
Setelah cukup lama berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya El memutuskan memilih kuliah di Universitas W.
Walaupun lulus seleksi di universitas X, ia lebih memilih universitas W karena tak ingin berurusan dengan Candra.
Kini sudah seminggu pula, ia mengikuti ospek bersama mahasiswa baru di fakultas kedokteran. Walaupun harus membagi waktu antara kerja dan kuliah, namun ia tetap semangat demi meraih cita-citanya.
Hari ini adalah hari terakhir ia mengikuti ospek bersama teman-temannya yang lain. Walaupun umurnya terbilang paling tua di antara teman-temannya yang lain, namun ia tak mempermasalahkannya. Bahkan mereka tetap saja tampak seumuran.
Setelah selesai mengikuti ospek terakhir, El memilih duduk di taman kampus untuk beristirahat sambil sesekali meneguk air mineralnya.
Drttt ... drtt ... drtt ...
Ponselnya bergetar. Saat tahu kontak yang memanggilnya, ia hanya membiarkan benda pipinya itu terus bergetar lalu menghela nafas.
"Maaf, Candra. Aku nggak mau menyusahkan orang baik seperti kamu. Cukup lah aku pernah mengalami hal ini dua tahun yang lalu. Aku nggak ingin membuat kamu berharap dan berakhir kecewa seperti Tara. Aku bahkan memilih melupakan dirinya dan semua kenangan bersamanya," gumam El.
Setelah itu, ia meninggalkan taman kampus lalu berjalan ke halte sambil menunggu bis. Sambil menunggu bis, ia tampak berpikir untuk mencari kost-kostan yang dekat dengan kampusnya. Mengingat jarak kampus dari rumah kontrakannya lumayan jauh.
Sedangkan tempat kerjanya dengan kampus tidak terlalu jauh. Jika ia pindah otomatis waktunya tidak terlalu banyak terbuang sia-sia.
"Sebaiknya aku cari lewat internet saja kostan dekat-dekat sini, yang sesuai dengan keinginanku. Nggak masalah kecil yang penting ada dapur dan kamar mandinya," gumamnya.
Tidak lama kemudian, bis yang ditunggunya pun tiba. El langsung naik ke bis itu lalu duduk di sebelah pria yang sedang memakai masker dan topi.
Setelah mendaratkan bokongnya di kursi bis, El menghela nafasnya, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bis sambil memejamkan matanya.
Mungkin karena terlalu lelah, akhirnya ia malah tertidur.
Pria yang memakai topi dan masker itu, hanya bisa terkekeh menatapnya.
Ya, dia adalah Candra yang sengaja ikut ke bis itu. Karena gadis itu tidak menjawab panggilannya, akhirnya ia memilih naik bis ke kampus tempat gadis itu kuliah hanya karena ingin bertemu dengannya karena masih sangat penasaran dengan sosoknya
Senyum Candra terus mengembang ketika kepala gadis berkacamata tebal itu bersandar di pundaknya.
"Kasian, pasti dia kelelahan," gumam Candra.
Candra kembali berpikir, kenapa El memilih kampus W ketimbang kampus X. Padahal kampus X lebih unggul dibandingkan dengan kampus W.
__ADS_1
Apalagi setelah melihat data-data prestasi akademik gadis itu, ia termasuk mahasiswi yang sangat cerdas dan berprestasi. Itu sangat terlihat dari nilai akademiknya yang semuanya nyaris sempurna.
"Lun, kenapa kamu memilih kampus W daripada kampus X? Padahal aku bisa membantumu jika kamu mau kuliah di sana," gumam Candra dalam hatinya.
Ia terus menatap wajah El yang sedang bersandar di pundaknya. Terlihat sekali jika gadis itu sangat kelelahan karena harus membagi waktunya antara kerja dan kuliah.
"Kasian banget," batin Candra menatap iba gadis itu.
Tidak lama kemudian, bis yang ditumpangi keduanya pun berhenti di halte tujuan. El yang belum sadar dari tidurnya, akhirnya dibangunkan oleh Candra dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Lun ... Lun ... Lun ... bangun, kita sudah sampai," bisik Candra.
"Hmm ... sudah sampai ya?" El menegakkan badannya sambil menggosok matanya sekaligus masih mengumpulkan sisa-sisa nyawanya.
Ia masih belum menyadari jika Candra sedang duduk di sebelahnya.
"Iya, sudah sampai. Kamu gimana sih, malah molor terus ileran lagi. Issh jorok banget sih kamu jadi cewek," canda Candra sambil terkekeh.
El langsung mengusap bibir dan dagunya. Ia pun perlahan menoleh ke samping karena merasa sangat mengenal suara pria di sampingnya itu.
"Ssssttt ... aawww ... Lun, sakit tahu?!" Ia meringis sembari mengusap pahanya yang terasa sakit.
El tertawa gemas. "Rasain ... emang enak?!"
"Mas, Mbak, mau turun apa lanjut jalan?" tanya bang supir.
El dan Candra langsung mengarahkan pandangannya ke arah bang supir lalu terkekeh.
"Kita mau turun, Bang," kata El lalu mencolek lengan Candra untuk mengajaknya turun.
Setelah itu, ia pun membayar ongkos sekalian dengan ongkos Candra lalu mereka berdua turun dari bis itu.
Karena merasa kesal, El kembali memukul lengan Candra.
"Ih! Kamu ngapain sih, ikut-ikutan naik bis?! Kurang kerjaan banget. Bukannya kerja malah keluyuran," omelnya sambil berjalan ke arah rumah kontrakannya.
Candra hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh.
__ADS_1
"Emang nggak boleh ya kalau Bang ojol sepertiku ikut naik bis?" tanya Candra.
El hanya memutar bola matanya malas. Setelah membuka pintu, ia pun mengajak Candra masuk.
"Masuk lah, maaf rumahku nggak ada sofa maupun kursi jadi duduknya melantai saja," kata El. Ia pun ikut duduk lalu melepas ranselnya.
"Nggak apa-apa, Lun. Aku juga sudah terbiasa hidup susah seperti kamu," bohong Candra.
El hanya menghela nafasnya pelan lalu menatap Candra.
Mendapat tatapan penuh selidik dari gadis itu seketika ia merasa dibuat gugup.
"Lun, kamu kok menatapku seperti itu? Ada apa?" tanya Candra
Dengan seulas senyum sambil menggelengkan kepalanya, El membuka suara.
"Abichandra Aryatama, seorang Rektor sekaligus CEO Aryatama Group, Putra pertama dari pak Aryatama dan ibu Cecilia. Apa yang aku katakan barusan itu benar adanya?" selidik El.
Candra cukup terkejut mendengar ucapan gadis itu barusan. Ia tidak menyangka jika El sudah tahu siapa dia sebenarnya.
Candra tak bisa berkata-kata melainkan hanya bisa menatap wajah El yang terlihat serius menatapnya.
"Candra, sudah lah. Nggak usah berpura-pura lagi. Untuk apa kamu menyembunyikan identitas aslimu. Kamu dan aku sangat jauh berbeda. Jadi dirimu apa adanya dan nggak perlu menyembunyikan identitas aslimu. Ini bukan pertama kali aku bertemu dengan pria sepertimu," jelas El.
Lagi-lagi Candra hanya bisa bungkam lalu menunduk.
Ruang tamu itu kembali hening. Hingga El kembali membuka suara.
"Candra, aku harap kamu nggak mengganguku lagi. Jalani lah aktivitasmu secara normal tanpa harus berpura-pura."
"Apa kita masih bisa berteman, Lun?"
"Iya, tapi jangan berharap lebih dari itu. Ingat, kita ini sangat jauh berbeda, Candra. Aku tidak ingin orang menganggap ku sebagai cewek yang memanfaatkan kepolosanku hanya untuk mendapat simpati dari pria baik seperti mu. Jadi aku harap kita berteman layaknya teman biasa saja. Kamu mengerti kan maksudku?"
Candra hanya mengangguk mengerti namun ada perasaan kecewa yang ia rasakan setelah mendengar ucapan gadis berkacamata tebal itu.
...----------------...
__ADS_1