All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
162.


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, akhirnya El selesai mengikuti mata kuliah dan tampak sedang keluar dari kelasnya. Ia memilih ke halte bus lalu mengirim pesan ke mama Glori.


Sambil menunggu, El kembali teringat saat pertama kali ia masuk kuliah di kampus itu, dan halte tempatnya berada sekarang menjadi tempat tunggu kendaraan umum.


Ada senyum yang terukir di wajah cantiknya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Sayang, mamy ingin kalian akan menjadi anak-anak yang tangguh seperti Mamy. Bermental baja dan tak menanggapi omongan kasar orang-orang. Mamy ingin kalian juga memiliki sifat seperti dady, saat melakukan kesalahan kalian mau mengakuinya dan bertanggung jawab dengan kesalahan dan perbuatan yang telah kalian lakukan," gumam El sambil mengelus perutnya dengan senyum tipis.


Ia kembali teringat tekad, usaha dan nekatnya suaminya demi meluluhkan hatinya bahkan sampai mencari tahu tentangnya sampai ke akar-akarnya. El kembali teringat moment di mana suaminya itu bersimpuh dan memeluk kakinya dengan memelas menyesali semua perbuatannya.


"Sayang, aku nggak pernah menyangka jika hubungan kita yang dimulai dengan perseteruan, benci dan dendam akhirnya di satukan dengan ikatan pernikahan. Bahkan sebentar lagi kita akan menanti kelahiran anak pertama kita," gumam El lagi sambil membayangkan wajah tampan suaminya itu. "Aku mencintaimu," ucap El dengan suara pelan.


Tin ... tin ... tin ....


Suara klakson mobil terdengar nyaring, sekaligus membuyarkan lamunannya. Tak lama berselang mama Glori membuka kaca mobil.


"Mama," lirihnya lalu berdiri dan menghampiri pintu mobil.


"Sayang, ayo Nak," ajak mama lalu membukakannya pintu mobil.


"Thanks, Mah," ucapanya lalu duduk di samping mertuanya.


"Sama-sama sayang. Bagaimana kuliahmu hari ini? Apa lancar-lancar saja?" tanya mama seraya mengelus kepalanya dengan sayang.


"Semuanya berjalan lancar," jawabnya lalu menyandarkan kepalanya di pundak mama Glori. "Lumayan lah, Mah. Aku sedikit lelah," bisiknya.


Mama Glori hanya tersenyum. "Richard, langsung ke mansion ya," pinta mama Glori.


Richard hanya mengangguk dan kembali fokus mengemudi. Sesekali ia melirik sang Nyonya besar dan menantunya itu lewat kaca spion tengah mobil.


Di sepanjang perjalanan keduanya terus mengobrol dan sesekali bercanda. Sedangkan Richard hanya menjadi pendengar. Tak jarang ia ikut tertawa mendengar candaan El.


Ada kehangatan yang ia rasakan ketika menatap El dan mama Glori begitu dekat.


"Nyonya, setelah sekian lama, aku baru melihat Nyonya tertawa lepas seperti ini lagi." Richard membatin.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di mansion.


"Thanks ya, Richard." El tersenyum lalu keluar dari mobil.


Sesaat setelah berada di dalam mansion, El berpamitan pada mama Glori untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


"Mah, aku ke kamar dulu ya," pamit El. "Aku mau mandi."


Mama hanya mengangguk seraya mengelus kepalanya.


Sepeninggal El, mama Glori ke dapur lalu menyiapkan makanan untuk menantu kesayanganya itu sekaligus membuatkannya susu.


Tiga puluh menit kemudian, mama Glori yang sejak tadi berada di ruang santai, mengerutkan keningnya.


"Kok, El belum turun?" desisnya. Ia pun menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang dia sedang tertidur."


Mama Glori beranjak dari sofa lalu menapaki anak tangga menuju ke kamar El. Dan benar saja, seperti tebakannya. El tampak tertidur pulas bahkan handuk yang membungkus rambutnya masih menempel di kepalanya.


Mama Glori kembali geleng-geleng kepala seraya menghampiri menantunya itu. Setelah duduk di sisinya ia melepas handuk itu seraya mengelus pipi El yang terlihat sedikit chubby.


Mama Glori menatap lekat wajah El lalu mengelus perutnya kemudian tersenyum.


"Sayang ... maafkan mama. Jika saja mama tinggal bersama Kai saat itu, kamu tidak akan mendekam di penjara sehingga membuat gelarmu tertunda," lirih mama.


Setelah itu ia beranjak dengan membawa handuk kepala El lalu menjemurnya di tempat khusus.


*********


Malam harinya, setelah selesai mengerjakan tugas kuliahnya di ruang kerja suaminya. El kembali ke lantai bawah dan langsung ke ruang santai.


Mama Glori langsung tersenyum menatapnya dan mengisyaratkan supaya ia duduk di sampingnya. Tanpa pikir panjang ia menurut dan malah langsung merebahkan kepalanya di pangkuan mama Glori.


"Sudah selesai, Nak," tanya mama Glori lalu mengelus rambut pendek El.


"Iya Mah," bisiknya dan merasa begitu nyaman ketika kepalanya di elus. Seketika ia teringat almarhum mamanya. Bahkan matanya langsung berkaca-kaca.


Selama tiga bulan terakhir tinggal bersama, betapa perhatian dan sayangnya mertuanya itu padanya. Apalagi setiap kali ia berbaring seperti sekarang ini, mama Glori selalu mengelus kepalanya dengan sayang.


Ia merasa seolah-olah sedang berbaring di pangkuan mamanya sambil mengelus kepalanya. Perlakuan lembut mama Glori selalu saja membuat hatinya menghangat.


"Sayang, kamu kenapa Nak?" tanya mama Glori.


"Nggak apa-apa, Mah. Aku hanya teringat almarhum mamaku saja," aku-nya. "Saat mamaku masih hidup, dia juga suka mengelus kepalaku seperti yang mama lakukan saat ini," lirihnya.


Mendengar ungkapan hati El, mama Glori mengulas senyum. "Bukankah mertuamu ini, mamamu juga," kata mama Glori menghiburnya.


"Sayang, anggaplah mama ini seperti mama kandungmu," lanjut mama Glori.

__ADS_1


Dalam diam El hanya mengangguk. Sedetik kemudian ia mendudukkan dirinya lalu memeluk Mama Glori.


"Mah, terima kasih sudah mau menerimaku sebagai menantu Mama. Walaupun aku hanya anak yatim piatu. Terima kasih karena sudah mendidik Kai menjadi pria yang bertanggung jawab dan tak segan mengakui kesalahannya. Doakan pernikahan kami seperti pernikahan Mama dan papa. Hanya maut yang memisahkan," ucap El dengan suara tercekat menahan tangis.


Mendengar ungkapan tulus dari sang menantu, mama Glori begitu terharu bahkan tak terasa air matanya menetes. Ia mengelus punggung menantunya itu dengan sayang lalu mengangguk.


"Doa terbaik selalu mama panjatkan untuk kalian, Sayang. Bahkan Mama nggak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian," bisik mama lalu mengurai pelukannya lalu menyeka air matanya.


.


.


.


Satu minggu kemudian ....


Setelah menempuh perjalanan udara selama satu jam lebih tiga puluh menit, akhirnya El dan mama Glori tiba di bandara kota. Sebelum berpisah dengan masing-masing jemputan El memeluk Mama Glori.


"Mah, hati-hati ya. Gara-gara aku dan Kai, Mama juga kena imbasnya," bisik El lalu terkekeh kemudian melonggarkan pelukannya.


"Nggak apa-apa, Sayang," balas mama Glori. 'Ya sudah mama duluan ya, Alex sudah menunggu."


"Iya, Mah."


Walaupun sedikit khawatir karena terpaksa meninggalkan El, mau tak mau mama Glori terpaksa melakukannya juga, bahkan sesekali menoleh ke arahnya.


"Kasian Mama, segitu khawatirnya dia padaku," gumam El sambil dengan perasaan sedih. "Sayang, kalianlah yang akan menjadi penghibur grandma nantinya," desis El lalu mengelus perutnya.


Beberapa menit kemudian, dari kejauhan Mike melambaikan tangannya ke arah El sambil tersenyum.


"My Dear, sorry i'm late," ucapnya lalu memeluk El.


"Nggak apa-apa, Mike," balas El lalu terkekeh. "Mike, langsung antar aku ke kantor Kai ya," pinta El seraya menggandeng ex dosennya itu.


"Siap, Nyonya Kai," kata Mike.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2