All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
61. Semoga dia tidak mengenaliku ...


__ADS_3

Waktu terus berlalu, El tetap menjalani aktifitasnya seperti biasa, bekerja sambil kuliah. Seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan ia sudah mulai melupakan Tara dan Kai. Dua pria yang berbeda karakter namun sama-sama mencintainya.


Baik El maupun Kai, mereka sama-sama tidak mengetahui jika mereka berada di satu Kota yang sama. Kai yang sedang disibukkan dengan proyek pembangunan rumah sakit, rela bolak balik antara kota A dan X hanya untuk terus memantau proses pembangunan rumah sakit yang akan ia dedikasikan untuk El.


Jika Kai sering bolak balik dari Kota A ke Kota X, lain halnya dengan Tara. Demi menyenangkan sang momy, Tara terpaksa mengikuti kemauannya untuk ke Kota X hanya untuk bertemu dengan Dian. Gadis yang akan dijodohkan dengannya


El bahkan tidak tahu, jika Tara dan orang tuanya sudah beberapa kali bersilahturahmi ke rumah Dian untuk saling mengenal lebih jauh.


Mungkin karena El yang begitu sibuk, ditambah lagi ia yang aktif mengikuti organisasi kampus. Belum lagi ketika pagi hingga sore ia harus bekerja lalu dilanjut dengan kuliah dimalam hari.


Bertepatan hari ini, setelah selesai mengikuti ujian semester ganjil, akhirnya El bisa bernafas lega karena dia dan teman-temannya akan libur kuliah selama dua minggu.


Tampak raut wajah kebahagian menyelimuti gadis itu. Senyum manisnya terus mengembang di wajahnya.


"Akhirnya, hari yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Rasanya aku sudah nggak sabar ingin bertemu dengan motor kesayanganku," gumamnya. "Mah, pah, tante Karin. Aku akan mengunjungi kalian."


El kembali melangkah sambil menghitung langkah kakinya hingga ia lagi-lagi menubruk seseorang.


Bruukkk....


Ia mendongak menatap pria yang ada dihadapannya.


"Kalau jalan tuh, lihat ke depan jangan menunduk. Kamu ini, kebiasaan banget," omel Candra sambil mengacak rambut keriting El.


El memutar bola matanya malas lalu memprotesnya. "Ish ... harusnya kamu minggir dong! Ini malah diam ditempat! Kamu sengaja ya?!"


"Yang salah siapa coba?" Candra terkekeh.


"Iya ... iya, aku yang salah, Pak Candra! Ada urusan apa Anda ke sini?"


"Nggak ada, Lun. Kebetulan tadi aku mau ke lokasi proyek dan arahnya melewati kampusmu jadi aku sekalian singgah."


El hanya mengangguk. Setelah itu, ia pun duduk di bangku halte disusul oleh Candra.


"Lun."


"Hmm."


"Apa kamu nggak ingin liburan? Kamu kan sudah mulai libur kuliah besok?" tanya Candra.


"Ingin, tapi aku harus izin dulu sama bu Amanda. Rencananya, aku akan mengambil cuti selama seminggu," jawab El.


"Kamu ingin liburan ke mana?"


"Pokoknya ada deh." El menjawab dengan gamblang.


Candra terdiam lalu meliriknya yang masih mengenakan masker. Ia merasa penasaran ke mana gadis itu akan berlibur.


"Lun, biar aku antar kamu pulang, daripada nunggu bis, sepertinya masih lama.''


El menggelengkan kepalanya. "Nggak ah, aku lebih senang naik bis. Lagian kamu bilang mau ke lokasi proyek. Udah, sana gih!" usirnya.


Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan El.


"Lagian nih ya ... aku alergi naik mobil mewah? Enakkan naik bis dan motor." El terkekeh.


Tidak lama kemudian bis yang ditunggunya pun tiba. Setelah berpamitan, ia pun melambaikan tangannya ke arah Candra yang masih menatapnya di bangku halte.


"Hmm ... Emang ada ya, orang alergi naik mobil mewah? Anak itu ada-ada saja," gumam Candra sesaat setelah bis itu menjauh.


.


.


.

__ADS_1


Lokasi proyek ...


Setibanya di lokasi proyek, Candra menghampiri Kai yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan salah satu pengawas bangunan. Ia pun menyapanya.


"Kai, sudah lama?!"


"Lumayanlah, kamu dari mana sih?!''


"Maaf, tadi sebelum ke sini aku mampir di kampus W."


Kai mengerutkan alisnya lalu tersenyum. "Aku jadi curiga deh, jangan-jangan kamu ketemu seseorang di sana?"


"Hanya teman, tadinya aku mau mengantarnya pulang, tapi dia menolak. Katanya dia alergi dengan mobil mewah."


Keduanya tertawa karena merasa konyol dengan ucapan gadis itu.


"Kai, apa kamu sudah menemukan gadis yang sedang kamu cari itu?"


"Belum Candra, jujur saja aku tidak bisa tenang sebelum menemukannya."


"Jangan putus asa, Kai, teruslah mencarinya sampai ketemu. Oh ya, kapan kamu kembali ke Kota A."


"Besok."


Candra hanya mengangguk lalu mengajaknya mencari tempat untuk berteduh.


.


.


.


Malam harinya di restoran ...


Tok ... tok ... tok ...


Saat mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang sudah dibuka, Bu Amanda mengulas senyum.


"Lun, kemarilah. Aku tahu pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan," tebak Bu Amanda.


"Bu Amanda tahu aja sih?!"


"Aku sudah hafal." Keduanya terkekeh.


"Bu, boleh nggak, aku ambil cuti selama seminggu? Aku mau pulang kampung."


Bu Amanda mengulas senyum. "Boleh Lun. Kapan?" tanya Bu Amanda.


"Besok, Bu."


"Baiklah, nggak masalah. Semoga perjalananmu menyenangkan," timpal Bu Amanda.


"Terima kasih ya, Bu."


"Sama-sama Lun.


Setelah itu, El meninggalkan ruang kerja Bu Amanda lalu menghampiri teman kerjanya.


Baru saja ia ingin menghampiri salah satu meja tamu restoran, ia dipanggil oleh salah satu temanya.


"Ada apa Dinda?" tanya El.


"Bantuin aku bawa nampan makanan ini ke ruang VIP."


El memutar bola matanya malas. Ia merasa risih jika harus ke ruangan itu. Bukan tanpa alasan itu pasti karena Candra.

__ADS_1


"Cih, nyebelin banget! Pasti ini pesanannya si Candra, kan?!" kesalnya.


Dinda langsung mengangguk. ''kok tahu?" tanya Dinda.


"Tahu lah, siapa lagi yang sering booking ruangan itu kalau bukan dia,'' ungkap El.


Sesaat setelah membuka pintu, El mematung ditempat, bagaimana tidak bukan hanya Candra yang ada di ruangan itu melainkan ada Kai juga.


Seketika perasaan takut, benci dan marah menjadi satu. Ia baru tersadar ketika Candra menegurnya.


"Lun, kenapa kamu masih berdiri di situ?"


El menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaanya. Setelah itu, ia bersikap sesantai mungkin lalu mengulas senyum.


"Maaf," ucapnya.


Ia pun menghampiri meja itu lalu menyajikan makanan di atas meja. Ketika ia meletakkan piring berisi makanan di depan Kai, tangannya sedikit bergetar.


Kai menegurnya. "Apa kamu baik-baik saja?"


El hanya mengangguk dan sedikit gugup. Kai mengerutkan alisnya karena merasa sangat mengenal bau parfum gadis itu.


"Wangi parfumnya mengingatkanku pada El."


"Makanannya sudah siap, Pak. Silakan menikmati makan malamnya."


"Thanks ya, Lun," ucap Candra sambil tersenyum.


Setelah itu, El buru-buru keluar dari tempat itu menuju toilet. Ia mengepalkan tangannya lalu menangis.


"Oh, God, kenapa aku harus bertemu dengannya di sini?" ucapnya lirih.


Sementara itu, di ruang VIP, Kai tampak berpikir.


"Kai, ayo dimakan makanannya," tawar Candra.


"Hmm."


"Ada apa? Kenapa kamu melamun? Apa kamu ingin ganti menu?" tanya Candra beruntun pada teman kecilnya itu.


"Ah tidak, Candra. Aku tiba-tiba mengingatnya. Bau parfum gadis itu mengingatkan aku padanya."


Candra hanya geleng-geleng kepala sambil menatap wajah tampan teman kecilnya itu.


Setelah itu, mereka melanjutkan makan malam mereka yang sempat tertunda. Setelah selesai menyantap makan malam. Keduanya pun meninggalkan ruangan itu.


Keduanya kembali bertemu dengan El yang terlihat buru-buru berjalan ke arah pintu restoran.


"Lun!'' panggil Candra.


El yang baru saja ingin membuka pintu restoran mengurungkan niatnya lalu menoleh ke arah Candra. Ia semakin bertambah gugup ketika Kai terus menatapnya.


"Semoga dia tidak mengenaliku."


"Ada apa, Candra?" tanyanya.


"Nggak. Sepertinya kamu mau pulang ya? Biar sekalian aku antar saja."


"Nggak ah. Aku kan sudah bilang, aku alergi naik mobil mewah."


Candra dan Kai langsung tertawa mendengar ucapannya. Setelah itu, El buru-buru menuju halte. Sambil menunggu bis, El terus meremas jemarinya dan terlihat gelisah.


Tidak lama kemudian, bis yang ditunggunya pun tiba. El langsung menaiki bis itu lalu duduk di dekat jendela. Ia sempat melirik sekilas ke arah Kai yang masih memandanginya.


Sebelum akhirnya pandangan keduanya terputus saat bis sudah menjauh meninggalkan halte.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2