
"El ... bicaralah. Ada apa denganmu? Ini seperti bukan dirimu?" bisik Tara sambil mengelus rambut El.
"Nggak apa-apa Tara. Aku baik-baik saja kok. Mungkin karena aku baru bangun tidur dan sedikit lelah," pungkasnya lalu melepas pelukannya sambil mengelus wajah Tara.
"Beneran? Nggak ada yang lain?" tanya Tara.
"Iya." El lalu beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke walk in closet untuk mengganti celananya.
Tara hanya geleng-geleng kepala melihat El. Matanya tertuju ke arah monitor laptop.
"Rupanya dia sudah mengincar beberapa kampus. Padahal kalau dia mau aku bisa aja membantunya ... tapi mau gimana lagi. Dia tidak seperti wanita lain, dia lebih mandiri dan hanya mau menerima bantuan saat ia benar-benar butuh saja," gumam Tara.
"Jangan melamun .... biasa saja lihatnya. Itu beberapa kampus yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan tidak mampu," kata El.
Tara hanya mengangguk. "Mau ke mana El?" tanyanya, karena El sudah mengganti hot pants nya dengan celana panjang.
"Ke pantry. Aku lapar dan ingin membuat spaghetti saja biar cepat. Mau sekalian aku buatkan nggak?"
"Boleh deh, El," jawab Tara.
El hanya mengangguk lalu meninggalkan Tara yang masih menatap monitor laptopnya.
.
.
.
.
Di salah satu hunian mewah.....
Terdengar seorang wanita yang sedang marah-marah dan memaki seseorang.
"Kalian ini gimana sih! Benar-benar nggak becus kerjanya! Bisa-bisanya kalian kalah sama seorang wanita. Percuma aku bayar mahal kalian untuk mencelakainya!!" bentak Tasya.
Mendengar ucapan Tasya, salah satu orang suruhannya pun menyela karena geram.
"Kalau begitu, kenapa bukan kau saja yang hadapi dia. Karena itulah pesannya untukmu. Gara-gara kau wajah kami disayat seperti ini. Tidak mudah melumpuhkannya karena dia menguasai ilmu bela diri yang mumpuni," geram pria itu.
"Aku tidak bisa menjamin jika kau yang berhadapan dengannya bisa selamat. Dia seperti wanita psikopat, bahkan tatapan dan tawanya saat melukai wajah kami membuat kami bergidik ngeri. Sukurnya ada seseorang yang memanggilnya. Jika tidak, mata kami sudah dicungkilnya," timpal pria satunya.
Mendengar ucapan orang suruhannya. Tasya jadi teringat saat beberapa bulan yang lalu ketika El menatapnya dan mengancamnya.
"Sial!!! Apa dia benar-benar wanita psycho? Melihat luka di wajah mereka, hanya orang yang tidak punya rasa kasian saja yang mau melakukanya," gumam Tasya. Nyalinya seolah menciut.
"Kalau begitu, kalian pulang lah," perintahnya lalu meninggalkan orang suruhannya itu.
Setelah berada di kamarnya, Tasya tampak berpikir.
__ADS_1
"Jika dilihat-lihat, El memang tampak sedikit misterius, dia mudah berbaur dengan orang-orang dan tampak ramah. Tapi saat ia diam dan memperhatikan orang. Tatapannya juga ikut berubah, apalagi saat ia menghisap rokoknya lalu tersenyum sinis, benar-benar mengerikan," tuturnya pelan. "Seorang psycho, karakternya memang susah ditebak," sambung Tasya. Ia bergidik ngeri.
.
.
.
Setelah selesai membuat spaghetti, El dengan cekatan menyajikannya di atas meja makan.
Ia pun kembali ke kamar. Saat masuk ke kamar ia malah mendapati Tara yang sudah tertidur di atas sofa.
Dengan seulas senyum, ia menghampirinya. El menatap lekat wajah Tara yang terlihat tenang. Ia pun membelai wajah dan rahang tegas pria itu lalu mengecup kening dan bibirnya.
"Tara .... ayo bangun, spaghettinya sudah jadi," bisiknya.
Tara tidak merespon hingga di panggilan yang ketiga barulah ia membuka matanya.
"Maaf El .... aku ketiduran," ucapnya lalu mendudukkan dirinya sambil mengusap matanya.
"Nggak apa-apa, Tara. Ayo kita makan dulu. Setelahnya kamu boleh menyambung tidurmu," kata El dengan seulas senyum.
Setelah berada di meja makan. Keduanya pun makan sambil mengobrol.
"Maaf ya ... cuman spaghetti instan, soalnya aku malas repot, apalagi ini sudah terlalu larut," ucapnya sambil cengengesan.
"Nggak lah. Biarin saja, karena hidup harus dibawa santai, nggak perlu memikirkan omongan orang. Mau gendut kek, kurus kek, whatever Tara. Yang penting, kita bahagia dengan diri kita sendiri," jawab El dengan santai.
Tara hanya tersenyum mendengar ucapan El yang menurutnya ada benarnya.
Setelah selesai makan, El membereskan wadah bekas mereka dan langsung mencucinya. Setelah itu, keduanya duduk di balkon ruang tamu.
"El."
"Hmm."
"Mau nggak, weekend nanti kita ke rumah orang tuaku. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka," kata Tara dengan serius sambil menghisap rokoknya.
El mengerutkan alisnya. "Boleh deh," jawab El yang sedang berdiri sambil menatap langit malam.
"El ... sampai kapan kita akan menjalani hubungan tanpa status begini?" tanya Tara lalu berdiri.
"I don't know Tara. Tapi aku nyaman seperti ini. Jika aku berkomitmen, aku takut akan melukai bahkan menyakitimu," pungkasnya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tara.
"Tapi aku sangat mencintaimu, El," bisiknya sambil menatapnya
"Aku juga mencintaimu bahkan lebih dalam.
Awalnya aku hanya menganggapmu sebagai kakak dan temanku saja, tapi lama kelamaan hatiku tersentuh dengan segala perhatianmu kepadaku. Aku takut kamu tersakiti bahkan terluka. Beri aku waktu sedikit lagi. Aku juga ingin be your wife seperti keinginanmu," jelasnya lalu memeluk Tara, bersamaan dengan air matanya yang ikut lolos.
__ADS_1
El kembali melanjutkan kalimatnya masih sambil memeluk Tara.
"Tara, aku hanya khawatir jika orang tuamu tidak menginginkan aku. Bahkan aku takut mereka menolakku. Aku hanya seorang yatim piatu, sebatang kara dan wanita yang tidak jelas asal usulnya," ucapnya jujur lalu terisak dalam dekapannya.
Tara semakin mengeratkan pelukannya lalu mengelus punggung gadis itu. Air matanya ikut menetes mendengar ungkapan jujurnya.
El ... kamu memang berbeda dari kebanyakan wanita lainnya.Kamu selalu berkata jujur dan tidak malu mengatakan siapa dirimu. Inilah yang membuatku semakin yakin ingin menjadikanmu sebagai istriku dan menjadi pelabuhan cintaku yang terakhir.
Tara hanya membiarkan El terus menangis di dalam pelukannya hingga ia merasa puas. Setelah tidak mendengar isakkannta lagi, barulah ia melonggarkan pelukannya lalu mengusap mata dan pipinyal yang masih menyisakan air mata.
"Sudah? Kamu ini .... cengeng banget saat bersamaku. Dikit-dikit nangis, coba sama yang lain galaknya minta ampun," kelakarnya demi mencairkan suasana sambil terkekeh.
"Iiihhh ..... Taraaa." El dibuat kesal. Wajahnya langsung cemberut lalu memukul dada bidangnya.
"Sudah .... ayo masuk. Besok kan, kita kerja. Lagian ini sudah terlalu larut," kata Tara lalu menarik El masuk ke ruang tamu dan menggeser pintu kaca itu.
Keduanya pun kembali ke kamar. El langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu.
"Lepaskan bantal gulingnya El. Kemarilah," pintanya. Tara lalu menyingkirkan bantal guling itu dari pelukannya.
El hanya mengulas senyum lalu mengelus wajahnya turun ke bibirnya. Tara turut tersenyum lalu memegang jemarinya dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
Awalnya hanya ciuman biasa, namun semakin lama ia semakin menuntut dan mulai mengungkung gadis itu. Mulai menggigit kecil bibirnya agar membuka mulutnya lalu memasukkan lidahnya dan saling bertukar saliva.
Merasa pasokan nafas keduanya akan habis, barulah ia pagutannya lalu menyatukan keningnya dengan nafas yang masih terengah-engah.
Tara terus menatap wajah cantiknya gadis itu yang kini sedang mengelus rahangnya. Ia kembali mencium bibirnya lalu mengecap lehernya kemudian turun ke dada dan meninggalkan beberapa tanda jejak kepemilikannya.
Karena terbuai dengan sentuhan, elusan, ciuman, luma*tan serta sesapan di lehernya, suara de*sa*hannya lolos begitu saja. Namun seketika ia tersadar saat Tara semakin liar dan menuntut.
"Taraaaa," bisik El, lalu memegang tangannya yang sedang mere*mas gunung kembarnya.
Sadar jika ia semakin menuntut, Tara mengecup keningnya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf .... aku nggak bisa mengendalikan diriku. Tidurlah .... aku janji nggak akan macam-macam," bisiknya dengan suara berat serak.
El hanya mengangguk dan mencium dada bidangnya lalu memejamkan matanya.
Tak berapa lama, ia pun tertidur. Merasa El sudah terlelap, Tara melepaskan pelukannya lalu segera ke kamar mandi.
"Oh ... damn it!!!" umpatnya sambil memegang miliknya yang masih menegang.
Ia menyalakan shower hangat lalu mengguyur tubuhnya sambil terus memainkan tangannya. Ia terpaksa bermain solo sambil membayangkan wajah dan suara de*sa*han gadis itu barusan.
Setelah menuntaskan ritual solonya, Tara tersenyum puas lalu segera membersihkan dirinya.
Selang beberapa menit kemudian, ia pun ikut menyusul gadis itu tidur di sampingnya
...----------------...
__ADS_1