All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
51. Cepatlah kembali ...


__ADS_3

Beberapa jam berlalu sejak El dari rumah Dian, kini ia sudah berada di rumah kontrakannya, tepatnya di kamarnya.


Sambil berbaring ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasa sangat bersyukur karena Dian mau membantunya.


"Thanks God ... Kau mempertemukanku dengan gadis yang baik," gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Perlahan ia memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian akhirnya ia pun tertidur.


.


.


.


.


Kantor Tara ...


Ia masih saja betah berdiri di depan dinding kaca ruang kerjanya. Sejak tadi pula ia terus menatap gedung-gedung yang mulai diterangi oleh cahaya lampu.


"El, where are you, Dear? Kembalilah ... aku sangat merindukan dirimu." Ia berkata lirih dengan mata berkaca-kaca.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menyeka air matanya. Beberapa menit kemudian, akhirnya ia meninggalkan ruang kerjanya lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam delapan lewat tiga puluh menit?"


Tak lama setelah pintu lift terbuka, ia langsung mempercepat langkahnya menuju mobilnya. Ia pun membuka pintu lalu mendaratkan bokongnya di kursi kemudi.


Selang beberapa menit kemudian ia mulai melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.


Di sepanjang perjalanan, benaknya terus memikirkan El. Sikap manja, senyumnya dan tingkah absurd gadis itu selalu membuatnya gemas.


Tara terus melajukan mobilnya hingga sampai di apartemen gadis itu. Setelah memarkir mobilnya, ia kembali menghampiri motor besar kesayangan El lalu mengelusnya dengan perasaan sedih.


Sesaat setelah berada di depan pintu unit, ia pun menekan password lalu masuk ke ruangan itu kemudian bmenyalakan lampu. Ia melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga hingga sampai di kamar El. Tempat di mana ia dan gadis itu berbagi ranjang yang sama.

__ADS_1


Saat Tara berada balkon kamar, lagi-lagi ia teringat akan sosok gadis itu. Sekelumit ingatannya kembali membayangkannya yang gemar berdiri di tempat itu dengan pakaian minim.


Ia terus larut dengan pikirannya sendiri hingga ia mulai merasa lelah dan mengantuk. Setelah masuk ke kamar kemudian menggeser pintu, ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang hingga tak terasa akhirnya ia pun terlelap.


Bukan cuma Tara yang merasa kehilangan akan sosok gadis super aktif itu, melainkan teman-temannya juga.


Mereka merasa terkejut dengan hilangnya gadis itu lewat berita yang tersebar.


Sementara itu, Kai sang biang kerok hilangnya El, terus berusaha mencari keberadaannya. Ia tetap memantau anak buahnya yang sudah ia sebar di beberapa kota, namun sampai sekarang ia juga belum mendapat kabar yang valid.


Sudah berjam-jam Kai termenung di meja mini barnya ditemani sebotol tequilla yang sejak tadi di teguknya dan sesekali menyesap rokok.


Ia tampak frustasi karena kehilangan jejak gadis yang telah dinodainya itu di kota itu. Bahkan ia sempat berpikir Daniel dan Tara saja yang begitu ahli di bidang IT tidak bisa menemukan jejak digital gadis itu.


"El, where are you? Kenapa sulit sekali menemukan jejakmu?" Ia berkata lirih lalu kembali meneguk sisa minumannya hingga tandas.


Setelah itu ia kembali ke kamarnya lalu menatap lekat ranjangnya.


Seketika ingatannya kembali berputar saat menatap El yang sedang tertidur dan terlihat begitu anggun dengan balutan gaun press body berwarna nude kala itu.


Namun karena ambisi dan keegoisannya, akhirnya dia juga harus kehilangan gadis supel dan ceria itu dari kota A bahkan sampai sekarang keberadaannya pun belum diketahui.


"Aku berjanji akan bertanggungjawab penuh padamu, El," bisiknya.


Karena merasakan kepalanya sedikit pusing, akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil membayangkan wajah cantik gadis itu lalu memejamkan matanya hingga akhirnya ia pun tertidur.


*****


Kembali ke Kota X ...


Dian meraih amplop besar yang diletakkan El tadi di atas ranjangnya lalu menuju ke ruang kerjanya.


Setelah berada di ruang kerjanya, Dian kembali mengunci pintu. Ia pun duduk di kursi kerjanya lalu membuka laptopnya.


Dian membuka amplop itu lalu mengeluarkan semua isinya yang merupakan surat-surat penting, termasuk transkrip nilai kuliah tanpa di legalisir yang telah Mike berikan kepadanya dan juga surat keterangan untuk mempermudah dirinya mendapat beasiswa.

__ADS_1


Lagi-lagi Dian dibuat takjub dan kagum akan kecerdasan yang dimiliki gadis itu. Bagaimana tidak, nilai rata-rata mulai dari SMA hingga nilai IPK semester pertama hingga akhir kuliah, semuanya nyaris dengan nilai sempurna.


"Jarang-jarang ada wanita secerdas El, bahkan aku pun tidak ada apa-apanya. El, aku janji akan segera memprosesnya. Aku juga berdoa semoga kamu sukses menjadi seorang dokter seperti cita-citamu.


Dian menatap KTP gadis itu dan foto yang telah ia siapkan guna mengganti foto KTP-nya yang lama. Orang yang sama namun terlihat sangat berbeda.


.


.


.


.


Pagi harinya jam 07:00 Am ...


Tara menggeliat dan perlahan-lahan membuka matanya. Ia pun mendudukkan dirinya lalu merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.


Ia menoleh ke samping lalu mengelus tempat yang kosong. Biasanya jam segini El sudah menyiapkan sarapan sehat dan menyiapkan baju kantornya, namun sekarang semua itu hanyalah tinggal kenangan.


"El, cepatlah kembali. Aku kangen dengan pelukan hangatmu, senyummu yang membuat aku bersemangat untuk bekerja, kata-kata motivasi dan nasehat yang sering kamu bisikkan di telingaku serta kecupan sayang yang sering kamu daratkan di bibirku ... aku merindukan semua hal itu darimu. Aku yakin, aku pasti akan menemukan dirimu cepat atau lambat," ucapnya lalu beranjak dari tempat tidurnya.


Ia melangkah masuk ke walk in closet lalu melepas pakaiannya yang sejak semalam masih menempel di tubuh tegap nan atletisnya.


Ia kembali memperhatikan pakaian El yang masih tergantung rapi. Sepatu sneaker, tas, sendal teplek dan beberapa heelsnya.


Tara meraih salah satu gaun hitam gadis itu lalu memeluknya. Ia ingat betul gaun itu, gaun yang El kenakan saat ia dan Lois ke Bronze Bar. Seketika matanya kembali berkaca-kaca mengingatnya. Ia kembali menggantung gaun itu di tempatnya semula.


"Pakaianmu, kamu tinggalkan begitu saja, bahkan sepatu, heels dan juga tasmu masih di sini, lalu kamu bawa apa, El?" Tara bertanya-tanya sendiri pada dirinya.


Setelah puas puas menatap benda-benda milik El, ia pun segera ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya.


Beberapa menit berlalu ...


Setelah merasa sudah rapi, ia menatap dirinya di kaca besar yang ada di ruangan itu. Kaca yang sudah digantinya karena kaca yang sebelumnya sudah hancur akibat di tinjunya.

__ADS_1


"Aku yakin, kamu akan kembali dan akan berada di depan kaca ini menatapku dengan senyum khas mu itu," ucap Tara sambil merapikan jasnya.


...----------------...


__ADS_2