All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
92. Ternyata kecurigaanku selama ini benar ...


__ADS_3

Sesampainya di rooftop, El langsung merentangkan kedua tangannya, menengadahkan wajahnya menatap langit.


Menghirup udara malam lalu memperhatikan kerlap kerlip lampu di seluruh penjuru kota itu. Terlihat indah dengan warna warni di setiap bangunan.


"Oh God ... aku merasakan benar-benar bebas saat ini."


Ia meletakkan tas tangannya di atas pembatas tembok. Mengeluarkan rokoknya lalu membakar kemudian menyesapnya dalam-dalam.


Terus seperti itu sambil memperhatikan kesibukan kota A. Tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.


Tanpa ia sadari sepasang mata sejak tadi terus memperhatikan gerak geriknya.


"Ternyata kecurigaanku selama ini benar. Gadis culun berkacamata tebal, berambut keriting itu ternyata adalah kamu, El. Bisa-bisanya aku terkecoh."


Tara memandangi punggung gadis itu lalu memanggilnya dengan suara tegas dan lantang.


"Ellin Davina!!!"


Deg ....


Suara khas berat yang begitu dikenalnya seketika membuatnya terkejut. Dengan susah payah, El menelan salivanya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja. Ia kembali menyesap rokoknya serta tidak menghiraukan panggilan dari Tara.


"Ellin Davina!!" Untuk yang kedua kalinya Tara memanggil namanya.


Tak ada jawaban. El tetap bergeming dan malah terlihat acuh tak acuh.


"Ellin Davina!!!" panggil Tara lagi untuk yang ketiga kalinya


Tara sempat berpikir jika ia salah orang karena El tetap bergeming seolah tak peduli. Ia pun menepuk bahu El sesaat setelah ia berdiri tepat di belakangnya.


"Maaf, sejak tadi kamu memanggil nama Ellin Davina, tapi orang itu nggak ada di sini," kata El dengan santai lalu menoleh ke belakang.


"Hanya ada aku di sini, Culun," sambung El sambil menghembus asap rokoknya. "Mungkin kamu lagi berhalusinasi atau mungkin saja itu sosok astral yang menyerupai sosok yang kamu panggil tadi," pungkas El lalu terkekeh.


Mendengar ucapan El barusan, seketika Tara mengetatkan rahangnya. Ia memegang kedua lengan gadis itu lalu memaksanya untuk memeluknya namun El berontak dan terus menahan dadanya.


"Jangan berpura-pura lagi El!!" bentaknya lalu melepas paksa kacamata tebal gadis itu.


Sontak saja ulahnya itu membuat El kaget. Tara langsung tersenyum sinis menatapnya.


"Kamu apa-apaan sih?!! Lepasin!!" geram El tak kalah jengkel, ia mendorong dada Tara lalu ingin menjauh.


Belum beberapa langkah, Tara dengan cepat menarik kerah gaunnya sehingga gaun dengan model V neck itu sobek.


Tara langsung tersenyum sinis menatap punggung dengan tatto khas gadis itu. Namun sedikit merasa bersalah karena mendapati bekas bogemannya terlihat membekas.


El yang kini merasa panik mulai terlihat gelisah. Namun kepanikannya itu sedikit terurai karena mendengar suara bentakan dari Kai.


"What the hell, Tara!!!! Apa yang kamu lakukan padanya!!! Apa kamu sudah nggak waras, hah!!!!" bentak Kai.


Ia langsung melepas jasnya lalu menghampiri El kemudian memakaikan jasnya ke tubuh El.


"Jangan membuat onar di sini, apalagi ini adalah acara pentingmu. Pikirkan istri, mertua terlebih orang tuamu. Jika sampai wartawan tahu ini, bukan cuma kamu yang malu, tapi keluargamu dan keluarga mertuamu, plus nama baik mereka dan perusahaan kalian," tegas Kai.

__ADS_1


Tara bergeming merasa jengkel mendengar ucapan Kai yang seolah menasehatinya. Seketika kedua tangannya terkepal dengan rahang mengetat.


"El!!! Jadi benar selama ini kamu menjual dirimu pada pria brengsek ini?!! Menjadi wanita pemuas ranjangnya?!!! Wanita munafik!! Murahan!!!" makinya dengan emosi yang meluap-luap sekaligus merendahkan dan menuduhnya tanpa tahu yang sebenarnya.


El hanya bergeming mendengar serta menerima penghinaan bernada merendahkan itu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam menahan emosi.


"Kai." El langsung memeluknya dengan erat lalu berbisik lirih, "Bawa aku ke tempat yang bisa membuatku tenang."


Tara merasa darahnya semakin mendidih, menyaksikan El memeluk Kai dengan erat di depan matanya. "I can't believe it," batinnya.


"Ayo ..." Kai melerai pelukannya lalu merangkul punggung El lalu meninggalkan Tara yang terlihat begitu emosi dan marah.


Sesaat setelah berada di dalam mobil. El hanya membisu. Kai yang duduk di kursi kemudi menatapnya dengan perasaan bersalah. Ia pun menggenggam jemari El lalu mendekapnya.


"Maafkan aku ..." bisiknya.


El hanya bergeming, hanya air matanya yang menjadi jawaban. Setelah itu Kai kembali melajukan kendaraannya.


Di sepanjang perjalanan, El tetap diam dan terus memandang ke luar jendela mobil. Hingga akhirnya Kai menegurnya ketika keduanya sudah sampai di salah satu danau buatan.


"Sayang ..." Kai membuka pintu mobil lalu berjongkok kemudian mengancingkan jas yang membalut tubuh El untuk menutup belahan gaunnya yang sobek.


El menatap Kai. Menangkup kedua rahang tegasnya lalu memeluknya sambil menangis.


Sakit ....


Kecewa ...


Shock ....


Pria yang pernah membelanya, membantunya serta mencintainya. Namun sekarang balik menuduhnya, merendahkannya bahkan menghinanya.


El terisak dalam dekapan Kai. Eratnya pelukannya menandakan jika ia butuh support dari Kai. Untuk sejenak Kai hanya membiarkan El menangis sepuas yang ia inginkan sembari mengelus punggungnya dengan sayang.


"Menangislah jika bebanmu terasa berat, karena air matamu adalah doa disaat mulutmu nggak mampu berbicara," bisik Kai.


"Kai, apa aku wanita murahan dimata mu? Apa aku wanita munafik?" tanyanya sambil terisak.


"Nggak, justru akulah yang sudah membuatmu terlihat murahan dan munafik di mata Tara. Tapi nggak bagiku," jawab Kai.


"Sayang, maafkan aku, semua akar perseteruan ini berawal dariku. Sekali lagi maafkan aku."


El menggelengkan kepalanya lalu kembali menangkup wajah pria yang awalnya begitu ia benci bahkan sangat menjijikkan baginya.


"Cukup dan jangan meminta maaf lagi." El mengecup singkat bibir Kai lalu mengelusnya. "Bibir ini sudah ratusan kali mengatakan kata 'MAAF'," bisik El dengan sesenggukan.


Tangan Kai terulur mengusap air mata yang masih mengalir di pipi El.


"Sayang, sudah ya," bujuk Kai. "Ayo kita duduk di sana." Kai mengarahkan pandangannya ke salah satu bangku kosong.


El hanya mengangguk lalu menggenggam tangan Kai. Setelah keduanya duduk di bangku itu, El langsung menyandarkan kepalanya di bahu prianya lalu memejamkan matanya.


"Sayang."

__ADS_1


"Hmm."


"Apa kamu tahu apa yang membuatku sangat yakin jika kamu adalah adalah El meski kamu terlihat culun?" tanya Kai lalu mengecup keningnya.


El hanya menggelengkan kepalanya.


"Aroma parfum dan sebutan BASTARD yang sering kamu ucapkan," bisik Kai. "Nggak ada wanita yang berani menyebutku bastard selain dirimu. Apa kamu tahu? Sangat jarang wanita yang menggunakan satu merek parfum."


"Kebanyakan mereka suka menggantinya. Biasanya wanita yang tetap menyukai aroma parfum yang itu-itu saja adalah tipe wanita yang setia," pungkas Kai.


El hanya bergeming dan semakin membenamkan wajahnya ke ceruk leher Kai.


"Sayang, tasmu ketinggalan di rooftop," bisik Kai.


"Biarkan saja. Aku ikhlas kehilangan semua isi dalam tasku. Karena aku akan menggunakan kembali identitas asliku," balas El.


"Apa kamu serius?"


"Hmm, apa pun yang akan terjadi aku sudah siap," tegas El.


.


.


.


Tara yang kini masih berada di rooftop tampak begitu kesal sambil mengusap wajahnya kasar.


"Aaarrrrrgggghhhh ..... damn!!!!!!!"


Sedetik kemudian matanya tertuju ke arah tas kecil El. Ia meraih tas itu kemudian memeriksa isinya.


Ia tersenyum sinis sesaat setelah ia memegang ponsel milik El. Mengerutkan kening menatap layar wallpaper gadis itu.


Tidak ada yang aneh hanya saja wallpaper ponselnya adalah foto kedua orangtuanya. Merasa belum puas, ia membuka galeri foto.


Namun ia harus kecewa karena di galeri foto itu hanya terdapat foto-foto kedua orang tuanya gadis itu saja.


Puas mengutak-atik ponsel El, ia kemudian memeriksa isi dompet gadis itu. Hanya ada beberapa lembar uang cash, KTP, KM, SIM dan ATM. Lagi-lagi Tara tersenyum penuh arti.


Beberapa menit kemudian, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu merapikan jasnya. Setelah itu ia kembali ke ballroom untuk kembali bergabung dengan istrinya.


.


.


.


Setelah merasa cukup tenang, akhirnya El meminta Kai untuk mengantarnya ke hotel tempatnya menginap.


"Nggak, malam ini kamu menginap di penthouse saja. Aku akan meminta salah satu pegawai hotel untuk mengantar kopermu ke penthouse," tegas Kai.


"Baiklah," kata El.

__ADS_1


Setelah itu, keduanya meninggalkan tempat itu menuju ke arah mobil.


...----------------...


__ADS_2