All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
98. Aku nggak mau menjadi korban lagi ...


__ADS_3

Tiga puluh menit berlalu ...


Saat membuka mata, El mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian ia menempelkan tangannya di punggung tangan Kai yang sedang mengelus pipinya.


"Sudah bangun?" tanya Kai dengan seulas senyum.


"Sayang." El perlahan merubah posisinya menjadi duduk. Mengusap matanya lalu menyugar rambut keritingnya dengan jari.


Kai terkekeh menatapnya sedangkan El mengerutkan keningnya. "Ada apa? Kenapa kamu terkekeh begitu? Apa aku masih terlihat cantik meski berambut keriting?" tanyanya lalu tertawa merasa lucu.


"Sayang, mau diapain juga jika pada dasarnya orangnya memang cantik tetap cantik," kata Kai dengan tulus. "Bagiku Culun atau pun El kalian tetaplah sama-sama cantik karena kalian adalah orang yang sama."


"Yang bener? Nggak bohong kan?"


"Ngapain aku bohong. Kalian itu satu orang yang sama namun sama-sama membuatku gemes. Sayang." Kai terlihat ragu ingin menyampaikan pesan dari Tara.


"Ada apa, hmm?"


"Sayang." Kai masih terlihat ragu.


"Apa sih?! Sayang, sayang to the poin saja. Sebenarnya kamu ini kenapa sih? Kok terlihat ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu," kesal El.


Ia membenamkan wajahnya di dada Kai sembari mengelusnya dengan lembut. Menghirup aroma parfum maskulinnya dalam-dalam.


"Bicaralah apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan padaku," bisiknya.


Sudut bibir Kai langsung melukis senyum mendapati sikap manja gadis itu. Merasa gemas lalu membenamkan dagunya di puncak kepala.


Sedetik kemudian ia berbisik karena jemari lentik El terus mengelus dada turun ke perutnya. "Apa kamu sengaja ingin membangunkan yang di bawah?"


Mendengar ucapan bernada mesum itu, seketika El merasa kesal. "Dasar Om mesum! Sayang sebenarnya kamu mau ngomong apa sih?"


Sebelum menjawab Kai menghela nafas. "Tara titip pesan untukmu..."


El menautkan alisnya lalu perlahan menegakkan badannya lalu bertanya, "Pesan? Pesan apa?"


"Katanya jika kamu masih menginginkan ponselmu beserta tas dan isinya kembali, temui dia di apartemenmu."


El langsung menggelengkan kepalanya tanda enggan lalu kembali membenamkan wajahnya di dada Kai sembari berbisik, "Aku nggak mau. Biarkan saja benda itu ada padanya. Aku takut saat berada di sana, tidak menutup kemungkinan di akan ..."


El terdiam sejenak dan enggan melanjutkan ucapannya. Matanya kini berkaca-kaca.


"Akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah aku lakukan padamu?" sambung Kai dan El menjawab dengan anggukan.


"Aku nggak mau menjadi korban lagi. Bukan tanpa alasan dia bisa saja khilaf padaku," tutur El dengan lirih.

__ADS_1


"Sayang, kami pernah dekat bahkan sering tidur seranjang. Meski kami nggak pernah melakukan hubungan intim."


Kai bergeming mendengar penuturan dari El sekaligus merasa sedikit cemburu. Namun ia tetap memaklumi. "Sayang, jujur saja, aku cemburu padanya."


"Tapi aku milikmu sekarang. Kamu pria paling nekat menggunakan cara licik untuk memilikiku. Herannya lagi bahkan saat diriku terlihat jelek kamu tetap saja nekat. Seperti nggak ada gadis lain saja."


El langsung tertawa sesaat setelah selesai berucap. "Dasar bastard, aku mengakuinya."


Kai ikut tertawa mendengar ucapannya "Dan kamu satu-satunya gadis yang begitu berani mempermalukanku, menantang, menampa, dan memakiku. Gadis bar bar," timpa Kai.


Keduanya kini sama-sama tertawa karena merasa lucu.


"Sayang ..."


"Hmm ..."


"Ayo kita ke Resort."


"Resort?"


"Hmm, lebih tepatnya resort kita," bisik Kai lalu mengecup keningnya.


Hening sejenak ...


"Itu karena diriku yang membuatmu seperti itu. Andai saja pertemuan kita diawali dengan manis, pasti saat ini kita sudah menikah dan memiliki anak."


"Sayang, aku bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Tapi itu berbeda saat pertama kali bertemu denganmu."


"Hatiku nggak bisa berbohong jika aku menyukaimu. Merasa cemburu saat melihatmu bersama Tara," pungkas Kai.


Keheningan kembali tercipta ...


Hingga pintu ruang kerja itu dibuka oleh seseorang tanpa diketuk.


Seketika orang yang membuka pintu itu langsung melongo menatap Kai dan El.


Ia seolah tak percaya memandangi keduanya yang terlihat begitu intim.


"Apa gadis itu kekasihnya. Sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu, tapi di mana ya," gumam Clara yang masih mematung di tempat.


Hatinya mencelos dan sedikit cemburu. Niat hatinya ingin bersenang-senang dengan pria blasteran itu namun kenyataannya tidak sesuai ekspektasinya.


Sedangkan El dan kai belum menyadari kehadiran Clara.


"Sayang, ayo kita berangkat sekarang," cetus Kai lalu mengecup kening El dan bibir El.

__ADS_1


Gadis itu hanya mengangguk. Saat keduanya berdiri, mereka terkejut ketika mendapati Clara sedang menatap mereka.


"Sayang, jika aku nggak salah, itu kan mantannya Tara?" tanya El dengan berbisik. "Mungkin dia ada perlu denganmu. Kalau begitu aku tunggu kamu di mobil saja."


"Baiklah," Kai kembali mengecup singkat bibirnya lalu melepasnya.


Setelah itu, El berlalu begitu saja melewati Clara yang terus menatap tidak suka padanya.


Sedangkan Kai tetap berdiri ditempat lalu bertanya, "Ada apa Clara?"


Clara tak menjawab melainkan melanjutkan langkahnya menghampiri Kai. Saat ia ingin bergelayut manja, Kai malah memundurkan langkahnya sekaligus menolak.


"Clara, jika kamu ke sini ingin membahas masalah perkerjaan, silakan saja," kata Kai to the poin. "Tapi jika kamu ingin membahas yang lain, aku nggak punya banyak waktu. Masih ada hal penting yang ingin aku bahas dengan calon istriku."


"What?!! Calon istri! Apa aku nggak salah dengar? Sejak kapan seorang Kai Intezar Abraham serius dengan seorang wanita?" sarkas Clara.


"Apa kamu nggak ingin bersenang-senang dulu denganku? Hitung-hitung sebelum kamu melepas status lajang."


Dengan percaya dirinya Clara mengucap kata-kata bernada menggoda itu.


Kai tersenyum sinis seolah mengejek sekaligus menatapnya jijik.


"Sayangnya aku sudah nggak tertarik bercinta dengan wanita bekas sepertimu. Meski pun kita pernah melakukannya," ucapnya sinis.


Sontak saja Clara terkejut mendengar ucapan bernada sindiran dari Kai itu menohok hatinya.


"Clara, meski aku pria brengsek, tetap saja aku menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi pendamping hidupku," pungkas Kai.


Setelah itu ia langsung meninggalkan Clara yang masih bergeming di tempat.


Sementara Kai yang kini sudah berada di dalam lift, tampak tersenyum sinis membayangkan wajah Clara yang memerah menahan malu.


Begitu lift yang membawanya turun ke lantai dasar ia langsung melangkah keluar lalu mempercepat langkahnya.


Sesaat setelah membuka pintu mobil, ia langsung mendaratkan bokongnya di kursi kemudi lalu melirik El.


"Sayang, maaf aku lama,"


"Nggak apa-apa, Sayang, aku memakluminya.'


Setelah itu, Kai mulai melajukan kendaraannya itu menuju ke lokasi tujuan. Sesekali ia melirik El yang tampak mengarahkan pandangannya ke arah jendela mobil.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba juga di resort itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2