All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
86. Berapa tarifmu semalam ...?!


__ADS_3

Beberapa jam kemudian ...


Setelah tiba di bandara Kota X, Tara langsung menghubungi salah satu orang kepercayaannya.


"Hallo, Pak."


"Sebarkan foto gadis itu sekarang juga, di seluruh penjuru kota ini! Pokoknya aku nggak mau tahu, temukan dia secepatnya dan bawa dia kepadaku!" perintah Tara.


"Ba--baik, Pak."


Setelah itu, Tara langsung memutuskan panggilan telefon lalu menuju ke arah mobil yang sudah menjemputmu.


"Antar aku ke gedung apartemen xxxx," perintahnya sesaat setelah duduk di kursi penumpang.


Ia merasa seolah sudah tak waras hanya karena seorang wanita yang sudah menjungkir balikkan dunianya.


"Aku akan memberikanmu pelajaran yang nggak akan bisa kamu lupakan seumur hidupmu El. Kita lihat saja nanti," ucap Tara dengan nafas memburu menahan amarah.


.


.


.


Sementara El yang masih sibuk mengetik, akhirnya bisa bernafas lega setelah menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya.


"Huuufff .... syukurlah akhirnya selesai juga tugasku. Tinggal dikumpul saja nanti," gumamnya.


Setelah itu, ia meraih ponselnya lalu memeriksa medsosnya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat fotonya yang kembali tersebar.


"Damn!! What the hell!"


El menoleh ke arah Kai yang terlihat gelisah, meringis mengusap perutnya lalu memanggil-manggil namanya. Merasa tak tega, ia mendekatinya yang terlihat berkeringat.


Ia mengerutkan kening. "Apa dia menderita liver ya? Secara ... dia ini kan peminum aktif."


"Kai ..." El menepuk pipinya lalu mengusap keringat yang membasahi kening. "Kai apa kamu baik-baik saja?"


"El ..." Kai menggenggam jemari lentik gadis itu lalu perlahan membuka matanya.


"Apa kamu baik-baik saja," tanya El untuk yang kedua kalinya. "Apa livermu bermasalah?" tanya El lagi sembari menatap manik hazel Kai.


Kai merubah posisinya menjadi duduk. "Nggak ... aku baik-baik saja," jawab Kai seraya mengelus pipi mulus El.


"El nggak boleh tahu jika liverku memang lagi bermasalah."


"Sayang, mendekatlah. Aku ingin memelukmu sebentar," pintanya dengan lirih. El hanya menurut patuh sekaligus merasa iba.


"Terima kasih, karena secara sadar nggak dalam keadaan terpaksa kamu mau menyentuh tubuhku," bisik Kai.


El hanya mengangguk pelan sembari mengelus dada liatnya. Setelah merasa puas mendekap tubuh El, Kai perlahan mengurai pelukannya.


"Sebentar, aku hubungi Richard dulu," kata Kai.


Baru saja ia ingin mengambil ponselnya, benda pipih yang berada di kantong jasnya itu malah bergetar.


Ia pun segera mengambil benda itu lalu menatap layar ponselnya. "Richard?!" sebutnya lalu menjawab panggilan itu.


"Richard! Aku baru saja ingin menghubungimu, ada apa?" tanyanya.


"Tuan, gadis itu lagi di cari seperti buronan saja. Fotonya sudah tersebar di mana-mana," jawab Richard.

__ADS_1


"Ini pasti ulah Tara."


"Nggak apa-apa, jangan khawatir. Dia aman bersamaku," jelas Kai.


"Baik, Tuan."


"Sekarang tolong jemput aku di rumah kontrakan El," kata Kai.


"Baik, Tuan."


Setelah itu Kai memutuskan panggilan telepon lalu memandangi punggung El. Tangannya terangkat lalu menyentuh bekas luka jahitan di dekat tulang punggung kanannya.


"Sayang, ini kenapa?" tanya Kai sembari mengelus bekas jahitan itu.


"Kenang-kenangan sewaktu masih menjadi napi," jawab El cuek.


Seketika perasaan bersalah kembali menyelubungi dirinya. "Maafkan aku," ucap Kai lalu memeluknya.


El hanya mengulas senyum sembari mengelus lengannya yang menempel di dada lalu mengangguk pelan.


"Sayang ... menginaplah di apartemenku malam ini. Soalnya besok aku akan berangkat ke Kota A," bisik Kai.


"Baiklah," sahut El.


Tiga puluh menit kemudian ...


Keduanya tampak sudah bersiap sambil menunggu jemputan. El terkekeh menatap pantulan dirinya di depan kaca.


Tak lama berselang setelah keduanya berada di depan teras rumah, Richard baru saja tiba. Tanpa pikir panjang El dan Kai langsung menghampirinya lalu masuk ke dalam mobil.


"Richard, antar kami ke resort mama," perintah Kai.


Di sepanjang perjalanan menuju resort, sesekali El melirik ke arah Kai yang terus saja mengusap perutnya.


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sejam lamanya. Akhirnya mereka tiba juga di resort itu.


El dan Kai tampak sedang duduk di bawah hamparan pasir putih. Mengarahkan pandangannya ke arah matahari yang sudah terlihat berwarna jingga.


"Sayang, aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Aku ingin saat aku akan menutup mataku untuk yang terakhir kalinya, wajahmu dan anak-anak kita yang ingin aku pandang," ucap Kai dengan lirih.


El menoleh lalu menatapnya lekat. "Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa kamu juga ingin meninggalkanku?" cecar El.


Keduanya sama-sama terdiam membisu dengan saling berpandangan. Hanya suara deburan ombak yang terdengar serta hembusan angin semilir yang menerpa keduanya.


Tiba-tiba saja buliran bening jatuh dari pelupuk mata El. Entah mengapa ucapan Kai seketika membuatnya meremang, dadanya tiba-tiba saja bergemuruh hebat.


"Jangan mengucapkan kata yang bisa membuatku seperti orang yang akan kehilangan seseorang," bisik El lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kai kemudian melingkarkan kedua tangannya di tubuh pria blasteran itu.


"Setelah kita menikah aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu. Setelah aku lulus kuliah, kita akan tinggal bersama dan akan mengumumkan secara resmi pernikahan kita," tutur El dengan suara lembut.


Sudut bibir Kai langsung melukis senyum mendengar ucapan El. Tangannya pun terangkat merangkul punggung wanita yang begitu ia cintai itu.


"Terima kasih," ucapnya.


Keduanya terus mengarahkan pandangannya ke arah yang sama, menatap indahnya cahaya senja matahari yang sebentar lagi akan terbenam.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya kita masuk saja ke resort," ajak Kai.


"Baiklah," balas El lalu tersenyum.


Keduanya sama-sama berdiri lalu akan melanjutkan langkah menuju resort. Namun langkah kaki Keduanya tertahan.


Prok .... prok .... prok ....


"Wow ... wow ... wow .... apa sekarang kamu sudah turun pamor? Apa sekarang seleramu sudah berubah dan memilih gadis jelek dan culun seperti ini, hmm. Amazing!"


Masih sambil bertepuk tangan, Tara mengucapkan kalimat bernada sindiran untuk Kai sekaligus tanpa sadar menghina El.


"Dan kamu gadis berkacamata tebal, bukankah kamu temannya Dian? Berapa tarifmu semalam? Sudah berapa kali kamu dipakai untuk memu*askan hasratnya? Apa gajimu nggak cukup untuk membiayai hidupmu?"


Pertanyaan beruntun sekaligus merendahkan El, terlontar begitu saja dari bibir Tara dengan senyum sinisnya.


Mendengar ucapan bernada sindiran sekaligus penghinaan terhadap El, Kai mengepalkan kedua tangannya.


Sementara El, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghampiri Tara.


Plakk ...


Satu tamparan yang cukup keras langsung mendarat sempurna di pipi Tara.


Tak pelak, tamparan dari El itu membuat Tara terkejut karena mendapat serangan tiba-tiba dari El.


Kai yang masih berdiri di tempat tak menyangka jika El akan melakukan hal yang sama pada Tara. Persis dua tahun yang lalu ketika El melakukan hal yang sama padanya


Tara menautkan alisnya lalu menatap El sembari mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang cukup keras di wajahnya.


"Tuan Bima Argantara Mulia. Jika Anda nggak tahu apa-apa tentang diriku jangan seenaknya menilaiku, menghinaku bahkan merendahkanku, sebaiknya tutup mulut kotor Anda itu!" tutur El dengan tatapan menghunus.


Tara terhenyak mendengar kata-kata gadis berkacamata tebal itu. Ingatannya kembali berputar dua tahun yang lalu saat El menampar Kai.


"Sayang, ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak Kai. El hanya mengangguk dalam diamnya.


Baru beberapa langkah, keduanya kembali berhenti lalu menoleh ke belakang.


"Hei!!!! Pria brengsek!!!! Apa El sudah menjual dirinya padamu?! Berapa kamu membayarnya," teriak Tara dengan sinis.


Karena sudah terpancing emosi, Kai ingin menghampiri Tara namun eratnya genggaman tangan El, mengisyaratkan supaya ia tidak meladeninya.


"Kai, biarkan saja, ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak El. Keduanya kembali melanjutkan langkahnya.


Tara begitu geram menatap Kai yang sama sekali tak menggubrisnya. Ia pun menghampiri Kai lalu akan melayangkan bogem mentahnya.


Namun dengan secepat kilat, El langsung memeluk tubuh Kai menjadi tamengnya. Alhasil bogeman yang cukup keras dari Tara itu mendarat keras di punggung El sehingga membuat gadis malang itu mematung.


"What the fu*ck!!" umpat Kai begitu kesalnya sembari mendekap erat tubuh El yang kini tak sadarkan diri.


Tara langsung mundur karena kaget. Mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka jika El akan menjadi tameng buat Kai.


"El!!" bisik Kai lalu menggendongnya kemudian membawa gadis malang itu ke kamar resort.


"Apa aku tidak salah dengar tadi? Kai menyebut nama El?" gumam Tara setelah Kai menjauh.


Tubuhnya langsung meremang lalu mengusap tengkuknya.


"Apa yang sudah kamu lakukan Tara? Kamu sudah mengotori tanganmu dengan memukul gadis itu," ucapnya frustasi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2