
Beberapa menit kemudian, El tampak menggeliat kecil lalu perlahan mengerjap membuka matanya.
"Eugh .... sssttt ... oh God, tubuhku rasanya seperti ingin remuk saja," ucap lirih El lalu bersandar di sandaran ranjang.
Tak lama berselang, Kai menghampirinya kemudian bertanya, "Sudah bangun?"
"Hmm."
"Maaf," ucap Kai setengah berbisik. Tangannya terulur mengelus tanda jejak kepemilikkannya di tubuh istrinya.
"Kamu seperti maniak," bisik El. Membenamkan wajah di dada Kai seraya menghirup aroma wangi tubuhnya.
"Ya tapi itu hanya berlaku kepadamu saja," balas Kai lalu terkekeh. "Masih mau?" lanjutnya menggoda.
El menggeleng lalu meledeknya, "Om mesum."
"Bukankah Om ini yang sudah membuatmu mengeluarkan suara desa*han? Bahkan kamu sangat menikmatinya," balas Kai.
El tersenyum bahkan semakin memeluknya erat.
"Sayang, jangan menggodaku dengan memperlihatkan tubuh polos ini. Itu sama saja kamu akan membangunkannya," goda Kai.
"Ish ...mesum!" kesal El lalu menggigit gemas dada liatnya.
"Ssssttt ... Sayang ..." Kai meringis pelan.
"Aku mandi dulu," kata El lalu menyibak selimut.
Tanpa rasa malu, ia menyambar handuk yang tergeletak di atas ranjang lalu menuju kamar mandi.
Kai menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi punggung sang istri.
"Jadi seperti ini kelakuan aslinya," gumam Kai merasa gemas.
Beberapa menit kemudian ...
Seusai membersihkan diri, El kembali mengenakan gaun tidurnya. Menghampiri Kai yang terlihat sedang menata makanan di atas meja.
"Sayang, makan dulu. Setelah ini kita langsung tidur," cetus Kai dan dijawab dengan anggukan kepala oleh El.
Ia meraih gelas teh chamomile lalu meneguknya.
Setelah itu, mereka lanjut menyantap makan malam meski sudah terlambat.
__ADS_1
Setelah menyantap makan malam, pasangan suami istri itu lanjut mengobrol santai. Sebelum akhirnya tertidur.
Sekaligus menyelami alam mimpi di alam bawah sadar mereka. Menanti hari esok di kala pagi kembali menyapa dengan sinar mentari.
.
.
.
Suara ketukan pintu yang sejak tadi terdengar, Tentu saja mengusik tidur Kau dan El. Dengan perasaan dongkol Kai bangkit dari tidurnya.
Menghampiri pintu denga perasaan dongkol lalu membuka benda itu.
Perasaan jengkelnya seketika melayang saat mengetahui siapa pelaku di balik pintu.
"Mama," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mama Glori langsung menerobos masuk. Menghampiri sang menantu yang masih tertidur pulas.
Menatap tubuh El yang terdapat banyak bekas tanda cu*pang, mama Glori geleng-geleng kepala lalu menatap sang putra.
"Kamu seperti vampir saja. Apa nggak bisa pelan-pelan?" ledek Mama Glori lalu tertawa.
Sepeninggal Kai, Mama Glori duduk di sisi ranjang. Mengelus puncak kepala menantunya lalu membangunkannya.
"Sayang, bangun Nak."
El melenguh lalu perlahan membuka mata.
"Mama?" Ia memindahkan kepalanya ke pangkuan Mama Glori.
"Sayang, ada apa?'' tanya mama Glori sambil mengelus rambutnya.
"Mah, hari ini kami akan kembali ke kota A. Soalnya ada investor yang ingin bertemu langsung dengan Kai besok," jelas El.
"Nggak apa-apa Sayang, mama mengerti kok. Jangan sedih begitu. Kita bisa bertemu kapan saja," timpal Mama Glori.
El lalu bangkit dari pembaringanya, memeluk erat sang mertua seraya mengucap, "Terima kasih, Mah."
"Sama-sama Sayang," balas Mama Glori. "Sebaiknya kamu mandi soalnya Kai sudah selesai."
"Sayang, jika Kai berbuat kasar atau menyakitimu, jangan sungkan bilang sama mama," pesan Mama Glori.
__ADS_1
"Nggak akan, Mah," sahut Kai sembari menghampiri kedua wanita yang dicintainya itu. "Mana mungkin aku menyakiti istriku," sambungya kemudian duduk di samping sang Mama.
"Syukurlah," ucap lirih mama lalu merangkul keduanya dengan perasaan bahagia.
"Mah, hari ini kami akan berangkat ke kota A. Aku dan El nggak sempat ke perusahaan. Kami titip salam saja buat Damian."
"Hmm ... mama sekalian pamit. Ingat, mama tunggu kabar gembira dari kalian berdua," pesan Mama Glori.
"Aamiin ... mudah-mudahan secepatnya, Mah," sahut Kai.
Setelah itu, Mama Glori pun meninggalkan keduanya di kamar.
Satu jam berlalu ...
Setelah selesai sarapan, Kai menghubungi salah satu karyawan hotel untuk mengantar mereka ke bandara.
"Langsung antar kami ke bandara ya," perintah Kai.
Sang karyawan hanya mengangguk takjim. Menyalakan mesin mobil lalu mulai mengendarai hingga tiba di bandara.
"Sayang, maaf ... perjalanan kita akan membuatmu bosan," kata Kai sesaat setelah tiba di bandara.
Ia terus menggenggam tangan istrinya hingga keduanya sampai di dalam pesawat.
Setelah mendapatkan tempat duduk, Kai dan El langsung mendaratkan bokongnya di kursi masing-masing.
"Sayang, sebaiknya kamu minum obat tidur saja. Biar kepalamu nggak sakit. Atau ... mau aku bius? Agar saat kamu membuka mata tahu-tahunya sudah berada di penthouse," kelakarnya disertai tawa.
"Masalahnya ...? Apa obat biusnya ada?" tanya El.
Kai menggelengkan kepalanya sambil cengengesan.
"Percuma. Ih! Ngeselin banget!" kesal El. "Aku minum obat saja," cetusnya lalu meraih air mineral dari dalam paper bag-nya kemudian meminum obatnya.
Sambil menunggu pesawat take off. Kai kembali menggenggam jemari istrinya lalu memotretnya.
Ia kemudian menggunggah foto itu ke media sosialnya dengan caption 'Dengan Kesayangan'.
Kai mengulas senyum lalu mengalihkan ponselnya ke mode pesawat.
"Biarkan saja mereka penasaran. Sampai waktu itu tiba. Siapa dibalik pemilik cincin ini."
...----------------...
__ADS_1