All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
116. Apa yang ingin kamu ketahui tentang dia ...


__ADS_3

Sepeninggal Kai, mama Glori, Damian dan El kembali ke parkiran.


"Sayang, malam ini kita menginap di resort saja ya. Lagian kamu hanya sendiri di apartemen," saran mama Glori.


"Boleh deh, Mah."


"Kebetulan, banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Damian tentang Kai."


Di sepanjang perjalanan, sesekali Damian melirik El dari kaca spion tengah mobil. Ada senyum tipis menghiasi sudut bibirnya.


Melihat Damian yang sejak tadi senyum senyum sendiri El menegurnya. "Damian, ada apa? Kok senyum-senyum?


"Nggak apa-apa," sahutnya.


Mama Glori meliriknya sambil geleng-geleng kepala.


"Damian, fokus," tegur mama Glori.


"Iya, Mah," balasnya santai.


Karena jarak bandara dan resort lumayan jauh. El malah tertidur hingga mereka sampai di resort itu


"Sayang," panggil mama Glori sesaat setelah Damian memarkir mobil. "Bangun Nak. Kita sudah sampai.'


"Sudah sampai ya, Mah,".ucapnya lirih setelah membuka matanya. "Duluan saja Mah. Nanti aku nyusul."


"Baiklah, Mama duluan ya." El menjawab dengan anggukan kepala.


Bukannya menyusul, El malah kembali tertidur di dalam mobil itu. Beberapa menit kemudian barulah ia bangun.


"Aku kok, ngantuk banget ya," gumamnya sembari mengusap matanya.


Setelah merasa benar-benar sadar, barulah ia keluar dari mobil itu. Melangkah menuju resort khusus mama Glori.


Sesaat setelah berada di kamar khusus itu, ia memindai seluruh sudut ruangan itu tanpa ada satupun yang ia lewati.


Ia pun menghampiri Damian yang terlihat sedang berdiri di teras balkon.


"Damian," sapanya.

__ADS_1


"Ah ... El." Damian kemudian meliriknya yang kini sudah berdiri di sampingnya.


Tak lama berselang mama Gloria menyapa keduanya.


"Sayang, Damian, rupanya kalian di sini." Mama Glori ikut bergabung dengan membawa cemilan.


"Mah, maaf aku terlambat soalnya aku ketiduran lagi di mobil," sesalnya.


"Nggak apa-apa, Nak." Ketiganya pun duduk dengan santai sambil menikmati cemilan.


"Mah, El, aku ke dalam sebentar," izin Damian.


El dan mama Glori hanya mengangguk. Keduanya mengarahkan ke satu arah yang sama, yaitu laut. Mendengar suara khas ombak serta tiupan angin semilir.


"Mah ..." El memeluk lengan Mama Glori lalu menyandarkan kepalanya ke pundak calon mama mertuanya itu.


"Ada apa, Nak?" sahut mama Glori seraya mengelus punggungnya dengan sayang.


"Maafkan aku jika sudah membuat Kai sangat mengkhawatirkan diriku?"


"Bukan salahmu, Nak. Kai sudah menceritakan semuanya pada Mama. Saat tahu permasalahan yang sebenarnya, mama sangat marah, kecewa sekaligus sedih. Jika papanya masih hidup, mama yakin papa juga akan merasakan hal yang sama dengan mama," jelas madam Glori.


"Sebelum Kai kembali ke kota A, mama terus mendesaknya supaya terus mencarimu sampai ketemu nggak peduli dengan cara apa pun." Mama Glori terus mengelus punggung El.


El menatap wanita berparas bule itu lalu ikut terkekeh. "Tapi dia sangat menyayangi mama," kata El dengan seulas senyum.


"Ya, Nak. Dan kamu juga," imbuh mama Glori. "Ya sudah, mama mau istirahat dulu, soalnya besok pagi-pagi sekali mama dan Damian akan menyusul Kai."


El hanya mengangguk. Sepeninggal mama Glori Ia masih betah duduk di teras balkon dan tampak melamun.


'Oh God, apa aku pantas berada di tengah-tengah keluarga ini? Tapi kenapa aku merasa pelukan mama Glori sangat tulus dan membuat hatiku menghangat. Beda dengan pelukan yang aku rasakan saat memeluk mamanya Tara. Entah lah ...."


"El ..."


Sapaan Damian seketika membuyarkan lamunannya. Ia pun menoleh lalu mengulas senyum.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Damian lalu duduk di sampingnya.


El hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah laut.

__ADS_1


Hening sejenak sebelum akhirnya ia membuka suara.


"Damian ..."


"Hmm ..."


"Apa kamu tahu sesuatu tentang Kai?" cecar El.


Damian meliriknya lalu mengernyitkan keningnya.


"Apa yang ingin kamu ketahui tentang dia?" Damian balik bertanya.


El melirik, menatap lekat manik berwarna abu Damian. Tatapan gadis itu seketika membuat Damian salah tingkah.


"Semua yang kamu ketahui tentang dia," kata El lalu mengulas senyum. "Jangan gugup seperti itu Damian. Dibawa santai saja.."


"El, jujur saja Kai bukanlah lah pria yang mudah jatuh cinta."


"Maksudmu? Apa sebelumnya Kai pernah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita?" selidik El.


"Iya, El," aku Damian. "Valerie namanya. Kai sangat mencintai gadis itu bahkan sejak kuliah hingga selesai kuliah mereka masih menjalani hubungan yang cukup serius."


"Lalu..." sahut El penasaran.


"Mereka hampir menikah," aku Damian dengan lirih. "Tapi ..." Damian terdiam sejenak dan tampak berpikir untuk melanjutkan ucapannya.


Seketika El mengerutkan kening sekaligus semakin penasaran. "Tapi kenapa, Damian? Katakan saja, nggak apa-apa," desaknya.


"Kai nggak sengaja memergoki gadis itu sedang melakukan hubungan intim dengan pria lain di apartemen milik gadis itu. Tepatnya ketika Kai baru saja pulang dari Jerman," jelas Damian.


"What?!! Beneran?!! Oh God, So ...??"


"Ya ..." Damian langsung menyela. "Sejak saat itu Kai menganggap semua wanita sama saja. Dan sejak itu juga Kai mulai berubah. Menjadi seorang player hanya untuk menyenangkan dirinya dan menjadikan wanita sebagai pemuasnya," pungkas Damian sambil tertunduk.


El langsung membekap mulutnya. "Jadi ini alasannya? Oh God ..." El membatin kaget.


"Tapi, semenjak bertemu denganmu dunianya kembali jungkir balik. Karena baginya kamu wanita yang berbeda. Seperti itulah Kai menilaimu." Damian kemudian menatap El.


Namun dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah laut. Perlahan bangkit berdiri menghampiri pagar pembatas.

__ADS_1


Sedangkan Damian tetap bergeming di tempat. Memandangi punggungnya yang saat ini membelakangi dirinya.


...----------------...


__ADS_2