All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
94. Aku takut kita kebablasan ...


__ADS_3

Tara yang tadinya ingin ke bar, mengurungkan niatnya namun memilih ke apartemennya.


Sesaat setelah berada di apartemennya, ia langsung menghubungi Daniel untuk segera naik ke unitnya.


Daniel yang baru saja ingin memejamkan matanya berdecak kesal.


"Ngapain sih! Bukannya belah duren, malah mengganggu kenyamanan orang saja," gerutunya.


Mau tidak mau, ia terpaksa naik ke unit Tara dengan wajah tertekuk. Sesaat setelah berada unit boss-nya itu, ia langsung ke lantai dua.


Daniel menggelengkan kepalanya ketika mendapati Tara yang sedang menenggak minuman keras di mini barnya.


"Tara! Ada apa sih?!!" ketusnya.


Tanpa banyak kata, Tara menggeser tas kecil milik El ke arahnya.


"Periksa semua data yang ada di ponsel itu," perintahnya.


"Besok saja! Aku ngantuk," ucap Daniel ketus.


Setelah itu ia memilih masuk ke kamar lalu merebahkan tubuhnya kemudian melanjutkan tidurnya.


Tara berdecak kesal. Setelah meneguk sisa minumannya, ia pun meraih tas kecil itu lalu membawanya ke ruang kerjanya.


Ia pun mulai membuka laptopnya kemudian menyamakan semua data yang ada di ponsel El. Setelah itu ia mengeluarkan semua kartu yang ada di dalam dompet.


Tara menatap kartu mahasiswa El, SIM, KTP, ATM. Ia kembali mencocokan semua data tersebut menjadi satu. Ia merasa geram setelah tahu faktanya.


"Damn!!" umpatnya. "Aku yakin, pasti Dian yang sudah membantunya. Secara, dia kepala Dukcapil di Kota X."


Tara masih menatap layar laptopnya dengan senyum sinis lalu bergumam, "El, aku harus mengakui kamu gadis yang smart. Mendaftar di tiga kampus yang berbeda dan lulus tes di tiga kampus itu. Lagi-lagi mendapat beasiswa karena sangat prestasi."


Tara menatap kartu ATM El. Dengan keahlian yang ia miliki, tidak butuh waktu yang lama ia sudah mengetahui total saldo gadis itu, berikut pemasukan dan pengeluarannya.


Ia sempat mengerutkan keningnya karena saldo yang El miliki tidak banyak melakukan pengeluaran. Hanya gaji bulanan yang terus masuk ke rekeningnya.


Ia menjejerkan semua kartu El lalu menatap lekat wajah culun gadis itu di KTP, KM serta SIM-nya.


"Pantasan saja dia nggak bisa di kenali karena membuat wajahnya sejelek mungkin," gumamnya.


"Jadi selama ini El menetap di kota X? Itu artinya Kai juga baru tahu jika dia tinggal di kota itu."


Tara menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya lalu memijat pangkal hidungnya. Ia kembali teringat kejadian seminggu yang lalu saat ia menghina El.


Ia langsung memegang pipinya saat El menamparnya dengan keras. "Sulit dipercaya," ucapnya lirih dengan senyum miris.


Ia kembali menatap tangannya. Tangan yang sudah mendaratkan pukulan yang cukup keras di punggung El sehingga membuat gadis itu jatuh pingsan.


Bahkan ia masih bisa melihat dengan jelas bekas memar yang sudah terlihat samar dipunggung El beberapa jam yang lalu.


"Maafkan aku, El," sesalnya.


Tara kembali teringat ucapan El dua tahun yang lalu.

__ADS_1


"Aku nggak ingin ambil pusing, karena aku sudah terbiasa dihina dan direndahkan."


Tara tertunduk lesu. Bahkan dia termasuk salah satu orang yang sudah menghina dan merendahkan gadis malang itu.


Namun saat mengingatnya memeluk Kai barusan, seketika kebencian kembali menyelimuti dirinya.


"Aku nggak akan membiarkan kalian bahagia. Aku akan membuat hubungan kalian berantakan," geramnya dengan tangan.


Setelah itu, ia menghambur semua benda yang ada di atas mejanya lalu meninggalkan ruang kerja itu.


Tujuannya kini kembali lagi ke hotel.


.


.


.


Setelah mengambil koper dan makanan pesanan Kai dari karyawan hotel, El mendorong kopernya hingga ke ruang tamu.


Setelah itu ia menuju ke arah meja makan lalu menata makanan dengan rapi di atas meja.


Selesai menata makanan, El kembali mendorong kopernya masuk ke kamar lalu menghampiri Kai yang tampak memejamkan matanya.


"Kai ..." panggilnya sembari mengelus rambutnya.


"Hmm ... ada apa, Sayang," bisiknya seraya memindahkan kepalanya ke paha El lalu mengecup perutnya.


Seringai tipis langsung terbit di bibir Kai. "Bagaimana jika kita mandi bareng saja," cetusnya.


"Dasar Om mesum." kesal El lalu menghadiahkan Kai cubitan di perut.


Kai terkekeh mendengar El memanggilnya Om mesum. Ia semakin menggodanya lalu mengungkungnya.


"Kai!" Wajah El langsung panik.


"Aku kan sudah bilang, meski pun aku om om tapi aku masih perkasa di atas ranjang dan bisa membuatmu men ...."


El memencet bibirnya karena gemas sekaligus menahan ucapannya.


"Apa kita harus adu jotos lagi seperti waktu itu, hmm? Apa kamu nggak takut bibir ini aku gigit? Hidung ini aku sundul dan ini ..." El menahan kalimatnya lalu meremas milik Kai yang sudah menegang.


"Ssssttt ..." Kai mendesis lalu menggigit bibir bawahnya sekaligus menikmati remasan lembut wanitanya.


Kai menyatukan keningnya lalu mengecup bibir El. Ia malah semakin menahan tangan gadis itu yang sedang meremas lembut aset pribadinya.


"Ohh, Sayang lakukanlah," tantang Kai berbisik di telinga El. "Aku bahkan masih ingin merasakan lagi, bagaimana rasanya gigitan, sundulan dan tendanganmu itu."


El langsung menarik tangannya dari aset pribadi Kai yang terus menegang. Ia pun tertawa menatap wajah pria blasteran itu lalu memeluknya dengan erat.


"Sudah, aku hanya bercanda," bisik El sembari mengelus punggung Kai.


Mendengar ucapan El, Kai berdecak kesal. Ia masih betah menindih tubuh El.

__ADS_1


"Kaaai ... wake up, kamu berat dan membuat aku sesak, lagian siapa suruh kamu yang duluan mancing," protes El.


"Sayang, ayo kita lakukan sekarang. Aku ingin segera memiliki anak darimu," bisiknya dengan suara berat serta nafas memburu ditambah lagi miliknya yang terus menegang.


"Sayang please ..." bujuk Kai lalu mencium dan menyesap leher El.


"Kai!" protes El. "Aku hitung sampai tiga, jika kamu nggak mau lepasin aku, aku ak ....."


"Ckk, iya, iya ..." Kai berdecak kesal lalu merebahkan dirinya di samping El sambil meremas miliknya.


El kembali terbahak menatap wajah Kai yang sedang menahan hasratnya.


"My Bastard, aku yakin kamu pasti bisa mengendalikan dirimu," ucap El sembari mengelus dada liat Kai.


Kai merubah posisinya lalu menjadikan sebelah tangannya sebagai penyangga kepalanya. Ia mengelus pipi mulus El lalu berkata, "Sayang apa kamu tahu? Sejak pertemuan kita di bar malam itu, aku selalu membayangkan dirimu. Bahkan saat sedang bermain panas dengan Siska, aku seolah bermain denganmu di atas ranjang," akunya.


El langsung memukul dadanya lalu terbahak. Ia tak menyangka jika Kai menjadikannya sebagai bahan fantasi se*ks-nya


"Kemarilah sebentar, biarkan aku memelukmu," pinta Kai dan El langsung menurut. "Aku ingin kita menikah secepatnya. Aku juga nggak akan menunda-nunda untuk memiliki anak darimu," pungkasnya.


"Aku lapar Kai," kata El sekaligus mengalihkan pembicaraan. "Ayo kita makan dulu."


"Baik lah," bisik Kai.


Niat El yang tadinya ingin mandi terpaksa ia urungkan gegara ulah nakal Kai.


Keduanya pun menuju meja makan. Menikmati makanan yang sejak tadi telah tersaji di atas meja makan.


Satu jam berlalu berlalu ...


El sudah tampak segar setelah membersihkan dirinya. Ia pun menghampiri Kai yang tampak sudah berbaring sembari terus memandanginya.


"Kemarilah, letakkan kepalamu di pangkuanku ku," pinta El dan Kai menurut. "Tidurlah, ini sudah larut hampir jam dua dini hari."


Kai hanya mengangguk lalu memejamkan matanya. Merasa nyaman dengan elusan jemari El yang terus mengelus rambutnya.


El terus menatap wajah Kai dan sesekali mengelus rahangnya. Ada perasaan getir di hatinya saat mengingat ucapan Kai yang ingin segera memiliki anak darinya.


"God, aku belum siap menikah bahkan belum siap memiliki anak. Sayang, aku mengerti perasaanmu tapi maaf, aku benar-benar belum siap."


El terus mengelus rambut Kai. Merasa Kai sudah tertidur, ia pun memindahkan kepalanya ke bantal lalu mengecup pipi dan bibirnya.


"Tidurlah, Sayang," bisik El lalu menyelimutinya.


Setelah itu ia pun mematikan lampu lalu meninggalkan kamar itu. Ia memilih tidur di kamar sebelah.


Begitu masuk ke kamar El langsung mengunci pintu. Bukan tanpa alasan, ia dan Kai bisa saja khilaf apalagi mereka pernah melakukan hubungan intim meski saat itu ia dalam keadaan tak berdaya.


"Aku takut kita kebablasan."


El langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu lalu memejamkan matanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2