All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
48. Merubah penampilan ...


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu El berada di Kota X. Setelah mendapat rumah kontrakan sederhana yang sesuai dengan kriterianya, akhirnya ia bisa bernafas lega.


Karena tidak ingin kejadian serupa menimpa dirinya seperti di Kota A, El merubah sedikit penampilannya dengan memakai kaca mata tebal dan membuat freckless yang banyak di wajah cantiknya.


El sedikit merasa lucu menatap wajahnya yang terlihat berbeda dan terlihat culun.


"Nah ... jika sudah seperti ini, mana ada cowok yang mau dekat-dekat denganku. Yang ada mereka pasti langsung ilfil. Terlihat culun dan jelek." El terkekeh karena merasa lucu.


"El, mulai besok tugasmu sedikit bertambah karena setiap hari kamu harus membuat freckless dulu sebelum beraktivitas. Mulai sekarang juga namamu si Culun," gumamnya dalam hati.


Lagi-lagi El terkekeh. Setelah mengemasi barang-barangnya, ia pun memakai ranselnya lalu keluar dari kamar penginapan itu.


Setelah menyelesaikan pembayaran, ia kemudian berjalan lalu memesan ojol. Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya bang ojol yang di tunggunya pun tiba dan berhenti di depannya lalu menyapanya.


"Selamat pagi menjelang siang. Apa benar, ini dengan Mbak Culun?"


El melipat bibirnya menahan tawa, karena bang ojol memanggilnya culun.


"Iya, Bang. Bisa antar aku nggak, ke alamat ini?" El memberikan secarik kertas.


"Boleh, Mbak." Bang ojol meraih mini koper gadis itu lalu menaruhnya di depan. Setelah memastikannya sudah berada di atas motor, ia kembali memacu motornya hingga tiba di depan rumah kontrakan sederhana itu.


"Makasih ya, Bang. Tadi, ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi, ya."


"Iya, Mbak. Biar aku bantu bawa kopernya sampai di depan pintu," tawar bang ojol.


"Makasih, tapi aku bisa sendri, lagian kopernya nggak berat," tolak El.


"Nggak apa-apa, Mbak," balas bang ojol sambil menenteng kopernya.


Setelah sampai di teras rumah, alih-alih langsung kembali, bang ojolnya malah dengan santainya duduk di teras kontrakan itu lalu mengajaknya mengobrol.


"Mbak Culun, itu beneran nama kamu ya, Mbak?"


El hanya mengangguk lalu melipat bibirnya menahan tawa. Andai saja si bang ojol itu sudah pergi, mungkin tawanya langsung pecah.

__ADS_1


"Sudah, sana kerja! Kan lumayan kalau dapat penumpang lagi." El mengusir secara halus.


Setelah itu, El mendorong kopernya masuk ke dalam rumah kontrakannya.


Ada senyum tipis di wajah bang ojol itu. Entah mengapa ia sangat penasaran dengan gadis itu.


Begitu berada di dalam kontrakannya, El langsung tertawa sambil memegang perutnya. Lama ia tertawa karena merasa lucu dengan nama barunya itu.


Sedangkan si bang ojol, masih betah duduk di teras rumah kontrakannya sambil memainkan ponselnya.


"El ... mungkin kamu sudah nggak waras," ucapnya pada dirinya sendiri. " Culun? Aku rasa memang sedikit aneh, tapi biarin saja," pungkasnya sambil terkekeh.


.


.


.


Kota A ...


Setelah selesai menandatangani berkas penting, ia langsung membakar rokoknya lalu beranjak dari kursi kerjanya. Ia menghampiri jendela besar ruangan itu.


Menyesap rokoknya dan tampak berpikir sambil merenung.


El, where are you? Bagaimana keadaanmu saat ini? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu ruangannya di ketuk. Ia menoleh ke arah sumber suara.


"Daniel," lirihnya.


"Tara, maaf, aku sudah berusaha mencari tahu keberadaan El, tapi hasilnya nihil. Medsosnya juga sudah tidak bisa di akses karena El sudah menghapusnya secara permanen, nomer ponselnya juga sudah tidak pernah aktif," jelas Daniel dengan perasaan menyesal.


Tara hanya bergeming lalu memejamkan matanya. Cukup lama ia bungkam sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Sebarkan foto-fotonya di seluruh penjuru kota ini bahkan kota lain melalui media online. Aku yakin El segera di temukan. Lama-lama aku bisa gila tanpanya," perintahnya.


"Baiklah jika itu maumu."


Tara masih bergeming di tempat, terus menatap keluar jendela sambil menyesap rokoknya hingga tuntas.


"Daniel, tolong handle semua scheduleku hari ini. Aku ingin ke apartemen El," perintahnya lalu meninggalkan ruang kerjanya.


"Baiklah."


.


.


.


Di tempat yang berbeda, tepatnya di kantor Kai Abraham, sang CEO yang baru saja mengetahui tentang El, tampak sangat terkejut.


Tampak penyesalan dan rasa bersalah yang semakin mendalam di hatinya.


"Jadi ... ucapan yang ia lontarkan malam itu, adalah ungkapan isi hatinya yang sebenarnya? Karir, pekerjaan, pendidikan dan statusnya sebagai anak yatim piatu benar adanya? Kai ... apa yang sudah kamu lakukan? Kamu sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupmu?"


Ia tertunduk lesu sambil menatap lembaran kertas yang masih dipegangnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bahkan aku benar-benar telah menghancurkan semua impian dan juga hidupnya?"


Kai hanya bisa menyesali semua perbuatan dan perlakuannya pada gadis itu.


Seketika itu juga ia langsung menangis, meratap dan menatap lembaran kertas berisi data-data gadis itu yang baru saja ia dapatkan dari asistennya yang baru.


Ellin Davina, seorang gadis yatim piatu, cantik, mandiri, berbakat, smart dan sangat berprestasi. Harus menjadi korban akibat sikap arogan dan keegoisan dari seorang Kai Intezar Abraham.


"Maafkan aku, El ... maafkan aku. Aku berjanji akan bertanggungjawab atas segala perbuatan yang telah aku lakukan padamu. Aku berharap kamu mau memaafkanku. Kamu benar ... aku ini bastard, loser dan menjijikan. Maafkan aku, El."


Sambil tertunduk lesu, ia memejamkan matanya lalu menangis menyesali semua perbuatannya pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2