All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
146.


__ADS_3

Rumah sakit Kota A ....


Ruangan Mike seketika heboh dengan suara Lois.


"OMG ... Mike see ... i'ts El and Kai!" pekiknya lalu menunjukkan ponselnya pada Mike. Tega banget sih mereka nggak nyamperin kita," kesal Lois sambil mencebikkan bibirnya.


Mike hanya terkekeh mendengar celetukkan teman kerja itu.


"Maybe they don't have time, Lois," kata Mike. "By the way, apa kamu nggak ada jadwal hari ini periksa pasien rawat hari ini," tanya Mike.


"Ada, 10 menit lagi," aku-nya sambil cengengesan.


"Then what again? Ayo meluncur sekarang," desak Mike.


"Ck ... kamu ngeselin banget sih, Mike," decaknya dengan kesal. Mau tidak mau ia menuruti perintah sang Dirut rumah sakit.


Dengan perasaan kesal ia meninggalkan ruangan Mike lalu melanjutkan tugasnya memeriksa pasien rawat inap dari satu kamar ke kamar yang lain.


Sepeninggal Lois, Mike meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia pun membuka galeri fotonya lalu menatap foto-foto kebersamaannya bersama El, ketika gadis itu masih menjadi mahasiswinya hingga magang di rumah sakit miliknya.


"If time could be turned back, rasanya aku ingin kembali di waktu itu," gumam Mike sambil menatap foto El dan putranya Bryan. "Whatever it is, i hope you are always happy, Dear."


Mike menghela nafasnya dalam-dalam lalu kembali menatap fotonya bersama El yang tampak begitu cantik dalam balutan gaun pengantinnya sambil memeluknya dengan senyum bahagia.


"This sincere smile, your warm hug, makes us miss you, El," desis Mike sambil mengelus wajah El di layar ponselnya.


*


*


*


Kediaman Pak Mulia ...


Tampak keluarga itu sedang sarapan bersama.


"Tara, Dian, jadi hari ini kalian akan pindah ke rumah baru kalian?" tanya Bu Arini.


"Iya, Mom," jawab Tara lalu melirik Dian.


"Jangan khawatir, Mom. Semua perabotan rumah tangga di rumah itu sudah lengkap. Soalnya sebelum pindah ke rumah itu aku dan Dian sudah memesan perabotan dan meminta langsung di tata oleh interior design nya," jelas Tara.


"Aku sudah selesai Mom, Pah, Tara, aku ke kamar dulu," izin Dian lalu menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Tara, kalian baik-baik saja kan, Nak?" cecar pak Mulia.


"Kami baik-baik saja Pah," jawab Tara.


Sedangkan Dian yang saat ini berada di kamar, tampak sedang menghubungi El, namun lagi-lagi ia harus kecewa karena ponsel temannya itu tidak aktif.


"Ya Tuhan, kenapa nomornya nggak pernah aktif? Apa El ganti nomor lagi ya?" tanya Dian pada dirinya sendiri.


Entah mengapa sejak ia hamil, ia sangat merindukan wanita itu. Ia pun mengelus perutnya lalu membayangkan wajah cantik El.


"Apa bayi yang aku kandung ini cewek ya? Soalnya selama aku hamil aku selalu merindukan gadis somplak itu," kelakarnya mengingat sikap El yang terkadang suka jahil bahkan kadang susah di tebak.


Ia kembali membuka galeri fotonya menatap foto-fotonya bersama El saat ia masih membuat wajahnya seculun mungkin.


"El, aku benar-benar nggak nyangka, di balik wajah culun ini ternyata aslinya cantik banget," gumamnya lalu mengulas senyum.


Sedangkan Tara, ia memilih naik ke rooftop hanya untuk merokok sebentar. Pikirannya kembali melayang memikirkan cara untuk meretas sistem keamanan perusahaan Kai.


"Sebelum aku berhasil, aku nggak akan menyerah," geramnya. "Harus aku akui, kamu cukup mumpuni dalam berbisnis. Terbukti saat kamu beberapa kali mengalami kerugian yang cukup besar, kamu masih bisa mengatasinya dengan baik bahkan kembali mendapat kepercayaan dari kolega bisnismu. Amazing."


Setelah itu ia pun kembali ke bawah lalu menuju kamarnya dan Dian.


"Dian, ayo kita berangkat sekarang. Kita langsung ke rumah baru kita. Sepertinya mommy juga mau ikut," ajaknya.


"Baik lah," sahut Dian lalu menyambar tasnya di atas meja nakas kemudian menghampiri Tara yang sedang menunggunya di ambang pintu.


"Apa, papa sudah berangkat ke kantor?" tanya Tara.


"Iya, sebaiknya kita berangkat sekarang. Mommy juga ingin melihat-lihat rumah kalian."


Tara dan Dian hanya mengangguk. Ketika dalam perjalanan Tara tampak banyak diam dan sesekali memejamkan matanya.


Entah mengapa potongan-potongan gambar tentang foto pernikahan yang di upload beberapa hari yang lalu kembali bermain di matanya.


Bahkan ia semakin penasaran dan di buat bingung, sebenarnya siapa yang menikah? Ataukah mereka hanya sekedar menghadiri dan hanya menjadi tamu undangan. Apalagi El hanya mengenakan gaun pengantin sederhana namun terlihat berkelas.


Ia kembali membuka medsosnya ingin mencari petunjuk. Namun ia tak menemukan apapun yang mencurigakan.


Di unggahan Kai, tak ada satupun fotonya berdua saja dengan El melainkan bersama dengan sepupunya dan teman El.


Namun foto profil Kai mencuri perhatiannya. Yaitu foto tangan yang saling menggenggam dan memperlihatkan cincin pernikahan.


Dan postingan yang baru di unggah satu jam yang lalu. Siapa wanita ini? Apa Valerie? Siska? El, Atau Clara?" Tara menebak-nebak.

__ADS_1


Di saat Tara larut dengan pikirannya menebak-nebak siapa sebenarnya wanita yang sedang dipeluk Kai.


Justru orang yang kini memenuhi otaknya telah tiba dengan selamat di Kota X. Keduanya tampak melangkah bersama saling bersisian dengan tangan yang saling menggenggam erat.


Dari kejauhan, Richard sudah menunggu keduanya sejak tadi.


"Selamat datang kembali, Tuan, Nona El," ucap Richard dengan seulas senyum lalu memberi selamat kepada keduanya.


"Terima kasih, Richard. Langsung antar kami ke apartemen ya," pinta Kai.


"Baik, Tuan," kata Richard.


Lagi-lagi sang asisten menggelengkan kepalanya. Karena keduanya lagi-lagi tidak membawa koper melainkan hanya paper bag dan tas tangan El.


Enak banget si boss. Apa bajunya bertebaran di mana-mana?


Richard membatin dan mulai menyalakan mesin mobil. Setelah itu ia pun melajukan kendaraannya menuju apartemen sang majikan.


"Richard bagaimana dengan urusan kantor? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Kai.


"Semuanya baik-baik, Tuan termasuk proyek yang sedang berjalan. Maaf saya lupa memberi laporan kemarin," sesal Richard.


"Hmm. Apa Candra pernah ke kantor?"


"Kemarin Tuan."


Kai hanya manggut-manggut lalu lalu membenamkan dagunya di puncak kepala istrinya.


El hanya menjadi pendengar keduanya saja.


Tiga puluh menit kemudian kendaraan itu berhenti di dapan gedung mewah itu.


"Thanks ya, Richard. Kami masuk dulu. Lanjutkan pekerjaanmu di kantor. Satu lagi jika ada apa-apa segera hubungi aku," pinta Kai.


"Baik, Tuan."


Setelah itu Kai dan El menuju lift dan masuk ke dalam kotak besi itu untuk mangantar keduanya ke unitnya.


"Sayang, hari ini kita beristirahat sepuasnya tanpa ada yang menggangu. Kita alihkan ke mode pesawat saja ponsel kita ya," cetus Kai lalu terkekeh.


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya 🀭☺️ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih ☺️πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™πŸ™


__ADS_2