
Keesokan harinya ....
Ketika Dian membuka mata, ia tak mendapati keberadaanTara di sampingnya.
"Ke mana dia?" gumamnya.
Saat ingin beranjak dari tempat tidur, ia meringis merasakan sensasi perih di area intimnya.
"Ssssttt .... awww ..."
Dengan tertatih-tatih ia bejalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Tara, sejak tadi ia tampak termenung di luar kamar yang berhadapan langsung dengan lautan.
Satu jam sebelumnya ....
Saat Tara membuka mata, ia begitu terkejut saat mendapati dirinya dan Dian sama-sama dalam keadaan polos.
"Ssssttt ... kepalaku sakit banget," ringisnya sambil memijat kepalanya karena masih merasakan sensasi pening. "Ini pasti semalam aku terlalu banyak minum."
Ia menatap Dian sejenak yang masih terlelap bahkan ia bisa melihat jelas tanda jejak kepemilikannya yang ia tinggalkan di tubuh sang istri.
"Apa yang sudah kamu lakukan Tara?" gumamnya lalu perlahan menyibak selimut kemudian menuju ke kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, ia kembali menghampiri Dian lalu mengelus pipinya. "I'm sorry Dian," sesalnya.
Setelah itu, ia memilih keluar kamar yang langsung berhadapan dengan laut sambil merokok.
Pikirannya malah melayang memikirkan El. "Pulau ini benar-benar indah banget. Kamu benar, El. Andai saja kamu yang berada di sampingku saat ini, memelukku, menatapku dengan senyummu, ceritanya akan berbeda."
Ia tersenyum miris saat tersadar jika saat ini ia sedang bersama Dian. Seketika kebenciannya pada El semakin menjalar ke dalam hatinya.
Ia terus larut dengan pikirannya sambil menikmati indahnya sunrise di pulau itu. Memejamkan matanya sejenak demi menetralkan perasaannya.
Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung saat ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang dengan erat.
"El," ucapnya nyaris tak terdengar lalu berbalik. Ia terkesiap. "Dian?" Ia langsung mengumpat dalam hati. "Damn!!! Kenapa aku masih saja memikirkannya? Si*al!!!."
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Dian.
"Nggak, Dian," bohongnya sambil tersenyum paksa lalu memeluk Dian.
"Syukurlah Dian nggak mendengar jelas."
.
.
.
.
Apartemen Kai ....
Samar-samar Kai mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol diselingi dengan tawa canda.
Karena merasa penasaran ia pun bangkit dari tempat tidurnya lalu mencari arah sumber suara. Hatinya menghangat ketika mendapati El dan mamanya sedang berada di pantry membuat sarapan sambil bercanda.
Ia pun menghampiri keduanya. "Sayang ... Mama ..." tegurnya.
"Morning son ... kemarilah," pinta mama Glori. "Apa semalam tidurmu nyenyak?"
"Hmm ..." Ia pun duduk di kursi lalu menoleh ke arah El lalu mengulas senyum. "Mama masak apa sih?"
"Your favorit food," jawab mama Glori.
__ADS_1
Kai menoleh ke arah El dengan senyum penuh arti. Ia berdiri lalu memeluk mamanya lalu berbisik, "Thanks, Mah."
Mama Gloria hanya tersenyum lalu mengangguk. "Ya sudah, kamu mandi dulu sebentar lagi kita sarapan bareng ya. Sekalian kita tunggu Damian."
"Damian? Apa Mama datang bersamanya?" tanya Kai dengan seulas senyum.
"Iya ..."
El hanya menjadi pendengar sekaligus penonton bagi keduanya. Senyumnya langsung mengembang memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu.
"Sayang ... ternyata di balik sikap aroganmu, kamu sangat menyayangi mamamu," gumamnya.
"Ada apa senyum-senyum," bisik Kai.
"Nggak apa-apa, sana gih mandi," seru El.
"Iya," jawab Kai dengan malas.
Setelah itu ia pun meninggalkan El dan mamanya di pantry. Baru beberapa langkah pintu apartemennya terbuka.
"Waaah .... Kai ... keren banget motormu. Sepertinya sudah di modifikasi, i love it," kata Damian seraya menghampiri Kai lalu merangkul sepupunya itu.
"Wait ... wait ... kok kamu tahu password apartementku? Padahal aku sudah menggantinya," tanya Kai.
"Mama Glori yang memberitahuku," jelasnya.
"So ... kamu ke sini menggunakan sepeda motor?" tanya Kai.
"Hmm." Damian tersenyum.
"Itu bukan motorku tapi gadis itu." Kai menunjuk El yang sedang menaiki tangga menuju kamar.
"What?! Yang benar saja," kata Damian sekaligus terkejut.
"Damian, aku mandi dulu ya," izinnya lalu meninggalkan sepupunya itu.
"Hmm ... ."
Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menunggu El selesai mandi.
Sudut bibirnya kini melengkung sempurna. "Satu bulan? Nggak masalah. Secepatnya aku akan mengurus semua berkasnya di Kota A."
Lima belas menit berlalu ...
Kai berdecak kesal. "Ck ... El ngapain sih di dalam? Lama banget," gerutunya.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Kai langsung tersenyum jahil menatap El yang hanya mengenakan handuk.
Ia langsung berdiri menghampiri gadis itu lalu mengungkungnya.
"Sayang! Kamu apa-apaan sih?!" protes El. Namun Kai tetap mengungkungnya. "Sayang ... please, jangan mulai deh! Mama sedang menunggu kita di bawah. Cepetan mandi, aku ada mata kuliah pagi ini."
"Berikan aku satu ciuman," bisiknya.
El menggeleng sambil menahan dadanya.
"Beneran nggak mau?" goda Kai dengan senyum nakal namun El tetap menggelengkan kepalanya.
"Sayang, pleeeease ..." El memelas sekaligus panik karena Kai semakin mengikis jarak diantara mereka.
Tak kehabisan akal El memilih melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kai lalu membenamkan kepalanya di dada liatnya.
Kai langsung tersenyum lalu mengecup puncak kepala calon istrinya itu. "Ya sudah, bersiaplah, nanti aku yang akan mengantarmu."
__ADS_1
"Hmm." El hanya berdehem lalu menggigit dada liat Kai karena gemas.
"Ssssttt ... Sayang ... jangan menggodaku," bisiknya.
"Aku nggak menggoda, gemas saja," balas El.
**********
Setelah mengenakan pakaian, El sekaligus menyiapkan baju kantor Kai. Begitu selesai, ia meraih ranselnya lalu turun ke bawah bergabung dengan mama Glori dan Damian.
"Sayang ... kemarilah," pinta mama Glori. Tanpa banyak kata El langsung menghampiri keduanya di ruang santai.
"Wajahnya mirip banget dengan Kai, yang membedakan keduanya adalah warna mata mereka. Apa mereka kembar ya?" batin El.
"Sayang, ini Damian sepupunya Kai," jelas mama Glori sesaat setelah El duduk di sampingnya
El mengulas senyum lalu sedikit menunduk. "Tadinya aku pikir saudara kembarnya Kai, Mah."
"Yang baru melihat kami, pasti mengatakan hal yang sama," sahut Damian.
"Aku terkecoh," kelakar El.
"Mah, jadi gadis ini yang sudah menjungkir balikkan dunia Kai?" tanyanya lalu terbahak.
Mama Glori menggelengkan kepalanya menatap ponakannya itu. Sedangkan El malah tersenyum menatap Damian.
"Wajahnya saja yang sama tapi sepertinya Damian memiliki sikap tengil," gumam El dalam hati.
Tak lama berselang Kai menghampiri mereka.
"Kamu kenapa? Sepertinya lagi bahagia banget?" Kai meninju lengan sepupunya.
"Nggak apa-apa. Jadi dia gadis yang sering kamu ceritakan padaku?" bisik Damian.
"Hmm." Kai hanya berdehem.
"Ayo, sebaiknya kita sarapan dulu," ajak mama Glori.
Sesaat setelah berada di meja makan. Damian membuka suara. "Oh ya, El, apa nggak apa-apa aku meminjam motormu?"
"Nggak apa-apa pakai saja ..." sahut El dengan seulas senyum.
"Mama nggak nyangka jika gadis sepertimu menyukai motor besar. Tadinya mama pikir, Kai membeli motor baru. Tahu tahunya itu motormu," pungkas mama Glori.
"Waaah ... El, sepertinya kita punya hobi yang sama," sahut Damian.
"Benarkah?" El langsung sembringah. "Kapan-kapan boleh dong kita adu nyali dengan motor trail," saran El dengan semangat.
"Aku rasa itu ide yang bagus, El," sahut Damian.
Kai yang hanya menjadi pendengar keduanya lalu berdecak kesal.
"Ck, sudah sudah, ayo makan nanti kita terlambat," protes Kai.
Beberapa menit kemudian setelah selesai sarapan, Kai dan El berpamitan.
"Mah, aku dan El berangkat dulu. Jika mama ingin ke resort hubungi aku saja," pesan Kai.
Mama Glori hanya mengangguk. "Iya, Nak. Kalian hati-hati ya."
"Iya, Mah," jawab Kai dan El serentak. Setelahnya keduanya pun meninggalkan mama Glori dan Damian.
...----------------...
__ADS_1