
"Tara," tegur Dian. "Ayo ... aku sudah selesai," lanjutnya sambil mendorong troli belanjaannya.
Tara hanya mengangguk, namun matanya masih tertuju ke arah El dan Mike yang terlihat sedang memilah buah. Bahkan El terus memeluk lengan pria itu.
"Tara! Ayo ..." ajak Dian.
Mau tidak mau, ia terpaksa menurut dan meninggalkan tempat itu.
Sesaat setelah memasukkan barang belanjaan Dian ke dalam bagasi mobil, ia pun kembali duduk di kursi kemudi dan segera meninggalkan tempat itu.
Sedangkan El dan Mike masih memilih buah yang El inginkan.
"El, aku serasa menjadi selingkuhan mu saja," kelakarnya lalu tertawa.
"Ha.ha.ha ..... nikmati saja Mike. Sebenarnya aku melakukan ini agar hubungan persahabatan Kai dan Tara kembali seperti dulu. Tapi harapanku nggak sesuai ekspektasi. Tara malah semakin membenci Kai, tapi lupakan saja," kata El lalu memasukkan buah mangga ke dalam keranjang.
"Apa masih ada yang ingin kamu beli?" tanya Mike.
El menggelengkan kepalanya. "Sepertinya ini sudah cukup. Sebelum ke mansion, kita singgah ke apotik dulu ya. Aku hanya ingin memastikan jika aku nggak salah mendiagnosa."
"Ok, Dear," sahut Mike lalu mengulas senyum.
Keduanya pun tampak berjalan ke arah kasir untuk melakukan transaksi. Begitu selesai membayar barang belanjaannya, El dan Mike kembali ke mobil.
"El, jangan lupa kabari aku dan Lois jika benar kamu positif hamil. Aku dan Lois ikut berbahagia untukmu dan Kai," ucap Mike dengan tulus.
"Pasti Mike."
Mike mulai melajukan kendaraannya hingga
sampai di salah satu apotik. Setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju mansion milik Kai.
Sesaat setelah sampai di depan pintu gerbang, ia pun menghentikan kendaraannya.
"Mike, kok berhenti? Ayo masuk saja," pinta El penuh harap.
"Mungkin lain kali saja, El. Soalnya aku mau lanjut ke kampus. Salam buat Kai ya."
"Baik lah. Kamu hati-hati ya, aku masuk dulu," kata El lalu meraih buah yang ada di kursi belakang mobil.
Ia pun melambaikan tangannya setelah berada di luar mobil dan melangkah pelan ke arah pintu gerbang yang telah dibuka oleh satpam penjaga.
__ADS_1
"Non, sini saya bantu bawakan buahnya," tawar pak satpam.
El hanya mengulas senyum. "Terima kasih, Pak. Nggak usah, lagian ini nggak berat."
Pak satpam hanya menunduk takjim. Sedangkan El, terus melangkah hingga sampai di depan pintu utama lalu membukanya.
"Selamat sore, Bi," sapa El pada ART-nya yang tampak sedang duduk sambil mengobrol dengan sesama ART lainnya.
Tahu jika yang datang istri sang tuan muda, bi Nita dan bi Aira langsung menghampirinya.
"Loh, Non El. Kenapa nggak bilang-bilang jika hari ini Nona El mau datang? Jadi kami bisa siapkan sesuatu," sesal bi Nita dan bi Aira.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku datangnya mendadak gara-gara Kai mendesakku. Oh ya, Bi, tolong buatkan aku rujak. Bumbunya yang pedas pake banget," kata El lalu terkekeh.
"Baik Non. Apa mau bibi sekalian siapkan makanan?" tawar bi Nita.
"Nggak usah, Bi. Aku pengen rujak super pedas saja," pintanya lalu kembali melangkah menuju kamar.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, El menghampiri ranjang lalu duduk di sisi Kai, menatap lekat wajah pucat suaminya seraya mengelus pipinya dengan sayang.
"Sayang ..." bisiknya lalu mengecup pipi dan bibir suaminya. Namun Kai tetap bergeming.
"Tidurlah," bisik El lagi lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian menuju kamar mandi sambil membawa tespek untuk memastikan jika ia benar hamil. "God ... jujur saja, aku takut jika hasilnya akan membuatku kecewa lagi," ucapnya lirih.
Dengan harap-harap cemas, ia menunggu selama beberapa detik. Jantungnya berdetak kencang takut kalau-kalau hasilnya di luar ekspektasinya
"God ... please ... aku sangat berharap hasilnya positif," bisik El lalu mengambil salah satu tespek itu dengan mata terpejam.
Perlahan ia membuka matanya lalu menatap hasilnya. Merasa belum percaya, ia kembali mengambil dua tespek yang tersisa.
"What!!! pekiknya lalu membekap mulutnya seolah tak percaya. Matanya langsung menganak sungai.
"Sayang ..." tegur Kai yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi. "Ada apa denganmu?" tanya Kai dengan alis dan bahu yang terangkat bersamaan.
El menoleh dan mengisyaratkan jika ia ingin memeluk suaminya. Tanpa pikir panjang Kai mendekapnya erat lalu mencium ceruk lehernya.
"Sayang, kamu akan menjadi seorang ayah," bisik El lalu mengurai dekapannya kemudian menunjukkan hasil tespeknya.
"Beneran, Sayang?!" ucap Kai seolah tak percaya lalu meraih tespek itu dari tangan istrinya. "Sayang ... kamu hami!!! Oh, Loooord, thank you so much," ucapnya lalu memeluk erat istrinya.
Setelah beberapa detik memeluk sang istri, Kai menangkup wajahnya lalu mengecup lama keningnya.
__ADS_1
"Sayang, gejala seperti pusing, mual, nggak nafsu makan dan muntah-muntah yang kamu rasakan itu, karena couvade syndrome."
"Couvada syndrom? Apa itu?" tanya Kai dengan wajah bingung.
El mengulas senyum lalu mengecup bibir sang suami.
"Sayang ... couvade syndrome adalah istilah kehamilan simpatik. Biasa terjadi pada suami saat istrinya lagi hamil. Seperti yang kamu alami saat ini. Bukan aku yang mengidam tapi kamu," jelas El lalu terkekeh. "Sayang ... bahkan calon bayi kita pun seakan ingin memberimu pelajaran."
"I'ts Ok, Sayang. Nggak apa-apa asalkan kalian berdua selalu sehat. Besok kita check up dulu ya, Sayang," cetus Kai.
El hanya mengangguk lalu mengajaknya kembali ke kamar. Baru saja ia ingin mendaratkan bokongnya di sisi ranjang, pintu kamarnya diketuk.
Sedetik kemudian, Bi Aira menghampirinya dengan membawa nampan berisi mangkok yang sudah terisi rujak.
"Nona El, ini rujaknya," kata bi Aira lalu meletakkan pesanan rujaknya di atas meja sofa.
"Terima kasih ya, Bi," ucapnya dan dijawab dengan anggukan. Setelah itu bi Aira kembali berpamitan
Sepeninggal bi Aira, El menghampiri sofa lalu mendaratkan bokongnya di benda empuk itu. Ia pun meraih mangkok berisi rujak lalu memakannya sedikit demi sedikit bahkan sangat menikmatinya.
Kai yang sedang memperhatikannya langsung berliur ingin mencoba rujak yang dimakan oleh istrinya.
"Kenapa?" tanya El menatap heran padanya lalu menawari. "Pengen nyoba?"
Kai hanya mengangguk dan minta disuap. Begitu satu iris buah masuk kedalam mulutnya, matanya langsung membulat.
"Aakhh ... Sayang, i'ts so spicy," protesnya lalu melirik sang istri yang tampak biasa saja mengunyah buahnya.
"Ppppfffff .... hahaha ..." tawa El langsung pecah. Ia kembali teringat saat ia mengerjai suaminya waktu itu. "Maaf ... mau aku buatkan rujak seperti ini nggak?"
"Mau Sayang, tapi jangan pedes," pintanya.
"Baik lah. Ayo kita ke turun ke bawah. Sekalian aku buatkan teh jeruk supaya kamu nggak terlalu mual," tawar El.
"Tapi sekarang sudah nggak mual sejak kita dari kamar mandi," jujurnya. "Tapi entah lah jika kamu nggak ada di sampingku."
El hanya tersenyum lalu berkata, "Sayang, sepertinya kamu nggak bisa jauh-jauh dariku. Bisa jadi sampai trisemester bahkan mungkin saja sampai aku lahiran."
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°ππ