melepas jaketnya kemudian melilitkan di pinggangnya untuk menutupi noda darah di roknya.


Tidak lama kemudian, bis yang di tunggunya pun berhenti di depannya. Ia segera naik ke bis tersebut dan memilih duduk di kursi paling belakang.


Sepuluh menit kemudian bis itu pun berhenti di halte terdekat yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.


Setelah turun dari bis, El berjalan pelan. Ia memilih singgah ke rumah Dian terlebih dulu.


Setelah memencet bel, ia menunggu sejenak hingga akhirnya bi Inem membuka pintu.


"Nak Culun? Ayo masuk, Nak," tawar bi Inem.


"Terima kasih, Bi," ucapnya lalu masuk ke dalam rumah lalu menghampiri Dian yang sedang asik menonton TV.


Dian yang sedang asik menonton, dibuat kaget saat satu bantal sofa melayang ke arahnya.


"Duh!! Siapa sih?! Pasti El," kesalnya lalu menoleh ke arah gadis itu.


Mendapati wajah kesal Dian, El hanya terkekeh.


"Huh! Sudah kuduga, itu pasti kamu. Cih, kamu ini jadi cewek kok bisa bar-bar sih!" kesal Dian lalu balik melempar bantal itu ke arah El.

__ADS_1


Lagi-lagi ia hanya terkekeh menatap wajah kesal Dian dan tetap berdiri di tempat.


"Dian, kamu punya pembalut nggak? Aku lagi dapat ini. Mana perutku sakit banget," tanya El dan sedikit meringis.


"Ada, sebentar ya, aku ambilkan," sahut Dian lalu beranjak dari sofa kemudian berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sambil menunggu Dian, El tampak termenung dan tampak berpikir.


"Oh God, berarti sudah sebulan aku berada di Kota ini bahkan lebih ... Itu artinya ........"


El, tidak melanjutkan ucapannya melainkan air matanya langsung mengalir deras.


"Thanks God," ucapnya pelan lalu menghapus air matanya.


Dian yang baru saja turun langsung menghampirinya. Ia merasa bingung melihat El yang sedang menangis.


"El, kamu kenapa?" tanya Dian.


El langsung memeluknya sambil menangis.


"Dian, Tuhan mendengar doaku. Benih pria brengsek itu juga seakan tidak ingin tumbuh di rahimku. Mungkin dia tahu jika dia tumbuh di rahimku, dia akan membebaniku," bisik El dengan suara bergetar.


Dian, terenyuh mendengar ucapan El. Ia hanya mengangguk lalu mengelus punggung gadis itu.


"Dian, terima kasih atas segala kebaikan dan bantuanmu kepadaku. Kamu wanita yang baik, semoga pria yang berjodoh denganmu, pria yang baik dan bertanggung jawab."


Dian hanya mengangguk.


"Oh ya, aku pulang dulu. Lagian ini sudah malam. Kamu istirahatlah. Terima kasih untuk pembalutnya."


Setelah itu El meninggalkan Dian dan kembali ke rumah kontrakannya.


Jauh dari Kota tempat El berada.


Tampak Tara, yang sedang duduk di kursi bartender sejak tadi terus menenggak minumannya. Ia kembali menjadi peminum aktif karena frustasi dengan hilangnya El. Bahkan sampai detik ini keberadaan gadis itu tidak diketahui.


Sudah bermacam cara ia lakukan, bahkan sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya mencari tahu di berbagai kota, namun hasilnya nihil.


"El, kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa kamu nggak kasian padaku?"


"Tara, ayo pulang. Sejak tadi kamu terus-terusan minum," ajak Daniel yang mulai khawatir karena sejak tadi Tara terus meracau tak jelas.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Daniel," bisiknya lalu berdiri.


Saat akan melangkah keluar, mereka berpapasan dengan Kai yang baru saja masuk ke club malam tersebut.


Tara menyeringai menatapnya lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Bagaimana? Apa El sudah medatangimu dan meminta pertanggung jawaban darimu? Bahkan ini sudah lewat satu bulan," sindirnya seolah mengejek.


Mendengar ucapan Tara, Kai mendorongnya. Karena Tara masih merasa jengkel pada ex bossnya itu, langsung mendaratkan satu bogem mentah ke wajah Kai.


Mendapat serangan mendadak dari Tara, Kai yang merasa geram akhirnya membalas. Lagi-lagi kedua pria itu kembali adu jotos di club malam itu. Mereka berhenti setelah di pisahkan oleh asistennya masing-masing.


"Dengar baik-baik ucapanku ini Kai. Jangan pernah bermimpi jika El akan mendatangimu. Itu nggak akan pernah terjadi," geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Lalu ... kamu sendiri bagaimana?" sindir Kai balik lalu mengusap bibirnya yang berdarah.


"Kita berbeda, Bro. El sangat membencimu tapi nggak padaku dia mencintaiku. Apa kamu lupa? Kamu telah menghancurkan semangatnya, harapannya, ambisinya dan mimpinya! Apa kamu sudah lupa itu, hah!! Dasar brengsek!!!" bentaknya disertai makian.


Kai diam seribu bahasa dan hanya bisa tertunduk mendengar kalimat itu.


Setelah itu, Tara meninggalkan club malam itu dalam keadaan emosi yang meluap-luap.


"Tara, biar aku yang menyetir."


"Hmm."


Tara yang sudah duduk di samping kursi kemudi, menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya.


"Tara, are you ok?" tanya Daniel.


"No, aku seperti mau gila tanpa El," ucapnya pelan sambil memijat kening dan pangkal hidungnya karena merasakan pusing.


El, yang baru saja selesai mandi dan sudah berganti pakaian, kembali berhadapan dengan laptopnya untuk memeriksa email yang masuk.


Alangkah terkejutnya ia, saat membuka email yang masuk.


"Apa ini benar? Aku benar-benar lulus di tiga Universitas itu?" El bergumam sambil membaca email itu satu persatu.


Tidak ada kata yang bisa ia ungkapkan melainkan terus bersyukur. Dua kabar yang membuatnya bisa bernafas lega. Kabar pertama karena ia tidak hamil dan kabar kedua yaitu, ia lulus tes di tiga kampus berbeda tempatnya mendaftar kuliah.


El menangis terharu lalu membuka galeri foto di laptopnya lalu menatap wajah kedua orang tuanya, setelah itu ia kembali menatap foto Tara lalu mengelusnya.

__ADS_1


"Tara, bagaimana kabarmu sekarang? Maafkan aku karena meninggalkan dirimu. Apa kamu tahu? Jauh dalam sudut hatiku, betapa aku merindukan dirimu.


__ADS_2